Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Bercengkrama


__ADS_3

Suasana santai tercipta di ruang tengah sebuah rumah megah di kompleks elit. Dua wanita modis yang tadi ada di kamar Dandi sudah duduk bersama pasangan masing-masing.


"Mas, Dito, gemukan, ya, mbak," Nayla mengomentari postur kakak ipar di depannya.


"Iya, kah?", Ranti mengamati pria dewasa berkemeja abu rapi di samping.


"Ah, mama ini, kan, mama yang bikin pada melebar begini," ucap Randito terkekeh. Mama dan papa Dandi memang selalu romantis sampai sekarang. Selalu bersikap manis satu sama lain dan selalu kompak dalam segala hal. "Kakakmu ini Nay, pintar banget bikin saya selalu ingin makan di rumah." Randito menggenggam tangan Ranti.


"Mbak Ranti, kan, emang jago masak dari dulu, Mas, itu juga, kan, yang dulu bikin Mas Dito jatuh cinta sama Mbak Ranti", Nayla mengingatkan nostalgia lama.


"Bisa aja kamu, Nay," Ranti menambahkan.


"Oya, Mas Dito ada acara apa Mas di kota ini?" Sekarang giliran suami Nayla yang bertanya.


"Undangan makan malam dari temen SMA, sudah lama kami tak bertemu, terakhir kali saat ngunjungin Dandi, 1 tahun lalu," Papa Dandi menjelaskan.


"Pasti teman akrab ya, mas, sampe dibela-belain jauh-jauh dateng, dadakan lagi," Nayla menimpali.


"Temen deket banget, kemana-mana bareng, hobi kami pun sama, bahkan dulu kami berdua sama-sama suka sama Ranti, tapi akhirnya saya yang dipilih," Randito berucap sambil menoleh ke arah istrinya. Ranti di sebelah hanya tersenyum sembari menepuk-nepuk tangan Randito yang masih menggenggam tangannya.


Sementara Nayla dan suami saling pandang lalu terkekeh. Ranti tersipu malu.


"Oya, Maura sama Kayla dimana, Nay, dari siang mbak belum ketemu sama sekali," Ranti mengalihkan pembicaraan.


Nayla melirik jam, pukul 19.00.


"Biasanya Sabtu malam mereka ada di ruang belajar mbak. Sama tetangga sebelah, main sambil belajar."


"Oh, Maura sudah sekolah, ya, Nay?" Tanya Ranti lagi.


"Sudah mbak, TK B sekarang,"


"Kayla?" Ranti kembali bertanya.


"Kalau Kayla kelas 5 SD." Suami Nayla yang menjawab.


"Sudah besar-besar ya mereka, Dandi sering main ke sini, kan?" Ranti beralih topik.


"Beberapa kali mbak, mampir nengokin Maura sama Kayla, tapi sebulan ini belum ke sini lagi," Nayla menjelaskan.


Bel pintu berbunyi.

__ADS_1


Semua penghuni ruang tengah terdiam.


"Sebentar, Nay buka pintu dulu, mungkin Dandi"


Nayla bergegas menuju ruang tamu, membuka pintu perlahan.


"Raka, silahkan masuk. Maura sama Kayla sudah di atas," Nayla mempersilahkan seorang pria muda masuk.


Belum sempat melangkahkan kaki, terdengar suara motor sport mendekat lalu parkir di depan rumah elit tersebut. Pria muda dan sang pemilik rumah menoleh bersamaan.


Tante Nayla tersenyum, "Dateng juga kamu, Dandi"


Raka cukup kaget melihat wajah yang barusaja lepas dari helm.


Itu, bukannya cowok yang sama Mika waktu itu. Raka.


Dandi mendekat dan memberi salam pada tantenya.


"Malam tante," Dandi berucap sambil menyengir lebar. Kemudian dia memperhatikan pria muda dengan postur tubuh lumayan tinggi di dekat pintu yang saat ini menatap Dandi. Pria muda itu tersenyum.


Kayak pernah lihat wajah ini. Dandi.


"Ayo masuk, mama kamu udah nunggu di dalam. Raka, kamu langsung ke atas aja, ya, Maura sama Key pasti sudah menunggu,"


Raka sempat membungkuk sopan melewati 3 penghuni ruang tengah sebelum naik tangga di ujung ruangan.


Sementara Dandi memberi salam pada om, papa dan mamanya, lalu duduk di sofa yang masih kosong.


