
Mika kembali ke kosan setelah hampir 2 jam duduk mengamati permainan bola. Dia pulang setelah mendapatkan senyuman dan lambaian tangan dari Raka.
Mika berdendang sepanjang jalan menuju kosan. Hatinya penuh kebahagiaan.
Baru melangkahkan kaki masuk. Rania tiba-tiba menghambur memeluknya.
"Mika, kakak bahagia banget hari ini," Mika membalas pelukan Rania.
"Mika juga, kak. Mari kita tos!" Mika dan Rania saling melepas peluk lalu mengangkat tangan sampai terdengar bunyi 'plak' sangat keras.
Lalu mereka berdua tertawa bersama.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari dalam kamar Nancy.
"Praaaaaank"
Mika dan Rania menutup mulut cekikikan, dan berjalan pelan menuju kamar Mika.
Pintu kamar Mika sudah di tutup rapat.
"Nancy pasti kesal sekali sama aku, Kak." Mika berbicara pelan dan masih cekikikan.
"Apa tadi yang dia banting? Membayangkan wajah sombongnya kecewa tadi sungguh menggelikan." Rania setengah berbisik mengatakan kalimat itu. Sebelum Rania menemui Dandi ia sempat bersitatap dengan Nancy. Wajahnya merah padam. Suasana hatinya pasti sedang sangat tidak baik.
"Hahaha... Lupakan Nancy. Aku penasaran sudah sejauh mana hubungan kakak dengan kak Dandi. Ayo cerita dong." Mika antusias.
Muka Rania memerah.
"Mika, tau gak tadi pagi kakak dilabrak sama segerombolan cewek di kampus pas kakak mau ngucapin terimakasih ke Dandi."
"Apa? Dilabrak? Sama mantannya ya. Beringas juga ya mantan-mantannya," Mika mengekerut ngeri. "Tapi kakak gak papa kan?"
"Kakak gak papa kok. Iya mungkin mantannya. Kakak juga kan gak hapal siapa aja mantannya Dandi. Tapi tadi cewek itu sempet nuduh kakak sebagai alasan Dandi semalem gak datang ke sebuah acara gitu deh. Dan ngatain kakak kampungan juga. Sadis banget pokoknya mulut cewek itu,"
Gak datang di acara semalem? Oh, jadi dia bawa aku lihat matahari terbenam kemarin itu karena menghindari sebuah acara ya. Dia lari dari sebuah kencan. Hebat bener dia. Menjadikan aku pelarian. Huft. Wahai playboy cap sabun colek seribuan. Aku mengutukmu. Aku kutuk kamu beneran suka sama Aku. Sampai tergila-gila seperti orang gila. Hahaha...
__ADS_1
Mika hampir tertawa karena mendengar suara hatinya merapal kutukan. Tapi langsung teringat dialog dengan Rania.
"Hahaha... Kampungan? Emangnya cewek itu secantik dan semodern apa, sampai bisa bilang kak Raniaku yang cantik ini kampungan," Mika bereaksi cepat, karena tadi saat Mika hampir tertawa Rania sempat mengernyitkan dahi. Seperti mau bilang 'Kok malah ketawa sih'.
Mimik muka Rania kembali cerah setelah mendengar alasan Mika tertawa.
"Cantik dan modern, Mika, daripada kakak, Dia juga sepertinya anak orang kaya, Mobil dia aja keluaran terbaru." Rania mengingat kejadian saat itu sekilas.
Mika tampak berpikir. "Ummm".
"Tapi Mik, kakak bersyukur banget dilabrak cewek itu tadi pagi." Senyum manis menghiasi wajah Rania.
Mika kaget, "Kok bisa?"
"Karena setelah dilabrak dan di dorong sampai hampir jatuh, Dandi ngebelain kakak. So sweet banget kan..."Rania memegang pipi lalu menggoyangkannya seperti anak kecil.
"Dandi bahkan langsung menarik tangan kakak. Dia berupaya menjauhkan kakak dari sebuah masalah. Sampai akhirnya kita makan berdua di pinggir taman dengan romantis.
"Uwuuuuu manisnya." Mika kini ikut menirukan gaya Rania. Memegang kedua pipi dan menggoyangkannya beberapa kali.
"Eh, iya juga ya kak. Ini pertama kalinya Raka dan kak Dandi ke sini," Menyadari sesuatu.
