Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Mak comblang


__ADS_3

Dandi sudah berada di dalam bus. Bus menuju kota di sore hari lumayan lenggang, hanya terlihat beberapa bangku terisi. Dandi duduk di bangku pojok paling belakang. Sepi, tak ada satupun penumpang di jajaran belakang.


Dandi masih menikmati gambaran pohon-pohon dan rumah-rumah yang berkejaran dari jendela. Senyum Dandi tercipta saat ingatannya kembali pada Mika. Misinya kali ini berhasil.


Semudah itu ternyata dapetin nomor ponsel kamu, Mika.


Aura kemenangan terpancar dari wajah tampan Dandi. Dandi masih mengingat cara dia menyabotase ponsel Mika, memasukkan nomor ponselnya dengan nama "kakak ganteng", lalu mengirim chat berupa foto Manyun Mika dan Selfi dirinya dari ponsel Mika.


Wajah kesal Mika yang imut bagi Dandi benar-benar membuat ambisinya mendapatkan cinta dan perhatian Mika semakin besar.


Dandi mengambil ponsel di saku lalu mengetikkan pesan pada nomor kontak bernama "Lovely". Seumur-umur belum pernah ada kontak dengan nama tersebut di ponsel Dandi, bahkan nomor Kimi tersimpan dengan nama yang sama, Kimi.


[Jangan lupa besok, ya]


Secepat kilat balasan masuk.


[Apa?]


[Bayar Hutanglah]


[Ish... iya, iya besok aku bayar!?] Mika mengetik sambil bergumam kesal, tadi gak mau nerima, sekarang nagih, merepotkan saja.


Dandi kembali tersenyum membayangkan wajah Mika yang sedang kesal.


Triiing Triiing Triiing

__ADS_1


Nada dering ponsel Dandi berbunyi, Dandi mengamati nama kontak yang melakukan panggilan padanya.


Mama?


"Halo Ma,"


***


Saat ini Mika masih berada di sebuah angkot terakhir sebelum sampai ke rumahnya. Dia masih bersama Leni. Leni yang sempat khawatir tadi, malah jadi terkekeh melihat wajah Mika bermuram durja begitu.


Apalagi saat mengingat balasan chat Mika saat di bus tadi. Sebelumnya Leni mengirimkan balasan pesan Mika dengan sedikit panik, dan merasa bersalah, karena menurut saja disuruh pria misterius tadi. Leni sebenarnya tak ingin mengiyakan permintaan pria jangkung tadi, tetapi karena dia takut terjadi hal mengerikan padanya dan Mika jika menolak, maka dengan mudah Leni mengiyakan. Namun, setelah membaca balasan pesan Mika, Leni malah bisa tertidur lelap dalam perjalanan setelahnya.


[Len, kamu dimana?] Mika


[Mika, aku duduk di belakang supir, nanti kalo kamu diapa apain orang aneh itu, teriak aja, ya, pasti aku denger] Leni


Leni sempat shock, tapi akhirnya dia membiarkan temannya yang jomblo sejati itu didekati cowok. Duh, manisnya, aku jadi iri. Lenipun terhanyut dalam imajinasi bersama pangeran pujaan dalam mimpi. Leni terlelap di bus sepanjang perjalanan.


Angkot masih berjalan pelan. Leni membuka suara berniat meledek teman sebaya di depannya, Mika yang cemberut setelah menerima beberapa kiriman chat. "Cie... Mika. Manis banget, sih, cowok kamu, aku aja sampai meleleh"


"Cowok apaan, itu tu calon pacar kakak kosku tau, lagian kamu iseng banget, sih, tadi. Kenapa gak nyusulin aku duduk di belakang tadi," Mika menampakkan wajah kesal. Angkot masih melaju menyusuri aspal.


"Oya? hehe Maaf, maaf. Abis dia tadi sampai mohon-mohon, sih. Eh, tapi kamu kenal dia dimana sih? Perasaan aku gak pernah tau kamu deket sama cowok, selain Raka, sih, yang tiap kita ketemu pasti kamu ceritain ke aku." Leni makin penasaran.


"Bukan deket Leni, catet, aku tu cuma mak comblang. Yang dimanfaatin sama Dia." Mika mulai bercerita. "Kami ketemu pertama kali Di toko Pojok waktu aku beli pena, gak sengaja ketemu gitu, deh. Dan dia tu kayak lalat tau gak, sih, ngeselin banget, tiba-tiba ada tanpa diundang kayak tadi, huhuhu ternyata berat, ya, jadi mak comblang," Mika mengeluh.

__ADS_1


"Cuma Mak Comblang? Tapi, tadi dia chat kalo dia jodohmu, loh, beneran dia, kan, yang chat?", Leni makin menyelidik


"Loh, emang kamu punya nomor kontaknya?" Mika bingung.


"Hahaha ya enggaklah, coba deh cek lagi chat terakhir kamu ke aku"


Mika dengan sigap menyapukan jarinya di ponsel berwarna hitam itu. Mika mengernyitkan dahi.


"Gak waras nih, orang. Fix, gila orang ini," Mika mengatai orang yang telah menyabotase ponselnya tadi.


"Mik, gak boleh bilang gitu, loh... ya, siapa tau dia emang pacar pertama yang dikirim Tuhan buat kamu. Coba kamu pikir lagi, deh. Banyak juga kan kisah mak comblang yang justru jadian sama yang dicomblangin."


"Idiiih, amit-amit gak minta." Mika langsung menyela sembari mengetuk-ngetukkan kepalan tangan ke bodi angkot pelan. Leni terbahak melihat wajah manyun Mika.


"Eh, wajahnya gimana cowok tadi, ganteng enggak?" Leni bertanya menggebu, karena dia tadi tak berani melihat wajah lelaki bermasker itu sama sekali. Dan sekarang malah membuat Leni penasaran.


"Jelek, gantengan juga Raka, ribuan kali lipat!" jawab Mika ketus.


"Pantes aja, kamu menolak kenyataan", Leni kembali terkekeh.


"Iya, dong. Pokoknya hati aku cuma buat Raka. Titik. hehe" Mika tersenyum kali ini.


"Terserahlah, yang penting, pesan aku, kamu jangan menyakiti hati orang yang suka sama kamu, nanti nyesel, loh", Leni sok bijak.


"Iya, iya, Jeng Leni yang bijak," Mika meledek dengan nada ala presenter acara gosip.

__ADS_1


Leni mencubit lengan Mika. Mereka tertawa bersama sampai perhentian masing-masing.


__ADS_2