
Rania sudah kembali ke kamarnya. Selang berapa menit terdengar suara langkah kaki masuk ke kosan. Dan terdengar suara khas pengunci pintu di buka dari pintu kamar paling ujung.
Mika datang.
Rania mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, hubungannya yang sangat baik dengan adik kos yang satu ini membuatnya meletakkan rasa curiga dibaris paling belakang rasa penasarannya.
Rania segera keluar dan menghampiri Mika.
Mika terlihat lelah dan lesu. Rania teringat kemarin sore bahkan dia demam. Rania tadinya mau bertanya kondisi tubuh Mika. Namun rasa penasaran tentang foto-foto tadi lebih dulu keluar dari mulutnya. Dia benar-benar penasaran.
Tak disangka. Mika bahkan tak berfoto sama sekali dengan mereka. Apa Mika sungkan? Malu? atau apa? Mika kan tipikal cewek cuek. Rani heran.
Rania tetap berbasa-basi pada Mika sampai akhirnya dia memastikan sendiri jika Mika tidak menyimpan nomor Dandi. Saat mengetik nama Dandi di ponsel sama sekali tak ada nomor kontak yang muncul. Timbul kelegaan di hati Rania. Mungkin dia hanya overthinking saja tadi.
Rania mulai menurunkan level curiganya pada Mika, Apalagi setelah melihat dan mendengar kesedihan hati Mika yang menceritakan tentang Raka dan teman wanita yang disukai Raka. Rania justru iba dengan Mika.
Sepertinya Mika memang tidak ada perasaan apa-apa pada Dandi. Apa mungkin tatapan Dandi tadi merupakan cinta yang tak terbalas? Aku tahu banget Raka itu cinta pertama Mika. Aku bahkan pernah lihat Mika menangis sesenggukan setelah menceritakan perubahan sikap dingin Raka padanya.
Kenapa aku jadi meragukan Mika begini. Sudah pasti Mika tak akan menyukai Dandi. Aku kenal sekali dengan Mika. Sangat kenal. Gara-gara cemburu aku jadi berpikiran yang aneh-aneh. Rania menghempaskan semua rasa curiganya tadi.
Wajah pedih Mika masih terpampang di pelupuk mata Rania. Kali ini Rania tidur dengan perasaan bersalah pada Mika. Rania berjanji akan lebih percaya lagi pada Mika kedepannya. Dan kalaupun tatapan hangat Dandi pada Mika tadi benar adanya. Rania tidak harus egois. Rania tak ingin juga mengejar cinta yang bukan untuknya.
Malam sudah larut. Dan semua sudah larut dalam mimpinya masing-masing.
***
Pagi-pagi buta Rania sudah berisik. Dia sudah berkemas dan akan pergi pulang kampung. Kamar Mika masih gelap tanda anak itu masih terlelap dalam tidurnya.
Rania urung pamit pada Mika dan memilih langsung pergi. Tujuannya adalah bus pertama yang akan menuju kotanya pagi ini.
Kosan sangat sepi. Nancy juga sudah pergi saat Mika bangun.
"Hoahm... akhirnya aku ngerasain gimana rasanya di kosan sendirian." Krik krik krik krik. Mika berdiri di depan pintu kamar.
Mika berjalan malas ke belakang. Dia ke toilet sebentar untuk cuci muka dan sikat gigi. Lalu langsung ke bawah pohon jambu favoritnya.
Mika menggerakkan tubuh ke kanan, ke kiri, ke depan ke belakang. Senam kebugaran jasmani ala-ala. Di selingi mulut menguap dan tenglengan kepala beberapa kali.
Mika tak menyangka suasana pagi yang sepi dan damai begitu membuatnya rileks.
"Aku senam saja, ah, di sini. Abis itu mandi." Mika bergegas kembali ke dalam dan mengambil ponsel. Gerbang depan kosan ia kunci dari dalam.
Mika mengetik senam aerobik dalam akun youtube-nya.
Beberapa video muncul. Mika memilih satu video aerobik dengan backsound lagu K-Pop yang sedang populer.
__ADS_1
Musik yang enak dan gerakan yang mudah sekali di tirukan.
Suara bising dari ponsel Mika membangunkan seseorang yang kini tersenyum menatap ke arahnya.
Mika yang masih kebingungan bagaimana cara menaruh ponselnya biar bisa tegap dan berdiri sempurna membuat pria yang tersenyum jadi tergelak.
Jadi dia tidak pulang kampung, ya. Gimana kalau ajak Mika nonton hari ini. Dandi berpikir cepat.
Dandi meraih ponsel di kasur lalu kembali ke tempatnya tadi berdiri.
Panggilan dari orang gila masuk.
Mika yang masih kebingungan menaruh ponsel sedikit terperanjat.
Sesaat setelah melihat nama kontak, Mika menatap ponsel dengan bibir kanan atas dinaikkan dan mengeluarkan kata, "Hah?"
Dia menimang ponselnya, mondar-mandir seperti sedang berpikir. Angkat enggak ya, angkat enggak ya.
