
Ide gila muncul dipikiran Dandi, tak bertemu langsung seminggu dengan Mika rupanya bisa membuat Dandi segila ini. Misi Dandi kali ini adalah mendapatkan nomor ponsel Mika. Supaya Dandi tetap bisa ngobrol walau sementara Dandi harus menjauhi Mika dulu. Sampai gosip itu berlalu.
***
Mika bersiap menuju angkot, Leni sudah menunggu di gapura gang. Mika keluar kos dengan semangat menggebu. Mika selalu begitu jika jadwal pulang kampung tiba, menikmati perjalanan sekitar 2 jam membuatnya bahagia. Apalagi keluarganya selalu menyambut hanhat kedatangannya setiap minggu. Membuat hidup Mika selalu merasa berarti.
Mika berjalan santai sampai gapura. Tak berselang lama datang angkot dari arah dalam komplek. Mika dan Leni langsung naik. Sesampainya di halte, Mika dan Leni bercengkrama seperti biasanya. Bus sudah nampak dari kejauhan. Di halte hanya ada 3 orang saja, Mika dan Leni, dan seorang pria misterius, Pria itu menggunakan jaket topi dan masker hitam. Penampilan yang sungguh aneh.
Sabtu ini Dandi memutuskan untuk mengikuti Mika, berpura-pura pulang kampung seperti Mika, Dandi ingin tahu lebih banyak tentang Mika. Perjalanan panjang di bus akan menjebak Mika di sisinya, dan Mika tak bisa lari kemana-mana.
Bus berhenti tepat di depan halte, Mika sudah lebih dulu masuk, Dandi menarik lengan gadis yang menemani Mika tadi, Dandi meminta ijin gadis itu untuk memberinya duduk dekat Mika. Leni hanya menurut saja, lalu mengambil posisi duduk di belakang supir.
Sementara Mika, duduk di bangku ke dua dari belakang yang masih kosong.
Sesosok tubuh duduk di samping Mika, Mika menoleh, lho kok bukan Leni.
"Maaf, ini tempat duduk untuk teman saya" Mika menyapa sopan lelaki misterius di halte tadi, memberitahu jika tempat duduk itu sudah dimiliki. Lagipula masih ada beberapa bangku kosong di depan dan belakang. Mika berkata seperti itu supaya lelaki itu bisa pindah. Bus mulai berjalan. Mika mendongak, namun tak melihat sosok Leni.
"Aku kan juga teman kamu, Miii... Ka...", pria itu melepas masker.
"Hah, Kak Dandi, Ngapain di sini? nguntit?" Mika kaget.
"Iya, hehe", senyum Dandi mekar memperlihatkan jajaran gigi putihnya.
Mika mengetik sesuatu di ponsel miliknya, Wajah Dandi condong ke ponsel, mengintip.
"Chatting ma siapa, sih?"
Tring, balasan masuk.
Ponsel Mika di sambar Dandi, Dandi membaca pesan itu. Lalu mengetik balasan, Tangan Mika yang hendak meraih ponsel di tahan Dandi. Tubuh Dandi pun berbalik memunggungi Mika. Suara Mika yang berisik menghasilkan teguran berupa deheman keras dari penumpang di kursi depan Mika.
Mika akhirnya diam, dan menunggu ponselnya kembali. Wajahnya manyun. Dia menghadap ke kaca jendela sembari mengepal tangan menahan kesal.
Nggak sopan banget sih orang ini, beda banget dari yang kak Nia ceritakan, jaim apanya, apa apaan coba main rebut ponsel orang seenaknya, gk ada malu malunya. Sudah bersyukur banget semingguan gak digangguin orang ini, eh malah muncul di sini. ihhh keselll. Mika menatap lekat jajaran rumah yang berlarian dari jendela bus.
