
Matahari sudah meninggi, sinar kuning menerobos masuk melintasi jendela pemilik kamar spesial di asrama cepek. Suasana sunyi senyap, tak ada jam berdetik, tak ada suara jangkrik. Tak ada suara kegiatan pagi. Asrama Cepek pagi ini kosong. Kebetulan semua penghuni pulang kampung kecuali Dandi. Biasanya 2 mahasiswa semester 2 yang tinggal di kosan ini ada di minggu pagi, namun, mereka berdua ikut mudik juga.
Dering ponsel berdendang nyaring. Memekakkan kesunyian pagi. Menggema, memenuhi seluruh ruangan seperti teriakan mama membangunkan anaknya.
Mata coklat mulai menampakkan reaksi setelah gendang telinga mulai risih. Suara nyaring masih terdengar berulang, mata yang masih terpejam perlahan mengerjap. Uap api terdorong keluar dari rongga mulut, menimbulkan gerakan menganga cukup lebar.
Hoahm...
Suara sapaan pagi paling romantis dari tubuh yang baru saja terlelap kepada bumi seisinya. Memaknai ucapan rasa syukur paling tulus kepada malam tempat tubuh beristirahat. Auman pagi muncul bersamaan dengan buliran air mata menetes di ujung lancip. Tidur yang begitu lelap hanya meninggalkan sisa-sisa kenyamanan luar biasa. Yang segera ingin disampaikan kepada dunia melalui suara auman srigala pagi. Hoahm...
Telpon kembali berdering. Tangan berkulit putih menjulur menggapai sebuah ponsel. Matanya menyipit terpapar sinar ponsel yang terang.
Mama melakukan panggilan.
"Halo, ma", suara serak malas khas orang bangun tidur menyapa.
"Ya, ampun, Dandi. Kamu baru bangun? Papa sama om aja sudah balik dari jogging." Suara di seberang tak kalah nyaring dari dering ponsel tadi.
"Iya, maaf, Ma. Dandi kesiangan, hoahm..." auman kembali terdengar.
"Udah sana, bersih-bersih terus kesini. Mama sama tante Nay masak banyak hari ini, kamu gak kangen apa masakan mama?" Suara di seberang terdengar begitu semangat.
"Siap, Ma. 20 menit lagi Dandi sampai sana," Dandi menutup telepon lalu melompat keluar dari kamar menuju kamar mandi. Rasa rindu pada kelezatan cinta mama dalam setiap masakannya memicu seluruh sel tubuh Dandi untuk bangkit.
Sekilas Dandi melirik ke kamar mandi anak-anak kos yang berjajar rapi di seberang kamarnya.
Kosong?
***
Dandi sudah di meja makan bersama anggota keluarga dewasa lain, Maura dan Nayla makan bersama bibi pengasuh di taman belakang.
__ADS_1
Semua sudah menghadap piring masing-masing. Dandi sudah makan dengan lahap tanpa bersuara, kebosanannya memakan makanan restoran sudah terobati kali ini. Sebenarnya hal yang paling membuat Dandi ingin pulang ke rumah selain mama adalah masakan mama. Masakan mama adalah yang paling lezat dari semua masakan restoran yang pernah ia kunjungi.
Apalagi, terakhir kali Dandi pulang ke rumah sudah 6 bulan yang lalu. Sudah terlalu lama lidah Dandi tak dimanjakan rasa legit manis cinta mama untuknya. Dandi memang sangat jarang pulang. Mengingat, Mama Dandi selalu ikut papa pergi ke luar kota dalam perjalanan bisnis, karena papapun selalu ingin makan masakan mama. Jadi Mama juga jarang ada di rumah.
Terlebih Bisnis papa makin berkembang saat ini. Papa sekarang bahkan sudah MOU untuk pengembangan sawit menjadi olahan minyak siap jual. Kabarnya pengolahan minyak mentah dan perkebunan papa sudah dilirik investor besar dari luar negeri. Dan dalam waktu dekat akan mendirikan sebuah pabrik di dekat area perkebunan. Papa jadi makin sering melakukan kesibukan di luar rumah.
Dandi sendiri dari kecil sudah sering ikut papanya meninjau kebun dan pabrik pengolahan minyak mentah milik keluarganya. Dulu masih pabrik kecil dan kebun papa belum seluas sekarang. Bersamaan dengan Dandi dewasa, papa jadi pengusaha perkebunan sawit dan olahan minyak mentah nomor 1 di kota XX. Sering mendapatkan penghargaan dan undangan seminar bisnis.
Jika biasanya seorang anak pengusaha dituntut untuk mengikuti jejak orangtuanya, maka dalam keluarga Dandi berbeda. Mama Papa Dandi tak pernah sekalipun berpikir seperti itu, bagi mereka setiap anak akan punya pengalaman hidup masing-masing. Dan itu akan membawa anak tersebut menuju jalan karir pilihannya dengan tepat. Arahan tetap mereka berikan sebagai orangtua, namun tak sekalipun mereka memaksa untuk kuliah di sini, jurusan ini, jangan di situ jurusan situ dll.
