Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Nonton


__ADS_3

Leni sudah duduk di bangku tak jauh dari Mika. Dia berada tepat di baris belakang barisan bangku yang Mika duduki saat ini. Hanya saja ia tidak tepat berada di belakang Mika atau Dandi. Selisih satu bangku saja di sisi belakang kiri Mika.


Dari tempatnya duduk Leni bisa melihat setengah wajah Mika dan sepenuhnya wajah Dandi di bawah pendar cahaya lampu bioskop.


Leni antusias mengikuti Mika kali ini, karena sepulang sekolah kemarin Leni cukup kaget dan tak percaya dengan semua yang diceritakan Mika tentang sosok lelaki tampan di samping temannya saat ini. Seperti mustahil, ketika mengingat wajah tampan bak artis papan atas yang begitu mempesona bisa menyukai teman yang biasa bersama dengannya.


Dan misinya sekarang adalah untuk membuktikan semua kebenaran. Apakah Mika hanya halusinasi atau sekedar salah paham.


Saat Leni tiba tadi, dia langsung bersembunyi di balik kerumunan manusia tak jauh dari Mika dan Dandi. Dia mengamati setiap pergerakan dua manusia targetnya itu. Dan memang sangat terlihat jelas dari setiap gerakan Dandi, Dia adalah lelaki yang sedang berkencan penuh cinta dengan pacarnya.


Sementara Mika, seperti gadis bodoh celingak-celinguk tak henti-henti. Leni sungguh sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


Kakak ganteng itu sepertinya beneran suka sama Mika. Dari gelagatnya, cara dia memandang dan cara dia melindungi Mika dari kerumunan.


Leni manggut-manggut.


Sementaraa teman wanita yang Leni ajak masih acuh dengan tingkah aneh Leni. Dia masih asik bermain ponsel saat menunggu pintu bioskop dibuka.


Leni saking semangatnya mengintai dan menguntit sampai tak membeli camilan apapun untuk dibawa ke dalam. Lain halnya dengan Mika yang dibelikan lengkap makanan dan minuman ringan oleh Dandi. Dan itupun si cowok ganteng itu yang membawakan.


Mika, kenapa seberuntung itu ya. Wah, aku jadi iri. Leni menggigit jari melihat perlakuan manis Dandi kepada Mika.


Tomi aja enggak semanis itu dulu waktu kita masih pacaran.


Triing. Ponsel Leni menyala di kegelapan.


[Leni kamu dimana?]


Di sela pembicaraan dan menonton adegan di layar bioskop Mika mencuri kesempatan mengirim chat pada Leni.


[Di belakangmu hehe] Leni membalas.


Leni melihat Mika menoleh ke kiri. Dan samar melihat senyum terkembang dari wajah Mika.


Mika sekarang lebih terlihat rileks jika diamati dari belakang. Sementara Dandi, beberapa kali terlihat mencuri pandang ke arah Mika. Wajah tampannya bahkan tampak merona bahagia di bawah twmaram cahaya.

__ADS_1


Leni tak fokus sama sekali dengan layar lebar yang memendarkan cahaya warna-warni berkedip silih berganti ke wajahnya. Leni hanya fokus membatin dan memikirkan semua cerita Mika kemarin.


Jadi, Kakak ini sebenarnya suka sama Mika kan? Bukan kakak kosannya. Tapi kenapa Mika yakin banget kalau si kakak ini cuma mau mainin perasaannya karena dia emang playboy? Tapi kalau dari sikap manisnya masak iya kakak ini playboy? Ya tapi, kalau ganteng gini mah wajar jadi playboy. Aku dukung mereka enggak ya. Eh, playboy bukan sih dia ini? Leni malah adu argumen dalam batinnya.


Waktu berlalu begitu cepat, rasanya Leni belum melihat adegan apapun di layar tadi, tapi tiba-tiba sudah terdengar suara berisik di sekitarnya. Ia menyadari film sudah di detik-detik adegan terakhir.


Setelah layar menayangkan akhir cerita, lambat laun semua lampu di dalam bioskop hidup. Leni pura-pura sibuk di kursinya. Dia tak mau kakak tampan itu melihatnya. Karena dari cerita Mika kemarin, selain di PENSI lelaki itu pernah bertemu Leni di dalam bus tempo hari. Satu hal yang membuat Leni marah-marah ke Mika kemarin. Mengingat saat itu Mika mengaku jika itu hanya cowok penguntit yang jelek.


Setelah tubuh Mika dan Dandi melewati Leni. Leni bangun dan berjalan mengikuti mereka lagi. Kali ini dia sampai menarik tangan temannya. Karena takut kehilangan jejak.


Dandi sendiri tak memperhatikan sekitar sama sekali. Dandi dan Mika berjalan menuju ekskalator lalu mengitari lantai 3 mall ternama di kota xx. Sampai tibalah mereka berdua di depan sebuah toko yang menjual bando lucu-lucu. Dandi menggandeng tangan Mika masuk.


