Hasrat Tuan Muda

Hasrat Tuan Muda
Bab 41 Ini Aku, Mas Ray!


__ADS_3

Ditinggal lagi sayang-sayangnya memang berat dan menyakitkan. Itulah yang dirasakan Arum saat ini. Usia kehamilan gadis itu telah mencapai 21 minggu. Bertahan di dalam apartemen hanya sendirian dan bekal makanan di dalam kulkas sudah habis.


Arum bersandar di sofa, menangadah ke atas dan mengusap-usap perut buncitnya dengan lembut.


"Baby, mungkin Mommy hari ini harus puasa. Kamu yang kuat di dalam sana ya, sayang."


Kruuukk!


"Ah... lapar banget nih." Arum mendesah kesal mendengar suara perutnya. Tanda cacing sedang berperang di dalam sana atau mungkin Baby sudah demo bersama cacingnya minta jatah harian.


Arum menjatuhkan diri ke sofa, berbaring dan menatap ke arah luar balkon. Rasanya ia ingin keluar melalui di sana, tapi ia juga tahu kalau lewat sana akan mati konyol.


"Daddy kamu jahat banget ya, Baby. Sampai-sampai tidak pernah menjenguk kita. Apa kepalanya lagi gegar otak sehingga tidak ingat istri dan anaknya kelaparan di sini?" resah Arum memejamkan mata.


"Achh...." racau Arum mulai frustasi. Gadis itu mengacak-acak rambutnya kemudian masuk ke dalam kamar. Arum dengan tatapan kosong menatap gunting dan tirai jendela. Ia mengambil kedua benda itu lalu melakukan sesuatu.


"Rayden!" panggil seorang pria berpakaian setelan hitam. Ia berlari menghampiri pria bermata biru yang sedang latihan menembak.


Dor dor dor dor...


"Woi! Rayden!" teriaknya memanggil. Namun Rayden cuek dan fokus menembak bertubi-tubi papan kayu di hadapannya sehingga papan itu hancur lebur. Rayden sedang kesal dan emosi latihan hari ini. Sekali lagi Rayden menarik pelatuk siap menembak, tetapi ditahan oleh temannya.


"Ray, sampai kapan kamu di sini? Ini sudah sebulan lebih kau tinggal di Markas. Apa kamu tidak peduli pada Istrimu di Istana?" ucap temannya.


Rayden menembak masih cuek. Sikap dinginnya sangat mengherankan akhir-akhir ini. Dulu-dulu pasti marah jika ada yang mengganggunya.


"Rayden, jangan bilang kamu lagi bertengkar sama istrimu jadi kamu nginap di sini?"


DOR! Suara tembakan terakhir itu begitu keras. Rayden pun menoleh. Tatapannya datar, bahkan tidak ada minat untuk mengajaknya mengobrol.


"Cerewet banget sih! Bisa gak kamu diam!" bentak Rayden lalu siap menembak lagi.


"Yaelah, kamu kenapa sih dingin banget? Kemarin-kemarin tidak gini deh," cetus temannya duduk bersila di tanah. Rayden mendecak kemudian ikut duduk, tidak jadi menembak.


"Nih minum dulu," tawar temannya.


"Gak usah," tolak Rayden.


Temannya pun menghela nafas kemudian meneguk air mineralnya.


"Kau punya masalah ya sama istrimu?"


"Gak," jawab Rayden mengusap peluhnya.


"Hahaha....."


Rayden mengernyit heran temannya tertawa lepas.


"Kenapa kau tertawa?"


"Kau lucu, Ray." Temannya menepuk bahu Rayden dan tertawa lagi.


"Lucunya di mana?" tanya Rayden heran.


"Kau ke sini setelah pernikahanmu berusia tiga hari, dan sekarang kau belum pernah pulang melihat Istrimu. Jangan-jangan kau menikahinya karena tidak cinta ya?" tebak temannya meledek.


"Cih, tentu saja kami saling cinta."


"Aduh, kalau memang cinta, kamu gak bakal lama-lama di Markas ini. Oh atau mungkin kalian belum pernah unboxing nih?" tebak temannya lagi-lagi meledek.


Rayden tersenyum kecut lalu menondongkan pistolnya.


"Mau aku lubangi kepalamu sekarang?" kata Rayden semakin kesal hingga ingin menembak kepala temannya sendiri.


"Oh tenang, jangan emosi dulu. Aku kan bercanda, Ray." Temannya menurunkan pistol Rayden.


