Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 43 Terungkap Juga


__ADS_3

Suara gemuruh terjadi di mansion Edward, istri mudanya itu sedang marah karena gaun yang dia beli tiba-tiba saja rusak. Ia membentak semua pelayan di sana. Alhasil, Tuan Edward yang sedang beristirahat di kamarnya turun menghampiri istrinya.


"Kenapa kau marah-marah, Mariam?" tanya Tuan Edward batuk-batuk.


"Sayang," rengek Mariam bergelayut manja. "Lihatlah gaun cantikku, tiba-tiba saja rusak begini. Padahal ini gaun kesayanganku," isaknya berpura-pura.


Edward menatap sinis semua pelayan yang berkumpul.


"Siapa yang merusaknya?" kelakarnya menunjuk. Pelayan menunduk dan menggigil takut untuk menjawab.


"Sayang, sudahlah. Pecat saja mereka semua dan ganti pelayan baru," usul Nyonya Mariam sedih. Pelayan tentu kaget mereka semua dipecat hanya hal sepele. Satu pelayan ingin menjawab, tapi ia juga takut akan berakhir di penjara.


"Cih, pengawal! Seret semuanya keluar dari Istana!" ujar Tuan Edward tidak tega melihat istri mudanya menangis. Nyonya Mariam tersenyum picik melihat para pelayan meraung-raung tidak ingin kehilangan pekerjaan besar mereka. Wanita-wanita tidak bersalah itu ditendang dengan kejam. Padahal ada beberapa dari mereka memiliki anak, orang tua yang harus dihidupi.


'Hahaha.... mansion ini akan jatuh ke tanganku,' batin Nyonya Mariam tertawa puas. Tuan Edward pun membelai rambut istrinya, ia menariknya ke atas.


"Mau ngapain, sayang?" tanya Nyonya Mariam risih.


"Tentu saja aku ingin kau melayaniku," jawab pria tua itu yang sudah berusia 60 tahun. Nyonya Mariam dalam hati sudah muak memuaskan pria tua itu. Namun jika menolak, ia bisa dihukum dan dikurung.


"Tunggu, sayang," tahan Nyonya Mariam yang kini berada di atas ranjang dengan tubuh polosnya dan ditindih oleh Edward yang juga sama dengannya. Terlihat rudalnya sudah tegak dan siap menembak ke sarangnya.


"Ada apa?"


Nyonya Mariam merangkulkan leher Edward dan iseng-iseng memainkan kumis yang telah berwarna putih itu.


"Aku cemas pada menantu kita, dia dan putramu tidak pernah terdengar kabarnya. Apa kau punya waktu untuk ke Istana Barsha? Siapa tahu pengantin itu berada di sana, sekalian menjenguk istri keduamu," ucapnya sudah lama ingin tahu kabar Rayden dan Arum.


Edward terkekeh, ia mencu mbu bibir istri mudanya. "Kau baik sekali sudah mencemaskan putraku dan menantu kita. Aku tidak salah pilih meminangmu." Edward pun memulai aksi tembaknya membuat Nyonya Mariam meraung nikmat ketika rudal itu menghujam ke dalam rahimnya.


Walau memang sudah tua, senjata pamungkas Edward telah menjadi kecanduannya. Nyonya Mariam berteriak-teriak bagaikan kupu-kupu malam yang sedang memuaskan naf su suami tuanya. Meski terlihat menjijikkan mamadu cinta dengan pria tua, Nyonya Mariam tetap puas dengan pelayanannya.


"Occhhhh!" Mariam mendesah cukup keras. Ia lunglai di atas Edward. Begitupun Tuan Edward terkulai lemas sudah menuntaskan bira hinya. Benar-benar permainan cinta yang sangat menggairahkan.


.


.


.


Sedangkan di mansion Barsha, terlihat pelayan Melissa sedang berjalan sendirian di lorong-lorong. Ia bersenandung ria menikmati udara sore ini. Selain itu, ia bersiul-siul tidak sabar menyambut Tuan muda kecil yang dikandung Arum.


Namun langkah kakinya terhenti tatkala kedua matanya menangkap gerak gerik asisten Braga yang mencurigakan.


"Kenapa tuh asisten Braga ke kamar Nyonya?" gumam Melissa bergegas menghampirinya.


"Ehem, ada perlu apa asisten Braga ke kamar Nyonya?"


Dari deheman itu, Braga berhenti memutar knop pintunya. Ia segera menoleh dan berusaha tenang berhadapan Melissa.


"Apa Nyonya Barsha memanggil anda, asisten?" tanya Melissa menyipitkan sedikit matanya.


