
Setelah kejadian penembakan itu, Dandi tak pernah lagi menyapa Mika di depan kosan Roby, dia tak ingin mereka yang penasaran semakin mudah menemukan Mika. Dandi memutuskan hanya akan menunggu Mika dari jendelanya saja, toh, setiap sore Mika hampir selalu ada di sana. Entah bermain gitar dengan gitar kardusnya, membaca buku, mendengarkan musik, menyanyi atau bahkan mengintip orang main sepak bola.
Hal-hal dalam diri Mika begitu menghibur untuk Dandi. Seminggu ini Dandi bahkan tak menampakkkan batang hidungnya lama-lama di kampus. Dandi sangat malas menghadapi pertanyaan Roby dan beberapa teman kelas. Dandi tetap mengikuti mata kuliah dan mengerjakan tugas dengan baik, namun langsung pergi setelah jam kuliah selesai. Tak seperti biasanya, dimana Dandi akan nongkrong dengan teman band-nya atau teman kampusnya di depan kampus. Kali ini Dandi lebih memilih menghabiskan waktu mengamati Mika saja.
Hari ini Mika sudah ada di bawah pohon jambu pukul 14.00, meskipun Matahari masih tampak gagah di atas sana, teriknya tak mampu menembus lebatnya dedaunan pohon jambu. Mika tak merasa gerah ataupun kepanasan. Mika selalu nyaman di tempat favoritnya itu. Bulan ini sudah masuk musim penghujan, tapi masih jarang-jarang. Hujan yang datang 2 minggu ini hanya 1 sampai 2 kali seminggu, belum intens setiap hari. Dan 3 hari ini langit cerah, Mika tak melewatkan untuk menghabiskan sore di kebun.
Mika sedang memainkan pena hijau cetek, memandanginya, memegangnya dengan penuh arti. Tersenyum lalu menuliskan sesuatu di sebuah buku biru tebal.
Dandi yang mengamatinya penasaran, apa Mika sedang menulis kalimat rindu untuk aku, pasti dia rindu, sudah seminggu aku tak pernah menyapa dia lagi, aku rindu ngobrol sama dia, tapi nomor Ponselnya aku bahkan tak tahu. Kalau menemuinya seperti biasa pasti akan mencolok, apalagi video kemarin cukup menarik perhatian anak kampus. Bagaimana jika ada anak kampus yang lihat. Mereka pasti akan ganggu Mika.
Ya, Mika memang tak pernah menggubris sewaktu Dandi meminta nomor ponselnya. Mika selalu mengelak dan menolak memberikan. Sekarang, saat rindu begini, Dandi bahkan hanya bisa mendengar samar samar suara yang sudah mencanduinya itu di balik jendela.
Mika... seandainya jendela ini tak ada, mungkin rinduku akan semakin membuat aku gila.
Kali ini Dandi mengambil pensil dan buku sketsa. Perlahan dia mencari posisi senyaman mungkin di dekat jendela, Dandi mulai menggoreskan pensil, wajah Mika masih menjadi fokus tema kali ini.
Mika memakai kaus putih dan baju kodok warna kulit. rambutnya dikucir tinggi. Mika menunduk fokus ke arah buku yang sedang ia tindih.
Sementara Dandi menyelesaikan sketsa dihadapannya, seorang gadis menunduk menulis buku, dibubuhi tanda tangan dan tulisan "lovely".
***
Hari ini hati Mika sangat bahagia, Raka mengganti pena yang pernah dipinjam dari Mika. Pena baru, beda model dengan pena Mika dulu, tapi ini justru model pena kesukaan Raka. Cetekan.
Mika sebenarnya tak menginginkan penanya kembali, Mika sangat senang saat Raka kehabisan tinta pena, kebetulan Mika punya 2 pena. Jadi Mika memberikannya pada Raka. Sekaligus jadi bentuk perhatian Mika ke Raka, begitu maksutnya.
