Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Menggangu saja


__ADS_3

Rania sudah setengah berlari saat memasuki gang Dahlia. Sudah tak sabar dia ingin menyampaikan kabar gembira pada Mika tentang kencan pertamanya dengan Dandi.


Namun, setelah sampai di depan kos Alaka. Senyumnya yang sumringah makin mengembang. Bagaimana tidak dia melihat Mika sedang duduk di teras depan bersama seorang pria muda.


Rania melambaikan tangan dengan antusias saat bersitatap mata dengan Mika. Ini kali pertama Mika membawa tamu cowok, dan ini juga kali pertama Rania berkencan dengan Dandi.


Kok bisa barengan, ya. Pasti ini karma baik yang langsung terjadi. Mika memang gadis baik, bahkan karma baik secepat itu menghampirinya. Selamat bersenang-senang Mika dan Raka. Rania cekikikan setelah berada di dalam kos. Rania tentu saja mengenali wajah Raka hanya dengan sekali lihat saja. Itu karena Mika berkali-kali memperlihatkan sebuah foto diri Raka. Dan saat ini Rania sangat bahagia melihat Mika bahagia.


"Aku benar-benar tak sabar ingin segera bertukar cerita bahagia sama Mika." Gumam Rania pelan.


Sementara di jalan gang Dahlia, Dandi yang sudah mau pulang ke kosan lewat di depan kos Alaka. Perasaannya yang berkecamuk sedari pagi semakin menjadi. Dia melihat dengan jelas Mika sedang tertawa berbincang bersama cowok muda tadi pagi. Bahkan saking fokusnya sampai tak menyadari motor Dandi yang lewat.


Keterlaluan. Batin Dandi.


Dandi yang kesal segera melajukan motor masuk ke dalam kosannya sendiri.


Dari jendela kamarnya Dandi hanya bisa melihat sedikit punggung dan rambut lelaki muda yang bersama Mika saat ini. Dandi makin kesal saja dibuatnya.


"Sedang membicarakan apa mereka. SIAL! Aku bahkan tak bisa mengawasi mereka dari kamar ini," Dada Dandi makin berkecamuk, dia takut pria muda tadi mencuri kesempatan untuk menyatakan cinta pada Mika hari ini.


"Sial. Sial. Sial." Dandi menggebrak meja.


Hari ini benar-benar hari sial baginya.


Pagi-pagi melihat Mika menangis sekaligus melihatnya tertawa bersama pria lain. Mama yang mulai menyuruh-nyuruh bersikap baik pada gadis songong itu. Acara pelabrakan norak. Dan keterpaksaan menemani Rania mengobrol. Dan ditambah lagi sore ini melihat Mika dengan pria lain.


"Hassss... benar-benar sial," Dandi berteriak semakin keras.


"Lagi ngobrol apa mereka sampai seasik itu, Oke baiklah, aku akan ganggu mereka berdua," emosi tak tertahankan milik Dandi memunculkan sebuah ide di kepalanya.


Dandi sudah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai. Dia berjalan menuju kosan Alaka yg hanya berjarak beberapa meter saja.


Kedatangan Dandi yang tiba-tiba tentu saja mengagetkan 2 sosok manusia yang sedang duduk santai di teras kosan Alaka.


Pria ini? Bukankah yang bersama Mika waktu itu. Raka.


Haiss... ngapain lagi sih orang sinting ini di sini. Ganggu aja. Mika


Mika dan Raka memperhatikan Pria tampan yang saat ini sudah berdiri di depan kos Alaka.


Nancy yang melihat Dandi dari dalam kos langsung histeris. Ia menyambut bahagia kedatangan Kakak pujaannya. Ya ampun Ya ampun Ya ampun. Kakak itu ngapain datang ke sini.


Dengan tak tahu malu Nancy keluar setelah merapikan pakaiannya, secepat kilat Nancy langsung menyapa Dandi tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Hai, Kak, ketemu lagi, mau cari siapa? aku ya?" Bahasa Nancy yang pakai 'aku' itu sungguh membuat Mika geli, Mika terkekeh sendiri mendengarnya. Mika sengaja tak menghiraukan Dandi. Dia memilih melanjutkan percakapannya dengan Raka. Bahkan Mika semakin mengencangkan suara tawanya. Nancy bahkan sampai menoleh. Nancy yang melihat keberadaan Raka bersama Mika sudah sewot sendiri dibuatnya.


Dandi yang ditanya melirik Mika sekali, lalu bicara dengan keras, "Maaf, Ranianya ada dek?"


Nancy yang sedang sewot semakin kecewa mendengar pertanyaan Dandi. Nancy bahkan langsung cemberut dan melengos. "Iya, ada. Bentar!" Nancy menjawab dengan ketus.


"Kak Rania, ada yang cari, nih." Nancy berteriak dari tempatnya berdiri saat ini.


Dandi masih sesekali melirik ke arah Mika. Namun Mika malah asik mengobrol dengan Raka.