"Melissa, sampai sekarang ini saya tidak melihat Nyonya Barsha, tentu saya datang untuk mengeceknya, apa itu masalah buatmu?" jelas asisten Braga berdiri angkuh.


"Oh itu, sepertinya tadi siang Nyonya pergi bersama Lady Arleya."


"Kemana?"

__ADS_1


"Entah."


Asisten Braga pergi meninggalkannya tanpa sekata terucap.


"Diih, sombong! Kesal deh!" celetuk Melissa berdiri menatap ke luar melewati jendela di sebelahnya. Asisten Braga mendesis melihat Melissa masih berjaga-jaga di depan kamar majikannya. 'Sialan, wanita ini pengacau rencanaku. Awas saja! Tidak lama lagi kau akan ditendang dari Istana ini.' Braga pergi tidak jadi masuk ke dalam kamar Barsha. Ia punya alasan tertentu ingin masuk ke dalam sana. Yang jelas rencananya ini tidaklah baik bagi selir Barsha, Rayden terutama paling yang ia benci adalah Arum.


Berkali-kali ia ingin masuk, tetapi selalu gagal dengan kehadiran Melissa. Sampai tiga hari ini ia diawasi terus oleh wanita itu. 'Tidak bisa dibiarkan, dia harus disingkirkan dulu.' Braga pergi dari mansion untuk memulai rencananya.


Selama tiga hari ini, memang Barsha tidak pulang ke Istana karena ia tidak percaya pada Rayden. Selain itu juga, ia cemas pada Arum yang belum sadar juga. Akibat dari perbuatan Rayden tiga hari lalu, gadis itu masih lemah tidak berdaya di atas brankar. Sesekali Arleya datang berkunjung menemani Barsha dan menunggu hasil tes DNA.


"Barsha, pulanglah. Kau tampak lelah berada di rumah sakit ini,"


"Tidak Arleya, aku cemas Rayden akan melukai Istrinya." Barsha tetap menolak sambil memandangi Arum. Hanya dua wanita itu yang berada di sana, karena Rayden saat ini pergi ke mansion Barsha untuk memberi perhitungan pada asisten Braga yang sudah mengompori emosinya.


"Barsha, apa kamu masih ingat saat kita berwisata ke berbagai penjuru dunia?"


"Kenapa kau mengungkitnya?" tanya Barsha menatapnya.


Arleya menggenggam kuat tangan wanita itu kemudian melihat dalam-dalam matanya.


"Barsha, wisata terakhir kita berakhir di negara Maritim, apa kau masih ingat saat itu kau dan aku setahun tinggal di sana?"


Barsha menarik cepat tangannya, menyentuh kepalanya yang langsung berdenyut-denyut lagi.


"Kau tahu, gara-gara kau hilang di sana, aku mencarimu selama setahun,"


"Hilang?" lirih Barsha agak merasa aneh.


"Ya Barsha, aku menemukanmu di pantai Bali," lanjut Arleya jelas.


"Aku ingat, tapi aku lupa apa yang terjadi padaku." Kepalanya semakin berdenyut saat ia berusaha ingat kembali.


"Itu karena kamu pernah amnesia, Barsha!"


"Amnesia?"


"Ya, Dokter mengatakan padaku, kau mengalami amnesia dan-" Arleya menghentikan ucapannya.


"Dan apa?"


"Barsha, jujur hanya aku yang tahu ini, dan aku tidak berani katakan padamu," ucap Arleya was-was.


"Katakanlah," desak Barsha ingin tahu.


"Kau ingatkan, setelah kau sadar, payu daramu mengeluarkan ASI. Benar kata Dokter, kau pernah melahirkan anak."


Bagaikan ditimpa batu besar, Barsha seketika diam.


"Arghhh!" ringis Barsha kesakitan pada kepalanya. Arleya memegang kedua bahunya lalu mengguncang wanita itu.


"Barsha, cobalah ingat! Ingat apa yang terjadi padamu saat itu!" desak Arleya.


"Menyingkirlah! Hentikan ucapan omong kosongmu, aku tidak pernah melahirkan anak!" ujar Barsha marah.


"Tenanglah, Barsha. Kau harus coba ingat dulu," lirih Arleya menenangkan Barsha yang memang gampang emosi, seperti Rayden.


"Aku mandul! Mana mungkin melahirkan anak, Leya!" sekali lagi Barsha menimpalnya.

