
Hari pembukaan PENSI sudah tiba, Acara sabtu pagi ini merupakan awal dari sepekan kemudian akan diadakan lomba-lomba. Ada banyak lomba yang wajib diikuti setiap warga SMA 1. Seperti lomba kebersihan dan kerapihan kelas, menyanyi, uji bakat lukis, lomba kaligrafi dan banyak lagi.
Final lomba adalah sabtu depan, namun pembukaan Pentas Seni dibuat semeriah mungkin dengan menghadirkan sebuah band indie sebagai bintang tamu. Mika dan seluruh panitia sudah bersiap dari pukul 06.00 pagi di sekolah.
Berkat obat dari Dandi, Mika tidak terhambat untuk pergi menunaikan tugas pagi ini.
Mika sudah berdiri di depan gerbang sekolah, dia mengenakan seragam putih dan rok hitam. Ada bando pita merah terselip rapi menghias rambut, itu cocok untuk Mika dan membuatnya semakin imut. Seluruh panitia perempuan menggunakan bando khusus panitia tersebut.
Mika, Dita, Putri dan Leni bertugas sebagai penyambut tamu undangan. Mika sendiri punya tugas khusus menjemput dan mengurusi band tamu yang akan mengisi acara pagi ini. Sedang Leni bertugas mempersilakan tamu undangan dari guru, siswa-siswi perwakilan SMP. Sementara Putri dan dita mengurusi daftar kehadiran dari seluruh siswa. Karena PENSI ini adalah kegiatan yang masuk dalam perhitungan absensi siswa tahunan juga. Jadi semua dipastikan tidak ada yang bolos tanpa keterangan.
Kemarin di sekolah, Mika sudah menghubungi band The little one yang akan mengisi acara untuk konfirmasi kedatangan mereka. Dan sudah mempersiapkan sebuah ruang dan semua keperluan termasuk alat make up jika diperlukan.
Untung saja kemarin kak Dandi belikan obat buat aku. Karena kecewa aku sampai lupa hari ini ada acara penting di sekolah. Karena Raka aku jadi hujan-hujanan kayak anak kecil. Bersyukur gak jadi sakit. Mika melamun.
Hiruk pikuk siswa di gerbang sudah terdengar nyaring. Sejak pukul 07.00 absensi sudah banyak terisi tanda tangan kehadiran. Dita dan Putri sudah pergi mengecek ulang kehadiran semua siswa dengan mendatangi kelas-kelas. Sementara di depan hanya tinggal Mika dan Leni yang menunggu sisa tamu undangan yang belum datang.
Mika mengecek nama-nama personil band di daftar tamu, "Robi, Satria, Dandi, Koko dan Revan. 5 orang dari little one, ah... semoga tidak merepotkan." Mika bergumam di kursi tempat duduknya.
Leni di sampingnya menanggapi.
"Enak kamu Mik, ngurusin anak band, lah aku kebagian piyik-piyik (sebutan anak ayam. red), brondong, bocil (bocah cilik. red), anak SMP begini," Leni mengeluh menggunakan kata istilah yang ditumpuk-tumpuk.
"Hahaha... enakan ngurusin piyik-piyik daripada om om tahu Len. hahaha," Mika menepuk bahu Leni 2 kali.
"Kalau gitu tukaran yuk," Leni memasang mata memohon.
"Ummm... boleh. Tapi nanti kalau aku nemu brondong cakep jangan nyesel ya." Mika menggoda.
Barusaja selesai Mika menutup mulut, seorang anak SMP berwajah mempersona dan sangat tampan menghampiri. Ia berdiri persis di depan meja daftar tamu. Dia tinggi, berkulit putih bersih, bermata cokelat, bibirnya pink kemerahan dan berhidung mancung. Anak itu tersenyum dan berucap, "Kak, perwakilan dari SMP 2 kak, Ryanda."
Leni sampai melongo dibuatnya. Ya ampun ini brondong ganteng amat.
Mika yang sudah terbiasa melihat wajah tampan Dandi tidak langsung takjub seperti Leni. Mika langsung sigap dan menjawab, "Di sini dek, tanda tangan di sini ya," Mika menunjukkan sebuah kertas di depan Leni sembari menyenggol tubuh Leni untuk menyadarkannya.
"Eh iya dek, di sini," Leni memberikan pena dan menunjukkan tempat kosong untuk tanda tangan.
Leni bersiap berdiri dan membisikkan sebuah kalimat ke Mika, "Mik, gak jadi tukaran ya," suara Leni pelan. Leni tersenyum.
Leni lalu dengan sukarela mengantar anak SMP yang lebih tinggi darinya itu menuju tempat duduk untuk tamu undangan. Seharusnya tidak perlu seperti itu, karena sebelum-sebelumnya anak-anak SMP yang lain hanya diberi petunjuk arah oleh Leni menuju tempat acara.
Mika tergelak melihat tingkah Leni yang menggelikan. Mika masih tertawa melihat Leni dari tempat duduknya, sampai sebuah tangan menepuk bahu Mika dari belakang. Mika menoleh.
Miko, Raka.
__ADS_1
"Seneng amat, Lu. Liat apa sih?" Miko sok asik bertanya pada Mika.
Mika sebenarnya malas menanggapi tapi karena hanya ingin membuat Raka kesal jadi dia ikutan sok asik dengan Miko.
"Cowok ganteng, Ko. Itu, di sana." Mika tertawa sambil menunjuk ke arah dalam.
"Ah elu, cepat amat move on dari Raka." Miko keceplosan.
Raka di sampingnya menginjak sepatu Miko lalu pergi begitu saja.
"Woi, Ka. Tunggu dong," Miko menggeleng-gelengkan kepala tanda kecewa pada Mika. Lalu menyusul Raka yang sudah masuk ke dalam halaman sekolah.
