Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Bersaing


__ADS_3

Setelah pulang sekolah. Mika melihat langit yang cerah sembari tersenyum. Hujan turun semalam, tapi sisa basahnya sudah terlihat mengering karena sinar matahari yang cukup terik hari ini.


Mika menuju halaman kebun samping setelah menutup pintu kamarnya. Ia tak memakai earphone seperti biasanya. Tapi dia membawa komik bersamanya. Mika melihat Dahan yang biasa ia naiki masih terasa lembab. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke dalam membawa sebuah kursi. Mika duduk di bawah pohon jambu dengan santai.


Dandi belum kembali ke kosan, hari ini dia pulang agak sore. Namun saat Dandi sampai di kamarnya, dia masih bisa melihat keberadaan Mika di sana. Mika sepertinya tak menyadari waktu yang berjalan cepat melewatinya. Sampai hampir pukul setengah lima sorepun dia masih duduk di bawah pohon membaca komik.


Dandi terlihat kesal saat mendekati jendela kamarnya, ia melihat Mika sedang asik membaca komik yang kemarin dibawakan teman lelakinya. Apalagi wajah Mika terlihat sangat senang.


Mika... kamu tidak boleh menerima apapun dari laki-laki lain!


Dandi bergegas mengetik judul komik seri yang sempat ia lihat kemarin. Setelah memasukkan ke dalam keranjang di sebuah marketplace, Dandi tersenyum. Selesai. Dandi membeli komik dengan memilih waktu sampai yang paling singkat.


Dandi beralih membuka aplikasi chat. Mika masih belum membalas chat Dandi kemarin.


[Bahagia banget yang habis diapeli. Lain kali jangan bawa laki-laki ke kosan. Aku cemburu!]


Mika hanya membaca tanpa membalas semalam. Bahkan langsung menghapusnya. Mika masih tidak mengerti apa tujuan dari chat tersebut. Mika hanya berpikir jika Dandi memang sedang mempermainkan dia.


Dia bahkan barusaja bermesraan dengan kak Rania, bisa-bisanya chat cemburu ke aku. Dasar playboy sinting! Emangnya siapa dia. Bapak kos? Seenak jidat ngelarang-ngelarang aku bawa temen ke kosan.


Gumam Mika semalam.


Kali ini Dandi mencoba mengirim 1 chat lagi.


Tring. Chat dari 'Orang gila' masuk.


(Kontak yang Dandi simpan dengan nama 'kakak ganteng' diubah Mika menjadi nama yang saat ini mengirimkan chat)


Mika hanya melirik sebentar lalu mengabaikannya.


Dandi yang melihatnya dari jendela jadi semakin kesal. Akhirnya Dandi mengetik sebuah pesan lagi. hanya huruf p namun di kirim sampai 10 kali. Sampai-sampai bunyi berderet dari notifikasi ponsel seperti rangkaian irama sebuah lagu.


Mika membuka chat dengan malas.


[Mika...]


[p]


[p]


[p]


[p]


[p]


[p]


[p]


[p]


[p]

__ADS_1


[p]


Mika mengeratkan gigi mringis sambil memelototi ponselnya. Geregetan. Mika dalam mode ganas.


[APA!!!]


[Nah, gitu dong dibalas (emotikon senyum)] Balasan secepat kilat.


[MAU APA LAGI?]


[Jangan galak-galak kenapa, nanti cepat tua, loh] Dandi membalas sambil memperhatikan ekspresi wajah Mika.


Mika tergelak dengan balasan Dandi, [Oya? Jadi orang galak cepat tua ya. Kalau Kakak tau itu, jangan ganggu-ganggu lagi. Nanti aku cepat tua karena kesal.] Mika kembali menatap komiknya.


Hati Mika sedang baik sebenarnya. Setelah mengetahui kenyataan tentang sikap istimewa Raka yang dijabarkan Miko padanya tadi pagi. Ditambah alur cerita komik yang menarik danmenyentuh hati Mika. Membuat suasana hati Mika jadi lebih baik lagi.


Pintar juga anak ini mencari alasan biar aku jauhi. Dandi berpikir sejenak. Lalu nekat menggunakan kata provokasi.


[Justru kakak makin bersemangat gangguin kamu, biar makin tua. Jadi bisa menua bersama. Haha] Dandi tertawa tanpa suara.


Glek. Apa-apaan sih ni orang. Ngeselin banget.


Mika melirik ke arah dedaunan di atas kepala, berpikir sejenak, lalu menggeleng. Baru kemudian dia mengetik kalimat dalam chat.


[Hei, orang tua jangan ganggu anak muda. Gak nyambung soalnya. Udah ya, bye!] Mika kehabisan kata-kata.


Lucu banget wajah dia saat lagi mikir jawaban chat.


Ok baiklah karena kamu lucu, hari ini cukup di sini aja. Karena besok aku akan bikin kamu chat aku duluan. Senyum kemenangan muncul. Dandi lalu memotret wajah Mika. Nampaknya Dandi mulai terobsesi pada Mika.


Tanpa sadar Mika berharap ada balasan chat dari Dandi.


Setelah memeriksa ponsel terakhir kali Mika melihat jika saat ini sudah hampir pukul 5 sore. Mikapun beranjak masuk ke dalam kos dengan terburu-buru.


