Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Pernyataan cinta


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Mika dan Dandi barusaja keluar dari cafe untuk makan siang.


Setelah melajukan motor sportnya beberapa menit, Dandi berhenti. Kali ini Dandi mengajak Mika pergi ke sebuah taman yang cukup sepi.


Mika sudah berusaha menolak turun. Dan berkata ingin segera pulang. Itu dikarenakan chat Leni barusan yang mengatakan dia tak lagi membuntuti Mika. Karena temannya sudah mengajak pulang.


Gimana ini, mana sepi lagi di sini. Mika


Mika akhirnya terpaksa turun menuruti Dandi. Setelah Dandi benar-benar meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa di sini. Dandi hanya ingin ngobrol saja. Mikapun setuju untuk melangkah bersama Dandi. Mereka berdua berjalan menuju sebuah gazebo di bawah sebuah pohon besar.


Sejuk terasa saat memasuki area gazebo meskipun cuaca masih terik sekarang. Mika dengan ragu duduk di dalam gazebo itu.


Mau ngapain sih, di sini. Mika.


Dandi mengeluarkan sesuatu dari saku jaket. Lalu duduk di samping Mika.


"Mika. Kamu mau pakai ini?" Dandi menyodorkan gelang dan cincin unik dari dalam saku. Gelang itu terbuat dari tali berwarna coklat muda dengan manik hitam 5 biji. Sementara cincin itu berwarna silver. Meskipun terlihat seperti cincin imitasi tapi cincin itu adalah emas putih yang dibeli Dandi khusus untuk Mika minggu lalu.


Mika menatap dua benda di tangan Dandi. Mika mengernyitkan dahi.


"Kenapa?" Mika bertanya keheranan.


"Kamu pakai ya. Ini." Dandi menyerahkan benda itu ke dalam genggaman tangan Mika.


"Tapi kenapa, kak?" Mika masih bertanya.


"Kalau kamu tahu alasannya apa kamu masih mau pakai?" Dandi malah balik bertanya.


"Enggak," Jawab Mika singkat sembari menyodorkan tangannya ke arah Dandi. Mika sebisa mungkin menghindari Dandi mengutarakan alasan apapun dari mulutnya. Karena mungkin alasannya akan membuat Mika tak bisa menjawab apapun.


"Kak... sudah banyak sekali pemberian dari kakak. Aku enggak mau berhutang lebih banyak lagi sama kakak." Eh, kenapa aku bahas hutang lagi sih.


"Kali ini jangan dianggap hutang, ini hadiah. Bukankah tak sopan menolak hadiah dari orang lain?" Dandi memberi sedikit tekanan pada kalimatnya.


"Hadiah dalam rangka apa? Aku enggak lagi ulang tahun, juga enggak lagi ada momen apapun." Mika mencoba ngeles.


"Gimana kalau momennya kakak nembak kamu?" Dandi tersenyum malu. Wajahnya yang bersemu pink sukses membuat Mika tersenyum.


Eh, kenapa dia tampan sekali kalau lagi tersipu malu begini. Umm tiap hari tampan ding. Cuma kali ini dobel dobel tampannya.


Mika segera tersadar dari lamunan singkatnya.


"Kakak enggak usah bercanda berlebihan deh. Oke aku terima hadiahnya walau tanpa momen apapun. Makasih banyak ya," Mika akhirnya memakai gelang dan cincin itu dengan cepat. Mika tak mau berlama-lama dengan lelaki ini, Mika takut terbawa perasaan. Sementara perasaannya sendiri sekarang masih sangat sulit ia pahami. Terkadang ia rindu Raka tapi terkadang ia juga senang melihat Dandi.

__ADS_1


"Jadi kakak diterima?" Dandi berbinar senang.


"Loh, loh, loh. Bukan begitu maksutnya kak. Jadi ini aku terima sebagai hadiah. Dan kakak enggak perlu pakai momen-momen aneh seperti tadi." Mika berusaha membangun tembok tinggi dengan Dandi.


"Oke, oke." Dandi mengalah. Dandi tak ingin melihat Mika melepas gelang dan cincin yang sudah ia pakai. Hanya melihat pemberiannya dipakai saja sudah membuat Dandi sangat senang.


"Kak, ayo pulang." Mika mulai merengek.


"Ok, tapi sebelum pulang apa kakak boleh jujur ke kamu?" Dandi yang sudah mulai terbawa perasaan sudah ingin menyatakan perasaan cintanya pada Mika.


Mika yang waspada langsung menjawab," Enggak."


"Kenapa?" Kali ini pertanyaan dari Dandi.


"Karena sudah hampir sore, dan aku sudah harus pulang." Mika tersenyum manis.


"Yayaya... baiklah Mika cantik." Dandi mengacak rambut Mika dengan gemas.


"Kakak... apaan sih." Mika cemberut sembari membetulkan rambutnya. Tentu dia tak ingin terlihat jelek saat ini dengan rambut acak-acakan. Ya, walaupun pria di depannya bukan siapa-siapa untuknya, tapi tetap saja naluri wanita selalu ingin terlihat cantik dan rapi di hadapan lawan jenis, kan.


Dandi tertawa.


"Mika... kakak suka sama kamu dan makin suka kalau kamu menggemaskan begini," Dandi akhirnya mengatakan perasaannya dengan santai bahkan tertawa lebar.


Apa? Dia sedang menyatakan perasaan atau sedang bercanda sih.


"Hei..." Dandi menggoyang tubuh Mika pelan. Mika masih diam.


"Mika... Kamu kenapa jadi cemberut beneran?" Dandi malah jadi bingung dengan sikap Mika.


Inilah wanita, selalu ingin dimengerti. Selalu diam untuk di pahami. Selalu ngambek untuk di rayu.


Dandi menghela napas panjang.