Di saat itu kondektur datang menagih ongkos, Dandi mengeluarkan lembaran 100 ribuan, karena Dandi tak tahu berapa ongkos bus nya.Saat ditanya tujuan, Dandipun asal menjawab kota tempat turun, yang Dandi sebut adalah kota tujuan terakhir. Saat kondektur akan memberikan kembalian selembar 50 ribuan Dandi kembali berkata, "Untuk 3 orang, Pak", sembari mengeluarkan 50 ribuan lagi. "Yang naik dari halte baypass tadi". Kondektur mengangguk lalu berlalu.
Setelah urusan kondektur selesai, Dandi membalik tubuhnya ke arah Mika, Dia tersenyum lebar dan mengarahkan kamera ke wajah manyun Mika,
Hahahha lucu banget wajah dia kalo lagi ngambek gitu. Dandi
Cekrek, satu potret berhasil di kirim ke ponsel Dandi. Mika bereaksi. Lalu dengan pedenya Dandi berselfi dengan latar wajah panik Mika. Mengirim kembali ke nomor kontak atas nama "Kakak ganteng". Ya, itu nomor ponsel Dandi.
Dandi langsung menyimpan foto Mika dan selfinya sebelum di hapus dari ponsel Mika. Dandi mengembaikan ponsel yang sudah dikembalikan ke halaman utama.
"Hei... kalo gila juga ada batasnya kali," Mika berbisik sembari mengecek ponsel di tangan.
__ADS_1
Dandi hanya tertawa, lalu mengetik sesuatu. Terkirim.
Tring, pesan masuk di ponsel Mika.
[Mi...ka...jangan jutek-jutek]
Apa??? Dasar gila... bisa-bisanya dia kirim chat beginian, di samping aku pula orangnya. Idiiih dia selfi dan ngirim potonya sendiri juga lewat ponsel aku. Sinting emang, ya.
[Dasar gila!] balasan secepat kilat dari Mika.
Kali ini Dandi mengarahkan ponsel ke wajah Mika. Mika menutupi wajahnya. Beberapa poto sudah tersimpan di ponsel Dandi.
Mika yang kesal mencubit lengan Dandi.
"Au...", pekik Dandi mengaduh.
Deheman keras kembali terdengar dari bangku depan. Dandi abai, dan malah berbicara dengan suara biasa dengan Mika, tanpa berbisik lagi.
"Hei, nyubitnya gak bisa lebih keras ya, itu mah cuma kaya digigit semut, hahaa"
Mika makin kesal dibuatnya. Mika sudah berdiri hendak pindah kursi. Tentu saja tidak bisa, Dandi langsung menekan kepala Mika untuk kembali duduk.
Mika spontan menarik tangan di kepalanya lalu mengarahkan ke mulut. Gerakan membuka mulut diurungkan Mika. Tetapi dia menyentil keras jari tengah Dandi. Ngilu. Dandi meringis. Kulit putih Dandi bahkan memerah di bagian yang tersentil. Dandi hanya meringis dan mengusap-usap jarinya.
"Udah, udah, duduk aja, kita ngobrol kaya biasanya, apa kamu gak kangen sama aku. Udah seminggu lho kita gak ketemu." Dandi mengucapkan kalimat itu setenang mungkin.
Saat itu kondektur berjalan menghampiri penumpang yang baru masuk, menarik ongkos. Mika baru menyadari laju bus sudah separuh jalan, tetapi kondektur belum menghampirinya.
Mika melambaikan tangan ke arah kondektur berdiri "Pak, ongkos saya", setengah teriak.
"Sudah dibayar sama Masnya, Mbak," ucap kondektur sembari melirik Dandi. Lalu pergi.
"Hei, siapa yang minta kamu bayar ongkos aku? Ini!" Mika menyodorkan lembaran 20 ribu dan 10 ribu.
Dandi hanya tersenyum tak bergerak sedikitpun.
"Ini... terima. Aku gak mau punya hutang ke kakak", Mika hendak meraih tangan Dandi.
"Simpan saja uangmu, anggap saja aku membeli perjalananmu kali ini, sudah ayo kita ngobrol lagi" Dandi tak menggubris Mika.
"Hei, siapa yang sudi dibeli sama kamu, enak aja, harusnya perjalanan aku itu menyenangkan tau, kenapa jadi menyebalkan begini, sih!" Mika menjawab dengan kesal.
