
Jam pelajaran selesai, tepat pukul 10.00 WIB, Bel pulang berbunyi. Mika bersegera keluar bersama teman-temannya, dia menyempil di tengah kerumunan manusia. Mika takut jika Dandi masih ada di tempatnya tadi pagi. Meskipun Mika ragu, namun lambaian dan senyuman Dandi kedua kalinya meyakinkan Mika bahwa itu memang ditujukan untuk Mika.
Ngeri... kata itu yang ada di benak Mika, dia seperti dibuntuti seseorang fanatik yang bisa berbuat apapun di luar imajinasi Mika. Apalagi beda umur dan beda postur tubuh semakin membuat Mika bergidik.
Jika suka sama kak Rania, ngapain ngusik hidup aku, sih. Mika membatin.
Kerumunan manusia sudah sampai di pintu gerbang, mulai berpencar dua-dua, tiga-tiga, sendirian, naik motor dan sebagian nampak sudah naik angkot di depan Gerbang.
Mika menunduk sembari mengintip kecil ke arah di mana tubuh Dandi berada tadi pagi.
Eh, nihil... gak ada siapapun. Mika tersenyum. Mika baru bisa bebas berjalan saat sudah memasuki area lapangan kelapa, Ia memilih jalan pintas menuju kos Alaka.
Rasa kesal, ngeri dan sakit di punggung mempercepat langkah kaki Mika. Baru sampai di depan pintu kos, Nancy dan teman-teman yang asik ngerumpi menatap Mika sebentar, kemudian melanjutkan obrolan mereka, sekilas yang Mika dengar, Nancy dan temannya sedang membahas cowok ganteng di depan sekolah, yang Mika yakini itu pasti Dandi.
Mata kalian kenapa cuma liat paras doang, sih. Padahal paras bisa menutupi busuk hati, loh. Kenapa kalian cuma memuji wajahnya doang. Ganteng sih ganteng, kalo jahat hatinya, suka melukai wanita apa itu masih bisa jadi idola. Mika mengomel dalam hati.
Tring.
Ponsel Mika berbunyi. Mika memeriksa notifikasi.
__ADS_1
Leni sent a message
"Mik, aku tunggu di Gapura depan, ya, jam 11"
Mika lekas mengetik balasan, "Loh, kenapa jam 11? biasanya, kan, jam 2"
"Gak papa, pingin cepet sampai rumah aja" Leni membalas.
"Oke, tunggu, ya", balas Mika.
Mika bergegas membereskan barang yang akan ia bawa pulang.
Biasanya, Mika pulang jam 1 atau 2 siang, karena sepulang sekolah Mika masih harus mencuci baju olahraga yang ia kenakan dulu. Tapi karena punggungnya juga sakit, dia memutuskan membawa pakaian kotor ini pulang dan mencucinya di rumah.
Sosok Leni sudah berdiri di bawah Gapura masuk komplek. Masih nampak beberapa angkot bersliweran keluar masuk komplek. Karena memang SMA 1 dan SMP 1 berada di area tengah dan ujung komplek.
Leni dan Mika lebih senang menunggu di gapura, karena angkot yang sudah keluar dipastikan sudah mau berangkat, jadi tidak perlu menunggu lagi.
Mika setengah berlari menuju tempat Leni berada. Bertepatan dengan kedatangan Angkot biru garis kuning dari dalam komplek. Angkot itulah yang akan mengantar mereka berdua sampai ke Halte baypass. Mereka berdua langsung naik, Mika memilih duduk di pojok sebelah kiri, sedang Leni duduk di hadapannya, pojok sebelah kanan. Angkot yang datang cuma berisi 2 penumpang, Satu di samping kemudi supir, satu di dekat pintu keluar. Cukup lenggang, biasanya jika angkot penuh, Mika dan Leni hanya bisa duduk di bagian ruang yang masih kosong tanpa bisa memilih tempat favorit di ujung belakang.
__ADS_1
Mika membuka jendela di belakang punggungnya lebar, merasai angin di tengah panasnya terik matahari. Arah angkot saat ini adalah Universitas Cendekia, karena memang penumpang sasaran angkot di sini adalah siswa dan mahasiswa yang mengenyam pendidikan di ke 3 civitas akademika favorit di daerah tersebut.
Kebetulan Universitas Cendekia berlokasi di pinggir jalan raya besar, berjarak sekitar 500 meter dari bibir gapura komplek SMA 1 dan SMP 1. Jadi bisa sekali dayung 3 pulau terlampaui, begitulah istilahnya.
Angkot berhenti tepat di depan kampus, nampak beberapa wanita berjalan kaki muncul dari kejauhan. Mereka melambaikan tangan ke angkot, tanda menyuruh sang sopir menunggu. Sembari menunggu wanita yang melambaikan tangan naik ke angkot Mika menoleh ke tukang rujak di sisi sebrang jalan. Keliatannya seger banget, Mika bergumam.
Nampak juga beberapa laki-laki berpakaian santai ala anak kampus nongkrong tak jauh dari tukang rujak. Setelah puas menikmati gambaran buah-buahan segar milik tukang rujak, sembari menelan ludah Mika menoleh kembali ke ponsel di genggamannya.
"Mik, liur kamu netes, tuh," Leni yang sedari tadi memperhatikan Mika menelan ludah, terkekeh.
"Apaan, si... Buahnya keliatannya seger banget, tapi kalo beli nanti ditinggal angkot", Mika berujar.
"Yaudah makan permen aja, nih," Leni mengulurkan tangan memberi permen pada Mika.
"Makasih, ya" Mika menyambut, lalu mengupas bungkus permen.
Tak lama dua orang mahasiswi naik ke dalam angkot. Angkot mulai berjalan lagi. Mika asik ngobrol dengan Leni, bayangan wajahnya di kaca belakang nampak jelas. Dia tersenyum, tertawa, cekikikan, dan terkadang menutup mulut.
Sebuah senyuman muncul dari wajah seorang pria di belakang angkot. Pria itu menggunakan helm dan mengendarai motor bebek, berjalan pelan mengikuti jalannya angkot.
__ADS_1
Setelah sampai di baypass, kedua gadis itu turun. Mereka berjalan menuju halte bus yang terletak 50 meter dari perempatan.
Pria itu kembali ke arah kampus setelah memastikan Mika sudah naik ke bus tujuan kota xx.