Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
Sambutan Rania


__ADS_3

Mika sudah turun di bibir gang Dahlia. Ini sesuai permintaan Mika. Tadinya Dandi mau mengantar Mika sampai depan pintu kos. Tapi Mika menolak keras. Dia takut Rania akan curiga dan marah padanya.


Dandi yang memahami itupun menyetujui permintaan Mika. Yang penting Mika sudah aman dan selamat sampai kos pikir Dandi.


"Ok. See you Mika cantik" Dandi melambai saat Mika menoleh dan menganggukkan kepala tanda terimakasih.


Cantik? Serius aku cantik? eh... Hey Mika sadar. Dia cuma playboy. Catet. Playboy. Jangan tertipu. ok.


Mika hanya membalas dengan senyuman. Lalu masuk ke gang yang sudah gelap itu.


Mika masuk ke pintu depan kosan Alaka sedikit kepayahan. Tangannya juga pegal. Belanjaannya tidak begitu berat, hanya saja karena tadi dia menenteng terlalu lama jadi terasa kebas tangan kanan dan kirinya.


"Kak, Raniaaa," Mika memanggil Rania. Saat ini Mika belum masuk ke kamarnya. Dia malah terduduk di kursi santai di depan kamar Rania. Mika menghela napas. Capek.


Kreeeek.


"Ya ampun Mika... lama banget kamu belanjanya. Masih ada angkot? Kakak khawatir tau. Besok-besok lagi kalau mau mampir-mampir jangan malam-malam pulangnya". Rania mengomeli Mika.


"Iya, kak. Tadi keasikan milih-milih sampai lupa waktu." Mika beralasan.


"Ih... lucunyaa. Gantungan kuncimu beli tadi juga? Tau gitu titip satu. Lucu banget," Rania meraih gantungan kunci kura-kura hijau gemuk dari tas Mika.


"Eh... i...iya. Beli di toko tadi. Oya kak ini," Mika menyodorkan sebuah kantung.


"Banyak banget Mika, berapa ini semua?" Rania menerima kantung itu.


"Gratis kak, itu titipan dari kak Dandi. Tadi kami gak sengaja ketemu di toko. Dan kak Dandi bilang suruh ngasih kantung ini buat kak Rania. Gitu katanya." Mika menjawab seperti yang Dandi minta.


"Serius? Ini dari Dandi? Ya ampuuun..." Rania histeris. "Mika, kamu belanja dimana? Di toko apa?Kakak mau juga belanja di sana siapa tahu bisa ketemu Dandi juga." Rania antusias.


Deg. Mati aku. gak mungkin aku bilang dari toko yang aku gak tau tempatnya tadi, kan.


"Ada deh... mau tau aja. hahah" Mika ngeles.


"Ih... Mika." Rania memeluk kantung plastik itu dengan penuh kasih.


"Buka dong kak, penasaran aku kak Dandi ngasih apaan?" Mika penasaran apakah isi kantung Rania sama dengan isi kantung Mika, jika iya, bisa ketahuan kalau Mika dibelanjakan Dandi juga.


"Oke". Rania semakin antusias. Rania mengeluarkan semua isi kantung. Ada camilan ringan, coklat, keripik, rumput laut kering, dan wafer. Semua dalam kemasan besar.

__ADS_1


"Wow... banyaknya," Mika pura-pura kagum. Mika sebenelarnya penasaran dengan isi kantung miliknya sendiri. Seingatnya tadi kak Dandi ada beli susu pertumbuhan, deh. Yang iklannya biar bisa tinggi itu. Tapi tak ada di kantung kak Rania. Apa jangan-jangan... Belum selesai memikirkan. Rania bertanya pada Mika.


"Kalau kamu, belanja apaan dek tadi? Coba lihat." Rania penasaran.


"Ini. Lihat aja." Mika berpura biasa saja supaya tidak mencurigakan. Lagipula dia sendiri tidak tahu apa saja isi kantungnya. Maka lebih baik Rania melihat sendiri isinya.


Rania meneliti belanjaan Mika.


"Kamu beli susu Holo? Tumbenan doyan susu," Rania berkata sembari membolak balik belanjaan.


Mika hanya tersenyum. Sesuai dugaan. Apa coba maksut kak Dandi. Karena aku pendek? huft. Awas aja ya nanti. Mika gemetar kesal.


"Mika... pantesan aja kamu lama banget. hampir semua barang kamu beli, sih. Nih." Rania mengembalikan kantung Mika. Lalu mulai memeluk kantungnya lagi.


