
Sebuah cahaya terang menyilaukan mata dan ada sebuah kupu-kupu indah terbang dihadapan Fiona.Dia melangkahkan kakinya mengikuti kupu-kupu tersebut saat dia membuka pintu terlihat pemandangan yang begitu menakjubkan.Belum pernah dia lihat sebelumnya.
Padang rumput yang hijau dan luas tak terukur.Bunga-bunga indah bermekaran dan ada sebuah air terjun membuat Fiona berdecak kagum.Dia tersenyum bahagia sambil berlarian kecil memandang pemandangan tersebut .Dia merasa betah disana...tidak ada rasa sakit ataupun kesedihan hanya tawa dan senyuman yang terukir dibibirnya.
Carla dan Arnol tidak percaya menatap tubuh putrinya yang tidak berdaya tersebut.Kejadian 4 bulan lalu harus dia alami lagi kembali melihat putrinya dirawat dirumah sakit karena kecelakaan.Tangis pecah memenuhi ruangan tersebut dia tidak bisa memandang putrinya itu hatinya terasa hancur.
Carla menangis dalam pelukan suaminya.Perasaan sebagai seorang ibu yang tersayat melihat putrinya koma tidak sadarkan diri.
"Kenapa ini terjadi kembali nak?Kenapa harus kamu yang mengalami kesakitan ini?"Carla berkata sambil bercucuran air mata.Kesedihan yang amat mendalam,dia duduk disamping Fiona.Tidak ingin meninggalkan Fiona sendirian,dia tidak ingin melihat anaknya terluka kembali.
Arnol mencoba menenangkan Carla,dia menepuk-nepuk punggungnya agar membuat dirinya lebih tegar.Hati siapa yang tidak akan sakit dan sedih melihat anaknya mengalami kecelakaan dan dirawat dirumah sakit tidak berdaya.Sebuah pemandangan yang mengharukan hati.
Malam yang indah,germelapan cahaya bintang menerpakan senyuman.Namun tidak seindah suasana hati Rio,dia masih mencemaskan Fiona.Hatinya terasa gundah menunggu kabar dari rumah sakit.Wajahnya menujukan amarah,kecewa dan merasa tidak berguna.Kecelakaan itu masih terbayang dalam ingatan Rio,masih terlihat jelas sebuah mobil sedan putih melaju kencang menabrak Fiona.
Dia langsung berlari mengejar Fiona.Andai saja....andai saja kalau dia lebih cepat menarik Fiona dan menyelamatkan mungkin kecelakaan tersebut bisa dihindari.Buuugh!Rio memukul cermin di kamar mandinya.Dia sangat marah sambil mengumpat sial.Rasanya ingin menghajar si pengemudi mobil tersebut menghajarnya tiada ampun.
Namun sialnya pelaku tersebut kabur menghilang tanpa ada jejak.Rio menatap memandang lurus kearah tangannya.dimana dia mendekap kepala Fiona yang penuh dengan darah membuat dirinya tidak berdaya.Kesakitan terlihat jelas diwajah cantik Fiona membuat dirinya sedih hanya bisa menggigit bibir karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Keesokan harinya Rio menjenguk Fiona sambil membawa bunga mawar putih kesukaan Fiona.Sampainya disana,Rio menghentikan langkahnya berdiri Carla dan Stella didepan pintu ruang rawat Fiona.Dia merasa tidak percaya diri harus bertemu dengan orang tuanya Fiona.
"Rio...sini."panggil Stella tantenya Fiona melambaikan tangannya.Dengan langkah hati-hati Rio menghampiri mereka.
"Ini yang namanya Rio...makasih atas bantuan kamu yang sudah menolong Fiona".ujar seorang wanita paruh baya masih terlihat cantik diusianya yang tidak lain ibunya Fiona.
Rio tersenyum merasa tersanjung dan sedikit malu."Iya sama-sama tante".
Carla memandang Rio lalu tatapannya jatuh pada bunga mawar putih yang Rio bawah.Dia sedikit tersenyum melihatnya.
"Itu..bunga kesukaan Fiona.Bunga yang cantik"Carla mempersilakan Rio menjenguk Fiona.
Dia memandang laki-laki muda tersebut tampan tidak beda jauh dari Rayhan.Dia merasa sedikit menyukainya.
__ADS_1
"Apa dia teman Fiona?"
"Hmmm....iya dia teman Fiona anaknya juga baik dan sopan"ujar Stella sedikit menyanjung.Carla juga sedikit menyukainya,dia bisa merasakan ketulusan darinya.
Rio menatap Fiona dengan perasaan sedih dia duduk disamping ranjang sambil menggengam tangan Fiona.Masih terpasang alat-alat bantu suara detak jantung Fiona yang normal.Kepalanya masih diperban ada sedikit memar diwajah cantiknya itu.Perasaan yang menyayat hatinya.Sampai seperti ini kecelakaan itu membuat Fiona koma belum sadarkan diri.