Ya ampun aku lupa belum beli makan malam.


***


Keesokan harinya sepulang sekolah Mika dikagetkan dengan kedatangan sebuah paket misterius. Mika memperhatikan kosan yang lenggang, sepertinya para penghuni kos sedang di tidak ada.


Paket tersebut tergeletak di tempat khusus paket dan surat di sebelah pintu gerbang masuk kos Alaka.


Nama tertera, Mika. Nomor ponsel benar. alamatpun benar. Mika mengecek nama pengirim. Dandi Hilman.


Mika bersegera mengambil paket dan mengendap masuk ke dalam Kosan.


Mika terlebih dahulu mengecek kamar dan sepatu kak Rania, terkunci dan sepatu tidak ada. Itu artinya kak Rania tak ada di kamar.


Lalu derap langkah di depan kos membuat Mika waspada. Mika segera masuk dan mengunci kamar miliknya.


Rupanya Nancy. Mika mengintip dari jendela.


Aduh gimana ini, kenapa bedebah gila itu kirim barang ke aku. Mau nambahin hutang aku jadi setinggi gunung? Nambah-nambahin masalah aja deh. Apa ini? Buka enggak ya. Eh tapi lebih baik label pengiriman aku sobek dulu, deh. takut kak Rania salah paham.

__ADS_1


Setelah membuka paket, Mika mengerti satu hal.


Komik ini sama percis dengan milik Raka. Jumlahnyapun sama. Apa orang sinting itu beneran cemburu? Apa dia sedang bersaing?


Ada perasaan senang muncul di hati Mika. Tapi, Mika langsung menghempasnya pergi jauh.


Enggak-enggak, ini Enggak bener.


Mika bergegas mengambil ponsel di saku jaketnya.


Melakukan panggilan kepada Dandi. Dia memberanikan diri, kebetulan Rania belum pulang. Jadi dia akan bicara langsung.


Tuuut. Tuuut.


Ish. Gak diangkat lagi.


Mika melakukan panggilan lagi, Mika berdiri di dekat jendela sembari mengamati keadaan di luar.


Tuuut. Tuuut.


"Hai, sayang," Suara di seberang benar-benar mengejutkan Mika.


Sayang? Dia nyadar enggak sih, kalau aku yang telpon.


Mika masih diam, bingung mau bicara apa. Padahal tadi dia sudah menyiapkan serangan kata-kata untuk makhluk menyebalkan itu.


"Mika? Kok diam? Kenapa? Kangen ya? Katanya kemaren gak boleh ganggu-ganggu. Eh tahunya sekarang kangen. Hahaha" Dandi mengucapkan kata provokasi dengan baik.


Mika tersulut amarah, "Hei... siapa juga yang kangen. GR banget!" Mika menjawab dengan ketus.


"Jangan marah-marah, lupa ya bisa cepet tua. Oh, jadi mau menua bersama kakak nih?" Dandi makin menyebalkan.


"Idiih... amit amit gak minta. To the point aja ya kak, ini maksutnya apaan kirim-kirim beginian ke aku?" Mika berbicara lumayan keras.


Nancy yang barusaja melewati depan kamar Rania menuju ke arah kamar mandi sampai menoleh ke arah kamar Mika. Nancy menyeringai.


Huu dasar tukang pamer, cuma telponan sama orang aja dipamerin. Nancy mencibir Mika dalam hati. Lalu melangkah pergi menuju kamar mandi.


Dandi tergelak di ujung telpon. "Emang kakak kirim apaan? Coba jelasin." Dandi pura-pura tidak tahu.


"Ini. Komik-komik ini." Mika refleks menunjuk Kardus berisi komik. "Kurang kerjaan banget sih kak jadi orang. Kalau emang kurang kerjaan, tuh, rumput di belakang kos aku udah panjang-panjang. Cabutin sana biar ada kerjaan dikit." Mika kesal bukan main.


"Komik? Oh sudah datang ya." Jawab Dandi santai.


"Nyabutin rumput? Oke. Siapa takut. Asal kamu jadi pacar kakak ya." Dandi makin ngaco.


"Idiiiiih... Amit-amit gak minta. Tolong ya kak, jangan kira aku sama kaya mantan-mantan kakak yang tergila-gila sama wajah tampan kakak. Jangan pandang rendah aku!" Mika menutup telpon. Dia menggenggam erat ponsel di tangannya geram.


Sementara Dandi tersenyum penuh kemenangan. Itu rencananya. Dia membuat kesal Mika supaya Mika tak ada kesempatan menolak pemberian Dandi kali ini.


Mika mulai bisa menguasai amarahnya, kemudian dia melangkah, "Au" kakinya tersandung kardus komik.


Ya ampuuun Mika, tujuan nelpon tadi kan mau minta alamat buat ngembaliin komik-komik ini. Kenapa malah lupa sih. Masak iya mau nelpon lagi. Nanti makin ke ge eran bedebah sinting itu. Huft. Mika menepuk jidatnya 3 kali.

__ADS_1


Akhirnya Mika menyembunyikan kardus berisi komik-komik itu di atas lemari pakaian.


__ADS_2