
Setelah makan dan minum obat, Mika menyempatkan untuk membaca pesan dari Dandi dalam surat.
Kemana payung? Jika hilang bilang ke kakak. Jangan hujan-hujanan lagi dengan alasan apapun.
Minum obatnya. Lekas sembuh.
DH
Payung? Mika mengamati kertas di tangannya lagi. Lalu mengedarkan pandangan ke sudut kamar. Payung bunga-bunga tergantung santai di sebuah paku.
Jadi payung itu dari kak Dandi, dan bukan dari Raka?
Mika mengingat ada paket berisi payung untuknya tempo hari. Tanpa nama pengirim. Namun Mika sama sekali tak kepikiran jika payung itu dari Dandi.
Lelaki ini kenapa perhatian sekali sama aku. Apa selama ini yang dia katakan tentang cemburu, jodoh sayang, khawatir adalah ungkapan perasaannya buat aku. Tapi kenapa mendekati kak Rania juga? Aneh. Atau mungkin ini kebiasannya selama jadi playboy. Dia perhatian pada semua perempuan. Hasss.... Sial, aku bahkan tak berpengalaman untuk hal-hal seperti ini. Apa sebenarnya maksut dari semua ini?
Mika masih melamun. Otaknya masih menolak mempercayai semua perhatian yang Dandi berikan padanya selama ini. Dalam benak Mika semua usaha Dandi itu Mika salah artikan sebagai modus seorang playboy.
Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk.
[Selamat istirahat Adik kecil]
Adik kecil?
Entah kenapa hati Mika terenyuh, Mika seperti sedang berada dalam dekapan hangat luar biasa. Ini seperti yang Mika rasakan saat sakit dan mendapat perhatian dari keluarganya. Hatinya terasa hangat.
Mika tersenyum melihat pesan itu, setidaknya ini pertama kali Mika merasakan perhatian ekstra dari seorang lelaki asing. Dan Mika akan menganggap ini adalah perhatian dari seorang kakak. Selama ini Mika selalu berlagak tegar dan kuat berperan sebagai kakak untuk adiknya, dan sekarang Mika akan menjadi seorang adik untuk Dandi.
Meskipun sebelumnya Mika sangat membenci panggilan adik kecil dari siapapun, tapi kini Mika mulai bisa menikmati panggilan adik kecil untuk dirinya dari Dandi. Perhatian Dandi kali ini menyentuh hati Mika.
[Iya kak Dandi yang baik, terimakasih banyak ya sudah jadi kakak yang perhatian buat aku (emotikon senyum)]
Kondisi tubuh yang sedang kurang fit rupanya membuat perasaan Mika sedikit melunak. Mika bahkan mengetik pesan balasan dengan penuh rasa syukur dan tersenyum. Seakan melupakan penolakan diperlakukan manis oleh seorang playboy beberapa detik yang lalu.
Mika akhirnya terlelap dalam pengaruh obat yang barusaja ia minum.
***
Dandi panik setelah mendengar Mika bersin di sambungan teleponnya tadi. Dandi berpikir cepat dan menghubungi 1 kontak nomor tersimpan di ponselnya.
"Hallo, Pak. Bisa belikan makanan dan obat sekarang?" Dandi menghubungi kontak ojek online yang sering mengantarkan makanan padanya. Saat ini hujan masih sangat deras.
"Mas lewat aplikasi saja," pria di ujung telepon menjawab.
__ADS_1
"Kalau pribadi aja gimana pak, nanti saya kasih tips 500 ribu. Ini penting sekali." Dandi terdengar panik.
Tips, 500 ribu. Rejeki nomplok ini.
"Oh iya mas, detailnya di chat saja ya. Gak dengar. Hujannya berisik." Pria berjaket merah garis jingga yang sedang berteduh di teras sebuah rumah kosong itu mengakhiri panggilan telepon.
Sebuah chat masuk.
Kurir tersebut tersenyum, seharian ini ia hanya mengantar 2 penumpang saja. Titip paketpun sepi. Ketika memutuskan ingin pulang lebih awal, hujan sudah terburu jatuh. Dan kurir berkumis tipis itu hanya bisa menatap lesu setiap tetesan yang jatuh dari teras sebuah rumah kosong.
Kini semangatnya kembali membuncah bak limpahan aliran air hujan yang menenuhi selokan-selokan. Senyumnya terkembang, bayangan tawa anak umur 4 tahun miliknya tadi pagi memenuhi memori. Semua demi putranya, walaupun hujan deras mengguyur. Dengan senang hati bapak kurir itu memenuhi permintaan sang pelanggan setia.
Ditengah hujan deras kurir itu melajukan motor menuju apotik lalu menuju sebuah restoran ternama.
Tak perlu menunggu lama sampai semua pesanan di dapat, karena saat hujan tak banyak antrian baik apotik maupun restoran.
Kurir itu sangat teliti menjaga pesanan yang akan memberinya tips besar. Karena saat hujan deras begini akan sangat beresiko air hujan merusak kondisi makanan yang akan dia antar. Jadi sang kurir mengupayakan cara supaya pesanan itu tidak rusak sama sekali. Dan aman sampai tujuan.
