
Saat sampai di kosan, Mika menatap sendu kursi yang biasa Rania duduki. Tak ada lagi jejak kakak yang selalu membelanya. Sejak sore hari kak Rania melabrak Mika, ia tak pernah lagi bertemu dengan kakak kesayangan Mika itu. Tidak di kosan maupun di toko tempat biasa kak Rania pergi.
Kak Rania maafkan aku. Aku jahat banget. Aku bahkan tak pernah berpikir akan sesakit apa hati kakak jika aku pergi nonton dengan lelaki yang kakak sukai. Aku bodoh. Kak Rania, kakak dimana? Kenapa kakak tidak kembali ke sini? Ratap Mika.
Setiap hari selama seminggu ini pikiran Mika dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. Senin sore kemarin setelah pulang dari sekolah. Mika mendapati kamar Rania sudah kosong tak berpenghuni. Mika bahkan sempat mendengar cacian dari Nancy yang mengatakan semua hal menyakitkan tentang dirinya. Termasuk tentang kepergian Rania yang disebabkan oleh Mika.
Mika tak pernah terpikirkan jika Rania akan nekat pergi dari kosan. Sekarang ia baru tahu, mungkin kata "pembohong, khianat dan menusuk dari belakang" memang kata yang pantas untuknya. Bagaimanapun Mika bahkan berhasil membuat orang yang disayanginya kecewa dan pergi tak pernah kembali. Mungkin rasa kecewa yang Rania rasakan amatlah dalam.
Rasa penyesalan Mika sudah terlambat. Percuma dia menyesal sekarang, karena Rania sudah terlanjur sakit hati padanya. Saat ini keberadaan Rania dimana Mikapun tak tahu. Bahkan nomor ponsel kak Rania juga sudah diganti. Mika benar-benar frustasi.
Sejak Senin lalu sepulang sekolah Mika selalu duduk di bawah pohon jambu. Melamun dan memikirkan semua. Mika memilih menyendiri di spot favorit karena terlalu engap suasana di dalam kosan. Nancy selalu saja membuat gara-gara dengan Mika. Bahkan saat Mika bersembunyi di kamar, Nancy akan dengan sengaja memprovokatori teman-teman kos untuk membicarakan Mika dengan keras.
Mengingat teriakan Nancy setiap kali mengatakan kata penghianat sudah cukup membuat hati Mika perih.
Sore ini sebelum Mika berkemas untuk pulang kampung, Mika menyempatkan diri duduk di bawah pohon jambu. Mika mengingat kata-kata personil The little one tadi.
Kak Dandi beneran menghilang? Aku coba telepon lagi aja. Siapa tahu nyambung.
{NOMOR YANG ANDA TUJU TIDAK TERDAFTAR, MOHON PERIKSA KEMBALI}
Tapi kemana sebenarnya dia? Tadi kak Robi sempat bilang kalau dia tidak tahu kosan Dandi yang sekarang. Lah, yang temennya aja enggak tahu, apalagi aku. Kenapa mereka malah tanya ke aku ya? Apa benar Kak Dandi menyukai aku seperti yang kakak-kakak tadi bilang? Perasaan aneh menyeruak ketika Mika menyelesaikan lamunan terakhir.
Mustahil banget sih. Eh, tapi tadi Raka bilang aku pantes kok punya pacar. Mika tersenyum dalam lamunan.
Seandainya kak Rania enggak marah, aku pasti udah cerita soal Raka tadi ke kak Rania. Wajah Mika berubah sedih.
Mika tiba-tiba mengutuki lelaki tampan yang sukses membodohi dia.
"KAK DANDI NYEBELIN!" Mika mengumpat keras. Apa dia sudah menjelaskan ke Kak Rania semuanya? Tapi kenapa kak Rania malah pergi? Mika bergumam sendiri. Mika mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu jahat sekali Kak?" Bulir airmata Mika mulai menganak sungai.
"Kamu bahkan sekarang ikut menghilang setelah menghancurkan hidupku," Mika kembali mengumpat kesal. Dia kini menundukkan kepala dalam.
Ini sebenarnya apa yang terjadi sih. Apa aku cari kak Rania di kampusnya saja sebelum aku pulang kampung. Iya, aku harus jelaskan semuanya dan minta maaf sama kak Rania. Biasanya hari sabtu kak Rania pulang siang kan. Berati dia masih di kampus sekarang.
Mika yang barusaja mendapatkan ide langsung loncat dari pohon dan tergesa berkemas. Setelah 15 menit berkemas dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Mika bergegas keluar dari kosan.
Mika setengah berlari sambil melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 11.30. Mika langsung naik ke angkot yang kebetulan lewat di depannya.
Setelah sampai di mulut gerbang kampus Universitas Cendekia, Mika turun. Saat ini Mika memakai kaus, jaket dan celana jeans 3/4. Tampilan yang bukan anak kampus banget. Cenderung mencolok. Dia menenteng 1 tas Ransel cukup besar di punggung. Ke dua tangan Mika menggenggam erat tali ransel di sisi tubuh, seiring dengan genggaman Mika pada tekat bulatnya untuk mencari kak Rania di kampus yang besar ini.