Dandi mengeram kesal.


Kriet. Rania membuka pintu kamar, wajahnya menyembul sedikit. Siapa?


Mata Rania terbelalak melihat sosok Dandi berdiri tegap di depan pintu kos Alaka. Wajah Dandi datar tanpa senyum.


Tubuh Rania ingin pingsan saja mendapati kenyataan membahagiakan ini. Namun secepat kilat responnya beralih jadi semangat tingkat tinggi untuk menghampiri Dandi.


Muka kesal Nancy makin menjadi. Dia sampai membanting pintu saat masuk ke dalam kamar.


Rania sudah di depan Dandi. Dia tersipu malu. Bingung mau mengatakan apa. Tiba-tiba Dandi meraih tangannya lalu mengajaknya duduk di samping Mika dan Raka.


Rania terkejut, dan langsung mengikuti langkah Dandi. Dalam hatinya berjuta bunga mekar menyebarkan perasaan hangat dan bahagia. Dia tersipu malu di belakang tubuh Dandi.


Mika tersenyum kecut.


Aish. Ganggu saja lho. Mika.


Rania tersenyum ke arah Mika. "Mika kami duduk di sini gak papa ya."


Mika mengangguk.


"Iya kak Ran," Mika tersenyum pada kakak kos kesayangannya.


Hih, Kalau bukan karena kak Rania pasti sudah kutendang kakinya. Hush hush...


Mika dan Raka kembali mengobrol tentang komik. Mereka berdua berusaha abai dengan 2 orang manusia di dekatnya saat ini.


Sementara Dandi yang masih kesal belum membuka suara. Dia masih menguping pembicaraan Mika dan Raka. Rania yang bingung akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Dandi, apa ada yang mau kamu bicarakan?" Rania terlihat sangat gugup. Dia sangat penasaran apa yang membawa Dandi kemari.


"Ehem...uhuk...uhuk" Tiba-tiba Dandi terbatuk. Lalu menatap Rania.

__ADS_1


"Rania, boleh aku minta minum?" Dandi mengusir Rania pelan.


"Oh iya, boleh, boleh. Sebentar ya." Rania setengah berlari ke dalam. Dia tidak lagsung mengambil air minum, tapi malah merapikan rambut, menata kembali pakaian, riasan dan mengaca bolak balik di depan cermin.


Sementara Dandi di luar semakin menggencarkan rasa tidak sukanya pada pria muda di dekat Mika.


"Hei, aku rasa kita pernah bertemu, kan?" Dandi menatap tajam pada Raka.


"Oh, iya, kak. Benar. Kita pernah bertemu. Saya ingat." Raka menanggapi ucapan Dandi.


Mika yang merasa teman bicaranya direbut langsung menatap Dandi sadis.


"Hei, Hai, Hei... temen aku ini punya nama kali kak, lagian kakak ini selalu saja sok akrab sama orang lain. Udah Raka jangan hiraukan dia," Mika meminta Raka fokus pada dirinya saja.


Dandi yang kesal semakin ingin mengganggu Raka dan Mika.


Dia tiba-tiba mengambil satu seri komik di antara beberapa seri di atas meja.


"Hei, hei, hei main ambil-ambil aja," Mika marah lalu menggeser beberapa seri komik lain lebih dekat dengannya.


"Oh, bacaan anak muda beginian ya," Dandi memprovokasi sembari membuka beberapa halaman komik.


"Sepertinya kakak gak pernah muda ya, begitu lahir langsung tua seperti ini," Mika mencibir.


Raka hanya melihat wajah Mika dan Dandi bergantian sembari mendengar dialog di antara mereka berdua.


Mereka berdua ini kenapa saling bertengkar, aku kira lelaki ini kekasih Mika. Raka


"Hahaha... Kamu bahkan lebih mengenal aku lebih dari siapapun, ya" Dandi kembali mengacau Mika. Dandi masih berusaha memprovokasi.


"Yang benar saja." Mika kehabisan kata-kata. Mika melirik Raka sebentar. Apa kamu cemburu melihat kami Raka?


"Apa kamu lupa saat di bis, saat di bu..." ucapan Dandi terhenti ketika suara pekikan Mika terdengar nyaring.


"Kak Rania, kenapa lama sekali, Pacarmu sudah mau pingsan ni karena kehausan," Mika sengaja memotong pembicaraan Dandi. Tentu saja karena ia tak mau Raka salah paham.


Rania hanya menjawab, "Iya sebentar" dari dalam.


Apa-apaan si orang sinting ini, bagaimana jika kak Rania dan Raka tadi dengar. Jelas-jelas dia akan mengatakan bu...kit matahari tenggelam. Bisa mati aku. Lebih baik aku segera kabur dari situasi ini. Mika


Hahaha, kamu ketakutan ya. Dandi.


Apa hubungan mereka sudah sedekat itu, kakak itu tadi mau bilang apa ya. Sampai membuat Mika gugup begitu. Raka

__ADS_1


__ADS_2