Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Kenapa?


__ADS_3

Mika membawa sebuah kantung berisi 8 seri komik. Dia pergi setelah mengganti baju dan mengisi perut sebentar.


Mika sudah berdiri di depan kosan Miko. Mika mengeluarkan ponsel.


Tuut...Tuut.


"Miko, aku sudah di depan."


Miko hanya mengucapkan oke. Mikapun menutup kembali ponselnya.


Mika tahu di dalam ada Raka, motor Raka ada di depan kosan Miko. Tapi Mika tak berharap apapun kali ini. Dia tahu Raka sudah semarah dan sebenci ini padanya. Di kelas saja tidak mau melihat wajah Mika apalagi di luar kelas, pikirnya.


Mika masih menundukkan kepala mematung. Dia berdiri dengan jarak 50 cm dari pagar kosan. Derap langkah dari dalam membuat Mika mengangkat kepala.


Raka, kenapa dia yang datang? Bukankah dia tak mau melihat aku lagi gara-gara gosip sialan itu.


"Hai, Mik..." Raka tersenyum hangat menyapa Mika.


Mika bingung mau menjawab apa, 3 hari ini sikap Raka begitu dingin.


Tadi pagi kamu bahkan begitu dingin dan sekarang kamu tersenyum. Apa kamu sedang mempermainkan aku? Sakit sekali hatiku jika itu benar.


Mika tersadar dan langsung mengulurkan tangan memberikan kantung ungu pada Raka. Wajah Mika tanpa ekspresi saat ini.


"Ini, komiknya. Terimakasih banyak ya." Mika bahkan tak membalas sapa akrab dari Raka. "Yasudah aku pamit," Mika bergegas membalikkan badan. Dia menahan perasaan sedih sekaligus bingung bersamaan.


"Tunggu," Raka meraih tangan Mika.


"Iya, kenapa?" Mika berusaha tidak gugup di depan Raka.


"Kamu marah ya sama aku?" Raka bertanya pelan.


Mika mendengus keras. Seperti membuang uap amarah setelah mendengar pertanyaan konyol Raka.

__ADS_1


Apa sebenarnya mau dia? Dia yang cuek, dia yang dingin, dia yang mengabaikan aku. Dan sekarang dia tanya seperti itu. Bukankah harusnya aku yang melontarkan kalimat tanya itu padanya. Alasan dia memperlakukan aku tidak baik akhir-akhir ini. Salahku dimana, kenapa dia marah, harusnya aku yang bertanya seperti itu!


"Mika..." Raka mencoba memanggil Mika lembut. Raka masih menggenggam pergelangan tangan Mika. Raka menyadari ada rasa canggung antara mereka berdua saat ini.


"Kenapa aku marah?" Mika balik bertanya pada Raka dengan nada sesantai mungkin sembari melirik ke arah tangan Raka. Raka refleks melepas genggaman.


Lihat, bahkan sekarang kamu berani pegang tanganku. Dulu saat kita akrab sekalipun kamu tak pernah genggam tanganku seperti ini. Apa kamu sedang menahan aku pergi? Atau ingin membuat aku salah paham lagi dengan perasaanmu padaku?


"Syukurlah..." Raka tersenyum lega.


"Raka, apa kamu bertanya begitu karena kamu merasa bersalah?" Mika mempertanyakan hal yang memicu susah tidur akhir-akhir ini.


Wajah Raka berubah gusar.


"Mika... aku minta maaf karena aku kamu dan Rasti jadi sering bertengkar," Raka akhirnya mengatakan yang ingin ia katakan.


"Rasti? Jadi ini semua karena Rasti?" Mika menyelidik. Raka mengangguk.


Oh jadi ini alasannya, Raka pasti tidak senang jika Rasti bertengkar dengan aku. Mungkin benar yang Rasti katakan kemarin jika Raka melakukan itu semua demi dirinya. Melerai pertengkaran, menyuruh aku menjauhi Rasti. Ini alasannya. Raka tak ingin reputasi Rasti turun, hanya karena bertengkar dengan aku. Raka tak ingin Rasti bersedih karena aku. Makanya Raka selalu melerai kami demi Rasti. Apalagi gosip yang muncul di antara kami. Raka pasti tak ingin Rasti cemburu. Mungkin Raka mulai menyukai Rasti. Makanya dia begitu melindunginya.


"Iya, Mika. Aku harap dengan sikap cuek aku ke kamu, Rasti akan berhenti mengganggu kamu," Raka mencoba menjelaskan.


Namun, dasar Mika bebal, informasi yang ia yakini lebih dulu adalah yang ia dengar dari Rasti. Baru kemudian mempertimbangkan alasan Raka yang terdengar malah seperti membela Rasti.