"Tapi, sayangnya tadi Dandi pergi setelah kamu dan Raka pergi. Dia mendadak ada urusan. Jadi kakak tadi gak bicara banyak sama dia. Kakak bahkan belum sempat tanya tujuan dia datang ke sini," Rania terlihat sedikit kecewa.
Apa ini kebetulan? Atau kak Dandi sengaja nguntit aku. Buat apa? Kenapa dia pergi setelah aku dan Raka pergi? Apa maksutnya?
"Itukan karena kakak ngambil minumnya kelamaan," Mika mencari alasan memarahi Rania.
"Hehe... iya juga ya. Tadi kakak gugup jadi dandan dulu lagi di dalam hehe." Rania meringis.
"Coba tadi kakak gak lama, pasti bisa ngobrol banyak sama kak Dandi," Dan mencegah dia mengganggu aku dan Raka. Mika geram sendiri mengingat kejadian tadi.
"Kalo kamu gimana hari ini sama Raka?" Rania mengalihlan topik. Dia menyadari Mika sedang mengomelinya. "Kakak tadi cukup kaget, lihat kalian lagi ngobrol di depan. Raka ganteng juga ya kalo dilihat langsung."
"Iya dong... Raka memang ganteng, baik, perhatian lagi. Tadi kan Raka kesini karena anter komik buat aku kak," Mika tersipu malu.
__ADS_1
"Wow, sepertinya dia juga suka sama kamu Mika," Rania mengompori perasaan Mika.
"Aku gak tahu kak, mungkin iya mungkin tidak," Mika mulai ragu.
"Kenapa?" Rania penasaran.
"Entahlah, Raka juga baik sama temen aku di kelas soalnya. Aku jadi bimbang, apakah dia memang baik pada semua orang atau sama aku aja," Mika memanyunkan bibirnya.
"Ada satu teman sekelas aku kak, namanya Rasti. Rasti ini suka banget nyari gara-gara sama aku. Rasti pernah bilang ke Raka kalau dia suka sama Raka, tapi Raka tolak. Tapi si Rasti ini akhirnya malah jadi obsesi sama Raka. Dia jadi beringas sama wanita yang dekat dengan Raka. Kami sering banget bertengkar." Mika tertegun. Fyuh.
Rania mendengarkan curahan hati Mika dengan cermat.
"Tapi anehnya, Raka sering ngebelain aku di depan Rasti. Kayak pas kapan itu Rasti sengaja banget ngambil buku tulis Raka yang sedang aku salin. Kebetulan aku pas abis rapat pensi jadi ketinggalan pelajaran. Tau tau Rasti ngambil gitu aja buku yang sedang aku salin."
"Terus-terus," Rania antusias dengan cerita Mika.
"Terus sekembalinya Raka dari kantin sekolah, Raka ambil lagi buku yang barusaja Rasti ambil. Lalu bilang, 'Jangan ganggu Mika. Kamu bisa pinjam buku dari teman yang lain'. Gitu katanya. Dan Raka terlihat marah saat itu kak," Mika mengingat memori itu dan menirukan nada bicara Raka.
Rania terlihat sedang berpikir, "Sepetinya memang Raka suka sama kamu deh, dia sampai marah begitu buat melindungi kamu."
"Entahlah..." Muka Mika berubah sedih.
"Oya Mik, tadi apa kamu lihat Dandi di lapangan kelapa?" Rania mencoba mengalihkan topik supaya Mika tak terpuruk.
Mika menggeleng. "Lah emang kak Dandi main bola juga?"
"Oh, enggak. Tadikan dia balik ke kosan temennya lewat lapangan kelapa jalan kaki," Rania menjabarkan fakta.
"Mika sama sekali gak lihat kak, mungkin karena keasikan ngobrol sama Raka." Mika tersenyum.
"Raka benar-benar mengalihkan duniamu Mika," Rania menepuk lengan Mika.
"Hehe iya,"
Kalau tadi om pedofil itu pergi setelah aku dan Raka, seharusnya waktunya pas dengan kondisiku yang saat tadi mengawasi seluruh area lapangan nyari tempat nonton paling enak. Tapi kenapa sama sekali aku tak lihat batang hidungnya. Oh iya aku lupa, kakinya kan panjang, jadi dia pasti pakai mode jerapah. Mika cekikilan dalam hati membayangkan tubuh jerapah berkepala Dandi.
__ADS_1
Dia memang pantas jadi tuan jerapah. hihi