Setelah berjuang menerobos hujan. Akhirnya kurir itu tiba di depan sebuah rumah kos. Sesuai permintaan di chat, kurir itu langsung masuk ke dalam halaman teras kos yang terlindungi atap rooftop melengkung.
Sesosok pria muda sudah terlihat berdiri menunggu di pintu masuk kos, dengan raut wajah begitu gelisah. Membuat siapapun yang melihat menjadi ikut panik.
Pria muda itu langsung menghampiri kurir yang sudah kuyup dilumat hujan. Mantel yang sempat ia kenakan sebelum pergi dari teras rumah kosong itu terlihat berembun dan sangat basah.
Dandi kemudian menaruh sebuah surat ke dalam kantung setelah memeriksa kelengkapan apa yang dia beli sore ini. Sang kurir menyerahkan nota belanja pada Dandi.
Tak berselang lama Dandi menyodorkan uang seratus ribu 10 lembar sebagai imbalan dan biaya pada kurir.
"Pak, ini," Dandi menyerahkan lembaran uang pada kurir, "Sisanya ambil saja semua, Terimakasih banyak ya pak. Setelah ini bapak langsung saja ke kosan sebelah ya pak," Dandi menunjuk ke arah kosan Alaka, "cari anak kos bernama Mika. Semua ini buat dia. Pastikan Mika yang nerima ya pak." Wajah Dandi yang tampan makin bersinar saat sorot mata memohon tertangkap mata sang kurir.
Mas ini, sudah ganteng, perhatian, sopan, baik lagi, semoga nanti anak gadisku punya jodoh seperti dia. Doa tulus seorang ayah terpanjat dalam batin.
"Mas, terimakasih banyak. Kembaliannya kebanyakan tapi ini, Mas." Kurir itu tak enak hati karena uang yang dibayarkan Dandi sangat lebih dari cukup.
"Itu tak sebanding dengan perjuangan bapak menerobos hujan, mohon diterima ya pak," Ucap Dandi sopan.
"Baik mas, saya langsung antar, ada titip pesan yang lain?" Kurir menyerahkan handuk yang sudah lembab itu pada Dandi.
"Tidak ada pak, sekali lagi terimakasih banyak. Bapak hati-hati di jalan," Dandi mengakhiri percakapan. Kurir hanya mengangguk.
Dandi memperhatikan setiap gerakan kurir yang mulai meninggalkan dirinya. Dan mengintip dari celah tembok yang tak terlalu tinggi di bibir kosan.
Kurir sudah sampai di samping, tapi kondisi hujan dan tempatnya berhenti membuat pesanan itu basah terkena hujan. Kurir sudah berdiri di depan kos, memencet bel pintu 2 kali.
__ADS_1
Seorang gadis keluar dan menyapa.
"Cari siapa ya pak?" Rania menegur sopan.
"Mbak Mika, Mbak. Ada?" Kurir itu balik bertanya keberadaan gadis bernama Mika.
"Oh iya, sebentar pak. Bapak tunggu di sana saja ya." Rania menunjuk sebuah teras kecil.
"Oke Mbak." Kurir itu berjalan ke teras dan menunggu.
Beberapa menit kemudian, seorang gadis muda keluar. Wajahnya merah pucat. Dia memakai jaket abu sampai menutupi kepala dan celana panjang hitam. Hanya wajahnya yang terlihat. Gadis itu tak begitu cantik jika dibandingkan dengan wajah tampan milik Dandi.
"Mbak Mika ya, ini ada pesanan atas nama Mbak Mika. Monggo mbak diterima, saya poto ya," Kurir itu memberikan kantung yang dipegangnya.
Jadi ini pacar mas tadi? Masih muda banget. Wah ternyata selera pria tampan tak selalu wanita cantik bak model. Gendukku bisa ini punya jodoh tampan juga walau bapaknya begini doang. Hihi Pak kurir membatin geli.
Setelah menyelesaikan tugas, kurir kembali menyusuri kecipak hujan menuju rumah. Dendangan lagu dangdut kesukaan menemani jalan pulang.
Sementara Dandi sudah kembali ke kamar setelah melihat sesosok gadis menerima paket.
Kini Dandi memperhatikan ponsel.
Dandi ingin menelepon Mika tapi takut mengganggu Mika.
"Dandi, please sabar, biarkan Mika makan dan minum obat dulu." Dandi menmperingatkan jarinya yang sudah ingin mengklik tombol telepon.
Dandi memperkirakan waktu Mika selesai makan.
"Sudah belum, ya. Wanita kalau makan kan lama," Dandi mengacak rambut. "Hassssss bisa setres aku jika begini."
Tring, chat masuk.
Robi. [Dan inget, besok jam 8 sudah kumpul di kampus]
Anak ini selalu saja chat di saat genting.
[oke] Jawab Dandi singkat.
Dandi akhirnya mengetik sebuah pesan untuk Mika.
Jawaban manis Mika membuat Dandi senang bukan main.
Jadi, dia sudah mulai bisa berterimakasih dengan tulus.
__ADS_1
"Mika kamu harus sembuh, kita akan ketemu nanti di sekolah." Dandi bersemangat.