
*Tanpamu aku adalah mati....
Karena kau bagaikan seberkas cahaya dalam hidupku..
Seperti setetes embun yang menyejukan jiwaku*....
Ternyata Karma itu ada...Seperti apa yang Fiona alami sekarang.Dulu pernah ia lakukan ke semua gadis yang mendekati Rayhan namun tidak seperti yang dilakukan Angel sampai menyakiti dan Fiona lakukan atas permohonan Rayhan.Karena banyak gadis yang mendekati dan itu membuat Rayhan merasa risih.Sehingga Fiona harus turun tangan mengusir mereka.
Apalagi Rayhan menarik dirinya dan mengatakan didepan gadis yang mendekati kalau Fiona adalah kekasihnya.Atas pernyataan Rayhan membuat Fiona senang dan sedih,seakan ia dibawah terbang kelangit tujuh lalu dijatuhkan secara tiba-tiba.Karena pada kenyataannya hanya bohong.Agar para gadis tersebut tidak lagi mengejar Rayhan.
Kalian pasti tahu rasanya itu sakit banget.Padahal Fiona sangat berharap kalau ia benar-benar menjadi kekasihnya.dan juga sudah berulang kali Fiona menyatakan perasaannya kepada Rayhan namun hanya di tanggapi dengan dingin malah ditolak mentah-mentah.Rayhan hanya menganggapnya sekedar sahabat kecil.
Ternyata perhatian yang selama ini Rayhan beri hanyalah sekedar sahabat tidak lebih.Dan juga akibat pengumuman Rayhan yang ia beritahukan kalau Fiona kekasihnya membuat dirinya terkena masalah. Ya...ia banyak di incar oleh gadis yang mengejar Rayhan.Dan otomatis Fiona membalas mereka menggertaknya jika berani mendekati Rayhan akan mati ditangannya.Hanya sekedar ancaman.Lama-lama ia merasa kesal bahkan ia terpaksa menarik Rayhan dan mencium pipinya dimuka umum.
Dan membuat para gadis berteriak tidak terimah dan membuat patah hati.Rayhan hanya menatap Fiona dengan tatapan- kamu -sadar -apa- yang- kamu- lakukan?.Fiona pun hanya tersenyum lalu berbisik.
"Aku terpaksa ini semua kan gara-gara kamu"meskipun dalam hati Fiona ia sengaja mengambil kesempatan ini.Kapan lagi bisa mencium Rayhan.Mungkin hati Fiona sekarang sedang berbunga-bunga kerena merasa senang.
Sehingga membuat dirinya menjadi gadis bodoh mengejar Rayhan sudah jelas kalau Rayhan tidak mencintainya.Namun ia nekat terbang dari Australia ke Indonesia hanya demi bisa dekat dengan pujaan hati.
Dan akibatnya sekarang atas tindakan tersebut membuat dirinya mendapat masalah.Dia sering dapat bully...meskipun Fiona bukan gadis yang mudah di bully.Namun cukup membuat dirinya tidak tenang di sekolahan.Apalagi perubahan sikap Rayhan yang dingin tak peduli.Membuat dirinya sedih dan sakit hati.Belum juga kata-kata kasar yang keluar dari mulut Rayhan.Tatapan dulu yang lembut sekarang menjadi tatapan benci dan jijik.
Entah apa yang telah terjadi kepada Rayhan.Dia tidak bisa merasakan kehangatan darinya lagi.Seakan ia bukan sahabat yang dulu ia cintai.Rayhan benar-benar berubah menjadi orang yang tidak dia kenal.
__ADS_1
Fiona berjalan sambil mengalamun,ia masih memikirkan kata-kata dari Kevin.Banyak pertanyaan dalam benaknya yang sulit untuk diungkapkan.Dan disaat seperti ini juga tante Stella harus sibuk dengan pekerjaan nya sehingga tidak dapat menjemput.
"SEBAL.."gumannya terus berjalan tanpa memperhatikan sekeliling.Sehingga halte bus tempat ia menunggu busway terlewati.Rio yang diam-diam mengikuti Fiona dari belakang menatapnya heran lalu berguman.
