
Pagi Mika kali ini bercampur aduk, setelah bangun dia memilih menunggu antrian kamar mandi di kebun samping. Bengong. Kursi di bawah pohon jambu jadi tempat pilihan. Mika bingung, apakah dia harus menceritakan kejadian kemarin ke kak Rania atau tidak.
Apakah Mika perlu membahas incaran kak Rania yang mengutarakan niat ingin berteman dengan Mika atau tidak.
Nanti kalau kak Rania marah gimana, eh, atau malah seneng. Ah, kak Rania kan susah ditebak orangnya. Bagaimana kalau kak Rania salah paham? Mika takut membayangkan jika Rania yang ia sayang marah pada Mika. Atau aku bilang aja, ya, daripada ada rahasia, nanti malah merepotkan.
Suara Rania dari dalam membuat Mika menoleh, "Mika... kamar mandi sudah kosong, tuh, buruan mandi!!!"
Mika bergegas masuk, nanti dia akan bicara dengan Rania soal kemarin saat sarapan.
Seusai mandi, Mika duduk untuk menikmati nasi bungkus yang sudah dibelikan kak Rania saat Mika mandi tadi. Kak Rania memang selalu baik, dia akan sukarela mengantri membeli nasi bungkus untuk dirinya dan teman kos di warung depan gang.
Itu sangat menolong bagi Mika yang suka telat bangun dan perlu berangkat sekolah pagi-pagi.
Mika memilih sarapan di kamar Rania, ada niat lain selain menghabiskan nasi bungkus dihadapannya.
"Kak, Ran... tau enggak kemaren sore aku ketemu siapa?" Mika berucap di sela mengunyah.
Rania hanya menggeleng.
"Calon Pacar kakak", Mika memberi penjelasan.
Rania tersenyum ceria, lagi lagi dia ge er, dan mengerti maksut Mika. "Kamu ketemu Dandi dimana?"
"Di depan kos", Mika menjawab singkat.
"Apa!!! ya ampun dek, kenapa kamu gak panggil kakak kemarin dek. **E**h, jam berapa Dandi ke sini?" Kalimat menggerutu keluar dari mulut Rania.
__ADS_1
"Jam 3 lah, pas aku baru sampe kemarin, kamar kakak masih ketutup, kok, kayaknya kakak masih belom balik, deh," Mika menjawab, lalu menyuap satu sendok nasi lagi.
"Ya ampun, Dandi sampe segitunya nyari informasi tentang kakak, cubit, kakak dong, jangan-jangan ini cuma mimpi", Rania kegirangan sambil mencubit pipi Mika.
"Aduuh.... sakit tau kak," Mika mengomel.
"Kemarin kakak baru sampai kos jam setengah lima, ah, coba aja kemarin gak kelamaan nunggu bis pasti kakak bisa mergokin Dandi langsung, menatap senyumnya yang manis, menggandeng tangannya lalu menikah hahah", hayalan Rania makin meninggi.
Mika terbatuk saat mendengar kata terakhir Rania, aduh gimana ini, cerita gak, ya, kak Dandi ngajak aku berteman. Apa lebih baik aku gak usah cerita, biarlah kak Rania anggap aku cuma gak sengaja liat kak Dandi di depan kosan aja.
"Eh, minum, dek, minum," Rania bergegas menekan dispenser lalu memberikan segelas air mineral pada Mika.
Setelah menyelesaikan makan Mika kembali ke kamar, mengambil tas, memakai sepatu dan menyemprot sedikit parfum. Mika kemudian pamit pada Rania yang masih terlihat menghayal rangkaian kebahagiaan karena menganggap Dandi benar-benar menyukainya. Sampai Mika keluar dari kos Alaka, Rania masih senyam-senyum di depan kaca, membetulkan rambutnya, kemudian bersenandung ala bocah sedang kasmaran.
Mika menghela napas. Mika tampaknya tidak tega menghancurkan kebahagiaan kak Rania, apa Mika bener-bener harus bantu kak Rania kali ini, dan membiarkan cowok ngeselin itu jadi teman?
Nancy sudah pergi sedari pagi karena kelasnya bertugas upacara bendera. Kalaupun tidak tugas, Nancy dan Mika memang sangat jarang berangkat bersama walaupun sudah 2 tahun tinggal di kosan yang sama.
