
Matahari semakin terbenam, sorot jingga semakin luas memancar. Kapal kecil, pohon tinggi hanya terlihat bak siluet hitam dalam lukisan dari kejauhan.
Dandi dan Mika masih berada di atas bukit, masing-masing memainkan ponsel. Mika sibuk memotret panorama, sedang Dandi sibuk memotret Mika. Mika menangkap beberapa gambar pemandangan sembari mencuri pandang ke arah Dandi. Sesungguhnya Mika hanya sedang menutupi rasa khawatirnya. Mika takut jika Dandi berbuat nekat padanya. Mika dalam mode waspada.
Kamu mau jadi korban pedofil? oke, aku akan mewujudkannya. haha Ancaman Dandi tempo hari terngiang-ngiang di kepala Mika.
Terlebih saat Mika menyadari jika sekelilingnya saat ini hanyalah hamparan pepohonan rimbun, sepi, dan jauh dari pemukiman. Mika mulai diliputi rasa takut. Bagaimanapun dia hanya seorang wanita yang sedang berdua saja dengan laki-laki asing.
Walaupun Dandi selalu bilang dia adalah teman. Tapi tetap saja rasa menyesal dan waspada meliputi hatinya saat ini.
Gimana ini, aku harus bersikap baik sama kak Dandi, kan. Kalau dia tersinggung sedikit saja, bisa mati aku. Gimana nanti kalau dia nekat mau ngapa-ngapain aku terus aku ditinggal sendirian di sini. Mana serem lagi tempatnya. Mika mendapati suara sunyi senja mulai terdengar samar dari rerimbunan pohon. Jarak Dandi dan Mika cukup jauh. Mika sengaja menghindar.
Dandi masih asik memotret wajah Mika yang sedang berpura bahagia. Lalu menatap jam tangan, sudah pukul 5.15 sore.
"Mika..."
Mika yang sedang setengah melamun tersentak gugup, "I..iya". Mika nampak menahan rasa gemetar saat melihat Dandi mendekat.
Gimana ini, aku harus teriak, atau melawan, teriak percuma saja kan, siapa yang akan menolong aku di tempat ini. Kalau melawan nanti aku pulangnya gimana. Dialog masih terjadi di kepala Mika.
"Sudah puas liat matahari terbenamnya?" Dandi mendekat.
"Hah! Iya sudah, Kak... memori ponsel aku bahkan udah full", Mika meringis sembari menggoyangkan ponsel.
"Ok, baiklah. Balik sekarang, ya. Kita makan bakso. Aku lapar." Dandi menarik tangan Mika menuju motor.
Mika hanya menurut sembari bernapas lega.
Sore ini ternyata hanya melihat matahari terbenam, tak ada adegan mesum yang dikhawatirkan Mika dan tak ada ketakutan ditinggal sendirian di bibir hutan. Mika tersenyum.
"Syukurlah..." Gumam Mika pelan.
"Apa?" Dandi mendengarnya. Dia kini berhenti menatap Mika.
"Apa? Apa?" Mika pura-pura tak tahu.
"Kamu senang?" Dandi menatap Mika lekat. Tangan Dandi makin mempererat genggamannnya.
Mati aku, kenapa liat aku dengan tatapan begitu. Tanganku. Sakit. Ibu... tolong aku.
"Tentu saja senang, Kak. Terimakasih banyak ya sudah ngajakin aku ke tempat sebagus ini." Mika tersenyum cerah.
Aku hanya perlu berterimakasih kan, supaya semua berjalan dengan baik.
"Kak, aku lapar, ayo makan bakso." Mika nekat menarik tangan yang sedari tadi menggenggamnya. Mika berpikir bahwa dia harus segera melarikan diri dari tempat ini menuju tempat yang lebih ramai.
__ADS_1
Dandi tersenyum melihat tingkah Mika. Dengan senang hati melajukan motor ke tempat yang sudah Dandi pikirkan sebelumnya.
***
Langit sudah gelap saat Mika dan Dandi tiba di sebuah resort.
"Kak. Kok ke sini?" Mika semakin menampakkan nada gusar.
"Iya... di dalam ada bakso langganan kakak. enak banget. Kamu harus coba."
Ini bukan cuma alasan kan? Tapi ramai orang, sih. gak mungkin dia ngapa-ngapain aku di sini. Mika masih ber-negative thinking.
"Kak... Tapi nanti pasti ngabisin uang jajan aku kalau makan bakso di sini. Balik aja, yuk. Udah malem ini. " Mika mencari-cari alasan untuk kabur.
"Udah... kakak yang traktir. Hutang kamu udah lunas saat kamu nemenin kakak lihat matahari terbenam tadi." Dandi menarik tangan Mika lagi. Masuk ke kedai bakso dan memilih tempat duduk di ujung kedai. Mika hanya menurut tanpa memprotes. Perutnya pun sudah mulai lapar. Jadi, dengan tak tahu malunya dia bilang pada sang perut, rejeki tak boleh ditolak. hehe
Seorang pelayan menghampiri. Dandi langsung memesan 2 porsi bakso dan minuman.
