Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Menghilang


__ADS_3

3 hari setelah nonton bersama kak Dandi, hidup Mika kacau. Di kosan dan di sekolah Mika dibully habis-habisan. Tentu itu disebabkan oleh Nancy dan rekaman video pelabrakan itu. Entah apa yang Nancy katakan pada teman-teman sekolah, sampai-sampai mereka yang awal mula berteman baik dengan Mika satu persatu menjauhinya.


Terlebih para fans dadakan kak Dandi yang kemarin sabtu sempat meminta nomor telepon. Mereka menjadi-jadi memojokkan Mika dengan kata-kata sadis. Di hari-hari tak sibuk dengan belajarpun jadi semakin seperti neraka bagi Mika. Sungguh berat. Semua menudingnya menjadi penghianat. Semua mengatainya ingin menang sendiri. Semua mencelanya rakus. Mental Mika sungguh diuji kali ini.


Tinggal menunggu 3 hari lagi sebelum liburan semester. Hari-hari penuh lomba begini harusnya Mika bersemangat dan bersenang-senang seperti teman lainnya. Namun, Mika malah seperti narapidana saja. Ke sana salah, ke sini salah. Sampai seperti tak ada tempat bernapas lagi di sekolah untuknya.


Semua tempat membuatnya sesak. Mika sempat terpikir untuk bolos saja. Namun ancaman piket saat libur semester nanti sudah membuat Mika kembali bersemangat menutup mata dan telinga saja rapat-rapat.


Hanya Raka dan Miko yang kasian melihat Mika. Mereka berdua bahkan seringkali menghampiri Mika tanpa peduli lagi omongan dari teman-teman di sekeliling. Raka berharap bisa jadi pelipur lara bagi Mika meskipun setelah tahu alasan Mika dibully karena jalan bareng saingan Raka.


Baiklah, aku akan jadi obat untuk kamu Mika. Raka selalu berkata seperti itu ketika melihat Mika di kejauhan. Meskipun sikap Mika tetap saja cuek pada Miko dan Raka di tengah kegaduhan ini. Raka tak pernah berniat berhenti melindungi Mika.


Lenipun memilih menjauh untuk sekarang, meskipun dia masih berinteraksi dengan Mika melalui chat maupun telepon. Mika yang memintanya. Mika tak ingin Leni ikut-ikutan dibully karena berteman dengan penghianat seperti Mika.


***


Seminggu yang singkat ini dilewati Mika bagai sewindu lamanya. Tak ada semangat walau hari ini pengambilan rapor dan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba PENSI. Yang artinya ini adalah hari terakhir sebelum libur 2 minggu lamanya.


Mika hanya duduk di bangku saja sejak pertama kali datang. Mika menggunakan earphone dan menyetel lagu di ponselnya. Semua itu demi mengurangi polusi suara dari teman-temannya.


Kegaduhan di luar kelas tak membuat Mika bergeming. Mika sedang membaca komik pemberian Dandi. Akhirnya dia membaca komik itu karena terpaksa. Daripada tak ada yang dibaca pikirnya. Dan demi menjaga matanya dari lirikan tajam pasang mata di sekeliling Mika.


Tetiba sebuah tangan mengejutkan Mika, tangan itu menutupi bagian komik yang sedang Mika baca. Tangan itu milik Rasti.


Mika mendongak, lalu kembali membaca dengan menggeser komik menjauh dari tangan Rasti.


"Hei... belagu banget Lu ya," Rasti mencerca Mika.


Suara keras Rasti membuat siswa lain tertarik untuk menyaksikan kegaduhan apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya. Semua juga tahu jika Rasti tidak menyukai Mika.


"Wah, bakal jadi pertunjukkan menarik nih," Satu teman berbicara pada yang lain.


Siswa lain yang di mulai berisik dan menunggu apa yang selanjutnya akan Mika katakan.


Mika mendengus pelan. Lalu menoleh ke arah Rasti.


"Kenapa?" Mika bertanya.


"Lepas dulu earphone kamu, enggak sopan banget!" Rasti mengayunkan tangan menampik kabel earphone Mika.


Siswa-siswi lain mulai tegang.


Mika terlihat biasa saja dengan kelakuan Rasti, membuat Rasti makin kesal saja.


"Kenapa? Apa kamu mau berteman denganku sekarang?" Mika melontarkan pertanyaan yang dijawab cibiran oleh Rasti.


"Hahaha... Lu bercanda? Memangnya siapa yang mau berteman dengan penghianat seperti Lu, ngeriiiii...." Rasti tertawa sambil berkacak pinggang. Beberapa siswa tertawa mengikuti Rasti.


"Kalau begitu pergilah. Jangan ganggu aku." Mika menjawab santai.


"Hei... ngelunjak Lu ya. Kalaupun ada yang harus diusir itu Lu, bukan gua!" Rasti makin naik pitam.


