Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Perhatian


__ADS_3

[Hei, kenapa hujan-hujanan?]


Barusaja Mika mau mengetik balasan. Panggilan dari 'Orang gila' masuk.


Mika mengangkat telepon karena penasaran darimana orang gila ini tahu jika Mika hujan-hujanan, Apa dia penguntit yang juga cenayang?


"Hallo..." Mika berbicara santai.


"HEI, KENAPA SELALU MEMBUATKU KHAWATIR!!!" Dandi berteriak karena kesal.


Sejak dari menghilangnya sosok gadis di bawah pohon jambu. Dandi mengambil ponsel, mengetik sebuah pesan. Dan terus memperhatikan centang 2 yang tak kunjung berubah jadi biru. Dandi mondar-mandir dengan mata terus tertuju pada ponsel keluaran terbaru miliknya.


Dandi terus mengamati sampai emosinya meluap-luap. Dan setelah centang biru tertangkap mata beningnya, Dandi langsung menelepon gadis yang membuat hati gusar itu.


Mika menjauhkan ponsel setelah mendengar teriakan manusia aneh di ujung telepon.


Apa-apaan sih. Mika masih diam.


Dandi masih ngomel bawel di ujung telepon, "Mika payung kamu kemana? Kenapa malah hujan-hujanan. Kakak beli payung itu biar kamu gak kehujanan. Kenapa gak dipakai? Kalau kamu sakit gimana?".


Mika terheran dengan kalimat panjang Dandi barusan. Payung? Payung apa sih.


"Udah?" Mika bertanya.


"Mika kenapa kamu selalu saja bertindak ceroboh! Di usia kamu yang sekarang, udah gak pantas lagi main HUJAN-HUNANAN!" Dandi semakin kesal.


"Tunggu, darimana kakak tau aku huuuuatchiiii..." belum sempat Mika menyelesaikan kalimatnya dia bersin dengan sangat nyaring.


"Tuh kan, jadi sakit kan. Tunggu di sana. Tunggu di kamar gak usah ngapa-ngapain, pakai selimut, istirahat. Jangan bawel. Nurut aja."


Tut...tut...tut. Mati.


Padahal Mika belum selesai mencerna kata-kata Dandi. Beberapa detik kemudian Mika justru bengong dengan ponsel masih menempel di telinganya. Huatchii... Mika mengusap hidung pelan.


Mika mengingat pesan kalimat cepat Dandi barusan.


"Tunggu di kamar?", Mika berpikir. "Heh, apa maksutnya, huatchiiii..." Mika kembali bersin.


Kali ini hidungnya meler. Mika sudah meraih tisu dan meletakkan ponsel di kasur. Mika sibuk dengan ingus yang mulai membuat risih. Huatchiii...


Mika bahkan sama sekali tidak mengingat Raka dan alasannya sampai basah kuyup tadi. Kali ini pikirannya tertuju pada Dandi.


"Tadi orang itu tahu aku hujan-hujanan dari mana ya? Apa tadi kami papasan? Perasaan enggak deh." Mika mengingat-ingat jalan yang ia lewati sore ini. "Kenapa dia tahu apapun yang aku lakukan? Terus apa maksutnya aku disuruh nunggu?" Mika terperanjat saat teringat kemunculan Dandi yang tiba-tiba tempo hari.


"Jangan bilang dia mau ke sini." Mika tersentak dengan argumennya sendiri, dia langsung berdiri dan membuka pintu kamar, lalu menjulurkan kepalanya sedikit. Mika dalam mode mengintip. Suara berisik dari tetesan hujan masih terdengar saling bersahutan. Hujan belum juga reda.

__ADS_1


Lorongpun sepi, semua lampu kamar menyala. Sepertinya semua orang masih nyaman berada di dalam kamar masing-masing.


Semua anak kosan di kamar, kak Raniapun ada. Gawat kalo si om sinting itu tiba-tiba datang ngunjungi aku. Aduh gimana ini.


Mika kembali masuk dan menutup pintu kamar pelan.


Mikir Mika... Mikir... huatchiii...


Aduh... tapi mulai pening ini. Tiduran dulu deh. Brrrrr dinginnya. Mika menggigil kedinginan.


Mika yang semula hanya ingin tiduran dalam selimut akhirnya jatuh terlelap. Entah berapa lama. Sampai pintu kamarnya diketuk seseorang.


Mika sangat panik, barusaja dia bermimpi Dandi datang mengetuk pintu kosan, suara ketukannya sama. Tapi ketika matanya terbuka bunyi ketukan itu berasal dari balik pintu kamar Mika. Tak mungkin kan seorang pria nekat masuk ke kosan wanita. Mika masih termangu sebentar sebelum suara Rania terdeteksi telinga Mika.


"Mika... ada yang cari kamu di depan, Mika..." Rania memanggil Mika.


Siapa yang cari aku? Kak Dandi? Kok kak Rania gak antusias ya kayak biasanya?


"Mika... kurirnya kasian kelamaan nunggu itu lho..." Rania lalu memutar handel pintu kamar perlahan. Melongok ke dalam kamar.


Kurir?


"Iya kak Ran. Sebentar."


"Kakak mau ke belakang, itu kasian udah daritadi kurirnya Mika. Gih, sana." Rania mengatakan sambil berlalu.


"Iya, kak." Mika bangkit lalu pergi menemui seseorang di teras depan.


"Mbak Mika ya, ini ada pesanan atas nama Mbak Mika. Monggo mbak diterima, saya poto ya," ucap lelaki 35 tahunan menunaikan tugas.