Mika sebenarnya sedih dengan sikapnya barusan. Tetapi Raka saja masih sedingin itu padanya kenapa juga dia peduli. Padahal kemarin Raka sampai memegang tangan Mika menahan pergi. Sekarang masih juga sedingin itu. Wajah Mika yang bahagia tadi sudah tertutup mendung gelap.
Deru motor sport terdengar mendekat. Mika masih melamun memikirkan Raka. Ada 3 motor berisi 5 orang. Terlihat ada gitar di belakang punggung salah satu penumpang.
Mika yang masih melamun tak memperhatikan motor sport yang sudah mengambil tempat parkir di area dalam sebelah Mika sesuai arahan pak satpam.
"Mbak, itu sepertinya tamu yang dari band mbak." Seorang satpam menghampiri Mika yang sedang memainkan pena cetek diketuk-ketukkan ke meja.
Mika yang melamun sedikit tersentak sampai melemparkan pena yang sedang dipegang. Pena itu jatuh 1 meter dari tempat duduk. Saat mendekat untuk mengambil sebuah tangan juga meraih pena tersebut.
Mika mengangkat kepala untuk melihat wajah pemilik tangan itu.
Deg. Orang ini.
Belum juga di jawab, Robi, Revan, Koko dan Satria berdehem bersamaan.
"Ehm... Ehm... Kita dicuekin nih, dek," Robi menyadarkan Mika jika tamunya sedang menunggu di depan meja.
"Eh, iya maaf." Mika kembali ke kursi tempat duduknya.
Mika masih tampak bingung untuk mencerna situasi ini.
Kak Dandi ngapain ke sini? Dia nyamperin aku?
Dengan sigap Mika membaca ulang nama di daftar yang tadi hanya ia baca sekilas.
"Kak Robi, Kak Satria, Kak Dan..." Mika menoleh ke arah Dandi, Dandi melambaikan tangan dan tersenyum manis kepada Mika. Senyuman itu membuat Mika kembali melanjutkan, "Di, Kak Koko dan Kak Revan." Mika salah tingkah.
Bodoh, bodoh, bodoh yaiyalah kak Dandi ke sini bukan karena nyamperin aku, percaya diri amat aku akhir-akhir ini.
Leni sudah berjalan kembali ke arah gerbang. Leni yang melihat 5 pria tampan di depan segera menghampiri Mika. Di gerbang hanya ada Mika dan 5 pria. Jalanpun sudah tampak sepi. Sepertinya hampir semua siswa dan tamu sudah masuk. Acara ada di halaman tengah sekolah. Jadi di depan hanya ada segelintir panitia yang mondar-mandir mempersiapkan acara.
__ADS_1
"Silakan tanda tangan dulu di sini kak," Ucap Mika sopan.
Robi, Revan, Satria dan Koko lebih dulu mengisi tanda kehadiran itu.
Leni yang sudah bersama Mika mempersilakan kakak-kakak tampan itu mengikutinya, "Mari kak, ruangannya ada di sana."
Mika tersenyum melirik ke arah Leni yang sedikit ganjen sama tamu-tamunya itu.
Leni sudah bersama 4 kakak tampan beberapa langkah di depan, sementara Mika masih meladeni Dandi untuk tanda tangan.
"Ayo kak, tanda tangan di sini, nanti ketinggalan temennya loh," Mika mengingatkan Dandi yang malah melamun menatap Mika.
Kamu imut juga kalau pakai bando, bagaimana jika seterusnya pakai bando saja.
"Kak.... Hallo..." Mika melambaikan tangan di depan wajah Dandi.
Dandi tergelak kecil, "Virus bengong kamu menular ya. Tuh kan, kakak jadi ikutan bengong ketularan kamu," Dandi tersenyum.
"Apaan sih," Mika tersenyum kecut.
"Sudah sembuh?" Dandi bertanya sembari menorehkan tanda tangan.
"Oh, iya. Sudah kak. Terimakasih banyak ya yang kemarin." Mika tersenyum tulus. Dandi hanya membalas dengan senyuman.
"Ayo kak, temennya sudah jauh, tuh." Mika menujuk ke arah 4 teman Dandi.
Mika sudah berdiri memeluk kertas di dadanya sementara Dandi melangkah di sampingnya. Mereka berjalan berdampingan.
"Kok, kakak enggak bilang mau isi acara di sekolah aku?" Mika bertanya.
"Emang kalau kakak bilang kamu bakal ngijinin gitu?" Dandi bertanya balik.
"Hahaha lah emang aku ini siapa kak, kepala sekolah? Pakai harus ijin aku segala." Mika tertawa.
Sepasang mata mengamati Mika dan Dandi dengan penuh rasa benci.
"Ya bukan. Tapi lebih penting dari kepala sekolah sih buat kakak." Kembali melempar gombalan.
Mika melihat Leni dan 4 kakak itu sudah masuk ke ruang yang disediakan untuk band tamu.
"Ngaco, nih... Udah-udah lagi gombalnya kak, Tuh cicak aja ketawa dengar kakak ngomong," Mika menunjuk ke arah cicak yang nangkring santai di dinding depan.
Beberapa tatapan iri dan kagum dilewati Mika begitu saja. Mika memang perwakilan dari eksul seni, jadi tugas anak band ini sudah pasti dibebankan padanya. Meskipun banyak dari panitia mengajukan diri tapi pengampu ekskul seni menunjuk langsung Mika sebagai penanggung jawab.
__ADS_1
"Ya ampun, beruntung banget Mika dapat tugas mengawal cowok ganteng." Seorang panitia wanita mengobrol dengan temannya.
"Tahun depan aku pindah ke ekskul seni ah," timpal yang lain.