Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Bertemu kembali


__ADS_3

Minggu, pukul 15.00.


Mika turun dari angkot yang membawanya kembali ke komplek SMA 1. Mika hanya turun sendirian, karena Leni sudah lebih dulu sampai 2 jam yang lalu. Walaupun Mika dan Leni sering Janjian pulang kampung bersama, namun ketika kembali mereka tidak pernah bersamaan. Arah menuju kampung halaman Mika dan Leni memang searah, namun rumah Leni berada di 2 kampung lebih jauh dari rumah Mika.


Mika menyukai kembali ke kosan lebih sore, selain karena cuaca tidak terlalu panas diapun masih ingin bersama orangtua dan adik lelaki satu-satunya di rumah.


Jarak antara gapura komplek menuju rumah kos Mika hanya sekitar 150 meter, 100 meter menuju bibir gang Dahlia, dan 50 meter masuk ke dalam gang, Rumah kos Alaka terletak di kiri jalan, diapit 2 kebun yang meliki luas hampir sama. 1 kebun di samping kiri milik Kos Ratulangi, dan di sisi kanan sebuah kebun yang dikelilingi dinding kokoh milik Kos Alaka.


Dinding kebun depan lebih pendek dan memiliki variasi besi berjajar sebagai pemanis. Sedang dinding belakang tingginya sekitar 2 meter. Di sudut kiri dinding belakang ada lubang seukuran 3 jari menganga, bekas pipa kran yang sudah hilang. Lubang inilah yang menjadi spot favorit anak kos saat sedang memantau pemain sepakbola.


Saat ini angkot berhenti di depan komplek, karena di hari minggu supir angkot sudah hapal jika tidak ada penumpang yang perlu dijemput dari dalam komplek. (Jika di hari sibuk angkot bahkan bisa ditemui sampai ujung komplek menunggu penumpang). Jadi, Mika harus berjalan 150 meter untuk mencapai kos nya. Kos Mika berada di pertigaan masuk ke kanan sedang jalan menuju SMA dan SMP adalah pertigaan belok ke kiri.


Sepanjang jalan dari gapura menuju pertigaan gang Dahlia dipenuhi jajaran bangunan yang difungsikan untuk kosan, warung, toko, potokopian, dan gerai internet. Sejak kaki Mika menapaki jalan, ada sepasang mata yang mengikuti langkahnya.


Senyum menyeringai muncul di wajah seorang pria. Pria itu berada di balik dinding gapura komplek. Sesosok pria berjaket jeans dan topi distro senada berjalan mendekat. Pria itu mempercepat langkah mendekati sosok gadis berjaket abu yang sedang berjalan santai.


"Hai.... Miiiii...Kaaaa....!", suara lelaki itu dibuat berirama 2 ketukan nada rendah ke tinggi.


Jantung Mika berdenyut, Mika mengenali irama panggilan ini, yang hanya ia dengar dari satu mulut saja, milik Dandi Hilman. Dengan ragu Mika menoleh. Tatapannya tajam. Mika tahu lelaki di sampingnya saat ini sedang mengejek namanya. Mika sangat kesal mendapati wajah tampan yang menyebalkan itu mensejajari langkah kakinya. Mika abai dan kembali menatap ke depan.


Lelaki itu tidak mudah menyerah, dia kembali memanggil nama Mika dengan nada yang sama. Beberapa kali sampai akhirnya tubuh Mika berhenti, dia menoleh dengan tatapan tajam dan penuh emosi, beberapa detik kemudian senyum secerah mentari terlukis di wajah Mika. Sepertinya Mika sedang menirukan senyuman Dandi di depan sekolahnya kemarin.

__ADS_1


"Iyaaaa... maaf anda siapa, ya? Apakah kita saling mengenal?", ucap Mika menekan suaranya seramah mungkin.


Dandi tergelak, "Hahaha... wah... wah... wah... rupanya selain suka bengong, adik kecil ini juga pelupa, ya?"


Mika melengos mendengar kata 'adik kecil', lalu kembali berjalan tanpa memperdulikan Dandi.