"Fiona..."panggilnya sedih sambil menundukkan wajah."Maaf kan aku yang tidak bisa melindungi kamu...maafkan aku yang tidak berguna ini membuat kamu kecelakaan." mencoba menatap wajah Fiona,dia berharap Fiona cepat siuman dari koma.
"Kamu tahu ...aku tidak bisa berhenti menghawatirkan kamu.Aku berharap kamu cepat sadar Fiona"
Setelah menjenguk Fiona Rio berpamitan kepada kedua orang tua Fiona.Saat dia ingin melangkah pergi.Tiba-tiba dia bertemu dengan Rayhan yang keluar juga dari ruang rawat.
"Rio..." panggilnya lalu menghampiri.Rio menoleh kearah Rayhan.
"Kamu ngapain disini?"Rio memandang Rayhan,dia bingung harus menjawab jika berbohong tidak baik juga tetapi jika berkata jujur takutnya akan membuat dia menghawatirkan.
"Hei!kok bengong?"
"Fiona..?"sambil mengangkat alisnya menatap Rio bingung."Apa yang terjadi dengan Fiona."
"Dia habis mengalami kecelakaan"
"APA!!"terlihat wajahnya yang terkejut dan khawatir."Dia dirawat dimana?"
Setelah mendengar jawaban dari Rio.Rayhan langsung berlari menuju ruang rawat Fiona.Disana tidak ada yang menunggunya kedua orang tuanya sedang keluar sebentar.
Ditatap wajahnya,Rayhan merasa sedih dan bersalah.Dia tidak percaya kalau Fiona mengalami kecelakaan.
Apa yang sudah terjadi?Kenapa bisa seperti ini?Rayhan mencoba meraih tangan Fiona,mencoba menggenggamnya.
"Maaf kan aku ....maafkan aku Fiona"tanpa sadar dia meneteskan air mata.
__ADS_1
Hatinya seperti dikoyak.Sangat sedih melihat Fiona terbaring tidak berdaya.Wajahnya yang memar dan kepalanya yang masih dengan perban membuat hatinya sangat terluka dan sakit.
"Ini semua salahku..."
Kreeeak...suara pintu tersebut terbuka.Arnol dan Carla terkejut melihat Rayhan duduk berada disana.Rayhan menatap mereka lalu menyapa dengan sopan.
"Selamat sore tante dan om..Apa kabar?"Arnol memandang Rayhan dengan tatapan marah.Masih terlihat jelas ketika putri nya mengejar Rayhan dan mengalami kecelakaan dan sekarang juga kejadian tersebut terulang kembali.
"Apa yang kamu lakukan disini?"tanyanya dengan nada tinggi.Carla menahan Arnol memandangnya jangan bertengkar.Arnol menghela nafasnya mengerti lalu menatap Rayhan.
"Boleh kita bicara diluar"ujarnya lalu diikuti oleh Rayhan.
"Maafkan aku om"ujar Rayhan dia merasa bersalah dan tahu kalau Arnol marah kepadanya.
"Sekarang kamu sudah tahu kalau Fiona kecelakaan.Bagaimana perasaan kamu ketika melihat Fiona terbaring tidak berdaya?"
Rayhan bingung mendengar perkataan Arnol.Dia tidak tahu harus bicara apa.
"Aku sangat terluka melihat Fiona seperti itu."
"Apa kamu tahu ketakutan ku sebagai ayahnya yang tidak bisa melindungi putrinya.Kejadian 4 bulan yang lalu ketika Fiona mengejarmu dia juga mengalami kecelakaan membuat kami sedih dan putus asa karena takut jika tidak dapat melihatnya kembali."Arnol mengambil nafas terlihat kesedihan yang amat mendalam.
"Dan sekarang kecelakaan itu terulang kembali.Dan aku dengar kalau kamu habis tunangan"
"Iya om...maaf kan saya"Arnol menatap laki-laki didepan itu dengan tatapan tegas.
"Selamat atas pertunanganmu...dan mulai sekarang aku minta sama kamu jauhi Fiona jangan pernah menampakan diri didepan Fiona."Rayhan menatapnya tidak percaya.Dia tidak siap jika harus menjauhi Fiona.
"Apa kamu tidak mendengarkan perkataanku?aku hanya tidak mau Fiona terluka kembali hanya karena kamu.Hanya dia satu-satunya putriku.Aku harap kamu mengerti...."Arnol berkata lalu melangkah pergi meninggalkan Rayhan yang masih butuh penjelasan.
"Maafkan saya om....Maaf kan yang sudah membuat Fiona seperti ini.Tetapi aku tidak bisa harus menjauhi Fiona "guman Rayhan,Arnol sudah pergi tetapi masih bisa mendengar Rayhan meskipun hanya samar-samar.
__ADS_1