"Apa yang dilakukan gadis ini?"sambil menggeleng kepala.
"Hiss...selalu membuat orang khawatir"mempercepat motornya lalu menghampiri Fiona.
"Apa kau akan jalan kaki sampai ke rumah?"tanyanya membuyarkan lamunan Fiona.
Dia menoleh"Rio ngapain kamu?"
"Harusnya aku yang tanya sama kamu ngapain disini jalan sendiri seperti anak hilang?"
"Aku..mau ke halte bus"sambil menunjuk mencari halte bus dan betapa malunya kalau halte busnya sudah kelewat jauh darinya.Iapun hanya nyengir kuda sambil garuk kepala yang tidak gatal.
"Terimakasih "sambil melepaskan helm.
"Ya "jawaban singkat.Fiona mengernyitkan dahi menatapnya heran lalu ia mencoba mengajak Rio mampir dulu.
"Rio apa kamu mau mampir dulu masuk kedalam?"ajaknya namun ditolak oleh Rio dan dia hanya menggelengkan kepala lalu pergi.
"Hemmm ...dingin amat lagi sariawan kali tu bocah"ujarnya lalu pergi masuk ke dalam rumah.
Malam harinya Fiona pelepasan jiwa lagi.Disaat ia membuka mata ia sudah dikamar yang sangat familiar bahkan ia sudah hafal kalau kamar tersebut punya Rio.Diapun hanya membatin Rio lagi Rio lagi.Fiona berdiri disamping Rio yang baru masuk kamar sambil membawa segelas air putih.
"Kebiasaan kamu muncul seperti hantu"gumannya.Fiona hanya menjulurkan lidahnya lalu duduk disofa.
__ADS_1
"Tamu yang tidak diundang"sambil duduk disebelah Rio lalu menyalahkan laptopnya lalu menonton film.Fiona memandang Rio tidak percaya.
"Apa?"sambil melihat kearah Fiona.
"Sudah jam 10 malam kamu mau nonton film bukannya tidur besok kan ada sekolah."
"Dari pada kamu sudah tahu malam malah klayaban kekamar laki laki"jawabnya dengan cuek.
"Igghggggg RIOOOOOOO......!!"teriaknya sambil memukul Rio dengan bantal.
"Sudah malam jangan teriak...aku tahu kalau aku keren tapi tidak usah berteriak memanggilku"ujarnya dengan narsis sambil menahan tangan Fiona yang mau memukulnya.Lalu mata mereka saling bertemu dan saling memandang satu menit dua menit masih berlangsung sampai mereka salting.Kemudian Rio melepaskan tangan Fiona dan mengalihkan matanya kelaptop.Sedangkan Fiona mengatur nafasnya,jantungnya berdebaran.Suasananya menjadi canggung.
"Aku muu menonton film"kata Rio memecahkan suasana.Fiona menjawabnya singkat .
"Ya.."Rio mengerutkan dahi mendengar jawaban Fiona.
"Apakah kamu tidak akan pergi?"
"Tidak mau menonton film."
"Ah...terserahlah"ujar Rio tidak bisa mengusir Fiona.Rio memutar Film The Conjuring,film horor tentang penampakan di sebuah rumah kosong yang di huni oleh satu keluarga yang baru pindah kesana.Fiona menatap Rio.
"Serius mau nonton ini?"tanya Fiona kagak takut.Rio mengangguk mengiyahkan.
"Apakah kamu tidak?"
"Tidak "jawabnya padahal dalam hati dia takut.Ketika film itu di putar,mereka fokus menontonnya.Fiona mendekat duduk disebelah Rio,Rio menatapnya.Katanya tidak takut guman Rio dalam hati.Ketika hantu itu muncul di atas lemari Fiona berteriak sambil memeluk Rio,dia merasa ketakutan.Sedangkan Rio hanya tersenyum melihatnya sambil tangannya menepuk-nepuk punggung Fiona.
__ADS_1