
Di ruang bermain, Dandi sudah berhasil diacak-acak oleh kedua keponakannya. Rambut Dandi penuh dengan jepit rambut warna warni dan mukanya berhasil di beri stiker silikon bergambar sailormoon hampir di seluruh wajah.
Dandi tertawa bersama kedua adik kecilnya. Tiba-tiba dia teringat wajah tertawa tak jelas Mika. Yang Entah menertawai apa di bawah pohon jambu saat melihat ponsel. Dandi rindu melihatnya.
Dandi lalu mengambil ponsel dan berselfie dengan mimik wajah lucu dibuat-buat bersama Maura dan Kayla.
Dandi mengirimkan 1 foto tersenyum dirinya bersama keponakan kepada Mika. Dibubuhi sebuah pesan. "Selamat tidur peri cantik". Terkirim.
Pukul 21.00 bibi pengasuh mengetuk pintu, Dandi sudah melepas stiker dan jepit dari tubuh, dibantu Kayla. Sementara Maura sudah tertidur di pangkuan Dandi. Dandi sedang membacakan sebuah dongeng.
Setelah membaringkan Maura di kamar tidur, dan menemani Kayla sampai depan pintu kamar Dandi kembali bergabung bersama tante dan mamanya yang masih larut dalam obrolan kakak adik.
"Dan, kamu nginep sini, kan?" Tante Nayla berkata setelah mendapati Dandi mendekat ke sofa.
"Enggak, tan, Dandi balik ke kosan aja, besok Dandi ke sini lagi," jawab Dandi.
"Oya, tan, anak muda yang gendong Maura tadi siapa? Akrab banget kelihatannya". Dandi penasaran.
__ADS_1
"Oh itu, anak tetangga sebelah, setahun yang lalu baru pindah ke sini. Dia bantu belajar Maura sama Kayla," Nayla menjawab.
"Oh... guru les ya, kenapa masih muda banget begitu," Dandi kembali bertanya.
"Masih muda tapi sudah mandiri, kamu aja kalah Dan," Mama Ranti tiba-tiba nyeletuk.
"Apaan sih, mama, nih," Dandi memprotes.
"Gak gitu mbak, jadi si Raka itu memang minta ijin buat bisa main sama Maura ke aku mbak, terus dia bilang mau sekalian bantu Maura dan Kayla belajar, akhirnya aku setuju. Tapi cuma sabtu sama minggu malam aja." Nayla menjelaskan. "Kalau lesnya, Maura sama Kayla aku lesin di lembaga bimbingan belajar setelah pulang sekolah senin sampai jumat."
"Oh"
Mama dan anak itu kompak menjawab.
Nayla kembali menjelaskan, "Alasan Raka minta ijin itu karena Raka sudah menganggap Maura seperti adiknya sendiri. Jadi, kata mama Raka, mereka pindah ke sini karena adik Raka yang seumuran Maura meninggal abis kecelakaan. Rakanya terpukul banget, karena itu saudara satu-satunya dia. Dan pertama kali dia pindah ke sini, gak sengaja ketemu sama Maura di depan. Jadilah dia anggap Maura pengganti adiknya. Dia juga sayang banget sama Maura." Tante Nayla membeberkan sebuah kisah.
"Oh, gitu," Dandi manggut-manggut.
__ADS_1
"Raka ini, Dan, waktu Maura sakit seminggu yang lalu, dia minta ijin jagain sampe dibela-belain gak masuk sekolah, loh, kasian juga sih tante lihatnya Dan," Nayla berbicara dengan menatap bergantian ibu dan anak di depannya.
Percakapan berlanjut sampai pukul 10 malam. Dandi pamit pulang ke kosan kepada mama, papa, tante dan omnya.
Jalan kota masih cukup ramai meskipun hari sudah mulai larut, suasana sepi mulai bergelayut setelah memasuki gapura komplek SMA 1 dan SMP 1. Dandi menuntun motor sportnya pelan setelah sampai di depan asrama cepek. Suasana sudah sangat sepi.
Dandi mengecek balasan Mika. Nihil.
Anak itu pasti udah tidur.
Dandi lalu mengalihkan pandangannya menuju chat dengan nama kontak Robi. Dandi berniat memberitahu Robi jika besok dia tak bisa ikut latihan.
Namun, chat terkahir Robi padanya membuat Dandi berpikir.
[Dan, kayaknya lo harus hati-hati sama cewek yang lo tolak, dia putri kesayangan pak Vanderrik, rektor kita]
Apa undangan makan malam papa kali ini ada hubungannya dengan gadis itu? Tadi mama bilang putri pak Vander seumuran aku, sudah pasti gadis centil itu, kan? Ah, lebih baik aku tidak ikut pergi. Oya, besok kan aku akan nagih hutang ke Mika. Pasti lebih asik ngobrol sama Mika ketimbang gadis itu. Senyum menyeringai muncul di wajah Dandi.
__ADS_1
Dandi tertidur pulas setelah membayangkan cara menagih hutang ke Mika besok.