
Di kampus. Rania sudah menunggu sosok Dandi di taman. Dia memerhatikan setiap mahasiswa yang lewat menuju gedung Fakultas seni dan design.
Rupanya bukan hanya Rania yang sedang menunggu sosok tampan itu. Tepat di depan sebuah ruang di lantai 2 ada beberapa gadis berdiri di samping Vanya. Mereka membantu menjadi mata ke 3 Vanya untuk menemukan sosok Dandi.
Salah satu dari mereka nampak membawa sebuah bungkusan berisi cake yang disiapkan Vanya untuk Dandi.
Deru motor sport yang ringan terdengar. Dandi memarkirkan motor di sebelah motor lain. Langkah kakinya lumayan santai. Dia mengenakan kaos putih dan celana jeans terang yang dipadukan dengan jaket jeans senada.
Rania yang melihat sosok Dandi langsung berjalan menghampiri. Mereka bertemu tepat di depan gedung fakultas sehingga Vanya bisa melihat dan mendengar semua percakapan dengan jelas.
"Dandi," Rania memanggil nama Pria yang sudah bersiap berbelok menuju gedung fakultas.
"Iya... eh, Rania," Dandi sudah bisa menerka maksut kedatangan Rania kali ini. Pasti untuk berterima kasih.
"Dan, terimakasih ya buat yang semalam." Rania menyodorkan sebuah cake coklat ke depan tubuh Dandi.
Vanya yang melihat itu berjalan turun dengan kesal. Dia sangat marah sehingga berpikir akan melabrak 2 sosok manusia yang mencemari mata paginya.
Dandi sudah menerima cake di tangan saat Vanya tiba-tiba mendorong tubuh Rania. Rania terhuyung hampir terjerembab.
"Dasar cewek udik," Setelah mengumpat Vanya menoleh ke arah Dandi.
"Oh, jadi karena wanita ini, kamu gak datang semalam? Kamu tampan, tapi selera kamu kampungan, ya!" Vanya mengibaskan rambut blondenya dengan kesal.
"Kamu! Bukankah sudah kubilang, lebih baik urus kuliahmu yang masih panjang. Lagipula urusanku mau suka sama siapa. Minggir!" Dandi melewati tubuh Vanya lalu menggandeng tangan Rania menjauh dari Vanya dan teman-temannya.
Tangan Vanya mengepal kesal, Dia merebut cake dari genggaman tangan teman lalu membanting keras. Vanya lalu ngeloyor pergi menuju mobil. Suara keras dari gas mobil ikut mewakili kekesalan hati Vanya. Mobil merah itu menjauh dari area kampus meninggalkan teman-temannya yang saling memandang satu sama lain.
Sementara Dandi sudah berada di area samping gedung bersama Rania. Dandi meminta maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan barusan lalu menggandeng Rania menuju taman.
Suatu keberuntungan untuk Rania, bisa sedekat ini dengan Dandi pertama kalinya. Dandi bahkan bertanya berulang tentang kondisi Rania yang membuat Rania semakin yakin jika Dandi peduli pada dirinya.
Bahkan Dandi duduk berdua di sebuah gazebo di taman kampus bersama Rania, memakan bersama-sama cake yang diberikan untuk Dandi.
__ADS_1
Setelah kejadian tadi, segera gosip menyebar seantero kampus, gosip hangat tentang calon kekasih baru Dandi, Rania.
Bagi sebagian fans pasti sangat mengecewakan, namun bagi Rania, itu berita yang sangat membuatnya bahagia. Bahkan dia ingin segera pulang dan mengabarkan hal ini pada Mika. Mika sungguh sangat berjasa dalam hal ini. Pikir Rania.
"Tuhan, terimakasih sudah mengabulkan doaku," ucap Rania lirih. Meskipun saat berdua Dandi tak berkata apa-apa terkait pernyataan perasaan, tapi sikap manisnya pagi ini singguh sudah membuat Gadis cantik ini ge er setengah mati.
***
Robi keluar bersama Dandi, mereka nongkrong di kedai kopi tak jauh dari area kampus.
"Dan, jadi Lo udah beneran jadian sama Rania? Jadi si Rania cinta yang mau Lo perjuangin," Robi penasaran.
Dandi enggan menjawab.
"Hei..." Robi menepuk bahu Dandi.
"Belum, kok. Rob, kenapa kelihatannya Lo tertarik banget sama Rania, Lo cemburu ya? Atau mau gua comblangin sama si Rania?" Dandi menjawab pertanyaan dengan tawaran.
