
Vanya memasuki ruangan, nampak seorang lelaki berpostur tinggi besar duduk. Lelaki itu menggunakan setelan jas lengkap dengan dasi marun. Lelaki paruh baya itu sedang menatap laptonya serius.
Gerakan Vanya yang mendekat di sambut senyum ramah lelaki tersebut. Vanya mendekat dan bergelayut di lengan papanya. Wajahnya kusut.
Lelaki itu pun menepuk tangan anak kesayangannya.
"Kenapa lagi Dis?" Panggilan akrab Vanya Adistya Vander dalam keluarga.
"Adis sebel pa, Adis dipermalukan kemarin," Pak Vander menepuk kembali tangan putrinya.
"Kamu ditolak? Masak putri cantik papa ini ditolak pria? Seperti apa rupa pria yang menolak kamu? apa dia anak pejabat? Atau pria biasa?" Rektor menanyai sederet kalimat tanya. Pak Vander tentu tau penembakan itu, karena beliau sendiri yang menyuruh mengosongkan jadwal untuk studio lukis hari itu. Demi kebahagiaan putri kesayangannya.
"Dia Dandi Hilman pa, Mahasiswa semester 4 jurusan design grafis." Vanya menjelaskan.
"Dandi Hilman? Seperti pernah dengar nama itu, sebentar." Papa Vanya mengetikkan sebuah nama di situs database kampus. Tak lama muncul informasi lengkap dari Dandi Hilman.
"Oh, ya, ya, ya, dia putra pak Randito, pengusaha sawit, teman papa waktu SMA dulu." Pria itu mulai bersemangat.
__ADS_1
"Temen papa?" Vanya menyeringai, dia seperti menemukan ide cemerlang.
Pak Vander hanya membalas dengan anggukan.
"Adik pak Randito bahkan ada di sini, dosen kamu, bu Maharani," Papa Vanya menambahkan.
"Oya? wah, bakal seru, nih! Paaaa...." Suara vanya yang antusias berubah jadi manja.
"Hemmm"
"Bantu aku dong paa... sekali lagi, ya, ya, ya," wajah Vanya dibuat seimut mungkin supaya papa Vanya kembali mengabulkan permintaannya.
"Ide bagus tu pa, eh, tapi aku bahkan belum membalas kekesalan aku kemarin. Ummm..." Vanya terlihat berpikir.
"Atau, papa panggil Dandi ke sini aja pa, papa kenalin Adis ke Dandi langsung. Mungkin kemarin dia gak tau Adis itu siapa, kan? Makanya dia nolak Adis mentah-mentah. Lagian kalau nanti misalnya Adis suka beneran sama anak temen papa ini, papa pasti restuin kan?" Vanya menggoda papanya.
"Tentu saja, papa kenal baik dengan om Randito, keluarganya juga dari kalangan terpandang di kota XX"
__ADS_1
"Oke, pa, Thanks, ya pa", Vanya mencium pipi papanya sebelum pergi.
"Dis, jangan lupa makan siang dan jangan pulang larut", Papa Vanya menasehati, Vanya hanya membalas dengan lambaian tangan, kemudian menutup pintu tanpa pamit.
Wajah Vanya sudah kembali ceria. Vanya langsung nyamperin Gank nya, Mala, Sindi, Tomy, Selly, Cici dan Lena. Vanya antusias mengatakan kenyataan bahwa Dandi akan dijodohkan dengannya.
Tentu semua mata terbelalak, hanya Mala yang tersenyum, ini artinya aku selamat dari ancaman Vanya kemarin, kan? Bagaimanapun aku sudah mulai nyaman di kampus ini. Aku harus menyelesaikannya sampai akhir.
"Yuk, cabut, hari ini gue yang traktir, kita shopping", suara Vanya disambut sorak sorai dari gank nya.
Dari semua anggota gank, hanya Mala dan Selly yang bukan dari kalangan atas. Selly berteman dengan Vanya hanya karena gadis itu populer, sedang Mala karena ia adalah anak asisten rumah tangga di rumah pak Vander. Pak Vander setuju memberi beasiswa ke Mala asal Menjaga Vanya di kampus. Meskipun saat ini Mala tinggal di kosan Ratulangi, namun, dia terikat hidup dan mati dengan Vanya di kampus. Sehingga Mala selalu mengamini kemauan Vanya yang suka seenaknya sendiri.
Mala mengikuti Vanya bagai bayangan. Mala sesungguhnya ingin kuliah tanpa bantuan dari papa Vanya. Namun, orangtuanya yang memohon pada pak Vander. Meskipun tak ingin, tapi Mala terpaksa mengikuti kemauan orangtuanya. Sebenarnya Mala hanya ingin bekerja saja lalu menabung dan setelah cukup baru dia akan kuliah. Sehingga dia tak perlu merendahkan dirinya di depan Vanya.
Mala sebenarnya mengetahui jika Dandi mendekati gadis muda dari kosan sebelahnya, kos Alaka. Saat sore itu Mala sedang duduk di teras kos Ratulangi yang berada di pojokan gang Dahlia.
Mala melihat semuanya, Dandi yang menguntit gadis muda, mengajaknya ngobrol dan bahkan meminta kenalan dengan gadis muda itu. Mala juga melihat betapa kesalnya wajah gadis muda itu, berbanding terbalik dengan wajah Dandi yang nampak begitu bahagia. Meskipun tak cantik seperti Vanya, namun Gadis muda itu punya sorot mata yang tulus. Mala juga pernah berpapasan di toko beberapa kali dengan gadis muda itu setelahnya. Dan memang gadis muda itu ceria, ramah dan memiliki senyum yang khas.
__ADS_1
Namun, meskipun Mala tahu kenyataan itu, Mala tak pernah membahas itu dengan siapapun termasuk Vanya. Karena Mala tau info ini justru akan membahayakan gadis muda tersebut. Mala tahu betul seperti apa Vanya. Dia pasti akan mengusik hidup gadis muda itu. Jika tahu kenyataannya.
Hari ini Mala habiskan dengan membuntuti Vanya dan kawan-kawan shopping, Vanya bahkan memilihkan beberapa baju untuk Mala. Vanya seprtinya sudah lupa dengan ancamannya kemarin. Mala tak pernah menolak ataupun berkomentar lagi setelah kejadian penembakan itu. Mala memilih diam, dan hanya mengikuti tanpa ikut berbicara. Setelahnya Vanya and the gank kembali ke hunian masing-masing.