Namun, karena Raka sudah menggantinya, maka Mika bertekad akan menjaga pena itu sebaik mungkin sebagai sesuatu yang amat sangat berharga. Dan hanya akan menggunakannya untuk menulis di buku harian saja. Buku Harian yang hanya dipenuhi oleh kisah Mika dan Raka.
---
__ADS_1
Bagi insan yang sedang jatuh cinta, benda remeh yang diberikan kekasih hati dengan tulus, sekecil apapun bisa jadi barang berharga bagi penerimanya. Sebaliknya, Benda semahal apapun jika diberikan oleh orang yang dibenci hanya akan mewujud sampah bagi sang penerima.
---
Mika semakin yakin Raka menyukainya, setelah hari dimana pertama kalinya Raka jutek pada Mika, Raka malah jadi cowok yang manis untuk Mika dihari-hari berikutnya. Seperti saat hujan tiba siang itu, Raka yang biasanya memilih menerobos hujan, kala itu Raka memilih menemani Mika mengobrol sepanjang sore di dalam kelas. Raka menemani Mika ngobrol sampai hujan benar-benar pergi. Hujan pertama yang jatuh ke bumi memberi kenangan manis tak terlupakan bagi mereka berdua.
Seluruh ruangan sudah hampir kosong, para siswa sudah berlarian pulang sejak mendung menggantung berat di atas sana. Sementara Mika masih harus menyelesaikan beberapa tulisan di papan yang ia lewatkan tadi karena dipanggil ke kantor oleh seorang guru, pengampu ekskul seni.
Hujan mulai turun dan semakin lebat ketika Mika masih di dalam kelas. Kelas sudah kosong, hanya terlihat beberapa guru dan beberapa siswa berteduh di teras-teras kelas lain di seberang.
Setelah selesai menyalin ulang semua kalimat di papan, Mika membereskan alat tulis. Karena terlanjur terjebak hujan, Mika memutuskan untuk menunggu di teras luar. Raka rupanya juga ada di luar.
Raka tersenyum melihat Mika. Raka sedang merasai hujan yang menetes di tangannya. Mika mendekat.
"Kamu belum pulang?" Tanya Mika
"Belum, aku tadi ke kantor sebentar, setelah balik hujan udah deras gini."
Dengan sigap Raka mundur dan menarik Mika. "Tunggu di dalem aja, yuk", Mereka berdua melangkah masuk. Menit-menit berlalu, hujan mulai reda beberapa saat, beberapa guru dan siswa yang berteduh mulai beranjak pergi, namun Mika dan Raka masih asik mengobrol. Sampai akhirnya hujan kembali lebat. Mereka berdua semakin larut dalam pembicaraan, sesekali tertawa, tersenyum dan saling meledek.
Suara nyaring besi dipukulkan menyadarkan mereka, ini sudah jam 5 sore. Satpam memberi tanda jika gerbang sudah mau di tutup. Mika dan Raka segera berlari ke luar kelas.
Kecipak air tercipta saat Mika dan Raka setengah berlari berkejaran menuju gerbang sekolah. Hari itu memang sudah terlalu sore, langit masih diselimuti mendung putih, Kedua satpam pun sudah bersiap menaiki motor masing-masing, sudah tak terlihat satupun siswa-siswi di sekolah. Hanya Mika dan Raka saja.
Raka menemani langkah Mika sampai bibir gang Dahlia, lalu kembali ke kosan Miko untuk mengambil motor sebelum pulang. Hari itu begitu manis untuk Mika, Raka bahkan bercerita banyak hal tentang dirinya, keluarganya dan kehidupannya pada Mika. Mika yakin dialah satu-satunya orang yang diajak Raka berbagi kisah hidupnya.
Setelah hari itu, sebuah paket datang ke kosan, Mika kaget, karena dia sama sekali tak memesan apapun kala itu. Mika bahkan sampai menyuruh kurir mengecek ulang, dan memang benar paket tanpa pengirim itu untuk Mika.