"Hei. Jangan bilang Lo cuma mainin perasaan si Rania?" Robi kembali menyelidik.
"What?? Cewek yang Lo tolak tempo hari ngelabrak Rania? Kejam!" Robi berkomentar.
"Gua juga gak habis pikir, bisa-bisanya itu anak ngelabrak gua sama Rania tadi pagi, kenal aja enggak," Dandi geleng-geleng.
"Untung Lo gak nerima cinta dia waktu itu, kalau iya, beuhh udah bisa dipastikan itu cewek pasti akan sangat sangat sangat merepotkan." Robi mendramatisasi keadaan.
"Betul juga Lo,"
Gara-gara Mika aku tolak pernyataan cinta cewek itu, secara gak langsung Mika adalah dewi penyelamat untuk hidupku. Makasih banyak Mika sayang. Dandi tersenyum setelah mengingat Mika.
"Tapi gue heran deh, tumbenan Lo nolak cewek, biasanya cewek model apapun yang nembak Lo bakal Lo terima dengan alasan kesopanan," Robi mencibir.
"Itu karena dewi fortuna lagi nempel di gua, Rob. haha... Makanya gua diingetin supaya nolak cewek arogan itu. Benci banget gua sama cewek sok cantik kaya dia. Mana nyokap suka lagi sama anak itu. Kesel gua!", Dandi mulai mencurahkan isi hatinya.
__ADS_1
Ia teringat telpon mama pagi tadi, yang pada intinya mama ingin Dandi dekat dengan Vanya, kalaupun bukan sebagai kekasih cukup anggap dia sebagai adik.
Ya, sebenarnya Dandi hampir mengamini permintaan mama saat sekalian pamit kembali ke kota XX tadi. Tapi setelah kejadian tak menyenangkan tadi pagi Dandi malah mengambil keputusan sebaliknya. Dia akan dengan keras menolak dekat dengan gadis arogan dan sombong itu.
Robi setelah mendengar kata 'nyokap' langsung menyatukan puzzle-puzzle kejadian kemarin kemarin.
"Dan, kalau nyokap Lo ketemu gadis itu semalem dan beliau bilang beliau suka, apa mungkin semalam sebetulnya jamuan makan malam perjodohan?"
"Tau deh!", ucap Dandi kesal.
Meskipun Dandi mengenal baik orangtuanya yang tak akan mungkin mengatur-atur hidup Dandi secara ekstrim, namun kata-kata mama tentang kenyataan Pak Vander adalah karib papa di usia muda membuat dia berpikir ulang.
Perjodohan?
***
Pak Vander dan Randito sedang asik mengobrol tentang bisnis sawit yang semakin berkembang. Namun tiba-tiba Vander mengingatkan sebuah kisah lama tentang ia, Randito dan Ranti. Lalu...
"Dito... jika dulu Ranti memilih kamu sebagai suaminya dibanding aku, apa sekarang aku boleh mengajukan putriku satu-satunya menjadi menantu Ranti? Setidaknya aku tahu ibu mertua seperti apa yang akan menyayangi putriku kelak" Vander mengucap dengan nada iba.
"Van, aku bukannya serakah terhadap Ranti, tapi kamu tahu sendiri bagaimana kami mendidik putra kami. Kami bahkan tak pernah memaksanya sekalipun. Kami hanya mengarahkan. Dan soal perjodohan putra putri kita. Biar aku bicara dulu sama Ranti dan Dandi. Akupun berharap kita bisa besanan, tapi aku kembalikan keputusannya ke anak-anak yang akan menjalaninya" Randito berusaha bijak menghadapi persoalan ini.
"Ok, baiklah. Semoga putra putri kita berjodoh dan cocok," Vander menatap Vanya yang sedang bergelayut di lengan Ranti sendu. Vander memahami betapa putrinya merindukan sosok ibu seperti Ranti.
***
Ada perjodohan yang berakhir dengan kebahagiaan, namun ada pula sebaliknya. Akan tetapi bukan berati setiap perjodohan akan membawa bahagia pun petaka. Karena sesungguhnya perjodohan hanya sebuah jalan dari takdir hidup seseorang.
Baik buruk apa yang di depan, akan tergantung pada baik buruk apa yang di tanam di belakang.
Karma is real.
Jika kamu ingin hidup yang lebih baik, maka berlakulah baik dengan tulus, bukan pamrih.
__ADS_1
Sekian dari author, semoga berkenan ya.
Kritik dan saran ditunggu ya.