Mika memperhatikan sekeliling, ditengah hujan deras ini pasti orang di dalam kosan tak akan dengar apapun pembicaraan Mika dengan kurir.


"Pak, tapi saya tak pesan apa-apa. Apa ini dikirim sama Dandi Hilman?" Mika setengah berbisik.


"Iya betul mbak, nanti di dalam ada pesan dari mas Dandinya, silahkan dibaca mbak. Wah mbak ini beruntung banget punya pacar perhatian banget." Kurir itu tersenyum. "Yasudah mbak saya balik dulu, ya". Kurir itu berbicara amat sopan.


"Pak, Pak tapi masih hujan deras." Mika menahan bapak itu pergi. Mika kasihan.


"Tidak apa apa mbak, sudah biasa mbak. Monggo." Bapak kurir itu berlalu pergi menuju motor bebek yang dibelakangnya sudah terpasang box untuk membawa barang. Bapak kurir itupun berlalu pergi menerjang hujan.


Mika menggigil di luar. Dia bersegera masuk ke dalam kamar membawa sekantong besar sesuatu yang ia tidak ketahui.


Pacar? Mimpi apa aku punya pacar seganteng dia... Mika melamun mengingat kata kurir tadi.


Mika barusaja membuang 1 kantung hitam pembungkus yang sedikit basah, lalu membuka 2 kantung lagi. Terniat banget pakai kantung plastik ganda. Mungkin supaya apa yang di dalamnya tidak basah terkena hujan.

__ADS_1


Di dalam kantung ada sepucuk surat, 2 kotak makanan (baunya harum sampai membuat lapar), 1 Teh hangat, obat penurun panas dan juga vitamin.


Barusaja Mika hendak membaca surat dari dalam kantung, suara Rania yang mendekat mengagetkan. Mika lalu menyembunyikan surat itu di dalam saku baju.


"Mik, kamu tumben beli lewat kurir ojek online. Kamu beli apa?" Rania bertanya santai, kepalanya menjulur ke dalam kamar sementara tubuhnya di luar kamar. Ini kali pertama ada kurir ojek online mencari Mika. Biasanya Mika beli makanan hanya di sekitaran komplek SMA 1 saja.


"Oh ini," Mika bingung menjawab karena diapun tak tahu isinya, tadi belum sempat melihat ke dalam kardus tapi sepertinya makanan. "Obat kak, aku agak demam," Mika memegangi pipi dengan punggung tangannya.


"Kamu sakit?" Rania perhatian.


"Sedikit..." Mika meringis.


Mika lalu meletakkan 2 kotak kardus di atas meja, lalu membukanya, Oh nasi sama kue isinya.


"Sama Makanan kak, sini kak makan sama-sama." Mika tak tahu harus bilang apa pada Rania.


"Hummm harum banget, kamu beli makanan dimana? Kok gak ajak-ajak sih," Rania mendekat membaui makanan yang masih hangat itu.


"Oh ini, aku gak tahu sih kak. Tadi kan aku minta tolong temen kak buat beliin makanan dan obat, soalnya aku agak gak enak badan, lagipula hujan. Jadi gak mungkin beli makanan hujan-hujan begini. Eh taunya dianter pakai kurir." Mika merangkai alasan.


"Besok kalau titip lagi kakak ikut ya. Males juga mau keluar kalau hujan gini. Tapi tumbenan ada kurir yang menerobos hujan lebat. Profesional banget orangnya." Rania berbicara sembari mencicip 1 kue.


"Hummm... ini enak banget lho." Rania berucap lagi sembari mengunyah.


"Oya?" Mika ikut mengambil kue hangat dari kotak berwarna hijau, tertera label sebuah resto ternama.


Eh iya, ini enak banget. Kak Dandi niat banget beli sebanyak ini. Mau bikin aku gendut apa ya.


Surat tadi isinya apa ya. Aku penasaran.


Rania sempat membaca label resto di kotak. Resto terkenal, pasti mahal beli makanan di sana. Sejujurnya Rania penasaran kenapa Mika menghabiskan uang sebanyak ini hanya untuk makanan sekali makan. Ini bukan kebiasaan Mika. Tapi Rania urung mengatakannya.


Mika akhirnya meminta tolong kak Rania membagikan kue yang masih banyak itu ke anak kos. Karena tak mungkin Mika menghabiskannya sendirian. Lagipula Mika agak kurang enak badan, jadi Mika meminta tolong Rania mewakilinya.


Mika meminta kak Rania segera pergi karena bersin Mika semakin parah, takutnya makanan dan kak Rania tertular virus. Raniapun menurut dan menyuruh Mika makan, minum obat lalu istirahat.


Rania tadinya kukuh ingin menolak membagikan kue tersebut, bagaimanapun kue-kue itu pasti menghabiskan uang jajan Mika. Tapi karena Mika memaksa, dan bilang jika makanan itu sengaja ia beli untuk teman kos akhirnya Rania menuruti kata Mika. Dan meninggalkan Mika untuk beristirahat.


Gila apa ya, kue sebanyak ini. Emang aku serakus itu makan semua sendirian. Itu bahkan cukup untuk aku makan 1 minggu. Mika membatin.


***


Terimakasih sudah membaca, mohon kritik dan sarannya baik dari segi cerita maupu penulisannya ya kak.


Dan jangan lupa likenya ya kak. Teeimaksih banyak sekali lagi🙏

__ADS_1


__ADS_2