Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Keraguan Rania


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mika sudah berada di bawah pohon jambu. Mika sedang antri menunggu Nancy Mandi. Nampak handuk tersampir di sisi kiri Mika. Sedang tangan kanan Mika sedang asik memegang ponsel. Ia tengah melihat beberapa foto matahari terbenam kemarin. Mikapun tersenyum sumringah sambil duduk santai. Dia hendak memilih 1 foto matahari terbenam yang sangat cantik sebagai wallpaper.


Mika duduk santai sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Tubuhnya bersandar di pohon membelakangi jendela kamar Dandi. Semenatara Dandi sudah menatap punggung Mika terlalu lama.


Tiba-tiba, Rania menghampiri Mika setengah berlari.


"Mika..." Rania nampak panik.


"Iya kak," Mika meletakkan ponsel di pahanya. "Kenapa panik begitu?"


"Mika, lihat, deh. Dandi posting foto baru. Ini siluet sepertinya sosok cewek, kan?"


Deg.


Mika melihat foto siluet wanita dilatar belakangi matahari terbenam yang sangat cantik.


Idih ngapain sih pakai upload poto aku segala. jadi ribet kan urusannya.


"Lihat, emotikon senyum di captionnya. Mika, kakak jadi ragu mau terimakasih." Rania melemas.


Mika hanya menepuk-nepuk bahu Rania.


"Kak, emangnya kakak tau dari mana itu cewek, um kalaupun itu cewek bisa jadi dia cuma sepupunya, adiknya atau siapanya gitu. Iya, kan? orang jelas-jelas semalam kak Dandi bilang nitip hadiah buah kak Rania kok, sudah pasti kak Dandi naksirnya sama kak Rania." Mika mencoba menenangkan Rania.


"Iya juga sih. Eh, tapi semalem kamu lihat Dandi sama cewek enggak?" Rania kembali melontarkan pertanyaan yang mengguncang Mika.


Otak Mika berpikir cepat.


"Iya, aku lihat kok. Cewek yang sama kak Dandi masih seumuran aku. Kayaknya adiknya deh kak. Atau saudaranya gitu." Mika berbohong.


"Oya? Cantik enggak?" Rania kembali menyelidik.


"Cantik... Tapi cantikan kak Rania kok. Sumpah." Mika menegaskan.


Kak, maaf, cewek itu aku. Tapi kenapa sih bedebah itu pake upload foto itu di Ig. Nanti kalau ketahuan aku jalan sama dia gimana. Sialan betul tu orang, gara-gara dia aku berbohong dan berbohong lagi. huft.


"Oke, deh. Kalau gitu nanti aku samperin dia deh di kampus. Makasih ya Mika." Rania memeluk Mika.

__ADS_1


"Sama-sama, Kakak." Mika membalas pelukan Rania dengan rasa bersalah.


Mika segera turun dari pohon dan berbalik. Mika menatap ponselnya. Dia menghapus semua foto matahari terbenam kemarin.


***


Dandi melihat semuanya. Mika sempat berbalik ke arah jendela. Setelah mendapat pelukan dari Rania. Mika menyeka bulir airbening di ujung matanya.


Dandi amat sangat merasa bersalah.


Tadi pagi Mika masih sempat membalas chat permohonan maaf dandi dengan bercanda. Kini Dandi malah melihat Mika menangis.


Sebaiknya aku benar-benar menghindar dulu dari Mika. Kasihan Mika sampai menangis begitu.


Dandi mengelap kaca di depannya dengan ibu jari. Dalam pandangannya, kaca tempat ibu jarinya saat ini tepat berada di wajah Mika yang sedang sedih.


Seandainya aku bisa menyeka air matamu langsung dengan tanganku sendiri Mika. Tidak. Sebaiknya tidak pernah ada air mata lagi di wajah cantikmu. Kamu harus bahagia Mika dengan aku.


Dandi merenung lama setelah sosok Mika hilang dari pandangan matanya.


Rania. Apa aku harus jujur pada Rania? Tapi nanti apa respon Rania bisa sesuai dengan harapanku? Ah. tidak. Wanita itu lebih sulit ditebak dan dimengerti. Sebaiknya aku diam saja dulu. Aku takut jika nanti malah Mika yang akan terluka.


***


Sampai sebuah tangan hinggap di bahu Mika. Sungguh mengagetkan.


