Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Gagal Total


__ADS_3

Usaha Nancy bersama Rasti dan Kayla sore itu gagal. Karena Mika tak langsung pulang ke kosannya tapi justru pulang ke kosan Leni. Seusai acara, Mika sempat di sapa hangat oleh Nancy. Itu membuatqx Mika jadi curiga dan langsung berpikir satu hal buruk mungkin akan terjadi di kosan. Untuk itulah Mika memilih pulang ke kosan Leni sekalian ingin bercerita semua tentang Dandi. Mika sungguh ingin mendengar pendapat orang lain tentang orang super aneh itu.


Setelah menunggu sampai jam 5 sore akhirnya Rasti dan Kayla pamit pada Nancy. Sementara Nancy sendiri karena sangat kesal akhirnya memilih mendekati Rania untuk menunjukkan bukti-bukti jika Mika sudah menikung Dandi dari Rania. Dan mungkin sedang berduaan dengan pacar Rania tersebut sekarang, makanya tidak pulang-pulang. Seperti gambar pada foto yang disodorkan.


Rania pura-pura kesal pada Mika. Dan meyakinkan Nancy jika Raniapun termakan fitnah dari Nancy. Tentu saja itu hanya untuk membuat Nancy semakin kesal. Untung saja Dandi sudah mengupload lebih dulu swafoto bersama personil lain. Jika tidak, mungkin Rania sudah begitu saja percaya pada omongan Nancy yang mengada ada.


"Nancy, Nancy... segitunya benci sama Mika kamu ya." Rania mengakhiri percakapan dengan Nancy lalu tertawa keras. Nancy yang semakin kesal bahkan sampai membanting daun pintu kamarnya.


Mika tiba di kosan pada jam setengah 6 sore. Dia di antar Leni setelah bersama-sama mampir ke warung makan di dekat kosan Leni. Sebelumnya dia dan Leni sudah menelepon ibu mereka masing-masing karena tidak bisa pulang sabtu ini dan baru akan pulang di sabtu depan.


Mika langsung masuk ke kamar setelah sampai. Ia rebahan sebentar sampai hampir saja tertidur. Capek sekali rasanya. Namun suara Rania dari luar membuatnya terjaga kembali.


"Mika, kamu darimana saja?" wajah Rania menyembul dari balik pintu. "Senangnya seharian dikelilingi cowok-cowok cakep. Mereka semua idola di kampus kakak lho." Rania antusias sekali, Ia sekarang sudah duduk di dekat kasur Mika.


"Oya?" Mika bangkit untuk duduk.


"Iya, kakak aja belum pernah duduk bareng mereka- mereka ini. Palingan lihat sekilas. Dan kalau pas ada acara musik di kampus. Kamu ada foto-foto sama mereka? Lihat dong." Rania mendekat ke arah Mika.


"Mana sempat kak. Yang ada aku kikuk diledekin terus. Mati kutu pokoknya. Kesel banget... mereka itu tampan tapi ngeselin semua tahu, Kak." Wajah Mika berubah cemberut.


"Ah masak sih?" Rania tak percaya.


"Beneran." Mika menegaskan. "Ngeselinnya sampai bikin aku geregetan seharian, Kak. Kalau bukan bintang tamu aja sudah aku bejek-bejek tuh temen-temen kakak." Mika mempraktekkan mengulek sambel dengan satu kepalan tangan memukul dan satu tangan menengadah. Dipukulkan 3 kali.


"Hahaha... segitunya, dek," Rania tertawa. "Eh, sssst... jangan keras-keras nanti ada yang sewot," Rania tiba-tiba mengecilkan suara.


Mika bingung dan menoleh ke arah pintu. Nihil tak ada siapapun.


"Jadi, tadi si Nancy ngasih lihat foto kamu sama Dandi lagi duduk berdua gitu di dalam kelas. Kakak kan udah tahu dari ig-nya Dandi. Sebenarnya ramean tapi yang di potret cuma kalian berdua. Dia sih bilangnya kamu nikung kakak tahu hihihi," Rania setengah berbisik saat bercerita.

__ADS_1


"Nancy? Punya foto aku sama kak Dandi? Perasaan tadi enggak lihat batang hidungnya kecuali pas dia mau balik deh kak." Mika bingung.


Kenapa Nancy punya foto aku sama kak Dandi duduk berdua. Kok bisa?


"Iya, tadi dia manas-manasin kakak pakai foto itu. Kakak pura-pura percaya dan kesal sama kamu tadi. buat ngerjain dia." Rania menutup mulut khawatir tawanya bocor kemana-mana.


Mikapun melakukan hal yang sama, mulut cekikikan dalam tangkupan tangan.


"Nancy pasti kesel banget, banget, banget, itu...." Mika terkekeh senang.


"Oh iya, tadi ada 2 teman Nancy sampai sore nungguin kamu balik. Kakak tadi sempat dengar mau minta nomor personil band gitu," Rania mengingat-ingat.


