
"Maaf, bisakah Ibu ikut dengan saya?" Gara-gara sahutan singkat itu, Kinan pun secepatnya mendorong dirinya mundur. Terlepas dari pelukan gratis Joan.
"Maaf, aku tadi memelukmu." Kinan sedikit menunduk, kemudian berjalan ke Dokter. Joan hanya tersenyum lega melihat Kinan.
"Maaf, Bu. Saya jadi mengganggu waktu kalian," ucap Dokter.
"Tidak apa-apa, Dokter tidak salah kok di sini," balas Kinan. Sedih rasanya Dokter itu mengira Joan adalah suaminya.
"Terima kasih Dokter sudah merawat saya, nanti biaya rumah sakit -" Kinan terhenti saat Dokter menunjuk Joan.
"Biaya rumah sakit sudah dibayar oleh suami anda, sekarang bisakah Ibu kembali masuk ke dalam?"
Kinan menengok sebentar, melihat Joan masih berdiri di tempatnya. 'Hadeh, dia itu bukan suamiku. Dokter ini sudah salah paham, tapi kenapa Tuan kumis ini hanya diam saja?' batin Kinan.
"Itu Dok, untuk apa saya masuk?" tanya Kinan tidak jadi membenarkan ucapan Dokter itu.
"Bu, kondisi anda perlu diperiksa lebih jelas lagi. Apalagi anda baru-baru ini hampir mengalami kecelakaan, saya khawatir ada dampak terjadi pada kandungan anda."
Benar kata Dokter, ada bayi di dalam perutnya yang perlu diperiksa. Kinan langsung meraba perut buncitnya lalu mengelus lembut. Sedikit menyesal. Merasa tidak ada bedanya dia dengan Wira yang tidak memikirkan masa depan anaknya itu.
'Maaf sayang, Bunda hampir membuat mu terluka. Bunda janji tidak akan melakukan kebodohan itu.'
Kinan kecewa dalam hati. Dia hampir menjadi Ibu kejam di dunia ini. Untung rasa sayangnya masih mewarasakannya.
"Mari Nona ikut masuk bersama suami anda juga," ajak Dokter pada Joan.
Kinan menggelengkan kepala. "Dokter, dia itu-" lagi-lagi Kinan terhenti saat satu tangan mendarat ke atas kepalanya. Elusan lembut itu terasa hangat. Kinan menoleh ke Joan yang sudah berdiri di dekatnya. Begitu lama kedua mata mereka bertemu sehingga Dokter jadi tersenyum melihat pasangan di depannya itu.
"Terima kasih Dokter sudah merawatnya, sekarang mari istriku kita masuk periksa kehamilanmu." Kinan terperangah mendengar dan melihat senyum manis Joan. Begitu jauh sifatnya dengan Wira. Jaraknya seperti planet pluto dan bumi.
'Tuan ini baik sekali, sampai membantu ku. Memang sudah lama aku ingin diperiksa, tapi Wira selalu saja sibuk. Kenapa pria ini yang malah baik padaku? Kenapa bukan suamiku sendiri?' batin Kinan menunduk sedih.
Dia pun masuk bersama Joan, dan hanya diam terus melihat Suster perempuan mengoles gel ke permukaan perutnya kemudian meletakkan alat periksa USG dan seketika menampilkan janin di dalam perutnya. Joan yang duduk tidak jauh dari mereka pun takjub dan berdiri mendekati monitor. Gambar di depannya membuat Joan terpana, seperti ada perasaan aneh melihat kaki dan tangan mungil itu sangat aktif di dalam sana. Rasanya dia ingin memiliki baby juga.
"Selamat ya Bu, anaknya laki-laki dan sangat sehat. Tapi bulan depan Ibu harus mengecek lagi agar lebih jelas kelaminnya dan kesehatan bayi. Sekali lagi selamat ya, Bu." Dokter berdiri di sebelah suster dan tersenyum ramah. Sedangkan Kinan kembali terharu sudah melakukan trimester satu meski tanpa kehadiran Wira.
'Padahal aku ingin Mas Wira yang menemaniku, tapi rupanya aku ditemani pria lain.'
Kini Kinan duduk berdekatan Joan di depan meja kerja Dokter dan mendengar arahan konsultasi dari Dokter.
"Kondisi bayi sangat sehat, tapi saya berpesan kepada-" ucap Dokter belum tahu nama bumil muda di depannya itu.