"Jangan marah-marah terus, nanti darah tinggi lho," Dandi tertawa.
Mika mendengus kesal.
Tiba-tiba Dandi meraih tangan Mika. Dandi menjabat tangannya sembari berkata.
__ADS_1
"Mari kita berdamai, kalau kamu gak mau berhutang, uang itu kamu bisa kembalikan besok" Dandi asal bicara.
"Besok? Sekarang aja, Besok kita gak mungkin ketemu lagi" Mika berujar.
Tangan Dandi masih menggenggam tangan Mika. Uang Mika ikut masuk dalam genggaman tangan besar itu. Mika yang tersadar segera melepaskan diri.
"Jangan membantah. Aku tidak suka dibantah. Dasar Bawel." kali ini Dandi tegas.
Mika akhirnya mengalah, dan kembali menyimpan ongkosnya ke dalam saku tas setelah Dandi melepas tangannya.
Meskipun diawal cukup sulit meluluhlan Mika, namun pada akhirnya sisa perjalanan dihabiskan Mika dan Dandi mengobrol.
"Kamu kayaknya deket banget ya sama Rania"
Mika mengangguk.
"Namanya juga satu kosan kak, tiap hari barengan" Mika berpikir Dandi pasti mau minta informasi tentang Rania. Makanya sampai senekat itu nguntit Mika di bus.
"Kamu sudah punya pacar?" Tanya Dandi tanpa basa basi, mengagetkan Mika yang semakin menganggap orang di depannya ini manusia tanpa sopan santun.
"Apa aku perlu menjawab itu, Kak? Privasi tauk. Lagian kita gak seakrab itu, kan." jawab Mika jutek.
Dandi tergelak, membuat Mika memandangnya dengan wajah aneh.
"Kenapa ketawa? Gak sopan tau nanya-nanya pacar gitu," Mika makin sewot, karena dia gak mau jawab kenyataan pahit bahwa dirinya jomblo sejati. hiks.
"Iya, iya maaf. Atau jangan-jangan kamu jomblo ya," Dandi tertawa.
"Apa!!!" Teriak Mika membuat penumpang lain menoleh ke arah bangku duduk mereka berdua.
Dandi menutup mulut Mika dengan tangan harumnya.
Tangan ini harum banget. Batin Mika. Sejenak dia tehanyut lalu segera melepas tangan pria tampan di sampingnya.
"Apa-apaan, sii," ucap Mika lirih setengah berbisik, karena Mika malu mengingat suara memekik dari mulutnya tadi.
"Makanya jangan teriak-teriak, emang ini hutan apa" Dandi tersenyum lebar.
Mika pun tertawa tanpa suara. Membuat suasana canggung mencair.
Bus masih berjalan merambati aspal. Mereka berdua asik mengobrol sepanjang jalan, ngalor ngidul, Sesekali ketawa bersama, sesekali nampak wajah Mika manyun. Sampai Mika menyadari pertigaan Gajah sudah dekat. Mika segera merapikan baju, tas dan berkata pada Dandi.
"Kak, aku udah mau sampai, aku duluan ya, makasih banyak udah bayarin ongkosku tadi, eh hutang ding, permisi," Mika lalu berdiri melewati Dandi yang langsung memiringkan duduknya supaya Mika bisa lewat, lalu berjalan ke pintu tengah bus, Mika dan Leni mendekati kondektur. Lalu Mika menoleh ke arah bangku Dandi sambil tersenyum. Tak disangka Dandi tersenyum manis dan melambaikan tangan padanya.
Bus berhenti dan Mika hilang dari pandangan Dandi.
Dandi pun Mengurungkan niatnya mngikuti Mika ke rumahnya, rindunya sudah terobati, lagipula jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dandi kemudian berdiri dan turun di pertigaan selanjutnya, padahal tadi Dandi bilang ke kondektur akan turun di kota sebelah.
__ADS_1
Setelah turun. Dandi menyebrang dan langsung memberhentikan bus ke arah berlawanan. Dandi kembali menuju kosnya.