
Dandi barusaja menyelesaikan matakuliah terakhir, tatapan penasaran semua wanita yang melewati Dandi membuat Dandi merasa tak nyaman. Dandi segera cabut dari kampus, bahkan Dandi meninggalkan Robi yang sedang sibuk ngurusin administrasi.
Dandi tiba di kamarnya pukul 12.30. Dandi sudah sempat mengganjal perut di Restauran Padang sebelum kembali ke kamar.
Setelah Mika membeberkan kesalahan fatalnya selama ini, Dandi selalu memikirkan kata-kata Mika.
"Bagaimanapun, dan dengan alasan apapun, yang kakak lakukan itu salah, kakak gak berhak menyakiti perasaan orang lain, apalagi di kasus kakak ini, jelas kakak yang salah, macem PHP (Pemberi Harapan Palsu), dan itu menyakitkan, loh. Untung aja kakak gak dikutuk sama mantan-mantan kakak, coba, kalo mereka kutuk kakak gak bisa nemuin kebahagiaan selamanya gimana?" Dandi mengingat detailnya.
"Hush, kok jadi kamu yang ngutuk aku dek, Yang penting kan, kakak gak ngapa-ngapain mereka, kakak cuma ngeladenin cewek-cewek centil itu." Dandi tertawa.
"Haha, dasar playboy tak berhati" Kata-kata Mika selalu terngiang. Apalagi mimik wajah Mika yang serius pagi itu masih saja berlarian di kepala Dandi. Saat itu Mika bertanya soal keseriusan Dandi pada Rania, bagaimanapun Dandi harus berpura menyukai Rania, supaya bisa dekat dengan Mika. Itu disebabkan Mika tak ingin berteman dengan Dandi jika tanpa alasan. Dan Rania satu-satunya alasan.
Mika rupanya sangat peduli dengan kakak kosnya itu, Mika sampai mewanti-wanti Dandi supaya Dandi lebih hati-hati sama kak Rania kesayangannya. Jangan sampai kak Rania meneteskan airmata sebutirpun. Atau Mika yang akan menghajar Dandi dengan tangannya sendiri. ckckck menggelikan.
Meskipun obrolan mereka hanya sepintas-sepintas, tapi bagi Dandi, Mika sangat pandai menjadi pendengar yang baik. Mika merespon semua yang Dandi ceritakan padanya. Yaa meskipun galaknya masih kayak singa mertahanin kawasan. Tapi Mika teman yang asik diajak ngobrol, Dandi merasa cocok dengannya. Bahasan Mika tentang mantan Dandi yang berderet panjang pun tak luput dari obrolan. Mika bersemangat pada poin ini untuk berkomentar. Mika menyatakan diri sebagai wakil dari mereka yang tersakiti. Dan semua yang Mika katakan sungguh mempengaruhi sikap Dandi selanjutnya. Termasuk penolakan Dandi terhadap Vanya.
Dandi masih termenung di depan laptop, di medsosnya ada beberapa tag, tentu saja soal video itu. Dandi jenuh, kesal merambati hatinya. Dandipun beralih ke file-file yang ada di laptop. Dandi tahu dimana ia bisa mengobati gundah. Sebuah klik pada sebuah folder.
__ADS_1
Saat ini dalam laptop Dandi, memang ada sebuah folder khusus yang berisi ribuan potret wajah Mika dalam berbagai ekspresi serta puluhan Video. Tentu saja semua potret wajah itu diambil tanpa sepengetahuan Mika.
Tadi Dandi sempat menengok kebun, masih sepi, anak SMA mungkin belum pulang. Jadi saat ini Dandi memandangi Mika sembari memutar lagu lawas, milik Tiket 'hanya kamu yang bisa'. Karena liriknya begitu mengena dengan apa yang Dandi rasakan saat ini.
***
Ponsel Dandi berdering, Robi melakukan panggilan.
Dandi hanya melirik tanpa bergerak sedikitpun. Dandi sungguh malas jika kekepoan Robi mengganggunya siang ini.
Sebuah pesan masuk.
[Dan, kayaknya lo harus hati-hati sama cewek yang lo tolak, dia putri kesayangan pak Vanderrik, rektor kita]
Dandi tak membalas, Dia malas membahas cewek itu. Lagian Dandi tak merasa berbuat salah. Kenapa harus takut?
***
__ADS_1
Vanya datang ke ruang papanya di gedung rektorat. Kebetulan Robi masih di sekitar gedung rektorat mengecek beberapa file. Robi masih ingat wajah dan postur Vanya, jadi dia mengamati gerak-gerik gadis itu sedari sosoknya ditangkap mata jernih Robi. Tak terduga Gadis berambut Blonde itu masuk ke ruang Rektor dan sungguh mengagetkan Robi, Vanya masuk tanpa memberitahu Asisten Pribadi pak rektor terlebih dahulu. Jelas-jelas Asisten pribadi pak rektor ada di depan ruangan. Dilewatinya begitu saja.
Robi si tukang kepo pun bertanya pada Aspri pak Vander yang sedang duduk di depan ruangan.
"Pak, cewek tadi siapa? Kok main nylonong aja tanpa permisi atau senyum kek ke bapak", Robi bertanya tentang ketidak sopanan cewek tadi.
"Oh, itu tadi Nona Vanya, putri kesayangannya pak Vander, udah biasa itu mah, dek. Emang begitu orangnya." Jawab Aspri yang umurnya mungkin sudah 40 tahunan.
"Apa? putri kesayangan?"
"Ssst, jangan teriak-teriak, kamu ada perlu apa kok kesini? Sudah janjian dengan pak Vander?" Aspri itu menyelidik.
"Oh enggak pak, kebetulan lewat, dari ruang dosen pak, saya mau ke Tata Usaha. Ada yang lagi di urus, permisi, pak", Robi berkata sopan.
Yang bener aja, putri kesayangan? Aduh kalo udah di embel-embeli 'kesayangan' dah pasti bisa panjang urusannya. Apa yang akan terjadi sama Dandi. Pak Vander kan terkenal Galak dan tegas orangnya. Dandi lo harus selametin diri lo. Gue gak kena imbasnya, kan?
Setelah jauh dari ruangan rektor, Robi mencoba menghubungi Dandi. Nihil. akhirnya ia hanya meninggalkan pesan.
__ADS_1