Mika kembali mengenakan earphone dan fokus ke komik di tangan. Rasti kembali menampik kabel earphone dengan keras sampai biji earphone terpelanting dan pecah.


Mika memejamkan mata sejenak mencoba agar tidak terpancing emosi. Hari ini masih panjang, masih ada sesi pengumuman dan pembagian hadiah dan terakhir pembagian rapor.


Ya Tuhan, tolong aku kali ini. Biarkan aku keluar dengan damai dari situasi ini sekarang. Mika berdoa.


"Ups..." Rasti tertawa sambil menutup mulutnya.


Mika membuka matanya, sekelebat bayangan Dandi menghampiri Mika. Entah rasa Rindu yang teramat sangat atau hanya rasa kesal yang mengerak, membuat Mika berhalusinasi melihat Dandi di sana. Mika sempat menoleh ke arah pintu dan jendela mengikuti bayangan Dandi yang tersenyum.


Rasti yang bingung menggebrak meja.

__ADS_1


"HEI....!!!"


Mika tersadar, namun masih penasaran dengan wajah Dandi yang barusaja dia lihat.


Kak Dandi di sini?


Mika hanya diam menghadapi Rasti. Ia justru tenggelam dalam pikirannya tentang apa yang ia lihat barusan. Apa cuma halusinasi saja? Kalau tadi nyata kenapa para perempuan centil di depanku tidak histeris melihat wajah yang membuatku menderita sepekan ini.


"Mika... Lu bener-bener keterlaluan ya. Masih untung gua mau menyapa elu pagi ini. Dasar cewek enggak tahu diri!" Rasti mencela Mika.


Mika yang tadi masih membiarkan earphonenya tercecer, kini membungkuk mengambil serpihan di lantai.


Langkah Rasti sudah mau menginjak biji earphone di dekat tangan Mika, namun tangan seseorang menghentikannya.


"Rasti... Bisa enggak kamu tak keterlaluan begini!" Suara keras dari seorang lelaki membuat Mika terperanjat.


Kak Dandi? Si brengsek itu? Mika mendongakkan kepala ke arah sumber suara.


"Ra... Raka..." Mika terbata menyebut sebuah nama.


"Apaan sih, Ka. Aku cuma mau bantu Mika aja kok, Iya kan Mika," Rasti tersenyum manis dan ikut berjongkok memungut serpihan earphone.


"Sudahlah, minggir." Raka menarik bahu Rasti mundur. Lalu dia menarik tangan Mika pergi.


Ya Tuhan, terimakasih atas bantuanmu.


Raka membawa Mika menuju kantor Tata usaha. Sebuah ruang tamu di sisi kanan kantor menjadi tujuannya. Di sana sudah ada 4 orang menunggu Mika. Beberapa siswa yang berkerumun kecewa saat melihat Mika masuk ke dalam bersama Raka.


The little one?


Mika cukup kaget setelah mengetahui personil The little one datang.


Bukankah mereka hanya di undang untuk pembukaan saja. Kenapa datang di penutupan hari ini? Tapi kenapa cuma berempat?


Ke empat personil menatap Mika lekat. Hanya Revan yang membagikan senyum sapa hangat padanya. Yang lain malah menunjukkan wajah datar penasaran.


Ada apa dengan mereka ini?


Mika terlihat bingung. Lalu Raka menyuruh Mika duduk.


"Mika, para kakak-kakak ini ijin ingin bertemu denganmu. Tadi Pak Kardiman meminta aku memanggilmu. Jadi aku membawamu ke sini." Raka menjelaskan pada Mika. "Silahkan kak, saya sudah bawa Mika. Saya akan tunggu di luar," Raka lalu berpamit keluar. Raka berdiri di depan ruang tamu memastikan Mika baik-baik saja.


Mika duduk dengan salah tingkah. Mula-mula dia menyimpan kabel earphone yang masih terjuntai. Lalu kembali menatap 4 pasang mata yang mengamati gerak-gerik Mika.


"Maaf, kak. Ada apa ingin bertemu saya?" Mika memberanikan diri membuka pertanyaan. Setidaknya di sini Mika bisa sedikit rileks daripada tadi saat bersitegang dengan Rasti.


"Dik, apa benar minggu lalu kamu jalan sama Dandi? Vokalis kami?" Robi bertanya langsung pada tujuan kedatangan mereka. Mencari tahu sesuatu.


"Maksutnya?" Hah, apa mereka juga mau mengadili aku seperti teman-teman aku yang lain?


"Lihat ini," Revan menyodorkan layar ponsel. Foto di dalamnya percis yang kak Rania tunjukkan tempo hari. Foto saat Dandi menggenggam tangan Mika.


"Dandi dimana sekarang?" kini Satria yang bertanya.


Mika mengernyitkan dahi saat mendengar pertanyaan Satria.


"Bukankah kalian teman kak Dandi? Kenapa bertanya pada saya dimana kak Dandi berada?" Mika terlihat bingung.


