Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 80 | S2 : Selalu Berharap


__ADS_3

Sebelum kembali ke Indonesia, Rayden membawa siang ini Arum dan anak kembarnya ke taman binatang. Kamelia yang di sebelah Dokter Maya sangat gembira dapat ikut bersama Barsha. Apalagi cuaca sekarang tidak terlalu terik dan cocok siang ini udara sangat sejuk.


“Wah keren banget! Mama, aku mau beli es krim itu juga!” rengek Kamelia menunjuk penjual yang tak jauh dari mereka. Bocah itu merengek ke Ibu tirinya. Tingkahnya sangat menggemaskan membuat Dokter Maya geli melihatnya.


“Amel, kamu ini kan sudah makan loh tadi,” ucap Arum yang berdiri di sebelah Rayden.


“Tapi Amel pengen lagi kakak,” balas Amel memohon.


“Kebanyakan makan es krim bisa bikin perutmu sakit, Mel.” Rayden ikut menegurnya.


“Tapi-tapi Amel mau makan, perut Amel sendiri yang minta, Om. ” mohon Kamelia mengelus perutnya. Rayden bergidik melihat tingkah ipar kecilnya itu, serasa seperti Arum saja yang lagi ngidam.


“Puft, sini ikut Mama ke sana.” Barsha membelai rambut Kamelia. Mendengar Barsha setuju, Kamelia melompat kegirangan dan memeluk Barsha.


“Asik, Mama yang terbaik!"


Kamelia berlari ke arah penjual. Barsha dan Dokter Maya pun segera menyusul sebelum bocah itu membuat keonaran.


Arum dan Rayden hanya bisa menghela nafas panjang di sebelah baby Ai dan Key. Keduanya pun menoleh ke kanan dan melihat Joan sedang berduaan dengan Kinan. Nampak satu pria itu membawa Kinan ke tempat binatang koala. Terlihat juga ada banyak bodyguard yang ketat menjaga Kinan.


“Mas, nanti malam kita akan pulang ke Indonesia, kamu tidak mau bicara dulu sama Joan?” tanya Arum duduk di bangku dan sedikit lelah jalan-jalan. Rayden pun menoleh ke Istrinya lalu ikut duduk.


“Mas sih pengen bicara soal ini, tapi Joan selalu nempel di sisi Kinan, aku susah untuk mengajaknya bicara, sayang,” jawab Rayden.


“Mas,“ lirih Arum.


“Kenapa kau sedih?” tanya Rayden terkejut melihat Arum bersandar di bahunya.


“Kira-kira Mas setuju gak kalau Kinan dibawa pulang ke London?” Arum menggenggam tangan yang hangat suaminya itu.

__ADS_1


“Hem, kau kepikiran pria bodoh yang satu itu?” lirik Rayden tidak suka.


“Mas, aku kepikiran Kinan. Aku pernah di posisi Kinan, saat Mas tidak peduli padaku, yang aku butuhkan itu dukungan dari Mas. Aku tahu, saat ini Kinan pasti menginginkan Wira berada di sampingnya.” Arum menjelaskan kegelisahaannya itu.


“Tapi sayang, lihatlah sendiri, dia nampak bahagia di sebelah Joan. Tidak ada untungnya juga berharap pada pria bajing an itu,” ucap Rayden ketus.


“Mas salah,” timpal Arum.


“Kok aku salah? ” tanya Rayden garuk kepala.


“Ya karena tidak ada yang dapat memastikan hati wanita kecuali pasangannya sendiri. Mas memang melihat Kinan bahagia, tapi yang sebenarnya hatinya sedang sedih. Istri mana yang bahagia bisa jauh dari ayah anaknya?” ucap Arum memencet hidung Rayden.


“Ya juga sih.” Rayden menyentuh dagu dan memandangi Kinan yang selalu tersenyum di sisi Joan. Tetapi satu tangan menutup matanya.


“Ih Mas! Jangan mandang Kinan teruslah, aku tidak suka,” celetuk Arum memonyongkan mulutnya. Rayden mencubit pipi istrinya dengan sangat gemas. “Hadeh, cemburuan banget sih istriku.”


“Ya iyalah. Nanti kamu kepincut!” ujar Arum.


“Dih, dasar suami nyebelin! Istri lagi marah, kamu malah ketawa. Tidak ada yang lucu tau!“ tambah Arum jengkel.


