
Tok Tok Tok
"Akhirnya Papa Goblin pulang juga." Arleya membuka pintu. Wanita berumur 43 tahun itu tersenyum kecut.
"Ada masalah di jalan, jadi aku baru pulang, Lady." Rayden masuk dan menuju ke arah dapur. Ia mana mungkin kasih tahu kartu goldnya sedang dibekukan. Rayden secepatnya membuat makan malam dan susu untuk Arum. Berharap nanti Arum sadar dan bisa mencerna nutrisi untuk kesehatan istri dan babynya.
Arleya menutup pintu, menyusul ke dapur dan terdiam sejenak melihat Rayden bersusah payah demi istrinya yang hamil itu. Ia pun tersenyum lega, karena Rayden masih punya hati. Kalau tidak punya hati, ya bukan manusia namanya.
"Apa istriku pernah sadar saat aku keluar, Lady?" tanya Rayden menuangkan air hangat kukuh ke dalam gelas berisi susu ibu hamil.
"Panggil Tante, gak usah Ladi-ladian. Kita tidak lagi di Veldemort, jadi tidak usah formal." Arleya berdiri di sudut meja, memandangi susu cair yang diaduk Rayden.
"Dan Arum sudah dua kali sadar tadi," ucap Arleya lalu meneguk segelas air mineral.
"Sungguh, Tante?" kaget Rayden berhenti mengaduk susu.
"Ya, tapi pingsan lagi. Dia butuh perawatan Dokter, perlahan tubuhnya panas, apa kau sudah mendapatkan Dokter?" Arleya membuat sanwich kemudian meletakkan dua di atas piring.
"Aku sudah menghubungi Dokter Pribadiku, dia tidak akan lama lagi ke sini," jawab Rayden mengambil piring berisi sanwich itu.
"Oh bagus, kau cukup diandalkan juga." Arleya tertawa sendirian.
Rayden mendengus, pernyataan Arleya seakan mengejeknya. Ia pun membawa nampan berisi segelas susu dan dua buah sanwich, ia juga heran wanita itu masih bisa tertawa. Dulu-dulu cuma muka datar selalu Arleya tampilkan.
"Mama." Rayden meletakkan nampan itu ke atas meja dan melihat Barsha berbaring di sebelah Arum. Barsha yang setengah sadar membuka mata, beranjak duduk lalu menatap Rayden.
"Kau sudah pulang?"
"Ya, Mama. Maaf tadi ada masalah di jalan," jawab Rayden duduk di tepi ranjang kemudian membelai pipi Arum, lalu mengusap kening Arum menggunakan kain.
"Masalah apa?" tanya Barsha memperbaiki ikatan rambutnya.
"Em, kartu goldku terblokir. Seseorang sudah membekukannya." Rayden agak malu untuk jujur.
"Pasti kerjaan asisten penghianat itu!" gerutu Barsha tidak bisa melupakan wajah asisten Braga. Serasa ingin mencabik-cabik ginjal pria itu.
"Terus dari mana kau dapatkan uang beli susu?"
"Seseorang memberiku uang, Mah." Rayden menunduk, masih malu. Seketika tawa pecah di dekat pintu.
"Huaahahahhaa... ada calon kismin di sini," tawa Arleya masuk dan duduk santai di kursi.
"Cih, apanya yang kismin?" Rayden melirik risih ditertawai.
"Aduh, jadi kasihan sama tuan kecil nanti dapat Papa Goblinnya kismin. Huhuhu ... kasiannya dirimu, Nak." Arleya semakin menjadi-jadi meledek Rayden. Barsha menahan tawa, cukup terhibur.
"Heh, Tante. Memangnya kau pikir aku ini akan jadi kismin mendadak? Kau pikir kau peramal yang bisa baca nasib orang lain? Berhentilah tertawa, tidak ada yang lucu sama sekali!" kesal Rayden menunjuknya.
"Upss, sini-sini mendekatlah. Aku akan memberimu uang, tapi--"
"Tapi apa, Leya?" tanya Barsha menyahut.
"Tapi jual mobilmu itu padaku," jawab Arleya tersenyum smirk.
"Idih, enak saja. Tidak akan aku jual Cargosh," tolak Rayden mentah-mentah. Arleya menatapnya dingin dan berdiri mendekat.
"Yakin? Nanti kau dapat biaya persalinan Arum dari mana, ha? Mau ngemis di jalanan?" hardik Arleya.
"Lama-lama Tante kok bikin kesal ya, balik sana kau ke Kastilmu! Aku tidak perlu bantuan dari manusia sombong!" balas Rayden menghardik.
"Cih, ngatain orang sombong tapi kau sendiri yang sombong. Hmp! Mending aku makan malam daripada melihat tampangmu. Ayo Barsha, kita keluar makan. Barusan aku sudah masak. Kita biarkan dia sendiri merawat istrinya." Arleya menarik Barsha keluar.
"Kalau Arum sudah sadar, panggil Mama ya, Nak." Barsha pun meninggalkan Rayden. Pria tampan itu menghembus nafas kasar. Ia mencium kening Arum.
"Kapan kau sadar dan melihatku?"
__ADS_1
"Aku merindukan dirimu dan senyummu,"
"Kau membuat batinku tersiksa, beby."
Rayden berdiri, mengambil gitar usang. Ia pun memetik pelan lalu bersenandung sedih. Hatinya hampir terbelah tidak kuasa melihat gadis yang ia cintai tidak berdaya.
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi...
Aku tenggelam dalam lautan, luka dalam....
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang..
Aku tanpa mu, butiran debu...
Aku tanpa mu, butiran debu...
Puftt...