"Tapi ini beneran kamu kan, Dik?" Revan bertanya lagi.


"I...iya. Kak, "Mika canggung menjawab.


"Gini, jadi Dandi menghilang setelah kamu pergi dengannya. Sampai sekarang." Robi menjabarkan sebuah kenyataan yang membuat Mika terperanjat.

__ADS_1


"Apa? Kak Dandi hilang?" Pantas saja dia tak bisa dihubungi dan tak muncul sepekan ini.


"Iya, Dik. Apa kamu tahu sesuatu?" Robi kembali bertanya.


"Saya enggak tahu kak, waktu itu kak Dandi mengajak saya nonton lalu setelah selesai dia mengantar saya pulang ke kosan. Setelah itu saya enggak bisa ngehubungi kak Dandi dan tidak pernah lagi bertemu dia." Mika menjawab jujur.


"Apa yang kamu katakan itu jujur?" Satria kembali bertanya.


Mika mengangguk.


"Apa kalian bertengkar?" Koko bertanya penasaran.


Mika ragu menjawab. "Sedikit, kak."


"Kamu tidak menyembunyikan Dandi di suatu tempat, kan?" Satria nyerocos ngawur.


Ketiga temannya menatap Satria tajam.


Mika tercengang dengan pertanyaan menohok itu.


Kak Dandi masalah apalagi ini, kenapa kamu membuat aku punya banyak masalah? Apa mereka mengira aku membunuhmu dan menguburmu di suatu tempat?


"Demi Tuhan kak, saya tidak tahu keberadaan kak Dandi. Hidup saya bahkan sudah menderita karena dia sepekan ini." Mika akhirnya mengutarakan perasaannya akhir-akhir ini.


Keempat personil terperanjat kaget.


Menderita? Apa Dandi sudah berbuat nekat pada gadis ini? Revan.


Menderita? Jangan-jangan benar gadis ini menyekap Dandi dan membunuhnya di suatu tempat. Satria.


Menderita? Memang apa yang Lu lakukan Sob sampai-sampai gadis ini merasa menderita karena Lu? Robi.


Benar dugaanku, ternyata mereka sudah saling mengenal bahkan sebelum tampil kemarin. Tapi apa Dandi mematahkan hati gadis ini? Kenapa dia sampai menderita? Atau Dandi patah hati karena gadis ini? Kenapa dia menghilang? Aneh. Koko


"Bisa kamu jelaskan detailnya, Dik? Supaya kami tidak salah paham," Koko menengahi rasa penasaran ketiga temannya.


Mika lalu menjelaskan semuanya. Dari awal bertemu sampai kemarin. Tidak dikurangi dann tidak dilebih-lebihkan. Dia juga mengatakan jika Dandi memberinya 2 benda yang selalu ia bawa kemana-mana.


"Cincin itu..." Robi mengambil cincin yang Mika letakkan di atas meja.


"Inikan cincin yang Dandi beli di toko perhiasan. Dandi bilang ini untuk wanita spesial di hatinya." Robi mengamati sambil berkata tanpa sadar.


Mika terenyuh dengan kata-kata Robi. Jadi itu perhiasan mahal ya. Aku kira imitasi.


"Apa kamu menyukai Dandi?" Revan bertanya.


Spontan Mika menjawab sambil menggeleng. "Tidak!"


Ke empat sekawan itu saling menatap heran.


"Tapi kenapa cincin ini bisa di kamu?" Robi keheranan. Jelas-jelas saat Robi menemani Dandi ke toko perhiasan kemarin Dandi mengatakan cincin ini sangat spesial.


"Tunggu, Jangan-jangan lagu spesial permintaan Dandi tempo hari untuk gadis di SMA ini, ya untuk kamu, benar begitu?" Revan makin penasaran. Revan mengingat dia pernah bertanya pada Dandi perihal lagu itu. Namun Dandi hanya menjawab dengan gelak tawa riangnya.


Mika semakin tak tahu harus mengatakan apa saat ini. Dia benar-benar bingung.


Apakah yang mereka semua katakan benar? Atau ini cuma akal-akalan kak Dandi. Pura-pura hilang, lalu meminta temannya meyakinkan aku soal perasaan dia. Huh. Jika itu benar. Dia benar-benar playboy profesional.


Semua temannya seperti sudah menemukan rahasia siapa wanita pengganti Kimi di hati Dandi. Karena mereka tahu Dandi tak pernah segila itu pada mantan-mantan lainnya, kecuali Kimi. Apalagi cincin emas putih ini, sudah pasti ada yang berbeda dengan gadis di hadapan mereka. Tapi mata mereka tak dapat berbohong. Tatapan keheranan mereka seperti serentak mengatakan.


Benarkah bocah ini orangnya? Apa istimewanya si Mika ini. Bagaimana bocah ingusan ini bisa menaklukkan hati keras Dandi.


***

__ADS_1


__ADS_2