Triiiing. Triiing
Ponsel Mika berbunyi. Kak Rania memanggil.
Dandi sempat melihat nama Rania di layar ponsel Mika. Lalu menaruh jari telunjuknya di depan bibir. mengisyaratkan Mika untuk tak mengatakan jika Mika sedang bersama Dandi.
Mika mengangguk.
"Mika. Kamu dimana? Sudah malam kok belum sampai di kosan?"
"Umm... aku lagi di toko kak, tadi mampir sekalian beli barang"
"Oh... kamu di toko. Titip sekalian dong."
"Hah... oh... i...iya. Titip apa kak?"
"Belikan cemilan ya. Apa aja. Nanti aku ganti. Ok".
"Ok kak."
"Jangan malam-malam pulangnya, nanti keburu gak ada angkot"
"Iya, Kak."
Panggilan berakhir.
Kali ini Mika yang menatap Dandi. "Kak, nanti tolong mampir ke toko ya."
__ADS_1
"Siap. Nona." Dandi tersenyum.
"Kak jangan lama-lama, ya. Nanti takut gak ada angkot kalau kemalaman."
Dandi tergelak mendengar kalimat terakhir Mika.
"Mika... kamu gak perlu angkot malam ini, kan kakak yang culik kamu, jadi kakak yang akan antar kamu pulang"
"Hehe..." Mika nyengir. "Ya... siapa tahu"
Tangan Dandi telulur mengacak rambut Mika. "Memangnya mau kakak tinggalin di jalan sendirian? Tahu gitu kakak tinggal di bukit tadi aja hahaha"
Muka Mika berubah masam.
"Kalau sampai ditinggalin, aku viralin muka belepotan kakak yang semalem. Weeek."
"Oh... sudah mulai ngancem nih." Dandi membalas.
Belum sempat Mika membuka mulut, pelayan datang membawa pesanan mereka.
Perut lapar keduanya tak mau menunggu lagi. Mika dan Dandi sudah khidmat menikmati sajian bakso legendaris kedai 88 ini.
***
Malam sudah menunjukkan pukul 19.00. Mika sudah keluar dari sebuah minimarket. Dia menenteng 2 kantung besar. Kedua kantung itu Dandi semua yang bayar. Dandi menolak berdebat. Dia bahkan mengancam jika Mika menolak maka Dandi akan membiarkan Mika mencari jalan pulang sendiri di daerah yang masih asing itu.
Dandipun meminta Mika merahasiakan pertemuan mereka sore ini pada Rania. Sebagai gantinya Dandi menitipkan 1 kantung camilan untuk Rania. Sembari berkata.
"Nanti bilang saja kamu gak sengaja ketemu kakak di toko, dan kakak titip hadiah ini untuk Rania."
Mika menyetujuinya. Lagian dia tak punya uang jajan sebanyak itu untuk membayar semua barang yang dibeli Dandi.
Sebelum pergi, di parkiran Dandi mengeluarkan 2 gantungan kunci kura-kura dari kantung plastik kecil. 1 dipasangkan Dandi di tas Mika dan 1 lagi dia pakai untuk kunci motornya.
Mika bingung melihat tingkah aneh Dandi. Tapi dia tak mau berdebat lagi. Ancaman Dandi tadi sudah cukup untuk membungkam mulut Mika. Lagipula Mika belum merasa aman saat ini.
Toko tempat belanjanya saja masih terlalu jauh dari area kosan. Ini juga daerah yang belum pernah Mika jamah. Juga Mika tak melihat angkot bersliweran. Kalau berdebat dan Dandi benar-benar meninggalkannya seperti ancamannya tadi. Mika tak tahu nasibnya nanti.
Lagipula 2 tahun di kota ini Mika belum pernah sekalipun keluar malam. Dia hanya fokus belajar dan belajar. Ini kali pertamanya keluar jauh dari kosan malam-malam. Belum lagi Rumor malam menakutkan selalu terdengar akhir-akhir ini. Tentang penculikan, pemerkosaan, perampokan, hipnotis membuat nyali Mika menciut.
Ayah ibunya selalu berpesan untuk tidak keluar malam tanpa teman perempuan atau orang yang dikenal. Berbahaya. Itu yang selalu Mika camkan dalam hati.
Mika tersenyum lega, akhirnya dia pulang dan aman. Merinding juga lama-lama berduaan sama om pedofil.
Dandi sempat melihat senyum Mika sebelum mengenakan helm di kepala Mika.
__ADS_1
Kamu senang, kan. Kakak janji akan bikin kamu senyum terus Mika sayang. Dandi.