Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Tak sengaja bertemu


__ADS_3

Selepas senja, dua gadis beda usia nampak sedang mengobrol di sebuah kamar. Kamar ukuran 3x3 meter, cukup luas untuk ukuran anak kos yang tinggal sendirian.


Di dalam kamar terdapat 1 ranjang kecil berseprai ungu lilac, 1 almari, 1 meja belajar dan 1 keranjang pakaian kotor. Puluhan buku nampak tersusun rapi di atas meja. Beberapa foto di frame menempel rapi di dinding kamar.


Rania memang menyukai kebersihan dan kerapian. setiap barang di kamarnya di susun serapi mungkin. Dan hampir semua barang milik Rania berwarna ungu lilac.


"Mik, ayo anter kakak ke toko pojok, kakak mau beli pena sama camilan." Rania bangkit dari tempat tidur setelah ngobrol panjang mendengarkan curhatan hati Mika, yang semua isinya tentang Raka.


"Ayo! Siapa tahu aku ketemu pangeran Raka di malam yang syahdu ini hahhaa" ucap Mika bersemangat.


"Mana ada, Raka rumahnya kan, jauh, katamu, mana mungkin malem-malem berkeliaran di sini", Rania mematahkan harapan Mika.


"Yah... gak mau nemenin kak Nia, deh, kalo gitu," Mika pura-pura manyun.


"Ihhh, ayok temenin", Rania menarik tangan Mika.


"Yaudah, yaudah, kakak doain semoga nanti ketemu pangeran Raka tersayang, ya". Menarik Mika kuat.


Gelap langit mulai merambati senja, penerangan jalan sudah mulai menyinari jalan menuju Toko pojok. Rania dan Mika perlu berjalan sekitar 100 meter, Toko tersebut ada di dekat gedung sekolah SMA 1. Toko yang paling besar di antara toko-toko lain di area tersebut. Lebih lengkap, dari alat tulis sampai kebutuhan sehari-hari anak kos disediakan di sini.


Alat tulis berada di sisi sebelah kanan, terpisah kaca dengan ruang makanan, sabun, juga kasir.


Rania langsung menuju ruang alat tulis, Mika membuntuti Rania, dia melihat-lihat di bagian sampul buku yang unyu-unyu.


Rania tampak mengambil beberapa pena kemudian mengembalikannya. See... perempuan walaupun belanjanya cuma pena bisa banyak sekali pertimbangannya dan lam...ma. Setelah memilih satu pena Rania mulai beranjak menuju jajaran rak berisi camilan , mie instan dan peralatan kebersihan diri di ruang sebelah.

__ADS_1


Sekelebat bayangan membuat Rania menoleh ke arah kanan. Tapi nihil tak ada siapapun. Rania menoleh ke arah alat tulis, Mika masih di sana. Rania mengabaikan dan kembali memilih kebutuhan yang rupanya bukan cuma pena dan camilan seperti rencana di awal. Semua rak di telusuri, mengambil beberapa barang, lalu berjalan lagi. Mengambil lagi, membaca keterangan produk, lalu mencari lagi.


Sementara Mika masih melihat-lihat alat tulis lucu-lucu di depannya, tiba-tiba suara seseorang di belakang Mika spontan membuat Mika menjawab "iya", lalu menoleh.


Di depannya kini ada pria jangkung, tampan, mirip oppa korea yang sering ia lihat di drakor. Dia terbengong, sampai suara pria itu menyadarkannya.


"Maaf, dek, kenapa, 'iya'?" Pria itu tersenyum amat manis. Ya ampun doa kak Nia kenapa manjur banget, pangeran di depan aku ini bahkan lebih ganteng 4x lipat dari Raka.


Pria itu melambaikan tangannya tepat di depan wajah Mika yang sedang bengong.


"Um... tadi manggil nama saya, kan, "Mika", makanya saya jawab 'iya'," jawab Mika gelagapan.


Pria itu tergelak, "Oh, jadi nama kamu Mika, tapi sayangnya aku tadi cuma lagi mengingat barang yang mau aku beli, MIKA", Pria itu menjawab dengan sangat menawan, kemudian mendekat ke tubuh Mika sampai Aroma harum Pria itu terendus hidung Mika.


"Nah, ini barang yang aku cari, Dek!".


Mika jadi salah tingkah di beberapa detik kemudian.


"Oh... maaf, Kak, namanya sama soalnya, maaf, ya" Mika menganggukkkan kepalanya beberapa kali sembari minta maaf.


"Baik, kalau gitu.... Dandi Hilman", pria berkulit super bersih itu mengulurkan tangan.


Mika menatap pria itu sebentar lalu menyambut tangan itu ragu, "hehe... saya Mika, Kak", Mika segera mencabut tangannya dari genggaman Dandi.


Gilaa... kulitnya bersih banget, kulit aku berasa serbuk kopi di kolam susu.

__ADS_1


"Oke, aku duluan, ya, Mi...Ka", Dandi pergi meninggalkan gadis yang masih termenung, sengaja memberi tekanan pada nama Mika, sehingga terdengar seperti mengejek di telinga Mika.


*I*diiiih, apaan coba Mi....Ka, Mika meniru nada pria mengejek tadi. huft. ngeselin banget, tampanmu jadi berkurang 75%, Bang. Eh, tunggu, siapa tadi namanya, DANDI HILMAN, loh, itu bukannya incerannya kak Rania, ya.


Setelah melihat sosok ganteng itu pergi meninggalkan kasir. Mikapun menuju ruangan di mana Rania tersenyum-senyum gak jelas.


"Kak...." Mika menggoyang tubuh Rania.


"Mikaaaa... ya Ampun, Dandi ada di sini tadi, Mik." Rania tersenyum dan menggoyangkan tubuh, gemas.


Mika juga tahu, bahkan dia sempat malu karena mengira Dandi memanggil namanya. Mengingat hal tadi, Mika menggeleng.


"Iya, iya... cowok ganteng tadi itu, kan? Kak, masih lama enggak? Aku bayar belanjaanku duluan, ya", Mika memperlihatkan beberapa barang di tangannya.


"Bentar lagi, kamu duluan, gih, gara-gara lihat Dandi di kasir aku jadi lupa mau beli apa," tersenyum lalu ngeloyor kembali ke rak camilan.


Mika menuju kasir, setelah selesai membayar, seorang perempuan umur 30 tahunan memberikan 2 struk belanjaan dan sebuah permen lolipop.


"Dek, ini ada titipan buat kamu, dari mas-mas ganteng yang tadi"


Mika hendak bertanya, tapi Rania sudah mendekat. Mikapun mengucapkan terimakasih dan menunggu Rania di teras toko.


Beberapa pegunjung sebaya dengan Mika tampak masuk ke dalam toko. Beberapa terlihat menyapa Mika yang kini berada 2 meter dari pintu masuk.. Toko yang sepi mulai ramai pengunjung.


Mika mengamati permen dan kertas struk yang bukan miliknya. Lalu, mengedarkan pandangan mengamati sekitar yang sudah mulai terselimuti gelap. Mika mencoba menemukan sosok yang kasir perempuan sebutkan tadi. Nihil.

__ADS_1


Saat itu juga Rania keluar dari toko menenteng 1 kantong besar belanjaan, Mika begegas memasukkan permen dan struk ke dalam kantong plastik. Mereka kembali ke kosan di tengah syahdunya malam.


__ADS_2