
"Aah, Tuan."
Arum meringis kecil lengannya tidak sengaja ditindih. Rayden sontak saja berhenti, memperbaiki celana Arum lalu duduk sila di sebelah Arum.
"Kenapa? Apa tadi aku sudah menindih perutmu?" Dengan cemas, Rayden meraba-raba perut Arum, berharap Dedek kecilnya baik-baik di dalam rahim sang Ibu.
Arum beranjak duduk, memperbaiki bajunya yang berantakan. Ia pun memijat sedikit lengannya.
"Bukan itu,"
"Terus apa?"
"Lenganku masih sakit,"
Mendengar keluhannya, Rayden pun menghembus nafas lega, lalu membelai kepala Arum.
"I am sorry, aku lupa lenganmu itu masih ada lebamnya."
Rayden mengambil kotak P3K di dalam laci, memberi olesan obat dengan hati-hati. Terlihat Arum diam memperhatikan Rayden yang perhatian malam ini. Desiran aneh menyelimuti hatinya lagi.
'Dia kalau begini rasanya adem banget, jadi pengen-'
Tuk!
"Aws!" ringis Arum dijentik keningnya oleh Rayden, membuatnya sadar.
"Apa lagi yang kau pikirkan?"
"Pasti memikirkan pria lain, kan?"
"Kenapa setiap aku peduli padamu, kau selalu bengong?"
Satu demi satu pertanyaan Rayden lontarkan. Ia masih saja menaruh curiga pada Arum. Meski kini ia berada di belahan dunia lain, Rayden tetap was-was gadisnya akan direbut oleh pria lain.
Sebelum bertambah parah tuduhan Rayden, Arum menjawab sejujur-jujurnya malam ini.
"Aku tidak memikirkan siapa pun, kecuali kamu. Sedetik maupun semenit tidak melihatmu, aku pasti memikirkanmu, dan sekarang walau kamu berada tepat di depan mataku, aku tetap saja memikirkanmu. Berpikir, sebesar apa rasa cinta itu sampai kau perhatian padaku malam ini," tutur Arum tersenyum manis.
"Dan kedua, aku tidak memikirkan pria itu. Aku sama sekali tidak mencintainya," tambah Arum.
"Dan ketiga, aku bengong karena satu hal," ucap Arum menaikkan satu telunjuknya.
"Apa itu?" tanya Rayden ingin tahu.
"Apa aku boleh membalas rasa cintamu ini?" Arum meletakkan telapak tangannya di dada kiri Rayden. Detak jantung serasa berdebar-debar di dalam sana.
"Balas cinta? Maksudnya kau juga mencintaiku?" Rayden sedikit terkejut. Ia belum paham mengartikannya.
__ADS_1
"Yes, i love you to."
Senyum manis Arum kembali terukir, mewakilkan ungkapannya tulus keluar dari lubuk hatinya.
"Sungguh cinta aku?"
Arum mengangguk berkali-kali.
"Apa yang kau cintai dariku?"
"Apa itu harta?"
"Tahta?"
"Bodiku yang seksi?"
"Atau my phyton?"
"Or my heart?"
Arum terbelalak mendengarnya. Tawa kecilnya membuat Rayden mengerutkan kening. Arum merangkulkan kedua tangannya ke leher Rayden dan kemudian mengungkap kata-kata manis malam ini.
"Aku mencintaimu. Karena kamu, aku seperti sekarang ini. Setiap harapan dan mimpi yang aku bayangkan, semua adalah karenamu. Tak peduli apa yang akan terjadi esok dan lusa. Karena setiap hari, saat ini adalah hal yang luar biasa bagi hidupku. Aku akan selalu menjadi milikmu, Tuan Rayden."
Rayden hampir terhipnotis mendapat kalimat Arum. Keduanya saling bertatap muka, mengamati kedua manik indah mereka dalam-dalam. Kemudian Arum memejamkan mata ingin mengecup Rayden. Akan tetapi, keduanya terlonjat kaget setelah pintu diketuk dari luar. Suara ketukan itu menghancurkan suasana manis ini. Raut wajah Rayden menjadi masam.
"Tu-tuan, kenapa aku sembunyi di sini?"
"Shht, diamlah. Kau umpet dulu di sini." Keduanya berbisik-bisik sebelum Wanita itu masuk.
Kriiiet! Pintu terbuka lebar. Terlihat Wanita itu berdiri di tengah-tengah pintu dan menatap Rayden sedang rebahan santai di atas ranjang. Arum gemetar dan semakin erat memeluk tubuh Rayden, ia cemas langkah kaki Nyonya Barsha mendekat masuk ke dalam kamar. 'Tenanglah Arum, jangan sampai Tante Barsha melihatmu!' batin Arum menutup mata di dalam selimut itu.
"Kenapa datang kemari, Ma?" tanya Rayden datar.