Jadi, kalaupun Raka mau mengucapkan pembelaan ribuan kali, di otak Mika tetaplah alasan Raka benar adalah Rasti. Dan Rasti benar dalam kata-katanya. Mika yang salah mengartikan kedekatannya dengan Raka.


Mika hanya mengangguk lalu pamit pergi tanpa sepatah katapun. Hatinya sudah patah. Rasanya ingin menangis dengan keras.


Mendung yang sedari tadi bergelayut kini menggugurkan titik-titik bening jatuh ke bumi. Mika baru sampai di bibir gang Dahlia, Gerimis yang turun sama sekali tak mempercepat langkah Mika. Ia justru berjalan pelan menuju kosan.


Mika benar-benar tak menghiraukan titik-titik hujan yang semakin lebat. Hanya ponsel yang ia lindungi di dalam jaket. Selebihnya ia biarkan basah kuyup.


Tubuh Mika yang basah mengharuskan Mika lewat gerbang kecil di sebelah kebun menuju pintu belakang. Ia tak mau membuat kotor lantai keramik kosnya. Lagipula Mika tak mau menunjukkan muka sedih pada Nancy. Ponselnya sudah ditaruh di sebuah kantung plastik di depan pintu kos samping. Mika meletakkannya di tempat yang aman saat ini.

__ADS_1


Air mata Mika di pipi sudah bercampur dengan air hujan. Mika masih ingin menangis. Jadi dia malah berjalan menuju pohon jambu kesayangannya dan berdiri mematung di sana. Tangis Mika makin menjadi, dia sesenggukan. Tubuhnya pun mulai menggigil.


Kenapa Raka jahat sekali padaku. Aku kira hubungan kami baik-baik saja kemarin. Tapi karena gosip itu, Raka jadi menjauh dari aku. Dan ternyata dia menyukai Rasti. Bagaimanapun, dia sudah berhasil membuat aku jatuh cinta padanya dan mematahkannya sekaligus. Hiks


Hujan masih turun. Dandi yang sedang tiduran di dalam kamar tiba-tiba sangat merasa ingin melihat jendela. Desakan hati yang begitu kuat membuat tubuh malasnya akhirnya mengalah dan bangun.


Dandi menuju jendela, pertama kali dia sampai di sana Dandi mendongak melihat hujan yang turun dengan lebat. Dandi memastikan hatinya hanya ingin melihat hujan saja. Lalu Dandi mulai berbalik. Setelah dia memutar kepala menuju kamar tidur.


Deg. Siapa itu?


Sekelebat mata Dandi melihat sosok tubuh di dekat pohon jambu di tengah hujan. Dandi memastikan.


Siapa yang berdiri di tengah hujan lebat begini?


Dandi kembali mendekati jendela, kali ini matanya menyipit untuk memperjelas pandangan menerobos tirai hujan yang jatuh.


Mika? Sepertinya itu Mika. Dandi belum yakin dengan apa yang dia lihat. Sosok tubuh yang dilihatnya saat ini sudah basah kuyup. Tak mudah lagi mengenali wajah itu di tengah deras hujan begini. Tapi hati Dandi meyakini jika apa yang ia lihat kini adalah alasan dia ingin melihat keluar jendela.


Jika itu Mika, kenapa dia di luar saat hujan deras begini? Apa dia sedang main hujan-hujanan? Tapi tubuh diam itu bergetar. Seperti menggigil.


Dandi yang masih memiliki sedikit keraguan di hatinya menyambar ponsel di meja.


Tuut. Tuuut. Tuuuut.


Ponsel Mika tak ada jawaban. Dandi semakin yakin jika gadis itu adalah Mika. Bagaimanapun postur tubuh dan kebiasaannya menemui pohon jambu itu telah memperjelas identitasnya.


Raut wajah Dandi berubah jadi khawatir, kenapa dia tak memakai payung pemberianku? Bagaimana kalau dia demam setelah ini. Mika, tolong berhenti membuatku khawatir.


Dandi memukul jendela keras, "cepatlah masuk Mika!" Dandi berteriak. Namun suaranya hanya seperti riak air di tengah deru ombak lautan. Tak terdengar sama sekali.


Mika akhirnya menuju pintu belakang kos Alaka dalam keadaan basah kuyup dan menggigil. Mika bersegera mengambil handuk dan mandi. Kesedihan Mika, dia buang bersama aliran air yang membersihkan tubuh kecilnya.


Aku boleh sedih, tapi aku tak boleh sakit. Aku harus tegar dengan apapun yang ada di depan esok.

__ADS_1


Mika memberi semangat pada dirinya sendiri.


__ADS_2