Mama dan Papa Dandi percaya, jika Dandi menyukai sawit maka Dandi akan kembali ke sawit. Lagipula jurusan desain grafis juga akan bermanfaat dikemudian hari. Nanti jika Dandi siap dengan sawit dan mau meneruskannya, Papa Dandi sudah menyiapkan semuanya. Namun jika tidak, Papa Dandi sudah menyiapkan modal untuk Dandi mengembangkan bisnisnya sendiri, sesuai dengan minat Dandi.
Makan pagi terasa begitu khidmat. Memang dalam keluarga Dandi, saat makan bukanlah jadi saat berbincang, mereka dari kecil dididik untuk tidak makan sambil berbicara. Semua orang patuh dengan aturan itu. Lagipula mereka akan terhindar dari resiko tersedak atau terbatuk saat makan. Ngobrol baru akan dilakukan jika semua sudah selesai makan dan berpindah tempat.
***
Pukul 14.45. Mika sudah turun dari bus. Dia siap menyebrang. Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti tepat di depannya. Mika mundur ketakutan.
Siapa ini, jambret? Tanpa sadar Mika memegang tas selempang di samping tubuhnya erat.
"Apa!???" Mika bertanya ketus pada pengemudi motor.
"Jangan pura-pura lupa, naik," Dandi memberikan helm pink lucu pada Mika.
"Apa? maksutnya?" Mika malah bingung sendiri.
"Hei," Dandi menjitak kepala Mika pelan, "Kamu lupa, katanya mau bayar hutang. Ayo, naik!" Dandi kembali berbicara.
Mika teringat sesuatu, mengembalikan helm pada Dandi lalu mengambil dompet di tas. Belum sempat membuka dompet Dandi sudah sukses memakaikan helm di kepala Mika.
"Bayarnya enggak di sini, Mika sayang...ayo ikut, traktir aku bakso," Dandi menarik tangan Mika mendekat ke motor.
__ADS_1
Beberapa wanita muda di samping Mika mengintimidasi lewat sorot mata mereka. Tatapan membunuh yang seolah berkata, Hei, gak usah pamer kemesraan di sini!
Kenapa mereka? Mika
"Iya, iya," Mika naik dengan terpaksa. Lalu dia menyadari, Apa? Dia tadi panggil aku apa? sayang? Mika sayang? Dasar gak waras. Playboy cap cucian piring emang, ya.
Motor Dandi sudah melaju cepat. Mika memukul punggung Dandi keras.
"Heiii, mau mati, ya, Jangan ngebuttt....!!!" Mika terkantuk punggung Dandi saat motor itu tiba-tiba mengerem. Motor kembali berjalan pelan kali ini.
"Makanya pegangan," Dandi terbahak.
"Ish... gimana pegangannya, motor om ini, aneh tau", Mika bingung sendiri, sebab ini kali pertama dia naik motor sport. Bodinya jelas berbeda dari motor bebek biasa milik ayahnya. Dia tadi hampir terpental jika tidak pegangan pada tubuh Dandi sebentar.
"Pegang jaket aku boleh, tubuh aku lebih boleh lagi," Dandi makin semangat membuat Mika kesal. Mika menurut tanpa protes memegangi jaket Dandi karena takut jatuh. Dalam hati, Mika ngedumel, Idiiih siapa juga yang mau pegangan sama tubuhnmu. Dan saat Dandi ngegas motornya agak cepat, Mika tanpa sadar sudah memegang bagian samping tubuh Dandi erat. Dandi memang sengaja. Tapi setelah normal Mika akan melepas dan kembali duduk normal.
Motor Dandi sudah menjauh dari kawasan kota. Mika yang shock karena rem mendadak, dan permainan gas motor Dandi sepanjang jalan baru menyadari jika ini bukan jalan menuju kosnya.
"Hei, ini bukan jalan menuju kos, kamu mau bawa aku kemana om pedofil??" Mika berteriak sambil memukul punggung Dandi.
Dandi cuma tersenyum dan kemudian memasuki sebuah kawasan bukit. Motor Dandi berhenti tepat di atas tanah bukit yang landai, di bawahnya adalah pemandangan lautan yang sangat cantik di sore hari. Bukit ini sangat tinggi sehingga semua yang di bawahnya terlihat dengan jelas. Matahari yang semakin turun ke arah garis air lautpun sudah mulai berwarna jingga. Cantik luar biasa.
Mata Mika terbelalak, tanpa sadar dia turun dan berdecak kagum dengan pemandangan di depannya.
"Wow, cantik banget." Kedua tangan Mika saling menggenggam, menyatu di depan dada.
Dandi melepas helm yang masih di kepala Mika.
"Kalau mau lihat jelas. Helmnya dilepas dulu, Neng," Dandi pura-pura jadi polisi sunda yang sedang menasehati pengendara.
Mika tertawa melihat Dandi sampai menunduk sopan dan mengangkat jempolnya miring tanda mempersilahkan seseorang.
__ADS_1
"Silahkan, nona," ucapan Dandi dibalas tepukan kebanggaan dari Mika, bak seorang komandan yang sedang memuji bawahannya.
"Good, job, pertahankan!" Mika meniru suara ala komandan batalyon. Mereka berdua akhirnya tertawa terbahak. Suasana pun mencair.