"Arghhh!" decak Rayden meremas pistolnya. Teman Rayden tersentak melihatnya emosi.


"Nah, pasti ada masalah kan?"


"Bisa diam gak sih?" kesal Rayden ingin menyumbat mulut temannya itu.


"Diih, tahan emosi, Bro! Kalau gini Istrimu bakal takut, apalagi kalau istrimu dah hamil, dia pasti bisa stress dan mengakhiri hidupnya,"

__ADS_1


DEG.


"Kenapa kau bicara begitu?" tanya Rayden terkejut.


"Hadeh, aku kan dulu juga pernah gini. Kalau ada masalah aku minggat dari rumah dan ninggalin Istri-anak. Tau-taunya, setelah aku balik ke rumah, istri dan anakku sudah meninggal. Yah salahku sendiri tidak menghargai mereka, dan sampai sekarang aku masih betah menduda."


Melihat temannya curhat, Rayden sedikit tergerak dan ingin menepuk bahunya, tapi lirihan dari temannya membuat ia diam mematung.


"Aku bodoh, egois, emosional. Aku benar-benar nyesel banget, Ray."


Rayden mengepal tangan, entah rasanya ini yang ia alami sekarang.


"Kau pulang gih sana Ray, jangan sampai istrimu kenapa-kenapa di sana," ucap temannya menepuk bahu Rayden. Ia nampak simpati pada Rayden sehingga berpikir Rayden punya masalah.


"Emang Istriku bakal kena apa kalau aku tidak pulang?" tanya Rayden iseng-iseng.


"Yaelah, kamu ini manusia apa setan sih?"


"Apa maksud mu, ha?" kesal Rayden.


"Ray, kalau kau punya hati, pasti kau akan memikirkan istrimu. Sekarang kau pulang gih manjain istrimu, jangan sampai ia diculik di sana," ucap temannya menakut-nakuti.


"Diculik? Siapa yang berani menculiknya?" tanya Rayden. Ia tahu tidak ada yang bisa menculik Arum di apartemennya.


"Bisa saja dedemit,"


Byursss!


Rayden yang tengah minum langsung saja menyembur. Matanya melotot kaget mendengarnya.


'Dedemit?' batin Rayden bergegas bangkit. Ia yang tidak suka Arum disentuh pun sadar kalau di dunia ini masih ada makhluk yang bisa saja mencelakai istri dan anaknya.


"Ray, mau kemana?" teriak temannya ditinggal begitu saja.


"Pulang!" balas Rayden pergi meninggalkan Markas.


Tidak lama kemudian, mobil spot merah Rayden berhenti di apartemennya. Rayden naik lift menuju tempat Arum. Namun sesampainya di depan pintu, tangannya bergetar. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.


"Cih, aku tidak salah!" Rayden membuka pintu apartemennya. Ia pun termangu sendirian menatap isi apartemen itu berantakan.


"Di mana istriku?" Rayden panik, sangat panik. Ia bergegas ke balkon dan tidak melihat siapa-siapa. Pria itu pun kalang kabut tidak ada tanda-tanda keberadaan Arum.


"Jangan-jangan?" Rayden berlari ke arah kamarnya. Jantungnya memompa naik turun, khawatir ucapan temannya bisa terjadi.


"Baby!" panggil Rayden membuka pintu kamar. Namun sama saja, tidak ada seseorang terlihat. Rayden berlari ke kamar mandinya, ia masuk melihat ke bahtubh, tetapi Arum tidak ada.


Rayden meremas rambut kepalanya, ia duduk di tepi ranjang dan merutuk habis-habisan dirinya.


"Bodoh! Egois, jahat, kau bajing*n Rayden!" Pria itu meracau sendirian sudah menyiksa dan mengurung Arum selama ini. Akan tetapi, seketika ia terkejut sebuah kepala terlihat di bawah ranjang.


"Mas Ray...."


"Aaachhhh.... setan!" Rayden melompat kaget di atas ranjang. Kepala itu yang ditutupi rambut hitam pekat semakin menampakkan wujudnya. Apalagi ia memakai daster lusuh berwarna putih. Rayden menggigil ketakutan melihat sosok dedemit di siang bolong gini.


"Kau kuntilanak, dasar setan! Beraninya kau jiplak wajah istriku! Mau aku tembak kau, ha!" bentak Rayden marah-marah.


Sosok itu menangis menyedihkan ditodong pistol.


