
Raka mengikuti di belakang Miko dan Mika sepulang sekolah. Raka tak mendekat sama sekali. Dia hanya melihat punggung kedua temannya dari jarak yang aman.
Setelah Miko sampai di kosan dan Mika berpisah langkah darinya, Raka mempercepat langkah dan memasuki kosan Miko.
Sesampainya di kamar, Raka segera tak sabar menanyakan apa yang Mika bicarakan pada Miko tadi.
"Miko, Apa Mika bertanya tentang aku tadi?" Raka bertanya antusias.
Miko menggeleng, "Tidak,"
"Apa Mika bertanya alasan aku mendiamkannya?"
Miko menggeleng lagi.
"Lalu, apa yang kalian bicarakan tadi?" Raka penasaran.
"Tidak ada, Mika cuma bilang dia mau titip komik aja. Bentar lagi dia pasti sampai." Miko menjelaskan.
Benarkah, Mika tak peduli lagi padaku? Raka melamun.
"Raka, nanti Lo mau titip omongan gak buat Mika?" Miko menyadarkan Raka dari lamunan singkatnya.
"Enggak, ko." Raka berpikir sejenak. "Umm.. Miko nanti biar aku saja yang nemuin Mika." Raka berkata dengan yakin.
Miko hanya manggut-manggut. "Ya, temuilah Mika. Mika tadi terlihat sangat sedih. Kasihan dia."
Raka merasa bersalah dengan kata-kata Miko barusan.
Riiiing... Ponsel Miko berbunyi.
"Oke," Jawab Miko singkat.
"Raka, Mika udah di depan tuh, jangan buat dia nunggu lama. Kalo Lo suka dia, Lo harus berani bilang yang sejujurnya." Miko menepuk bahu sahabatnya itu.
Raka hanya mengangguk.
Dengan perasaan berkecamuk Raka menemui Mika. Raka tersenyum saat melihat gadis yang disuka sudah berdiri menunggunya. Saat jarak sudah dekat, Mika mendongak ke arahnya dengan tatapan aneh.
Raka mencoba menyapa dan tersenyum manis pada Mika. Tapi Mika malah melamun.
__ADS_1
Raka tahu, Mika pasti bingung dengan sikapnya yang berubah-ubah. Raka ingin menjelaskan semua pada Mika sore ini. Tapi Mika menjaga jarak dari Raka. Suasana canggungpun tercipta saat Raka memberanikan diri menahan Mika pergi. Ini pertama kalinya Raka berani menggenggam tangan seorang gadis.
Raka akhirnya menjelaskan alasannya menjauhi Mika di sekolah. Raka tak ingin Mika disakiti Rasti terus. Karena Raka tahu, alasan Rasti memusuhi Mika adalah dirinya. Jadi jika Raka menjauh dari Mika, Rastipun tak akan mengganggu Mika lagi. Itu rencananya.
Sayangnya wajah Mika sangat kecewa saat Raka menyebutkan nama Rasti. Dan bahkan pergi tanpa meninggalkan senyum atau tawa riangnya seperti biasanya.
Raka sangat merasa bersalah karena itu. Raka hanya bisa memandangi tubuh Mika yang menjauh darinya. Sumber cintanya menjauh pergi sebelum sempat diutarakan.
Dengan lemas Raka kembali masuk ke dalam kos.
Raka meletakkan kantung ungu di atas meja. Miko dengan antusias mengambil komik di dalamnya. Miko langsung membaca tanpa permisi.
"Miko, Mika sepertinya sangat kecewa sama aku." Raka terduduk lemas di kasur.
"Hmmmmm," Miko asik membaca.
"Apa cara aku salah ya mendiamkan dia di sekolah?", Raka tiduran dengan melipat kedua tangan ke atas, kedua telapak tangannya dijadikan bantal tumpuan kepala. Raka menatap jauh ke atas menembus atap kosan. Tatapannya kosong.
"Hemmm. Bisa jadi," Miko membalik halaman komik menuju kisah selanjutnya.
"Apa aku cari cara lain aja? Gimana kalau aku jadian sama orang lain, jadi Rasti tak akan mengincar Mika. Dan aku bisa kembali akrab sama Mika." Raka berpikir cara instan.
"Hei... Kalau Lo jadian sama yang lain, apa Mika bisa terima? Bukankah Lo sama aja mempermainkan perasaannya?" Miko menanggapi cara yangs sedang dipikirkan Raka.