Mika ragu melangkah menuju gerbang. Dia masih diam beberapa saat. Lalu, kaki Mika mulai melangkah menuju pos satpam.
Mika menghampiri satu satpam yang berjaga.
"Selamat siang Dik, ada yang bisa saya bantu?" Satpam itu bertanya sopan.
"Rania? Fakultasnya apa Dik? Semester berapa?" Satpam itu bertanya lagi.
"Um..." Mika bingung mau menjawab apa. Dia lupa fakultas dan semester berapa kakak kesayangannya itu.
Cukup lama Mika mengingat-ingat sampai deru motor berhenti di samping pos satpam. Seorang lelaki membuka helm dan memanggil sebuah nama, "Mika." Suara Robi mengagetkan gadis yang sedang fokus itu.
"Rob, kamu kenal sama anak ini?" Satpam muda itu berkata pada Robi.
"Iya Bang, adik gua itu." Robi berkata santai. "Mika. Ayo sini, naik." Robi menepuk jok motor di belakang punggung.
"Eh, enggak kak. Saya ke sini mau cari kak Rania, kok." Mika salah kira, dia pikir Robi salah paham akan kedatangannya.
__ADS_1
"Rania? Oh iya, dia ada di sana. Naik ayo kakak antar ke Rania." Robi kembali menepuk jok motor.
Mika lega akhirnya dia bisa bertemu kak Rania. Tanpa pikir panjang Mika naik ke bagian motor di belakang tubuh Robi. Dan pamit kepada satpam di pos jaga dengan ramah.
Robi tadi asal tunjuk saja. Dia menunjuk sebuah taman di kampus. Itu karena Robi tahu jika Mika pasti akan menolak dibonceng jika alasannya tidak tepat. Jadi dia berbohong. Lagipula ada banyak Rania di kampus ini. Robi tak tahu Rania mana yang anak ini maksut.
Beberapa menit yang lalu, Robi sedang nongkrong bersama Revan dan Koko di Toko depan kampus. Saat mereka sedang asik menyeruput soda, Robi dan Revan melihat sosok Mika mau masuk ke area universitas. Robi kira Mika mencari mereka terkait soal hilangnya Dandi, jadi Robi menyusul Mika masuk.
Namun, saat tahu alasan Mika ingin bertemu seseorang. Robi jadi teringat dengan foto yang tersebar luas di warga kampus, foto yang sedang dibicarakan orang-orang. Karena orang dalam foto itu dianggap dalang dari menghilangnya idola mereka. Jadi pasti akan bahaya membiarkan Mika masuk sendiri ke dalam.
Itu seperti sengaja masuk ke dalam sarang srigala. Mereka pasti akan mencabik-cabik Mika. Jadi misi Robi kali ini adalah melindungi anak polos ini dari kejamnya dunia.
Kini, motor dilajukan Robi ke arah taman kampus, lalu memutar dan kembali ke gerbang utama. Tanpa di sangka, Rania yang saat itu berada di gazebo melihat Mika dibonceng lelaki yang sedang dekat dengannya. Rania mengepalkan tangan kesal.
Mika benar-benar ya. Dia rebut semua lelaki yang dekat dengan aku. Rania.
Mika sendiri karena fokus merangkai kata yang akan diucapkan pada Rania tidak memperhatikan sama sekali kemana Robi membawanya. Akhirnya Robi dan Mika sudah sampai di toko depan kampus. Mika turun dan heran melihat Revan dan Koko di sana.
"Kenapa kita ke sini kak? Kak Rania mana?" Mika bertanya polos. Mika celingukan mencari sosok Rania.
"Dik, sebaiknya kamu jangan nongol di kampus kami deh. Wajah kamu tuh lagi dicari-cari sama fans garis kerasnya Dandi. Kalau kamu nongol di kampus, bisa dihancurin jadi remahan kertas kamu nanti." Robi yang barusaja turun langsung menasehati Mika.
"Hah..." Mika bengong mendengar ucapan Robi. "Saya?" Mika menunjuk hidung dengan jari telunjuk. "Tapi saya kan bukan mahasiswa di sini, kak. Bagaimana mereka tahu wajah saya," Mika bingung.
"Sini, sini," Robi menarik tangan Mika menuju tempat di mana Revan dan Koko berada.
Eh, ini kan gerbang kampus yang tadi. Mika sempat menoleh ke arah tempat ia datang tadi. Loh, kenapa aku di luar lagi.
Mika sedikit kaget melihat penampakan Revan dan Koko di sebuah meja berkursi empat. Revan dan Koko tersenyum melihat Mika dan mempersilakan Mika duduk. Sementara Mika hanya menganggukkan kepala sopan dan tak bergeming dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Udah, duduk dulu. Nanti kami jelasin." Robi memegang kedua pundak Mika dan mendudukkannya di sebuah kursi di depan Revan.
Mika masih diam dan bingung mau bicara apa. Rangkaian kata yang tadi dia pilih adalah untuk bertemu Rania, bukan teman-teman si kak Dandi nyebelin itu.