Pasti si Rasti sama Kayla. Ternyata dugaan aku bener. Nancy pasti ada maunya nyapa-nyapa aku sok akrab tadi di sekolah. Hihihi biar tahu rasa. Rasti juga ngapain sih, sampai dia mohonpun enggak sudi ngasih nomor The little one. Sudah bersaing untuk Raka mau bersaing juga untuk kakak-kakak itu. No way. Aku boleh kalah soal Raka, tapi aku menang 5 poin sekaligus kali ini hohoho. Mika tertawa dalam hati.


"Itu salah satunya pasti cewek yang disukai Raka tuh kak, Rambut panjang berponi, namanya Rasti," Mika sedikit terlihat sedih saat mengucapkan nama Raka dan Rasti sekaligus.


"Apa? Jadi Raka punya cewek? Kamu patah hati dong? cup cup cup," Rania memeluk Mika hangat.


"Sabar... Selagi berjuang dan sabar pasti bisalah menaklukkan hati pangeran Raka," Rania memberi semangat.


Sejujurnya dalam hati Mika yang paling dalam harapan tentang Raka masih begitu besar untuk dirinya. Bagaimanapun cinta pertamanya begitu membekas di hati. Dialah lelaki pertama yang membuat Mika yakin jika dia memang masih pantas disayangi dan diberi perhatian. Dia juga lelaki pertama yang dengan tulus membagi kisah hidupnya pada Mika walaupun Mika tak secantik teman lainnya. Dan Raka jugalah yang pertama kali memantik rasa percaya diri Mika, bahwa Mika pantas untuk dicintai.


Perhatian, kepedulian, keakraban Raka selama ini benar-benar sudah mencuri hati Mika. Ada saat-saat di mana hati Mika benar-benar dibuat istimewa oleh sikap Raka. Namun sekarang meskipun mengingat itu membahagiakan hati, namun tak bisa memiliki sungguh membuat hati patah sepatah patahnya.


Harapan Mika kini berganti, kalaupun Raka bahagia dengan orang lain maka Mika harus tetap tersenyum untuk kebahagiaannya, walaupun hati menahan perih.


"Enggak, ah, kak. Aku bukan enggak mau berjuang. Tapi aku sungguh sudah patah hati. Hiks." Mika sudah mulai murung.


"Cup...cup...cup... sudah-sudah jangan sedih lagi ya, masih banyak Raka-Raka lain di luar sana. Kamu harus ingat, yang pertama bukan berarti yang utama. Terkadang ada yang kedua yang ketiga yang ke empat dan yang... yang," Rania bingung sendiri melanjutkan kata bijak karangannya, "yang enggak tahu deh mau ngomong apa lagi hehe", Rania terkekeh.

__ADS_1


"Apa sih..." Mika ikut terkekeh geli.


"Jadi mana nomor ponsel Dandi? Dapat, kan?" Rania teringat tujuannya kemari.


"Ada kak." Mika spontan mengambil ponsel. Lalu teringat nama kontak itu masih tersimpan atas nama 'orang gila'. Mika memutar otak cepat karena Tubuh Rania sudah condong ke dirinya dengan mata fokus ke ponsel Mika. Lagipula tak mungkin memberitahunya sekarang. Mika perlu mengganti nama kontak dulu dan juga menghapus jejak dosanya bersama nomor ponsel itu.


Mika pura-pura mengetik nama Dandi di kolom pencarian kontak.


"Loh, kok gak ada, ya." Mika pura-pura.


"Kok, bisa. Tadi katanya ada." Wajah Rania sedikit cemberut.


"Bentar kak... Oh, yang aku simpan nomor kak Revan sama kak Robi. Coba nanti aku minta nomor kak Dandi dari kak Robi ya," Mika mencari alasan.


"Eh, tapi nanti alasan kamu apa? Dandi kan orangnya jutek. Nanti kalau gak dikasih malu, loh. Cuma orang tertentu aja yang punya nomornya." Rania malah jadi ragu.


Oya? Tapi dia bahkan mencatat sendiri nomornya di ponsel aku. Pakai nama 'Kakak ganteng' segala. Kak Rania polos atau emang Kak Dandi yang aneh. Tapi masak iya, kak Rania yang calon pacarnya enggak punya nomor kak Dandi. Agak lucu sih.


"Ya kan aku ju... jur orangnya kak..." Mika senyum meledek.


"Iiiiih... jangan bilang mau bilang kalau kakak yang minta...No," Rania tiba-tiba panik sendiri.


Mika tertawa teebahak melihat wajah malu campur panik Rania.


"Jadi minta enggak nih?" Mika makin jahil meledek Rania.


"Mi....Ka...." Rania memukul Mika dengan bantal berkali-kali.


Mika hanya tertawa dan berteriak.

__ADS_1


"Ampun...kak. Ampuuun..."


Mereka berdua akhirnya tertawa bersama dan mengakhiri obrolan setelah Mika pamut mau mandi.


__ADS_2