Saat Mika baru melangkah di jalan tikus ada derap langkah terdengar sangat dekat di belakang Mika. Mika tak menoleh sedikitpun karena Mika pikir mungkin anak SMP yang ngekos di Ratulangi atau A&G.
Mika masih berjalan santai, setelah sampai di lapangan kelapa dia tersenyum. Rupanya Mika melihat sosok Raka dari kejauhan. Raka berangkat bersama Miko, sepertinya Raka menitipkan motor di kosan Miko. Raka dan Miko memang akrab, agak sering terlihat bersama-sama. Raka juga sering main ke kosan Miko sampai senja sepulang sekolah. Bahkan sampai menghabiskan waktu sore bermain bola di area lapangan kelapa walaupun rumah Raka lumayan jauh dari sini.
Jalan aspal menuju gedung sekolah SMA 1 memang mengitari lapangan kelapa. Setelah pertigaan gang dahlia, jalan aspal lurus ke kiri lalu menikung mengikuti bentuk lapangan, baru masuk ke kiri menuju gang SMA 1. Lapangan kelapa akan jadi satu-satunya jalan pintas jika musim kemarau untuk warga gang Dahlia. Kenapa hanya jika kemarau? Karena jika musim hujan tanah lapangan yang hanya ditumbuhi rumput 20% itu akan sangat becek, berkubang air dan rawan dahan jatuh.
Mika berniat memperlambat langkah supaya nanti saat sampai di bibir gang SMA 1 dia bisa berpapasan dengan Raka dan Miko. (Aih... centilnyaaa.)
Barusaja terukir senyum manis di bibir Mika. Namun suara menyapa yang Mika kenali di sampingnya saat ini membuat Mika cemberut.
__ADS_1
Ya ampuun, ngapain lagi sih orang tua ini. huft. Mika
"Haii... Mi... ka...", senyum sumringah muncul di wajah tampan Dandi. Saat ini Dandi menggunakan Kaus putih pendek, jeans abu-abu dan topi jeans, sekilas mirip seragam SMA.
"Hadeeeh, om ini kayak lalat aja sih, tiba-tiba nongol, berisik, ngganggu tau", Nada bicara Mika kesal.
"Yaelah masih pagi jangan marah-marah, lagian muka ganteng begini disamaain sama lalat, enak aja!" Dandi menarik rambut terurai Mika sedikit keras.
"Au... sakit tau, apaan sih megang-megang rambut orang, gak sopan tau", Mika berjalan sambil mengomel.
"Hahaha,..."Dandi tergelak, wajah Mika yang sedang kesal dan manyun terlihat sangat lucu untuk mata Dandi.
"Gak ada yang ngelawak, gak usah ketawa!" Mika semakin ketus.
"Mika Mika... jangan jutek-jutek, nanti calon pacar pada kabur loh", Dandi menarik-narik ransel Mika.
"Apaan, sih, ngeselin banget, dasar penguntit" Mika menggerutu.
"Hei, siapa yang nguntit, waktunya aja yang pas, kebetulan mau ke arah yang sama, jodoh kali ya", Dandi asal bicara.
Dasar playboy cap gosokan panci, bahkan cewek jelek kayak aku juga digombalin, buayaaa, dasar buaya. Aku berubah pikiran. Kak Rania harus diselametin dari buaya macam ini. Mika
"Gila apa... Jodoh? yang ada kalo kita jodoh nti orang mikirnya aku korban pedofil", Mika teringat kasus om-om yang menyukai anak kecil di portal berita kemarin. Mika sengaja mancing kekesalan Dandi supaya Dandi gak gangguin Mika lagi.
Saat ini Mika sudah lupa keinginannnya berpapasan dengan Raka, karena Dandi berhasil mempercepat langkah kaki Mika yang seharusnya santai. Dan posisi Raka justru ada di belakang Mika dan Dandi saat di gang SMA 1.
Mika masih adu argumen tentang pedofil dengan Dandi sepanjang jalan. Dandi semakin tertarik dengan celotehan Mika tentang pedofil. Dandi bahkan sempat menakuti Mika dengan keinginannya mewujudkan status "korban pedofil" di hidup Mika.
__ADS_1
Mika yang bergidik ngeri lari dan meninggalkan Dandi tepat di depan kos Robi. Dandi terbahak-bahak tanpa menghiraukan hiruk pikuk siswa-siswi SMA yang melewatinya, termasuk Raka.