
Keesokan harinya di sekolah.
Menjelang pentas seni (PENSI) siswa-siswi sudah tak begitu banyak jam pelajaran serius di sekolah. Itu dikarenakan PENSI dilaksanakan setelah ulangan semester. Jadi siswa hanya mendapat pelajaran tambahan dan remedial untuk yang belum lulus standar kompetensi siswa.
Meskipun hanya pelajaran tambahan dan remedial, SMA 1 selalu menerapkan mode disiplin. Seluruh siswa tetap wajib ikut kelas tambahan setelah semester. Di hari menjelang PENSI jam istirahat akan lebih panjang durasinya dari hari aktif pembelajaran. Itu dimanfaatkan oleh seluruh siswa untuk mempersiapkan PENSI. Karena akan ada banyak lomba yang melibatkan seluruh warga SMA 1.
Hari ini setelah rapat panitia PENSI, Mika duduk di depan taman kelasnya. Dia membaca komik yang dipinjami Raka kemarin. Semua teman sedang sibuk menyebar di area depan kelas. Ada yang sedang ngerumpi, main Hp, lihat anak main bola basket dan beberapa lain sedang latihan vokal untuk pentas nanti.
Mika menghadap ke lapangan basket namun hanya sesekali melihat para seniornya main.
Beberapa teriakan kecil dari teman-teman Mika untuk menyemangati Kakak senior pun terdengar jelas di telinga Mika. Namun, Mika masih serius dengan apa yang sedang ia baca saat ini.
Mimik wajah Mikapun penuh senyum dan bersemu merah. Adegan-adegan di komik ini sungguh asik dilihat. Perempuan cantik dan pria tampan. Cerita yang menarik dan alur yang jelas.
Mika selalu membayangkan wajah Mika dan Raka sebagai aktor utama komik itu. Jadi tak heran jika dia sampai bisa tersenyum seperti orang gila.
Miko dan Raka yang barusaja datang dari arah kantin melihat Mika duduk sendirian. Miko berbelok menuju Mika sedang Raka masuk ke dalam kelas.
Miko dengan sok asik langsung saja duduk di sebelah Mika dan langsung ikut melihat komik yang sedang dibaca Mika.
"Mik, bagus gak itu komiknya? Ikutan baca dong," Miko sok akrab.
Mika yang kaget menoleh, lalu mengatakan pada Miko, "Hadeh... MiKodok. Selalu aja ganggu-ganggu orang."
"Jangan pelit Mika, sini," Miko menarik komik yang sedang di baca Mika lebih dekat ke arahnya.
"Mi....ko..." Mika melotot.
Miko tak peduli dengan pandangan kesal Mika, Miko justru membolak balik Komik itu demi melihat judul covernya. Dia mengingat sesuatu.
"Ini punya Lo?" Kok sama. Miko terlihat mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Bukan, punya Raka. Kamu pinjem sendiri deh sama Raka sana. Bukankah kalian sering barengan." Mika menarik komik dari tangan Miko.
"Wah, wah, wah... pilih kasih betul Raka ya. Awas aja." Miko tiba-tiba berkata yang mengejutkan Mika.
"Hah, pilih kasih? Maksutnya?" Mika bingung.
"Komik ini udah gua lihat dari 2 minggu lalu, gua sempet pinjem ke Raka tapi gak dibolehin tau, eh tiba-tiba sekarang dikasih pinjam ke Lo. Bener-bener ya tu anak."
Mika mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Miko.
"Jadi, kamu sudah pernah pinjam dan gak boleh? Aneh. Tapi ini aku gak pinjam, justru ditawarin sama Raka. Terus kemarin sore dia nganter ke 8 seri lanjutannya ke kosan." Mika menjawab polos.
"Apa??? Jadi kemarin Raka ke kosan Lo nganter komik? Kemarin setelah titip motor dia cuma bilang mau ke fotokopian sebentar, loh. Pantesan aja kalian jalan berdua kemarin sore. Kirain papasan dimana gitu." Miko kaget dengan jawaban Mika, ditawarin?
Mika lebih bingung. Jadi Raka malu bilang kalau dia mau ke kosan aku ya. Ah tapi gak papa. Kenapa aku senang ya dengar kata-kata Miko tadi. Apa aku seistimewa ini mendapat anugrah tawaran dari Raka. hihi
"Emangnya Raka sepelit itu?" Mika bertanya pada Miko.