__ADS_1


"Bodoh, kenapa kau percaya dengan kata-kata Mariam? Kau tidak sama sekali tidak mandul, itu hanya akal-akalan Mariam supaya Edward membuang mu!" Arleya balas marah.


"Tidak-tidak! Aku tidak percaya padamu! Kau pasti sedang menghasutku!" racau Barsha menepis Arleya dan berlari ke arah pintu, namun Dokter datang sehingga menabraknya. Barsha jatuh tersungkur ke lantai. Arleya bergegas menghampiri Barsha.


"Bars, kau baik-baik saja?"


Namun Barsha diam menunduk. Kedua tangannya bergetar hebat melihat kertas di hadapannya.


"Ini apa?" Barsha melihat ada namanya dan nama Arum tertera di sana.


"99.9% anak kandung?" tambahnya menatap Arleya dan Dokter.


"Apa ini? Apa-apa ini, Leya?" Suara Barsha meninggi.


"Maaf Barsha, aku diam-diam melakukan tes DNA-mu dengan Arum. Semenjak aku tahu nama -Arum- rasanya ini tidak asing bagiku. Apalagi kau dulu pernah menyebut nama ini saat kau tertidur di pesawat. Saat itu kita kembali dari sana, kau tidak henti-hentinya mengigau." Itulah mengapa Tuan Charleus tidak asing dengan nama Arum, karena ia sendiri yang menjemput Arleya dan Barsha memakai pesawat pribadinya.


"Arghhh!" jerit Barsha meremas kuat rambut pirangnya lalu berdiri menatap Arum. Wajah itu, benar! Wajah itu hampir mirip dengan seseorang yang kini muncul di memorinya.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin." Barsha mundur jatuh tersungkur ke belakang.


"Apa yang kau ingat, Bars?" desak Arleya. Dokter di sana diam membisu melihat dua wanita di depannya sedang berdebat.


"Arghhh... baji ngan! Pria itu baji ngan!" Barsha meracau terus menerus. Air matanya berlinang deras. Terlihat ada trauma yang dia rasakan.


"Siapa pria itu, Barsha?" Arleya memeluk Barsha yang bergetar ketakutan.


"Dia-dia menculikku, pria-pria itu jahat! Pria itu memperko saku. Hikss... hikss... dia menculikku, dia ingin aku melahirkan anak untuknya." Barsha terisak-isak. Luka hatinya bertambah makin dalam mengingat masa lalu kelamnya.


"Siapa-siapa yang menculikmu, Barsha?" desak Arleya sudah geram mendengarnya. Ia tidak tega melihat sahabatnya itu menyedihkan.


"Marsel?" tebak Arleya.


"Hiks... hikss, dia pembohong, dia jahat, dia ingin membunuhku," lirih Barsha menangis sesugukan. Arleya mengelus rambut Barsha dan menenangkan wanita itu. Perlahan Barsha pun menjelaskan kalau pria itu blasteran bernama Marselino Narendra Putro. Marsel yang memang menginginkan anak laki-laki darinya, karena Marsel seorang anak tunggal sekaligus pewaris harta dari keluarga konglomerat. Nasib kelam, Barsha menikah paksa dengan pria kejam itu yang sama sekali tidak ia kenal. Lantas mengapa pria be jat dan playboy itu membuang Arum dan Kamelia? Apa karena suatu aib?


Barsha memeluk anak satu-satunya. Bayi yang dulu ia tinggalkan. Bayi yang menjadi bukti ia tidaklah mandul. Kini semua sudah terungkap mengapa Barsha terkejut mendengar nama Marselino, karena dia punya hubungan dengan masa lalunya.


"Arum, putriku, putriku."


DEG.


"Putri?" Arleya dan Dokter menoleh ke arah pintu di mana pria bermata biru itu dan gagah berdiri di sana. Terlihat tampilan Rayden acak-acakkan habis berkelahi.


"Rayden?" Barsha terkejut di samping Arum yang belum sadar.


Rayden masuk, ia sudah mendengar semuanya dan jika dipikirkan lagi, ia telah menikahi adik tirinya sendiri.


Apa ini sebuah kebetulan?


.


.


Yang jelas hanya Author yang tahu🤣wkwk...


Maaf ya, emak terlalu serius bikin Novelnya jadi tidak ada komedinya wkwk, tapi tenang, bakal ada komedinya kok, tapi belum waktunya. Karena di part selanjutnya Rayden harus berkelahi, namanya juga gendre Action. Wkwwk... Yang tidak suka maaf sebesar-besarnyašŸ™tinggalkan like dan komen ya✌.


Maaf kalau banyak typo dan salah.

__ADS_1


__ADS_2