Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Kesalahan


__ADS_3

Mika masih diam tak bergeming. Dia bingung mau bicara apa. Revan, Robi dan Koko masih memandanginya lekat tanpa sepatah katapun. Walaupun hanya beberapa detik. Tapi bagi Mika kecanggungan itu terasa berjam-jam.


"Ehem..." Satria yang tiba-tiba muncul dari arah jalan raya berdehem lalu ikut duduk di sebelah Koko.


"Ada apaan nih?" Satria bertanya ketus kepada 4 orang yang sedang duduk mematung, seolah ia sedang ditinggalkan dari sebuah perbincangan penting. "Lo, ada info soal Dandi?" Satria mengarahkan pandangannya ke Mika.


Mika yang saat itu sedikit menunduk akhirnya merespon cepat, "Saya? Ah... Enggak ada kak. Kayaknya ada kesalahan, deh. Saya ke sini bukan karena kak Dandi. Tapi karena orang lain."


Revan, Koko dan Satria saling pandang. "Orang lain?" mereka bertiga bertanya kompak.


Mika mengangguk.


Robi yang tahu pikiran teman-temannya langsung menyela, "Gini loh, gini loh... Si adek ini, datang ke kampus mau nemuin seseorang yang namanya Rania. Tapi, karena dia kan sekarang lagi ada di DPO (Daftar pencarian orang) fansnya Dandi tuh, jadi gua bawa ke sini".


"Oh... gitu", jawab ketiga teman Robi manggut-manggut.


Mika lega mendengar penjelasan Robi. Mika lalu tersenyum dan beranjak berdiri.


"Kak, karena gak ada yang harus kita bicarakan juga. Saya pamit, ya. Soalnya takut ketinggalan bus." Mika berkata sopan.


Mika tahu teman-teman Dandi mungkin akan memberondong dia dengan banyak pertanyaan lagi jika Mika masih berada di sana. Jadi Mika memilih kabur saja. Soal Rania, nanti akan dipikirkan Mika lagi setelah di rumah.


"Eh, eh, eh, tunggu dulu," Satria menghentikan gerakan badan Mika yang akan berbalik.


"Justru kami punya banyak hal yang mau dibicarakan sama kamu," Satria melanjutkan.


"Tapi, kak. Saya kan belum ada informasi apapun soal kak Dandi. Jadi tolong biarkan saya pergi ya. Nanti jika ada kabar dari kak Dandi saya pasti akan menghubungi nomor kontak yang kakak kasih tadi pagi," Mika mencoba meyakinkan ke empat sekawan itu.

__ADS_1


"Ok ok ok, baiklah. Kamu boleh pergi." Revan menengahi pembicaraan mereka.


"Terimakasih, kak". Mika berucap.


"Kok gitu sih, Van." Satria menepuk tangan Revan tak terima. "Justru harusnya kita introgasi dia dong, kan dia yang paling mungkin tahu keberadaan Dandi sekarang. Informasinya kan orang terakhir yang sama Dandi anak ini," Satria mulai meninggikan suara.


Mika bingung harus bersikap bagaimana. Dia tidak mau memperkeruh suasana. Tapi hendak pergipun kakinya terlalalu kikuk untuk bergerak.


"Udah, udah... Nanti adik ini malah takut bicara sama kita Sat. Kalau dia memang belum ada info. Ngapain dipaksa sih." Koko ikut berbicara bijak.


Robi yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya berbicara, "Ok, Mika. Kakak anterin yuk ke halte bus." Rupanya Robi berniat mengantarkan Mika menggantikan Dandi. Karena berdasarkan feeling Robi, gadis ini gak mungkin mencelakain temannya.


Mika refleks mengangkat kedua tangan lalu melambaikan tangan. Menolak tawaran Robi. "Terimakasih kak, gak usah. Itu ada angkot, kok. Yaudah ya, saya pamit dulu" Mika bergegas pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Mika terlihat berlari kecil menuju angkot di seberang jalan tanpa memperdulikan sorot mata empat manusia di belakangnya.


Satria mendengus kesal melihat kepergian Mika.


"Udahlah Sat. Kita doa aja Dandi gak kenapa-kenapa" Revan menenangkan Satria.


"Aih lu Rob, situasi begini masih bisa bercanda," Koko membalas ocehan Robi.


Merekapun melanjutkan obrolan. Sementara angkot yang membawa Mika sudah pergi menyisakan kepulan asap hitam.