DEG. Rayden berhenti nyanyi saat suara tawa mengagetkannya. Ia pun menatap Arum yang tersenyum indah untuknya.
"Apa aku sedang halusinasi melihat istriku bangun?" Rayden menahan tangis harunya.
Tangan lemah itu mengelus pipinya lalu memeluknya.
"I am sorry, Baby."
Arum balas memeluk, menepuk-nepuk pundak suaminya. Ia tidak tahu sudah berapa kali Rayden meminta maaf.
"Kau akhirnya sadar," lirih Rayden masih menahan tangisnya. Tidak mau memperlihatkan kesedihannya.
"Ya, Mas. Seseorang memanggilku jadi aku sadar," ucap Arum lirih.
"Siapa yang memanggilmu? Apa itu karena aku berisik tadi?" Rayden agak bersalah.
"Bukan,"
Arum mengelus perutnya, menatap Rayden dalam-dalam.
"Baby kita yang manggil,"
"Baby kita?" kaget Rayden mengelus perut Arum.
"Ya Mas, kata Baby gini - Mommy bangun, Mommy bangun, Daddy lagi sedih tuh, Mommy bangun ya, jangan buat Daddy nangis- gitu, Mas."
Rayden tertawa, ia mengecup perut Arum dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, beby."
"Iih, geli Mas!" Arum menggeliat perutnya menerima ciuman bertubi-tubi. Rayden pun naik mencium bibir Arum.
"Iih, kenapa aku dicium juga?" geli Arum.
"Udah kangen pengen cium kau, beby."
"Gak ah, aku ini--"
"Aku apa?"
"Haha... belum gosok gigi," tawa Arum meledeknya. Rayden terdiam lalu muntah.
Hueeek... Hueeek...
"Kau kenapa, Mas? Hamil ya, Mas?"
Arum menahan tawa. Rayden menutup mulutnya, baru sadar Arum tidak pernah gosok gigi selama tiga hari ini.
__ADS_1
"Kau kenapa sih, Mas?" desis Arum gemas.
"Mulut kau bau, beby."
Arum tersentak lalu tersenyum kesal.
"Keluar sana, aku tidak mau melihatmu!" usir Arum cemberut.
"Kau kenapa lagi?"
"Aku ngambek, titik!"
"Hahaha... aduh, baru juga sadar sudah imut-imut kelinci gini. Sini Papa Goblin cium lagi biar Mama kelinci tidak ngambek." Rayden menggelitik ketiak Arum.
"Nggak mau ah, katanya aku bau." Arum menepis tangan Rayden.
"Ya sudah, aku keluar." Rayden bangkit dari kursi. Arum terkejut, ia secepat kilat menahan.
"Tunggu, Mas!"
"Kenapa lagi?"
Arum menunduk, lalu pura-pura batuk-batuk.
"Huuk... huuk... aku demam. Mas Rayden, jangan keluar. Aku takut sendirian." Arum berbinar-binar memohon.
Rayden memutar bola mata jengah, ia pun duduk manis, nurut sama istri. Tiba-tiba Arum nunjuk ke toilet. "Mas, itu."
"Itu apa?"
"Gosok gigi,"
"Terus?"
"Ya mau gosok gigilah, Mas. Mau masuk ke sana," rengek Arum.
"Ya sudah, sini aku bawa ke sana, sekalian rapihin rambut Mama kelinci." Rayden mengambil kantong infus lalu mengangkat Arum. Pria itu begitu perhatian, membuat Arum tersipu. Setelah gosok gigi, ia duduk di kursi sambil rambutnya dibelai-belai oleh Rayden.
"Mas,"
"Kenapa, beby?"
"Aku di mana sekarang?" Arum menengadah ke atas, memandangi wajah tampan suaminya.
"Di hatiku, beby." Rayden malah ngegombal.
"Ich, aku serius!" celetuk Arum. Rayden membelai rambut hitam istrinya. Kemudian mengecup kepala Arum.
"Setelah Dokter datang, aku akan jelaskan padamu." Rayden meletakkan Arum kembali ke ranjang. Menyandarkan punggung Arum pada tumpukan bantal.
"Baiklah." Arum mengelus-elus perutnya dan mengamati seisi kamar sambil disuapi sanwich oleh Rayden dan minum susu.
'Apa sesuatu sudah terjadi?' Arum pun menoleh, terkejut Rayden sudah tertidur di kursi. Nampak dia begitu kelelahan. Arum pun menyelimuti sebagian tubuh Rayden.
Dari luar kamar, terlihat Arleya dan Barsha sudah dari tadi berdiri di sana. Barsha sedang gelisah, tidak tahu bagaimana jelaskan hubungannya dengan Arum.
"Biarkan dia sembuh total. Sekarang bukanlah waktu ya tepat," ucap Arleya.
"Kau benar, bukan saatnya aku jujur padanya." Barsha pun duduk di kursi ruang tamu bersama Arleya. Menunggu Dokter datang. Nampak Barsha tidak mau mental Arum terkikis lagi. Sedangkan Joan, pria yang perlahan sembuh itu terbang kembali ke Veldemort. Ia begitu shock dan panik setelah tahu masalah yang timbul di sana.
Tengah malam ini, ia langsung ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Terlihat Mariam dan asisten Braga ada di dalam ruangan. Keduanya terkejut bersama-sama melihat Joan datang tanpa mereka tahu. Pria yang duduk di kursi roda itu masuk bersama Dokter Pribadinya dan menghampiri dua biang kerok masalah itu.
"Asisten Braga, jelaskan mengapa ayahku bisa jatuh sakit seperti ini!" ujar Joan bertatap serius pada asisten Braga.
.........
__ADS_1
...Tinggalkan like coment and vote 💕...