Sesosok siswa sekolah yang sedang main ponsel menoleh lalu kemudian menghampiri Mika dan Miko.
"Kenapa?" Adi bertanya.
"Di, Lo ingat komik ini enggak?" Miko mengambil komik dan menunjukkan covernya pada Adi.
"Inget, ini punya Raka, kan? Eh ikutan baca dong," Adi menjawab. Dia langsung duduk di sebelah Mika tanpa permisi. Mika bengong. Mika lalu mengambil komik dari tangan Miko lagi.
"Lo dikasih pinjam enggak sama si Raka ?" Miko kembali bertanya penasaran. Matanya menyelidik ke arah Miko. Mika pun melakukan hal yang sama. Menunggu jawaban Adi.
"Enggak, Leo juga pinjem gak dikasih sama Raka. Tapi kenapa bisa di kamu Mik?" Adi heran.
"Ah masak sih?" Mika pura-pura tak percaya.
__ADS_1
"Aih... beneran," Miko menjawab keraguan Mika.
Miko menyadari sesuatu yang gak beres. "Jangan-jangan si Raka suka sama Lo."
Mika tersentak, lalu mengangkat satu tangannya melambai mengibas angin. "Ya enggaklah...mana mungkin." Mika tak ingin terlihat terlalu percaya diri mengakui perlakuan khusus Raka sebagai tanda suka di depan Miko dan Adi.
Adi yang masih memandang Mikapun berpendapat.
"Kenapa gak mungkin? Lo lumayan cakep, yaa walaupun suka jahil dan cerewet minta ampun sih. Tapi gua rasa masih bisa menaklukkan hati Raka. Cieee..." Ledekan dari Adi sukses membuat wajah Mika bersemu karena malu.
Miko tertawa dan ikut meledek, "Cie... Mika.. Cieee..."
"APAAN SIH KALIAN!!!" Mika setengah berteriak membuat siswa-siswi di sekitarnya menoleh ke arah Mika. Bahkan kakak-kakak yang sedang main basketpun berhenti sejenak.
Mampus aku, kenapa semua jadi lihat ke arah sini.
Mika menuduk malu pura-pura membaca buku lagi. Sementara Adi dan Miko melipir pergi. Takut dikira ngapa-ngapain seorang gadis.
Raka pelit ke Miko, Adi dan Leo. Tapi malah dia menawarkan komik ini ke aku. Apa Raka hanya pelit ke teman cowok? Teman cewek yang lain dipinjami juga gak ya. Takutnya sebelum aku ada gadis lain yang dipinjami juga. Sudah terlanjur percaya diri eh taunya nanti dia juga meminjamkan ke teman cewek lain. Berasa di PHP deh. Hiks.
Raka mengamati Mika sejak dari ia masuk ke dalam kelas. Ia mengamati dari kaca sebelah tempat duduknya. Raka menyadari jika akan terjadi sesuatu pada dirinya. Telinganya berdengung keras. Terlebih saat Raka mendengar Mika setengah berteriak setelah Adi menghampiri mereka.
Sementara Adi dan Miko langsung mencari sosok Raka di kelas dan mengomeli Raka. Mereka menyampaikan dosa Raka dengan bersemangat.
Raka akhirnya hanya meminta maaf tanpa mengutarakan alasan apapun kepada dua temannya itu.
Mikopun akhirnya mengalah. Bagaimanapun dia juga ingin melihat teman karibnya ini punya teman cewek di hidupnya. Selama Raka pindah ke mari, Miko belum pernah melihat Raka akrab dengan cewek kecuali Mika. Apalagi sampai mendatangi tempat tinggal cewek tersebut. Jadi memang mungkin Mika yang membuat Raka tertarik. Meskipun bagi Miko Masih ada cewek lain yang lebih cantik dari Mika dari segi fisik.
Tapi ini masalah hati, yang menang tentu yang mampu membuat nyaman saat bersama-sama. Tidak peduli wajahnya jelek ataupun fisiknya tak sempurna. Karena masalah hati hanya yang punya hatilah yang tahu.
***
__ADS_1
Terkadang menyentuh hati seorang manusia tidak perlu bermodal besar, bahkan hanya dengan sebuah senyuman saja jika itu menyenangkan hati akan mudah membuat manusia jatuh cinta.