"Asw! Kenapa kau menangis ha! Berhenti nangis, gak!"


Tetapi tangisnya makin kencang.


"Setan, mau mu apa, ha! Pergilah, aku tidak suka sama dedemit sepertimu!" usir Rayden bergetar ketakutan.


"Ahhh tunggu, serahkan istriku dulu!" bentak Rayden. Bukannya berhenti, tangisnya lebih kencang.


"Huaaa... ini aku, Mas Ray." Arum mengucek-ucek matanya. Ia menangis senang bercampur sedih didatangi oleh Rayden.


"Baby?" Rayden menurunkan pistolnya. Arum memperbaiki rambutnya dan menatap Rayden sedih. Wajahnya sedikit pucat siang ini.


Rayden perlahan mendekati Arum, ia sedikit was-was.


"Kamu bukan setan, kan?" tanya Rayden.

__ADS_1


"Hiks, bukan! Yang setan itu kamu, Mas!" timpal Arum menangis lagi.


"Hiks... kenapa baru datang? Untung saja aku tidak gantung diri," isaknya menunjuk gunting dan tirai yang sudah siap ia lilit tadi.


Rayden mengepal tangan, ia belum bisa memeluk Arum.


"Aku benci kamu, Mas! Aku benci!" kesal Arum menangis.


Rayden tersentak, ia menatap dari bawah sampai atas tubuh istrinya yang sedikit kurus. Akibat dari perbuatannya membuat mental Arum hampir rusak. Rayden segera memeluknya.


"Maaf, Baby."


Tapi Arum mendorongnya.


"Pergilah, aku tidak mencintaimu lagi!"


Rayden tetap memeluknya.


"Maaf, aku salah, Arum."


"Hiks... hiks...." Arum sesugukan.


"Aku tidak mau maafkan kamu," ucap Arum memukul-mukul dada bidang Rayden.


"Arum, aku salah-salah besar padamu. Berhentilah menangis, jangan berhenti mencintaiku, tolong maafkan aku. Hanya kamu saja di dunia ini yang mencintaiku," lirih Rayden memeluknya erat. Arum terdiam, ia menatap wajah Rayden.


"Lantas kenapa kau menyiksaku?" isak Arum.


Rayden menunduk, lalu memeluknya lagi. "Maafkan aku, aku terlalu emosi dan tidak peduli pada perasaanmu, aku sadar harusnya tidak menyiksamu di sini. Jangan benci padaku, jangan berhenti mencintaiku, Arum." Rayden yang kali ini menangis. Memang benar, hanya Arum satu-satunya yang mencintai dengan tulus.


"Baiklah, aku kasih kesempatan." Rayden tersenyum sumringah mendengarnya, ia langsung mengecup kening Arum.


"Terima kasih, Baby," lirih Rayden memeluknya lagi.


"Ta-tapi ada syaratnya," sahut Arum mengusap air matanya.


"Apa, Baby?"


"Bawa aku--"


"Mau pulang?"


"Bukan,"


"Terus mau apa, Baby?"


"Hikss...." Arum menangis lagi.


"Kamu kenapa nangis lagi?"


"Hikss... lapar." Arum mengelus-elus perutnya. Rayden tersenyum kecil lalu memegang tangan Arum.


"Ya sudah kita keluar makan," ajak Rayden.


"Tidak bisa," ucap Arum belum bergerak.


"Kenapa?" tanya Rayden heran.


"Aku dekil," jawab Arum nunjuk pantulannya yang berantakan di cermin. Rayden menahan tawa, ia pun membelai rambut Arum.


"Kalau begitu sini aku mandikan." Rayden menarik Arum ke kamar mandi. Ia sendiri membersihkan tubuh Arum. Mengkeramas rambut panjang istrinya. Arum pun diguyur air shower. Terlihat ia memeluk Rayden yang juga ikut mandi bersamanya.



Tubuh hangat itu sangat menenangkannya. Ia kembali menangis di pelukan Rayden.


"Lain kali jangan marah lagi," lirih Arum terisak.


"Baiklah, janji tidak akan memarahimu." Rayden mengelus punggung istrinya yang cukup lemah itu. Tiba-tiba saja, Arum tidak sadarkan diri. Rayden kembali panik, buru-buru memasangkan pakaian untuk Arum lalu membawanya ke rumah sakit.


.......


.......

__ADS_1


.......


...Tinggalkan Like coment dan voteđź’•...


__ADS_2