"Mika, apa kamu marah kalau kakak suka sama kamu?" Muka Dandi berubah sendu. Dandi mengira dia terlalu cepat menyatakan perasaannya pada Mika dan membuat Mika tak nyaman.


Mika yang tadinya diam jadi bereaksi.


"Eh, bukan begitu. Kenapa kakak selalu salah paham sih," Mika jadi kesal.


"Jadi, kamu juga suka sama kakak?" Dandi tersenyum.


"Ya, ampun. Kenapa jadi begitu pertanyaannya." Mika menghela napas panjang.

__ADS_1


"Lalu?" Dandi menatap Mika lekat.


"Maksut aku, aku enggak marah kalau kakak suka sama aku. Hak kakak dong suka sama orang. Tapi, bukan berarti juga karena aku enggak marah artinya aku suka sama kakak." Mika menjelaskan.


Dandi mengerti. Mungkin belum saatnya Mika menyukainya. Karena memang Mika berbeda dari wanita lain. Dia hanya perlu berusaha lebih keras lagi menaklukkan hati Mika. Dandi tak akan memaksa Mika. Karena Dandi takut Mika akan menjauh darinya.


"Oke... Kakak tak akan meminta kamu untuk menyukai kakak. Kakak juga tak akan pernah memaksa kamu menoleh pada kakak. Tapi kakak minta setidaknya kamu jangan pernah menghindari kakak setelah ini." Dandi makin lekat menatap Mika. "Karena itu akan membuat kakak semakin terluka. Kakak yakin mungkin suatu saat nanti kamu akan menoleh pada kakak dan kakak akan menunggu hari itu. Jadi biarkan kakak menjadi temanmu seperti sebelumnya, ya." Dandi berkata dengan sangat tulus.


Mika mendengarkan setiap kalimat Dandi dengan perasaan sakit mengiris hati.


Kata-kata Dandi itu adalah semua yang ia rasakan pada Raka. Meski tak pernah memaksa Raka menyukainya, tapi dalam hati Mika selalu menanti hari dimana Raka akan menyatakan cinta padanya. Meskipun itu mustahil. Tapi hatinya selalu percaya bahwa hari itu ada.


Apa rasa sakit yang aku rasakan selama ini yang sedang kak Dandi rasakan sekarang? Kenapa aku jadi jahat seperti ini. Rasanya tak tega melihat raut sedih kak Dandi. Tapi aku bisa apa. Aku tak mungkin menghianati kak Rania dan perasaanku pada Raka. Aku juga tak akan sepede itu merasa Kak Dandi menyukai aku, kan.


Mika bimbang dengan perasaannya sendiri. Ia tak tega melihat wajah sedih Dandi tapi iapun tak mungkin menyakiti kak Rania.


"Kak, aku tahu rasanya mencintai sepihak. Aku rasa aku tak ingin jadi sejahat itu pada kakak yang sudah sangat baik padaku. Tapi kenapa kakak melakukan ini pada aku dan kak Rania?" Mika akhirnya bertanya apa yang terjadi sebenarnya.


"Rania?" Oh, iya benar. Aku sampai melupakan Rania. Dan lupa menjelaskan semua pada Mika.


Mika mengangguk, "Bukankah kakak juga mendekati kak Rania?"


"Baiklah kakak akan jelaskan pada Rania besok. Sebenarnya kakak sama sekali tidak mendekati Rania. Alasan kakak selalu ada di sekitar kamu adalah kamu, bukan Rania." Dandi menjelaskan.


"Tapi, kak Rania cerita semuanya ke aku kak, dari kakak stalking media sosial dia, kakak ngebelain kak Rania waktu dilabrak, bahkan sampai kakak makan berdua dengan kak Rania."


Dandi menghela napas, "Bukankah semua orang akan melakukan itu?"


Mika bingung, tidak mengerti apa yang Dandi katakan, "Maksutnya?"


"Kakak cari kamu dari akun media sosial Rania karena kakak tahu kamu berteman dengan Rania. Kakak bahkan sudah tahu nama kamu saat kita ketemu di toko malam itu. Itu semua karena kakak tertarik sama kamu, bukan Rania," Pernyataan Dandi barusan sungguh mengejutkan Mika. "Dan kakak hanya melerai Rania dan berusaha menghiburnya saja saat itu. Mungkin Rania salah paham dengan sikap kakak." Dandi berusaha meyakinkan Mika.


"Jadi, dengan tanpa sengaja kakak mempermainkan perasaan kak Rania? Kakak jahat banget." Mika mulai terpicu emosi.


"Oke, oke besok kakak akan jelaskan semuanya pada Rania," Dandi meredam amarah Mika.


"Aku bahkan enggak bisa bayangin sepatah hati apa kak Rania jika dengar penjelasan kakak besok." Mika menghela napas panjang.


Mika membayangkan wajah kakak kesayangannya sedih. Bagaimanapun itu akan sangat membuat Rania patah hati.


"Kak, tolong antar aku pulang atau aku naik angkot." Mika mulai mengancam dan berjalan menjauh.


Dandi tahu Mika sedang marah padanya. Jadi Dandi hanya menuruti kemauan Mika. Dia meraih tangan Mika yang sudah menuju jalan raya. Dia menuntunnya kembali ke motor.

__ADS_1


Dandi sangat menyesal dengan apa yang terjadi barusan. Dia tak menyangka Mika akan semarah itu jika soal Rania.


Karena tak hati-hati saat melajukan motor, ponsel Dandi terjatuh dari saku dengan keras membentur aspal. Dandi menyadari sesuatu jatuh dan menoleh ke spion. Namun, hanya terlihat sebuah truk melaju di belakangnya. Dandi urung untuk berhenti mengecek dan langsung membawa Mika pulang.


__ADS_2