"Kalau bukan itu, apa kamu ada ide lain?" Raka bertanya pada Miko.
"Kenapa gak Lo tembak aja Mika. Beres." Miko berkata dengan yakin, "Bentar lagi kan PENSI, Lo bisa manfaatin momen itu". Miko memberi ide.
"Boleh juga ide kamu Ko," Raka menanggapi ide Miko dengan senyum. Raka saat ini membayangkan adegan dia akan nembak Mika saat PENSI. Memilih kata-kata yang tepat dalam otaknya dan merangkainya jadi kalimat indah.
Sedang Miko melanjutkan membaca komik dengan khidmat. Dalam sekejap Miko sudah selesai membaca 1 komik. Setelah mencari seri ke 2. Miko tak sengaja menemukan kartu identitas Mika. Dia mengambil dan terdiam.
Apa anak ini memakai kartu identitas pelajar sebagai penanda halaman buku? Tapi kenapa di seri ke 2? Apa Mika sebenarnya belum selesai tapi karena masalahnya dengan Raka dia jadi tak enak hati? Atau Mika tak sengaja menjatuhkan kartu identitas pelajarnya di sini?
"Raka..." Miko memanggil lelaki yang sedang melamun.
Raka masih tersenyum tak jelas tanpa menjawab.
"Woiii..." Miko melempar kaus yang tersampir di kursi tempat ia duduk ke arah wajah Raka. Raka kaget dan berteriak.
__ADS_1
"Apa! ganggu orang berimajinasi saja."
Widiiih, sejak kapan Lo suka marah-marah Raka. Miko membatin.
"Lihat ini," Miko mengangkat kartu identitas dengan tangan kanan dan menunjukkan pada Raka. "Sepertinya Mika sengaja meninggalkan ini di komik. Wah ini sinyal bagus. Lo harus segera jadian sama dia," Miko malah mengompori Raka yang sedang galau dengan kalimatnya.
"Oya? Sini kasih ke aku," Raka bangun dan mengambil kartu identitas dari tangan Miko.
"Eh, iya ini punya Mika. Masak iya dia sengaja Miko. Mungkin dia ceroboh gak sengaja jatuhin kartu itu di komik." Raka sedikit waras dalam menganalisa.
"Tapi kartu identitas itu di komik seri ke 2." Miko mengangkat komik dan menunjukkan angka 2 di cover depan. "Kalau dia bilang sudah selesai baca kenapa kartunya ada di seri ke 2? Logikanya kalau kartu itu dibuat pembatas penanda halaman pasti adanya di seri ke 8 dong," Miko sok sok an menjabarkan alasan sebuah kartu identitas ada di sana sekarang.
Raka agak ragu tapi mengangguk saja.
Apa Mika sengaja? Itu artinya dia sebenarnya ingin aku punya alasan untuk menemuinya kan?
Raka menggenggam kartu identitas itu erat. Hujan masih lebat di luar. Dia memutuskan untuk kembali berimajinasi sembari menatap potret wajah dalam kartu identitas itu.
***
Mika sudah selesai mandi, tubuhnya sudah kembali segar. Hujan di luar masih lebat. Suaranya cukup bising. Kosanpun nampak sepi, sepertinya seluruh penghuni kos ALAKA kecuali Mika tertidur dalam buaian hujan sore ini. Setelah melewati lorong Mika langsung menuju kantung plastik di pintu kosan samping.
Untung ponselku gak kenapa-kenapa. Batinnya.
Mika kembali menuju kamarnya pelan, Mika takut mengganggu penghuni kos lain. Mika menutup pintu rapat mencegah hawa dingin masuk mengusik kehangatan kamarnya.
Setelah melepas kantung plastik. Mika mengelap seluruh permukaan ponsel dengan tisu. Beberapa menit di dalam kantung ponselnya jadi berembun.
Setelah selesai Mika mengusap layar ponsel.
"Kak Dandi telpon?" Suara Mika lirih.
Dia chat juga.
[Hei, kenapa hujan-hujanan?]
Barusaja Mika mau mengetik balasan. Panggilan dari 'Orang gila' masuk.
Mika mengangkat telpon karena penasaran darimana orang gila ini tahu aku hujan-hujanan, Apa dia penguntit yang juga cenayang?
__ADS_1
"Hallo..." Mika berbicara.