"Darimana kamu, Nak?" Pak Randito memulai percakapan.


Dandi sudah memikirkan jawaban matang-matang sejak dia di dalam bus sampai di kosan tadi. Memikirkannya sembari mandi, makan dan bahkan dalam perjalanan kemari.


"Dandi ada tugas kampus pa, jadi Dandi diharuskan ngambil sampel iklan reklame yang menarik lalu observasi lapangan langsung. Kata temen Dandi di kota sebelah banyak papan reklame yang menarik, jadi Dandi pergi untuk cari," Alasan di buat saat bus berhenti di sebuah perempatan dimana terletak sebuah papan reklame besar yang menarik perhatian. Kebetulan minggu kemarin Dosen mata kuliah Komunikasi visual periklanan sempat menjelaskan tentang aplikasi ilmu dasar pada papan reklame. Tanpa pikir panjang, Dandi mengambil beberapa poto papan reklame tersebut.


"Oya? Ada emang tugas kampus macem begitu?" Mama Dandi menyelidik.


"Ada dong, ma, Dandi kan emang jurusannya Design Grafis, bukan ilmu kedokteran." Dandi menainkan mimik wajahnya. "Oya mama papa berapa hari di sini?", Dandi mengalihkan pembicaraan.


"Senin pagi kami udah kembali," Randito kali ini yang menjawab. "Besok malam jam 7 kamu ikut papa ya ke undangan makan malam temen papa."


"Males, ah, pa," Dandi menjawab.

__ADS_1


"Dan, ikut aja, anak temen papa ini kan ada yang seusia kamu, jadi nanti kamu bisa ngobrol sama dia, lagipula temen papa kan rektor kamu di kampus", Ranti mengingat pertemuan 1 tahun lalu tanpa kehadiran Dandi, ada seorang gadis kelas 3 SMA diperkenalkan Vander sebagai putri tunggalnya.


"Rektor? Pak Vander maksutnya?" Dandi mengernyitkan dahi.


"Kenapa tiba-tiba mengundang makan malam, pa?"


Belum sempat terdengar jawaban dari pertanyaan Dandi.


Bibi sudah di ruang tengah mempersilahkan semua untuk makan malam.


***


Di ruang belajar. Pukul 20.30.


"Maura, Kayla, sampai sini dulu ya hari ini, kita sambung besok malam main sambil belajarnya, Kakak pamit, mau ikut turun?" Raka berpamitan.


"Mau, Mau, Maura mau digendong belakang ya Kak Raka..." Suara imut Maura disambut senyum sumringah Raka.


"Ayo, ayo... sini kakak gendong," Raka berjongkok sambil menepuk bahu.


Maura kecil berlari ke punggung Raka. Sambil menyanyikan lagu pelangi mereka bertiga turun dengan ceria.


Om sama Papa Dandi sedang ngobrol di ruang kerja, sedang mama, Dandi dan tante Nayla kembali ke ruang tengah. Sorak gembira dari lagu yang didendangkan sudah mulai terdengar.


3 pasang mata di ruang tengah menatap 3 tubuh menuruni tangga. Wajah ceria ketiganya membuat 3 penguni ruang tengah ikut bergembira.


"Duh, Happy banget Maura sama Kayla," Mama Ranti memuji.


Raka menurunkan tubuh kecil Maura setelah berhasil melewati anak tangga terakhir.


Raka bersiap pamit pada penghuni rumah, "Permisi tante, Kak, saya pamit pulang dulu," kata Raka sopan. Ketiga penghuni rumah mengangguk sembari tersenyum.


"Makasih banyak ya, Raka, bantuannya," tante Nayla membalas ucapan Raka. Lalu mengantar Raka ke pintu depan.


Maura dan Kayla berhambur memeluk tubuh Dandi bersamaan. "Kak Dandi lama banget gak ke sini, sih", Kayla menatap wajah Dandi.


"Hehe Kak Dandi kan sekolah kayak kamu," Dandi memencet hidung mancung Kayla. "Jadinya gak bisa sering-sering main". Dandi memangku Maura di sisi kanannya.


"Kalo gitu ayok main sekarang, Kayla menarik satu tangan Dandi, "Ayooook". Kayla berteriak manja.


"Iya, iya... Dandi menurut di bawa ke ruang bermain anak."

__ADS_1


Nayla dan Ranti kembali mengobrol banyak hal di ruang tengah.


__ADS_2