Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Kabur


__ADS_3

Mika sudah memikirkan cara untuk kabur dari intimidasi Dandi.


Grab.


Mika berdiri. Lalu dengan cepat mengambil komik di tangan Dandi.


"Siniin!" Mika dalam mode galak.


Namun Dandi malah tersenyum. Dia seperti sedang menunggu apa yang akan Mika lalukan selanjutnya.


Mika sudah mendekap 8 seri komik di tangannya.


"Raka, sebentar." Mika secepat kilat masuk ke dalam kamar kosnya. Meletakkan komik lalu bergegas pergi ke depan segera.


Mika takut membiarkan Raka lama-lama di dekat Dandi.


Setelah sampai di teras, Mika menarik tangan Raka. Raka yang sedang duduk cukup terperanjat dengan ulah Mika.


Deg. Mika pegang tanganku.


"Raka, sepertinya sudah saatnya main sepak bola, ayo aku antar ke lapangan belakang," Mika tersenyum manis kepada Raka. Lalu muka Mika berubah masam saat menatap Dandi sembari berkata, "Permisi, kami duluan" kepada Dandi.


Tangan Dandi mengepal melihat Mika menggenggam tangan pria lain.


Kurang ajar. Dandi marah.


Dandi hampir berteriak marah, namun tertahan, karena sosok Rania sudah muncul membawa minuman.


"Kak, Rania, kami duluan, ya. Have fun ya sama," monster (gumam Mika pelan), "Kak, Dandi". Mika melambaikan tangan setelah Rania mengangguk.


Mika dan Raka segera menghilang di balik tembok kebun Kos Ratulangi.


Akhirnya Mika bisa bernapas lega. Dia melepas genggaman tangan di pergelangan Raka. Belum sampai mulut gang Dahlia Raka bertanya pada Mika.


"Mika, emangnya pria tadi itu siapamu?"


Mika cukup tenang menjawab pertanyaaan Raka, "Kak Dandi ya, dia itu calon pacarnya kak Rania, kakak kos perempuan yang tadi." Raka masih diam menunggu kelanjutan penjelasan Mika.


"Jadi kak Dandi minta aku nyomblangin dia dengan kak Rania, gitu ceritanya," Mika mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Oh, jadi cuma mak comblang ya." Raka menggumam pelan.


Tapi tadi saat Mika masuk, pria itu bertanya padaku, "Apa Mika cantik?" Tanpa mendengar jawabanku pria itu bilang, "Tentu saja cantik, Dia milikku". Namun sayangnya belum sempat aku mencerna kalimat itu Mika sudah kembali. Kalimat itu sungguh mengganggu aku.


Apa arti dari, "Dia milikku", apa dia sedang mengancam aku untuk menjauhi Mika? Tapi Mika hanya mak comblang, kan. Raka malah melamun.


"Hei," Mika menepuk bahu Raka.


Lihat Raka sampai melamun begitu. Sepertinya Raka sedang cemburu. hihi.


"Eh, iya Mik. Komiknya boleh kamu kembalikan kapanpun, kabarin aja jika serinya sudah selesai kamu baca semua. Nanti aku pinjami komik dengan judul lain," Raka mengalihkan pembicaraan. Raka tak mau Mika menyadari perasaan gundahnya pada Mika.


"Ok, terimakasih ya Raka sebelum dan sesudahnya," Mika tersenyum manis.


Setelah keluar gang Dahlia mereka berdua menyebrang bersamaan, kini mereka berada di sisi kiri bahu jalan, Mika meraih sakunya.


Ya ampun, aku gak bawa ponsel lagi. Gimana ini setelah aku anter Raka aku nonton bola atau langsung balik? Ish males banget lihat wajah sinting itu. Duh, gimana ini, pasti orang itu belum balik dari ngapel. Ceroboh banget...seandainya tadi aku nggak buru-buru sekarang aku bisa chat kak Rania atau anak kos tentang keberadaan lalat pedofil itu. Males papasan lagi sama dia huhuhu. Mika mengernyitkan dahi berpikir. Akhirnya sebuah kalimat muncul dari bibirnya.


"Raka, kamu keberatan enggak kalau aku nonton kamu main bola?"


Raka menoleh ke arah Mika, "Semua orang boleh nonton kok tanpa terkecuali. Main bolanya kan di tempat umum, jadi kamu gak perlu ijin sama aku," Raka tersenyum.