Setelah Mika membuka paket bersama Rania, Rania meledek Mika terus menerus. Paket itu berisi payung bunga-bunga, kecil dan imut. Di pegangannya ada sebuah benda menggantung, sebuah kertas berbentuk Love. Di sana tertulis, "Jangan menunggu hujan reda lagi".
__ADS_1
"Cie... Mika, duh, Raka so sweet banget, sih... bikin iri deh...." Rania kembali meledek Mika. Kemarin Mika sempat bercerita pada Rania soal Raka dan hujan.
Mika masih bengong, Raka kasih payung ke Mika, ya ampun, apa Raka salah paham dengan ucapan Mika kemarin, tentang terpaksa harus menunggu hujan reda. Padahal Mika senang kalau Raka mau menemaninya seperti kemarin. Sangat senang malah. Kalau punya payung begini, Mika berpikir jika dia pasti tak akan punya kesempatan berdua-duaan lagi dengan Raka.
"Ish, kakak ini, so sweet mulu, Kak, kalau aku punya payung, maka hujan gak bisa menahan Raka buat aku lagi dong, kayak kemarin", wajah Mika sendu.
"Hei, ini artinya Raka perhatian ke kamu, Mika. dia gak mau kamu selalu harus nunggu hujan, karena kan dia juga gak tau bisa nemani kamu terus atau enggak. Pasti dia mikirnya lebih dari itu,..." Rania mencoba menjelaskan keromantisan sebuah payung.
"Maksutnya??" Mika yang gak pernah pekapun berusaha mencerna kata-kata Rania.
"Gini, nih, ya... mungkin kemarin pas aja Raka ada di situ, jadi bisa nemenin kamu, coba lain hari dia gak ada, kamu sendirian di sekolah, kejebak hujan, kesepian, terus lagi misal karena kamu masih di sekolah kena angin dan kedinginan, Raka pasti khawatir kamu jatuh sakit" Rania memang suka menafsirkan segala sesuatu seindah mungkin.
"Oh... jadi intinya Raka peduli sama aku, ya", Mika mulai tersenyum.
***
Dandi mulai khawatir dengan mendung yang bergelayut. Dandi sudah pulang kuliah jam 11 tadi. Dari jendela kamar dia mengamati jalan menuju SMA 1.
Bel sudah berbunyi 3 kali. Beberapa siswa mulai berhamburan, pasti karena tetesan hujan mulai mengancam jatuh. Dandi memperhatikan satu persatu wajah yang melewati lapangan kelapa. Nihil. Tak ada wajah Mika.
Mika tadi ke sekolah, aku bahkan lihat dia lewat lapangan kelapa. Tapi kemana dia, hujan sudah mulai turun. Kenapa dia tidak pulang.
Dandi masih khawatir. Berjam-jam dia menunggu di jendela. Bahkan saat hujan mulai mereda, dia sigap menyisir wajah-wajah berseragam SMA yang berlarian. Masih tak ada wajah Mika.
Akhirnya Dandi membunuh jenuh dengan online shopping, sebuah payung bunga-bunga dipilih. Dandipun sengaja memilih Toko yang cukup dekat dari lokasi Dandi. Supaya besok sudah bisa sampai ke tangan Mika. Dandi juga meminta pengirim merahasiakan identitasnya. Dan juga meminta pengirim membubuhkan sebuah pesan di payung itu.
Tepat pukul 4.45 sore, Dandi beranjak pergi membersihkan diri. Ia hanya berpikir mungkin Mika masih menunggu hujan benar-benar reda di sekolah. Dandi berniat menyusul Mika setelah membersihkan diri. Hujan sudah tak selebat tadi.
Sesaat setelah Dandi melangkah mendekati gerbang kosnya, sosok Mika muncul dari arah gang depan. Mika langsung masuk ke dalam kos Alaka. Dandi lega. Mika mungkin memang menunggu hujan benar-benar reda, Apa jika hujan reda sampai malam, kamu juga akan menunggunya. Dasar bodoh, membuatku khawatir saja.
__ADS_1
Dandi kembali ke kamarnya.