"Hei... Melamun saja", suara lelaki mengagetkan Mika.


"Miko, kamu ngagetin aja, deh." Mika menyadari tangan teman sekelasnya yang menepuknya tadi.


Miko tertawa keras. Hahaha.


"Hei, Mika. Kenapa pagi ini wajah kamu kusut begitu?" Kali ini satu sosok lelaki yang sedari tadi berada di belakang Mika dan Miko bersuara.


Mika menoleh, "Eh, Raka. Sejak kapan kamu di situ?" Mika tersenyum manis. Gundahnya lenyap begitu saja melihat wajah teduh Raka.


"Yaelah... ya sejak gue ada di deket Lo kali, Mikado." Miko menepuk bahu Mika lagi. Lalu berlari sambil mengejek.

__ADS_1


"Au... sakit tau ko," Mika berlari mengejar Miko.


Raka hanya tersenyum melihat tingkah kedua temannya.


Sembari berlari Mika menoleh ke arah Raka, "Raka ayo cepetan..." Tangannya melambai-lambai ke arah Raka. Lalu kembali mengejar Miko.


Akhirnya Mika mengepalkan tangannya saat bersitatap mata dengan Miko yang sudah jauh di depan. "Miko, awas ya! Hahaha" Mika terengah-engah. Dia berhenti untuk mengatur nafas.


Tak berselang lama Raka menghampiri, "Nih, Minum," Raka menyerahkan sebuah botol air mineral kecil.


"Aih... dapat darimana?" Mika menerima dan langsung menyeruputnya.


"Tuh, warung ijo itu," Rupanya Raka menyempatkan membeli air mineral setelah melihat Mika terengah dari kejauhan.


"Thanks, ya," Mika tersenyum manis. Raka mengangguk.


Kini Raka berjalan berdua dengan Mika. Sedang Miko sudah tak terlihat batang hidungnya. Dia sudah lebih dulu berbelok ke gang SMA 1. Raka dan Mika berbincang sambil sesekali tertawa kecil. Mika nampak sangat bahagia saat ini.


Kini posisi Mika dan Raka tepat dalam garis lurus dengan jendela kamar Dandi yang berada di sebelah lapangan kelapa. Jarak antara mereka saat ini dan jendela sekitar 40 meter, namun karena tidak ada halangan apapun yang berarti, hanya beberapa batang pohon kelapa, maka Dandi bisa dengan jelas melihat sosok Mika dan lelaki yang akrab di matanya.


"Tunggu, itu bukannya guru les Maura, ya" Dandi melihat lebih lekat penampakan sosok lelaki yang kini sedang tertawa bersama Mika.


Dandi memotret dengan mendekatkan jarak lensa. Terlihat jelas. "Iya benar. Itu cowok yang di rumah tante Nay, Jadi dia temennya Mika," Dandi manggut-manggut.


Kenapa kamu sesenang itu Mika. Apa anak ini yang selalu kamu intipin saat main bola? Apa anak ini yang kamu suka? Dan apa karena anak ini yang bikin kamu gak pernah lihat aku? Aku harus cari tahu lebih lagi soal mereka. Aku gak mau kehilangan Mika. Dia milikku. Dandi mengepal geram.


Dandi sudah mengikuti sosok Mika sejak dia keluar dari Kosan. Dandi sempat melihat Mika ke arah depan gang. Yang artinya dia tak akan melewati lapangan kelapa seperti biasanya.


Tangis Mika pagi tadi sungguh membuat Dandi khawatir. Itulah sebabnya dia sudah berdiri di dekat jendela dekat lapangan kelapa hanya demi melihat Mika pergi sekolah.


Namun, kekhawatirannya kini malah berubah jadi cemburu. Dandi emosi sendiri melihat Mika dalam sekejap berubah jadi sangat bahagia setelah bertemu teman lelakinya. Bahkan lelaki itu sampai membelikan Mika minum. Apa sekarang aku punya saingan? Dandi masih saja berargumen dengan dirinya sendiri.


Sampai panggilan telpon dari Mama membuatnya beralih fokus.


***


Terimakasih pembaca. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam karya pertama saya ini. Dan terimakasih atas dukungannya🙏

__ADS_1


Kritik dan saran sangat saya harapkan supaya saya lebih tahu letak salah dalam penulisan cerita "Hey, My Sweet Window!"


Terimakasih.


__ADS_2