"Kinan, Dok." Kinan menyambungnya. Joan pun melirik Kinan yang tersenyum manis. 'Oh Kinan? Jadi namanya itu?' Joan diam-diam mengukir senyum tipis.
"Nah, itu Bu Kinan jangan terlalu banyak pikiran ya, dan harus banyak-banyak istirahat, jangan paksakan diri untuk melakukan kegiatan berat, terutama untuk-" Dokter lagi-lagi berhenti, lupa nama Joan.
"Siapa nama, Bapak?" tanya Dokter.
__ADS_1
"Joan, Dok." Kinan pun menoleh juga mendengar pria itu menyebut nama. 'Joan? Kenapa aku tidak asing dengan nama ini ya?' batin Kinan sedikit terkejut.
"Ah ya, Pak Joan biasakan memberi waktu untuk istri anda dan sesekali membawanya jalan-jalan agar perasaaan sang Ibu dapat rileks dan bayi di dalam perut istri anda tetap aktif dan sehat. Tolong perhatikan selalu istri anda."
Dokter memberikan buku kehamilan ke Joan membuat Kinan jadi malu karena Joan harus diberi buku panduan Ibu hamil itu.
"Ba-baik, akan saya ingat, Dok!" Joan tersenyum bodoh diberi amanah itu. 'Ya Tuhan, aku merasa seperti suami nyata gadis ini.' Joan dalam benaknya sudah jauh ikut campur.
Setelah konsultasi cukup lama, Dokter baru mengizinkan Kinan dan Joan keluar dari ruangan. Sekarang suasana jadi canggung di antara Kinan dan Joan.
"Nih, ambillah bukumu, Nona." Joan menyerahkan buku bumil itu dan tidak lupa tersenyum. Dia memang sosok pria yang murah senyum kepada siapa saja.
"Te-terima kasih, Tuan." Kinan dengan malu-malu mengambilnya.
"A-aku jadi merepotkan mu hari ini," tambah Kinan tersenyum manis. "Aku pergi duluan, permisi." Kinan bergegas ingin pulang namun tangan yang memegang buku itu ditahan oleh Joan.
"Sebentar, Nona."
Kinan pun refleks menarik tangannya lepas membuat Joan agak terkejut. "Maaf Tuan, tolong jangan asal menyentuh ku." Ucapan Kinan itu mengingatkan Arum padanya.
"Maaf, aku sudah kurang ajar," ucap Joan cengengesan.
"Oh ya, kita belum saling kenal," tambah Joan membuat Kinan mengernyitkan dahi.
"Terus?" tanya Kinan.
"Sebenarnya, aku baru di sini. Tidak tahu mengajak siapa untuk mengobrol. Kamu bisa kan menemani ku seharian?" tutur Joan ingin lebih dalam mengenal Kinan.
"Pas sekali, biarkan aku juga yang menemanimu, Nona."
Kinan tersentak. "Emm, jadi merepotkan anda lagi nih?"
"Tidak masalah, aku senang dapat menolong mu," ucap Joan.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih." Kinan pun mengenalkan dirinya dari Indonesia dan ke London untuk liburan bersama suaminya. Sedangkan Joan memalsukan identitasnya. Jika Kinan tahu disebelahnya seorang Mafia maka bisa saja Kinan shock dan melahirkan anak di dalam mobil sportnya. Bukan kah itu agak lucu?
Joan senyam-senyum memikirkan ekpresi Kinan itu. Dia pun menoleh ke Kinan ingin tanyakan soal suaminya mengapa membiarkan Kinan sendirian di jalanan. Joan pikir mungkinkah gadis ini punya suami atau tidak?
"Nona Kinan,"
"Ya ada apa, Tuan?" tanya Kinan deg-degan hanya berdua di dalam mobil.
"Saya jadi penasaran mengapa tidak ada suami yang menemanimu, apa dia sedang sibuk?" tanya Joan juga grogi.
Kinan diam sejenak. "Itu, suamiku memang sibuk. Dia akhir-akhir ini mengurus saham ayahku, tapi walau dia sibuk, dia sangat baik dan sayang padaku, bahkan berkali-kali memberiku kejutan indah. Aku jadi merasa bersalah sering mengganggunya, dan tidak membalas kebaikannya," ucap Kinan berbohong. Sama sekali ucapannya itu terbalik. Kinan hanya ingin Joan tidak macam-macam padanya sehingga bicara Wira sosok suami yang baik. Tapi dalam benak Joan, apakah Wira mencintainya?