Dandi melihat semua itu. Dan malah makin bersemangat melakukan panggilan lagi.
Akhirnya Mika menghela nafas panjang.
"Hallo..." Mika menyapa.
"Hai Mika sayang, eh... " Dandi lupa ancaman Mika tempo hari, tidak ada kata sayang atau Mika tak mau menemuinya lagi. Namun saat melihat rona merah di wajah Mika. Dandi tersenyum senang.
"Apa sayang, sayang..." Mika terdengar jutek. Tapi Dandi sungguh melihat jika Mika tersenyum dan tersipu malu dan bukannya jutek seperti di dalam telepon.
"Maaf, maaf. Mika nonton yuk," Dandi langsung ke tujuan.
Mika sedikit kaget dengan ajakan Dandi. Mika lalu beralasan. "Nonton apa. Aku lagi di kampung halaman. Nih, lagi nontonin rumput yang bergoyang," Mika berbohong.
Dandi tersenyum. Kamu pandai berbohong juga ya.
"Kita nonton ya, Kakak jemput 1 jam lagi di depan kosan. Kalau enggak keluar kakak akan dobrak pintu kos kamu." Dandi tertawa saat mengakhiri telepon.
Wajah bengong Mika dan ekspresi wajah Mika saat memelototi ponsel miliknya begitu lucu dan menggemaskan.
Mika terlihat berpikir. Dia bahkan sampai memijit kepalanya seperti orang pening.
Dandi semakin tergelak. Mika seperti orang bodoh. Dia menempelkan ponsel di telinga lalu dengan cepat mengetuk ponselnya lagi.
Mika yang tak tahu harus bagaimana akhirnya menelepon seseorang.
Dandi masih memperhatikan dari jendela kamarnya.
__ADS_1
Ekpresi Mika kali ini sangat serius.
Mika menelepon Leni.
"Halo Len."
"Iya, Mika. Eh, kamu jadi ke kosan enggak?"
"Len, itu aku jawab nanti ya. Ini aku lagi ada masalah penting."
Yang di ujung telepon masih mendengarkan dengan khidmat.
"Jadi, barusan kak Dandi telepon aku. Dia ngajakin aku nonton." Mika menjelaskan duduk permasalahan kegalauan hatinya pagi ini.
"Apa?" Leni kaget bukan main. " Emangnya kamu ngomong kalau kamu ada di kosan hari ini?"
Mika refleks menggelengkan kepala sambil berkata, "Enggak Len. Aku sama sekali enggak bilang siapa-siapa kalau aku di kosan."
"Ya udah bilang aja kamu enggak ada di kosan. Beres." Leni berkata dengan enteng.
"Udah Len. Aku bilang aku ada di kampung. Tapi dia ngancam mau dobrak pintu kos kalau nanti aku enggak keluar. Gimana ini? Aku juga bingung. Kok dia bisa tahu ya aku di kosan." Mika mondar-mandir sambil telepon.
Dandi sangat menikmati momen itu. Melihat Mika panik dan kebingungan.
"Apa? Jangan-jangan dia cenayang lagi. Kenapa dia bisa tahu semua hal tentang kamu Mika." Leni malah jadi penasaran.
"Aku juga enggak tahu Leni. Gimana ini?" Mika semakin panik.
"Tenang-tenang. Kamu turutin aja mau dia apa. Lagipula kamu belum pernah kan nonton bareng sama lelaki. Ya itung-itung latihan besok kalau nonton sama Raka biar enggak gugup. Jadi udah enggak malu-maluin banget." Leni menyatakan kenyataan jika temannya ini kan memang masih nol pengalaman tentang berkencan.
"Aku takut tahu Len. Nanti kalau diapa-apain gimana? Aku kan enggak kenal dekat sama dia." Mika menampakkan ekspresi ketakutan dalam kepanikan. Dia membayangkan, nonton di tempat yang gelap, nanti jika di raba, di cium atau di apa-apain gimana. Pikiran Mika terbang ke gambaran-gambaran negatif.
"Tenang, nanti aku buntutin kalian ya. Aku juga mau ah nonton. Ya, kali di kosan sendirian. Gimana? Aku ajak teman aku dulu ya. Semoga aja dia mau." Leni bersemangat.
"Oh, oke oke. Nanti aku bisa kabur sama kamu pulangnya." Mika mulai girang.
Mika dengan percaya diri mengetik pesan kepada Dandi.
[Oke]
Lalu Mika masuk ke dalam kosan. Mandi dan bersiap.
Padahal, harusnya Mika berpikir dulu. Jika Dandi orang jahat bagaimana, dan bukannya membawa ke bioskop malah membawanya ke hotel. Mika sungguh sangat polos saat memikirkan sesuatu. Dia sama sekali tak berpikir sejauh itu.
Leni memberinya kabar jika dia akan pergi dengan temannya nanti.
__ADS_1
Mika akhirnya bersiap dengan perasaan lega.