"Hei, hei... apa kamu juga pemarah?", Dandi bertanya meledek. Mika masih diam seribu bahasa, Dia makin mempercepat langkahnya menuju gang Dahlia.


"Ayolaaah... masak gitu aja marah? Mi....Ka... hahaha", Dandi yang berkaki panjang dengan mudahnya kembali berada di samping Mika.


Setelah menyebrang dan berada di bibir gang Dahlia, Mika berhenti lagi, terdengar dengusan kesal begitu keras. Dandi malah tersenyum. Dia ikut berhenti, menunggu reaksi Mika kali ini.


Mika menarik napas panjang, "Wahai kakak yang namanya saya lupa, emangnya kenapa kalo saya kecil, suka bengong, pelupa dan pemarah? urusannya apa ya dengan anda?". Nada bicara Mika kali ini ketus.


Mika melanjutkan tanpa menunggu respon Dandi, "Oya satu lagi, jika kakak suka sama Kak Rania, kakak bisa ke orangnya langsung tanpa perlu saya sebagai perantara, jadi, tolong jangan usik hidup saya yang sudah bahagia ini, please!". Mika segera ngeloyor pergi.


Dandi masih saja mengejar Mika, kali ini pintu kosan Alaka sudah terlihat, Mika ingin segera berlari namun tubuh tegap Dandi menghalangi langkah Mika kali ini. Mereka berhadapan. Mika ke kiri maka Dandi ikut ke kiri, Mika ke kanan Dandipun menggerakkan tubuhnya ke kanan. Akhirnya Mika menyerah, dia berhenti menatap Dandi dalam meminta penjelasan.


"Oke... oke... mungkin yang kamu bilang bener, tapi masak selain alasan itu aku gak boleh kenalan sama kamu? Sebagai calon teman gitu?" Dandi membuka pembicaraan.


"Maaf, tapi saya tidak temenan sama orang tua", Mika menyambar sadis.

__ADS_1


"Apaaa!!!! Heii... siapa yang orang tua, selisih umur kita tu palingan cuma 4 tahunan", Dandi membela diri.


"Nah, itu tau... permisi om", Sapa Mika ramah. Dandi masih terbengong dengan panggilan Mika barusan. Mika segera mengambil celah untuk melarikan diri. Secepat kilat Mika berjalan, kini Mika sudah memasuki pintu kos Alaka tanpa menoleh sedikitpun.


"Hei... siapa yang om!" Dandi meneriaki Mika yang sudah tak terlihat punggungnya.


Apa... bisa-bisanya dia panggil aku om, setua itukah aku, hhhh tapi menggemaskan juga dia kalau lagi marah. Mika... Mika...


Dandi hanya sebentar saja di depan kos Alaka, dia bersegera masuk ke huniannya yang hanya berada di sebelah kebun kos Alaka.


Dandi sadar jika kehadirannya di gang Dahlia diketahui orang yang mengenali Dandi di kampus, bisa membuat tempat persembunyian Dandi dari para mantan terkuak.


Dandi membuka pintu kamar masih dengan senyum memenuhi wajahnya. Setelah melangkahkan 1 kaki, mata Dandi langsung fokus pada gadis yang sekarang sedang di atas pohon jambu.


Tas Ransel yang tadi Mika gendong ada di kursi di bawah pohon. Sedang Mika berdiri di pohon jambu berdaun cukup lebat, Dia mengintip-intip ke arah depan kos melalui celah daun pohon jambu. Sesekali terlihat dia bersembunyi di balik dahan pohon. Lalu kembali memantau jalan gang Dahlia.


Mika kemudian terduduk bersandar di dahan. Kesal dan cemberut masih tergambar di wajah Mika. Kali ini Mimik wajah Mika tersenyum menyeringai, sembari memukulkan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kirinya. Seperti gerakan merasai kepalan tangan.


Ngapain, sih, anak itu. Emang siapa yang mau dia pukul? Aku? hahahha segitu kesalnya ya sama om Dandi hahaha Om? Baru kali ini aku dipanggil om sama cewek, Mika bener-bener berbeda. Gumam Dandi di balik jendela.


Kriiiiiing!!!!!

__ADS_1


Ponsel Dandi berdering.


__ADS_2