"Mama ingin bicara empat mata denganmu," jawab Nyonya Barsha. Lirikan tajamnya itu berhasil tahu di dalam selimut itu ada Arum. Hanya saja Arum tidaklah penting, ia punya alasan lain ke kamar Rayden.
"Bicara di sini sekarang,"
"Tidak bisa, Mama ingin kau ikut keluar! Sekarang keluarlah dari selimut itu!" titah Nyonya Barsha tegas, ia pun keluar menunggu Rayden.
Rayden beranjak duduk, terpaksa meninggalkan Arum tanpa sepatah kata pun. Arum mengelus dada, ia bangkit ingin menguping.
"Aiss, Mama ganggu saja, kenapa sih datang ke kamarku?" Terdengar Rayden mulai bicara duluan.
"Ini, ada telefon dari keluarga Charleus." Dengan datar, Nyonya Barsha memberi Hpnya. Rayden sangat terkejut mengobrol dengan Arleya dipanggilan itu. Terdengar Arleya setuju mengangkat Arum sebagai putrinya.
Arum tentu membisu di balik pintu yang terbuka sedikit. Ia tidak tersenyum atau gembira, melainkan gelisah dan resah karena malam ini Rayden disuruh ke sana lagi. Kali ini ia yang curiga pada Rayden. 'Achh... kenapa aku gundah gini,' desisnya dalam hati. Arum takut sekali, ada wanita lain memikat Rayden.
__ADS_1
Kriiet! Rayden tersentak mendapati Arum keluar dari selimut. Pria itu pun secepatnya menutup pintu kamar lalu menarik Arum duduk ke ranjangnya.
"Kenapa kau berani berdiri di sana tadi?"
Arum terdiam.
"Jawab aku!" desak Rayden ingin Arum bicara.
Mata Arum dipenuhi genangan air mata.
"Tuan malam ini tidak tidur di sini?" tanya Arum dengan lirih.
"Begitulah, aku perlu menjalankan tugas malam ini," jawab Rayden berdiri ingin mengganti pakaiannya.
"Apa tugas itu berat?"
"Tidak berat, aku hanya mengurus kekacauan gangster di kota Billns."
Deg! Arum langsung bangkit dari duduknya.
"Apa yang terjadi sampai kacau begitu?" Arum seolah tidak rela Rayden ikut menjalankan tugas itu. Ia khawatir Rayden akan terluka atau pulang tanpa nyawa. Ia takut, Rayden akan pergi seperti kedua orang tuanya.
Rayden berbalik melihat Arum. Lagi-lagi gadis itu membuatnya terkejut. Rayden secepatnya memeluk, sebelum butiran jatuh berlinang malam ini.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," lirih Rayden lalu memberinya satu kecupan di kening.
"Apa kau akan lama di kota itu?" tanya Arum mengusap matanya yang basah.
"Hanya dua minggu, itu tidak lama kok," jawab Rayden menyiapkan perlengkapan senjatanya. Ia tahu di kota Billns susah didiamkan karena dua pihak yang membuat mereka kecewa. Satu, kekuasaan King Ed yang seenaknya di kota itu. Dua, Lady Arleya sang Queen Mafia tidak mau memenuhi keinginan mereka untuk ikut memberontak pada King Ed, sehingga gangster di sana saling mengecam satu sama lain. Saling membantai antar gangster.
Arum menunduk dan meremas ujung bajunya. Ia ingin sekali melarang, tapi ia tahu bukan siapa-siapanya Rayden saat ini. Jika dia melarang, bisa-bisa Rayden akan memarahinya.
Chup! Rayden mengecup pipi Arum lalu mengusap perut bumil cantiknya.
"Ayah pergi dulu ya, Baby. Jaga baik-baik Ibumu di sini," ucap Rayden bicara pada Baby kecilnya. Ia pun berbalik ingin keluar, tapi Arum menahan tangan Rayden. Pria itu menoleh dan melihat Arum meneteskan air mata. Gadis itu tidak ingin ditinggalkan. Ia takut rindu akan menyiksanya. Rayden menghembuskan nafas berat, ia mengeluarkan sebuah gelang unik yang dia beli tadi.
"Setelah pulang dari sana, kita akan menikah. Kau tidak perlu menangis, okay?" Walau rasanya berat, Arum mengangguk kecil. Ia juga memberikan kalung bulan sabit titaniumnya ke Rayden. Keduanya pun berpisah di dalam kamar itu. Rayden pergi meninggalkan Istana malam ini juga.
Dari balik jendela, Arum tertunduk dan terisak. Ia berlari naik ke ranjang, masuk ke dalam selimut. Dua minggu, itu sangat lama bagi Arum untuk menunggu. "Hikss..." Arum memeluk guling Rayden. Aroma tubuh pria itu masih tertinggal di sana. Gadis hamil itu mencoba memejamkan mata walau itu sangat berat.
.......
.......
...PART INI PANASKAN?🤧...
...TINGGALKAN LIKE DAN KOMENNYA PEMBACA BUDIMAN...
__ADS_1