"Hehe... Iya, kata ayah aku harus tambah gizi kak, jadi aku beli semua deh. hehe" Mika beralasan.


Kreek. Pintu Nancy terbuka.


"Halah... cuma dibelanjain cowok doang, seseneng itu ye...Bener tu Mik kata ayah Lo, Lo emang butuh gizi banyak biar punya bodi kayak gue. Hahaha" Nancy tiba-tiba mengejek lalu ngeloyor pergi ke belakang.


Rania dan Mika hanya diam menahan geram.


"Sabar". Rania.


Keduanya mengelus dada. Rania lalu menatap Mika.


"Makasih banyak ya, Dek. Besok kakak akan berterimakasih langsung ke Dandi."


"Sama-sama, Kak. Kak Dandi pasti senang kalau kakak samperin langsung. Semangat!!!" Mika menyemangati Rania.


Mereka berdua akhirnya masuk ke kamar masing-masing. Malas jika nanti berpapasan lagi dengan mulut tajam Nancy. Biarlah mereka yang mengalah. Cukup diam dan abaikan.


***


Dandi melajukan motor ke arah kosan Robi setelah memastikan Mika sudah kembali ke Alaka. Dia urung untuk ke kosannya atau ke rumah tante Nay. Lagipula jam-jam ini orangtuanya sedang berada di jamuan makan malam pak Vander. Nanti yang ada Dandi malah diminta menyusul ke jamuan yang sepertinya akan membosankan itu.


"Hei, Dan, "Robi menyapa Dandi yang barusaja memarkirkan motor di depan kosnya. Robi sedang duduk di teras depan.


"Hei, Rob," Dandi membalas.

__ADS_1


"Bokap Nyokap Lo dah balik?" Robi membuka pembicaraan.


Dandi turun dan mendekat. "Belum, Bonyok gua lagi di tempat pak vander"


"What??? Serius? Kok bisa?" Robi kumat keponya.


"Makanya gua ke sini, males gua. Tu cewek bener-bener manfaatin bokapnya, ya."


"Tunggu-tunggu gue gak paham." Robi semakin penasaran.


"Huft. Jadi alasan bokap gua dateng itu karena undangan makan malam teman karibnya semasa muda dulu. Yaitu Rektor kita, pak Vander. Kan, aneh. kenapa momennya pas banget sama waktu gua nolak anaknya yang kata Lo kemarin putri kesayangan itu", Dandi menjelaskan sembari duduk di kursi samping Robi.


"Apa mungkin cewek itu minta dijodohkan sama Elo Dan? Makanya didekatkan dulu lewat acara makan-makan," Robi mengutarakan hipotesanya.


"Gak tau deh gua. Nyokap gua juga tadi ngajakin gua ikut, katanya mau dikenalin sama anak temen Bokap. Tapi gua tolak." Dandi menyeruput kopi milik Robi.


"Fix. Lo mau dijodohkan ini." Robi semakin yakin.


"Sebodo amatlah, gua pasti akan memperjuangkan hak cinta gua sama Mika. Pasti itu," Dandi keceplosan.


"Mika?" Robi menatap Dandi lekat.


"Apa? Siapa itu?" Dandi pura-pura bodoh.


"Tadi lo bilang akan memperjuangkan hak cinta gua sama Mika. Gitu kan? Mika. Siapa?" Robi kembali bertanya.


"Lo salah denger kali Rob. Orang gua cuma bilang akan memperjuangkan hak cinta gua selamanya. Ah Lo. Korek kuping dulu sana." Dandi ngeles.


"Ah masa sih. Perasaan tadi bilang Mika deh." Robi menggaruk kepala yang tak gatal.


"Udah. udah... Eh... Minggu depan kita perform di situ, kan?" Dandi menunjuk dengan ekor matanya ke gedung SMA 1 di sebelah.


"Yoi... cewek SMA sini cakep-cakep loh. Mari kita tebar pesona. Asik kali punya cewek daun muda." Robi mulai membayangkan.


Dandi tertawa melihat mimik wajah Robi yang terlihat absurd itu.


"Woi... Sadar lagi Rob. Kalau Lo tebar pesona nanti dikira om-om lagi cari mangsa hahaha"


"Enak aja Lo Dan. Muka ganteng begini dibilang om om...haha," Mereka berdua larut dalam obrolan unfaedah tentang cewek-cewek SMA yang pasti masih manja, cengeng, susah diputusin dan merepotkan. Dan banyak hal lagi.

__ADS_1


__ADS_2