***


Mika menghela napas panjang setelah duduk di dalam angkot. Kali ini Mika memilih duduk di kursi depan dekat supir yang kebetulan kosong. Bukan tanpa alasan, Mika hanya tak ingin jika nanti duduk berhadapan ataupun bersebelahan dengan teman dari sekolahnya yang malah akan membuat Mika tidak nyaman.


Mika menatap jauh ke luar jendela. Tatapannya kosong. Ia melamun. Mika sedang memikirkan perihal hilangnya Dandi dan kemungkinan-kemungkinan terburuk.

__ADS_1


Kemana kak Dandi ya? Apa kak Dandi kecelakaan? Atau kak Dandi diculik? Ah masa udah segede itu diculik. Atau kak Dandi kena begal? Ya ampun kasian banget. Gimana dong. Aku bakal jadi tersangka kalau nanti ditemukan jasad kak Dandi. Bagaimanapun aku orang terakhir yang terbukti lagi bersama dia. Eh, tapi kan ada kemungkinan kan kak Dandi hilangnya beberapa hari setelah nonton. Tapi gak mungkin juga, jelas banget temen-temennya bilang kak Dandi gak bisa dihubungi sejak di hari kami jalan... Ugh. Pusing!


Mika berpikir keras. Lalu menggeleng-gelengkan kepala.


Enggak-enggak... Ini gak bener. Kak Dandi sehat, kak Dandi selamat, kak Dandi enggak hilang, kak Dandi enggak ketemu begal, kak Dandi enggak kenapa-kenapa. Aku harus positif thinking. Kak Dandi cuma lagi iseng aja ngumpet. Nanti pasti akan ketemu. Nanti dia pasti akan nemuin aku.


Mika sedikit narsis. Mengingat begitu perhatian dan baik sikap kak Dandi padanya. Mika yakin kak Dandi pasti akan menemuinya nanti.


Bukankah dia menyatakan cinta kemarin? Harusnya aku penting buat dia. Jadi aku hanya tinggal nunggu kemunculannya aja. Semoga dia cuma lagi merenung.


Pikiran Mika semakin menerka-nerka.


Apa Kak Dandi patah hati? Karena aku?


Mika senyum-senyum sendiri memikirkan kemungkinan itu. Saat sadar supir di sebelahnya sedang memperhatikan Mika. Mika membuang senyumnya seketika.


Aduh... Malunya aku.


Baik, nanti aku coba hubungi lagi kak Dandi. Semoga nanti sudah bisa terhubung. Aku harus pastikan apa benar aku bisa bikin seorang cowok patah hati. Hehe Walau rasanya sih gak mungkin. Apalagi cowok itu kak Dandi. Tapi aku harus pastikan kenapa dia menghilang tanpa jejak setelah aku tolak kemarin. Aku harus tahu jawabannya. Apa dia benar-benar nembak aku kemarin atau cuma lagi taruhan sama temen-temennya. Atau lagi....


Mika tersadar sesuatu. Dia menghela napas panjang...


Hhhhh...


Atau dia sengaja ngilang terus ngirim temen-temennya buat tahu perasaan aku sebenernya gimana ke dia. Jadi semacam trik gitu kayak di novel-novel yang pernah aku baca. Iiiih... Awas ya kalau ini cuma trik. Aku bejek-bejek pedopil tua itu huh.


Kali ini muka Mika terlihat amat kesal. Dia sampai menyipitkan mata sambil menggeretakkan gigi. Saat sadar ekspresinya agak berlebihan dan takut mengundang perhatian supir lagi, Mika akhirnya menyudahi mimik kesal dan segera mengganti dengan muka datar.

__ADS_1


Tak terasa angkot yang dinaiki Mika sudah sampai di sebuah halte bus. Di sana nampak ramai, beberapa anak muda sedang menunggu bus sambil sibuk dengan kegiatan meraka masing-masing. Ada yang duduk sambil menatap ponsel. Ada yang sedang memejamkan mata dengan earphone menempel di kedua telinga, ada yang sedang mengobrol berdua dan beberapa lagi fokus memperhatikan kedatangan bus. Sementara Cafe dan warung di belakang halte sepi lenggang tanpa pengunjung.


Saat Mika turun dari bangku depan angkot sebuah tangan menarik pergelangan tangan Mika dan menariknya masuk ke dalam cafe.


__ADS_2