“Istriku, sayangku, Ibu anakku yang tercinta,” gombal Rayden terhenti.


“Tau ah, aku tidak suka gombalanmu. Pasti mau bilang senyum istriku yang paling manis dan tidak ada duanya, iya kan?” tebak Arum.


“Salah,” jawab Rayden.


“Hah, kok salah? Salahnya dimana?” tanya Arum heran.


“Salahnya itu senyummu ada duanya, dan tidak ada ketiganya.” Rayden tersenyum jahil.

__ADS_1


“Hah ada duanya? Maksudnya Mas punya wanita lain gitu?” kaget Arum hampir syok. Rayden menahan tawa melihat ekspresi terkejut istrinya itu. Dia lagi-lagi tertawa.


“Hahaha, kan duanya itu putri kita sayang. Baby Key yang punya senyum centil seperti Mamanya ini,” jelas Rayden mengambil tangan istrinya kemudian menciumnya lembut. Arum melihat baby Key, memang punya senyum yang melengkung manis.


“Oh, kirain tadi apa, hahaha.” Arum ikut tertawa.


Tetapi, detik kemudian, tawa Rayden dan Arum sirna saat Kinan dan Joan menghampirinya. Kesempatan Rayden langsung main tarik tangan Kakaknya itu. Kinan heran melihat Joan diseret menjauh.


“Wih, habis beli apa tuh?” tanya Arum mencairkan suasana yang tegang saat ini. Kinan yang duduk di bangku menoleh ke Arum. “Habis beli mainan anak-anak, Non Arum.”


“Eh, panggil Arum saja. Tidak usah pakai Non, Kinan.” Arum cengengesan merasa gugup duduk berdua dengan wanita muda itu.


“Baiklah.” Kinan balas tersenyum dan mengobrol sebentar soal anak di dalam perutnya, sekaligus sifat Wira saat ini. Arum tertunduk sedih mendengar kalau sebelum Wira menikahi Kinan, pria itu sudah berhasil melupakannya, dan jatuh cinta pada Kinan, tapi cinta itu hanya sebentar karena setelah menikah rupanya Wira bersikap acuh dan dingin padanya.


“Aku tidak tahu mau curhat pada siapa, dan maaf saat itu aku pernah menjebakmu datang ke rumah,” jelas Kinan tidak tahu mengapa suaminya berubah.


“Aku bingung, Arum. Dia terhadap ayahku sangat baik dan menghormati ayahku, bahkan tiap malam dia sering lembur demi menyelesaikan masalah di kantor, dan sama sekali pun tidak pernah mengecewakan ayahku. Aneh, dia yang pria baik kini jadi berubah seperti itu, aku pusing mengapa dia bisa seperti itu, hiks.”


Arum memeluk Kinan yang menangis.


“Aku selalu berharap hatinya diketuk untuk terbuka dan mencintaiku lagi, tapi sekarang hatinya benar-benar telah membeku.”


Kinan terisak, membuat baby Ai dan Key di dalam stroller jadi merengek. Arum cepat-cepat berdiri dan menenangkan anak kembarnya, dan seketika Rayden datang dan ikut menenangkan dua anak mungil itu. Kinan terdiam, hatinya tercabik-cabik melihat keluarga bahagia itu. Dia tersenyum dan mengusap pinggir matanya yang basah.


Joan di belakang Kinan pun meremas kepalan tangannya, dia tidak sengaja mendengar curhatan Kinan. Rasanya bersalah sudah memaksa kemauannya untuk memiliki Kinan. Hati kecilnya menangis, perasaannya harus kembali merasakan kekecewaan.


Dokter Maya tidak sengaja melihat raut wajah Joan. Dia menunduk, merasa pria itu sangat kasihan. “Ini yang aku tidak sukai dari cinta, saat kita berharap tuk memiliki, pasti akan ada rasa kecewa di belakang.” Dokter Maya menyentuh dada, merasa kecewa pada dirinya sendiri yang pernah di posisi Joan. Mencintai pria yang tak mungkin digapai di masa lalu.


.....

__ADS_1


Sulit sekali menemukan cinta sejati😓


Maaf author baru update, karena laptopnya rusak dan belum dapat dipakai🙏jadi semalam author berusaha ngetik ini lewat hp. Maaf kalau agak amburadul dan mohon maaf apabila author punya salah selama ini🙏🤗sehat selalu, selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga ibadah kita dilancarkan, aamiin.


__ADS_2