Tiba-tiba sebuah tepukan di bahu Dandi membuatnya menoleh.


Seorang gadis cantik berambut hitam panjang tersenyum manis pada Mika dan Dandi.


Dandi masih acuh lalu mengambil sebuah bando pink dan menempelkannya di kepala Mika. Mika hanya bengong seperti biasanya.


"Hai, adiknya Dandi ya. Kenalin nama kakak Siska, pacarnya Dandi," Provokasi gadis itu berhasil membuat Dandi menoleh dan menatap tajam pada gadis yang kini salah tingkah, lalu ia melanjutkan kalimatnya, "dulu".


Mika mengulurkan tangan sopan kepada gadis itu, "Hai, kak Siska, Saya Mi..." Belum selesai Mika berbicara. Dandi menyentuh tangan Mika untuk menghentikan uluran tangan gadis yang disukainya itu. Mika kebingungan. Dandi menoleh ke arah Siska.


"Kamu mau apa lagi? Kamu mau melanggar kesepakatan?" Ucap Dandi dingin.


Mika sedikit gemetar melihat sikap singin Dandi.


Dia ini kalau lagi kesal mengerikan banget. Kayak singa mau menerkam kelinci saja.


"Enggak kok Dan. Kebetulan saja ketemu kamu di sini. Salam kenal ya buat adik manis kamu. Dadah Mimi," Siska memanggil Mika dengan sebutan yang membuat Mika tergelak. Tawa Mika mencairkan gunung es di wajah Dandi.


"Dadah, kakak... senang bertemu dengan kakak cantik," Mika melambaikan tangan dan tersenyum pada Siska yang sudah berjalan menjauh.


"Wah, Mantan kakak enggak sopan ganti-ganti nama orang saja," Mika mencoba membuat Dandi yang menakutkan tadi jadi tersenyum kembali.


"Yayaya..." Dandi enggan membahas mantannya barusan, "Mika, kamu pilih bando yang kamu suka atau kakak yang pilihkan?" Dandi menawarkan sekaligus memerintah.

__ADS_1


"Bando ini buat aku? Kenapa?" Aku enggak seimut itu kali harus pakai bando kayak anak kecil. Kemarin saja terpaksa pakai karena wajib.


"Karena kamu semakin cantik dan menggemaskan kalau pakai bando." Jawaban Dandi sukses membuat wajah Mika merona.


Dandi yang melihat rona wajah Mika tersenyum manis.


"Enggak mau, kak. Aku kan bukan anak kecil," Mika mencoba menepis perasaan bahagia yang datang barusaja. Dan sebisa mungkin kembali jutek seperti sebelum-sebelumnya.


"Lah, kan kamu emang adik kecilnya kakak. Bukankah tadi kamu bilang begitu sama perempuan tadi?"


Mika cengengesan. Iya juga ya. Tadi aku bahkan hampir mengiyakan saja di sebut sebagai adik manisnya kak Dandi. Hahaha lagian orang seganteng dia mana mungkin punya adik sejelek aku sih. hahaha


"Ya, oke oke. Tapi aku sendiri yang milih. Sudah sana kakak jauh-jauh. Nanti ada yang lihat lagi. Salah paham lagi." Mika mengusir Dandi dengan tangannya.


Dandi tak bergeming, dia mematung tanpa membuat gerakan sama sekali.


Mika jadi salah tingkah melihat Dandi memperhatikannya begitu dalam.


"Kak... Mau aku milih atau?" Mika hendak mengancam akan pergi.


"Oke, kakak yang pilihin. Itu kan kesepakatannya. kamu atau kakak yang milih," Dandi dengan sigap memilih 5 bando beda warna dan langsung membawanya ke kasir.


Loh, loh, loh, bukan begitu maksutnya, kak. Maksut aku biar aku milihnya leluasa kalau kakak jauh-jauh. Ini kenapa dia salah paham sih.


Sekarang giliran Mika yang mematung. Beberapa saat kemudian Dandi kembali dan langsung menggandeng tangan Mika pergi menjauh. Di toko sudah mulai ramai orang. Beberapa cewek mulai berkumpul memandangi Dandi dari banyak sudut. Ya, tentu saja dia jadi pusat perhatian. Garis ketampanan hakiki miliknya sudah menjadi jawaban mutlak.


Dandi dan Mika pergi dengan langkah cepat.


Mika sempat menoleh ke kerumunan wanita di belakangnya.


Dia pasti malu, kan. Ketahuan jalan sama gadis jelek seperti aku. Mika


Aku harus cepat pergi dari sini. Sebelum ada hal yang akan merugikan di kemudian hari. Mika harus diselamatkan. Tak ada yang boleh menyakitinya. Dandi membatin. Dandi sempat melihat sosok Siska mengarahkan ponsel ke arah Mika dari luar toko.


Huft. Mungkin lebih baik aku tidak tampan. sungguh merepotkan saja.

__ADS_1


__ADS_2