"Bahagia sekali ya dapat suami yang dapat mencintai dengan tulus," ucap Joan menatapnya lagi. Kinan menunduk. Bahagia? Apa di raut wajahnya memancarkan cahaya kebahagiaan? Seandainya pria itu tahu, dia sedang sangat terluka sekarang, menderita, tersiksa, dan bahkan terasa hidupnya hampa, pasti kata bahagia itu tidak akan terucap.
__ADS_1
Kinan pun bicara dan sedikit bergetar "Ya, su-suamiku sangat mencintaiku, sampai-sampai dia tidak bisa bernafas jika tidak melihatku seharian." Perih hati Kinan berdusta di depan Joan.
Joan pun hanya tersenyum singkat mendengar kalimat lucu itu, ia pun kemudian fokus menyetir. Dia dapat menebak, ada tekanan batin yang tertahan di dalam hati gadis itu. Joan tahu, kebohongan Kinan.
Setelah jalan-jalan seharian ke supermarket dan beberapa tempat, Joan pun mengantar pulang Kinan. Saat turun dari mobil, pandangan Joan menangkap satu mobil di depan rumah Kinan. Ya, mobil Wira yang sudah pulang. Kinan tersenyum lebar melihat sudah ada mobil suaminya, ia pun menoleh ke Joan.
"Sepertinya suamiku sudah datang. Terima kasih, Tuan Joan sudah baik hati menemani dan mengantar ku pulang, lain kali aku akan balas kebaikan anda, permisi Tuan."
Joan menghembus nafas berat melihat Kinan masuk, ia pun melihat ponselnya tertera satu kontak baru. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Tidak sia-sia aku tadi menyembunyikannya. Sekarang aku harus ke rumah Rayden, melihat dua ponakan kecil ku." Joan pun ingin masuk ke dalam mobil, akan tetapi pandangannya sore ini menangkap sosok anak kecil.
Kamelia, dia sedang berada di samping rumah main sendirian. Tiba-tiba kaki Joan pun tidak jadi naik ke mobil, ia berjalan perlahan ingin lebih jelas melihat Kamelia. Sontak saja, Barsha keluar ingin memanggil Kamelia masuk. Tidak sengaja pandangan keduanya bertemu.
"Mama?"
"Joan?"
Kamelia berdiri di sebelah Barsha setelah melihat Joan membuka sebentar kumis tebal palsunya.
"Mama, dia siapa?" tanya Kamelia belum kenal. Barsha segera menjawab. "Dia saudaranya Om Rayden, Joan Edrian." Barsha bergegas memeluk Joan, dia sangat terharu putra mahkota dapat langsung melihatnya. Air matanya berderai turun.
Joan pun diajak masuk, dan sekarang duduk di sofa bersama Kamelia. Sementara Barsha ke dapur membuatkan jamuan untuk anaknya itu.
"Om!" sahut Kamelia memanggilnya.
Joan menoleh. "Kenapa?" Joan sudah tahu anak manis di dekatnya itu adik tiri Arum. Berkat Arleya, ia juga sudah tahu Barsha adalah Ibu kandung Arum.
"Om Mafia, ya?" tanya Kamelia polos. Joan tersenyum lalu mengangguk kecil. Kamelia pun berseri-seri dapat bertemu Bos Mafia dengan jarak sedekat itu.
"Om!" lagi-lagi Kamelia memanggil.
"Kenapa?"
"Om, ke sini tidak bawa pengawal? Kok sendirian saja sih? Om tidak takut diculik musuh?" tanya Kamelia bertubi-tubi. Joan pikir anak itu ingin meminta hadiah berupa sepeda, tapi malah menganggapnya remeh. Sedikit ada rasa kesal di hatinya.
'Anak ini cukup menyebalkan.'
Begitu pun Kinan yang sudah masuk dan melihat Wira menelpon diam-diam. Kinan melangkah maju, ingin mendengar apa yang Wira bicarakan sampai CEO es itu tidak menyadarinya.
Spontan, ia berhenti tepat di belakang Wira.
“Ya sayang, kamu mau berapa? Mau 50 juta? 100 juta? Atau aku kasih hadiah rumah mewah?”
Tidak sangka Wira diam-diam menafkahi wanita lain.
.....
__ADS_1
Satu kata buat Wira apa nih, Mak?😤
Tinggalkan like dan komennya ya🥰terima kasih