Mika... bodoh banget sih kamu. Ngapain pakai ijin segala. Mika mengutuki dirinya sendiri. Jadi malu kan sekarang.


Sementara langkah kaki mereka masih melaju, suara Miko memecahkan suasana.


"Raka... woi. Ayo!" Miko sudah siap dengan baju olahraga lengkap dengan sepatu. Dia sudah berdiri di depan kosannya. Seminggu ini cuaca baik-baik saja, hanya sekali saja hujan turun di awal pekan. Jadi lapangan tidak terlalu becek.


"Mika, aku duluan, ya. Nanti kamu bisa lihat kami main darimanapun. Yang penting jangan dekat-dekat. Takutnya kena bola," Raka menyampaikannya dengan sangat baik. Tujuannya supaya Mika merasa nyaman.


"Siap." Mika tersenyum lagi.


Mereka berdua berpisah. Raka masuk ke kosan Miko. Sedang Mika berjalan terus mengitari pinggir lapangan. Posisinya kini berada di sebuah tempat duduk di trotoar di depan sebuah rumah kos.


Dari posisinya saat ini, Mika dapat dengan jelas melihat dinding belakang kos Alaka dan seluruh sisi lapangan bola.


Mika melamun saat duduknya sudah nyaman.


Dia memikirkan provokasi Dandi tadi. Apa maksutnya ya. Aku jadi penasaran. Apa sebenarnya tujuan kak Dandi? Bukankah dia semakin dekat bahkan sampai mendatangi kak Rania di kosan? Itu artinya mereka makin dekat, kan? Tapi kenapa malah memprovokasi Raka seolah olah aku dan dia ada hubungan spesial?

__ADS_1


Kayaknya orang itu lagi kena sindrom playboy akut. Jadi dia menganggap semua wanita itu pacarnya. Hiii Patutnya di inapin dulu berapa tahun di Rumah sakit jiwa orang sinting itu. Mika bergidik ngeri.


***


Sementara di kosan, setelah Raka dan Mika pergi. Rania yang barusaja duduk membawakan minum Dandi harus sedikit kecewa.


Setelah Dandi meneguk sedikit saja minumnya. Dandi pamit. Dandi beralasan jika dia mendadak ada urusan dan berjanji akan berkunjung di lain hari.


Walau sedikit mengecewakan tapi Rania sudah cukup bahagia dengan kenyataan keberanian Dandi mendatangi kosan Rania.


"Ran, aku balik dulu gak papa ya," Dandi terlihat buru-buru.


"Oh, iya. Gak papa," celingukan mencari benda di halaman kos.


Dandi sudah mau pergi. Tapi terhenti dengan pertanyaan Rania.


"Kamu jalan kaki?" Rania heran.


Ya ampun, aku sampai lupa. Untung aja dia tanya. Kalo enggak bisa ketahuan aku ngekos di samping. Bisa ribet urusannya.


"Oh, itu. Enggak. Aku naik motor, cuman motornya aku titipin di kosan Robi. Di dekat SMA 1 sana. Baru pas kesininya aku jalan kaki," Dandi tersenyum menutupi kebohongannya.


Rania manggut-manggut dan tersenyum.


"Yaudah aku ke kosan Robi dulu ya. Lewat lapangan kelapa aja biar cepet. Sampai ketemu lagi ya Ran," Dandi melambaikan tangan.


Rania masih tersenyum dengan sangat manis. Sorot matanya mengikuti gerakan tubuh Dandi sampai benar-benar tak terlihat lagi di balik dinding samping kosan Asrama cepek.


Rania membereskan gelas, lalu masuk ke dalam. Sementara Dandi mengamati dari balik dinding. Setelah aman dia masuk ke Asrama cepek.


Dandi bergegas menuju jendela kamarnya.


Di sana dia rupanya. Dandi bisa melihat dengan jelas tubuh Mika dari jendela kamar.


Mika yang sedang melamun.


Selang beberapa menit. Permainan bola sudah di mulai. Dan Mika mulai antusias melihat permainan bola Raka. Ya. Mika hanya melihat Raka.


Dandi mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Tuhan, apa ini karma? Kenapa setelah aku menemukan gadis pengganti Kimi. Dia justru wanita tak berperasaan. Tak peka dan super cuek. Susah sekali menaklukkannya.


Aku cemburu Tuhan. Aku ingin memilikinya. Dandi menggertakkan giginya.


__ADS_2