
Desas-desus tentang keberadaan 4 kakak ganteng personil band dan Mika di ruang tamu sekolah segera menyebar kemana-mana. Semua teman-teman Mika jadi penasaran, termasuk Nancy. Nancy yang sedang berada di teras kelas tergesa pergi ke arah kantor TU.
Sial... ngapain lagi tuh anak sampai disamperin kakak-kakak ganteng itu lagi. Sok kecantikan banget.
Nancy menarik tangan Tirta untuk menemaninya menjadi paparazi.
"Penasaran gua. Mika lagi, Mika lagi." Nancy terlihat kesal.
Sebenarnya Nancy tidak tahu apa-apa soal Mika, Rania, Dandi dan personil band itu. Dia hanya mendengar Rania melabrak Mika dan menyimpulkan kejadian sendiri. Membumbui video pelabrakan dengan cerita yang dikarang sendiri sedemikian rupa. Seolah Mika merebut pacar kakak kosannya, seolah Mika dengan kejam menusuk Rania dari belakang. Nancy bahkan tak tahu jika alasan Rania marah karena foto Mika bergandengan tangan dengan Dandi di mall. Jika tahu mungkin dia akan kesal bukan main. Kemarin dia hanya mengira foto yang ditunjukkan Rania ke Mika adalah foto hasil jepretan Nancy di PENSI kemarin. Foto yang sempat Nancy kirim ke ponsel Rania.
"Nancy, jangan buru-buru jalannya. Riweh ini..." Tirta mengangkat sedikit roknya supaya bisa mengimbangi langkah Nancy.
"Hei...keburu ketinggalan berita tau. Ayo ah..." Nancy tak peduli rengekan Tirta.
Tirta hanya manut.
Setelah mendekat, terlihat juga beberapa siswa kepo di sekitar ruang tamu sekolah yang biasanya sepi.
Nancy menangkap sosok Raka di depan pintu.
"Aish... Mika ini. Beruntung banget sih dia dikelilingi cowok keren." Nancy kesal bukan main.
Tirta yang sekarang ikut fokus menatap ruang tamu sekolah dari jarak amanpun ikut berkomentar, "iya, ya... Mika beruntung banget. Sudah bisa satu ruangan sama personil band yang ganteng-ganteng itu. Dia bahkan juga satu kelas sama Raka."
"Eh, tapi kenapa mereka nyamperin Mika, ya?" Nancy sangat penasaran soal ini. Lalu dia melangkah mendekati Tiwi yang juga terlihat mengamati ruangan di belakang Raka.
"Eh, Tiwi... Itu siapa yang ada di dalam?" Nancy pura-pura tidak tahu dan menunjuk ke arah ruang tamu sekolah.
"Itu, personil band yang manggung sabtu lalu. Sama anak IPS. Si Mika," Tiwi menjawab santai.
"Ngapain mereka?" Nancy melontarkan pertanyaan lagi.
"Kurang tahu sih gue, tapi tadi kata yang lain para personil itu minta ijin ketemu sama Mika. Mungkin karena Mika yang tanggung jawab ke mereka sabtu lalu." Tiwi menjelaskan apa yang ia tahu.
"Waduh... jangan-jangan ada barang mereka yang hilang, terus minta tanggung jawab ke Mika sebagai panitia pendamping mereka." Nancy mulai menyimpulkan alasan mengerikan.
"Eh, iya. Bisa jadi itu." Tirta ikut nimbrung.
"Um... tapi kenapa sampai nunggu seminggu?" Tiwi keheranan.
"Ya mungkin baru sadarnya tadi pagi, atau kemarin. Ih, jangan-jangan Mika mencuri sesuatu dari mereka. Dia kan juga mencuri pacar kakak kosannya. Jangan-jangan klepto dia. Hiii..." Nancy melemparkan fitnah. (Klepto\=Kleptomania adalah gangguan kontrol impuls yang menghasilkan dorongan tak tertahankan untuk mencuri).
"Ah, yang benar kamu Cy," Tiwi penasaran.
"Eh, iya beneran... gua kan satu kos sama si Mika. Pantesan barang-barang anak kos suka hilang. Oh ternyata Mika yang curi." Nancy manggut-manggut meyakinkan ucapannya.
Tiwi dan beberapa teman yang kebetulan mendengar langsung berbisik menggosip. Dengungan gosip itu segera menyebar kemana-mana.
Sekarang yang para siswa tahu, Mika sedang di sidang di kantor karena mencuri barang dari personil band yang manggung di SMA beberapa waktu lalu. Beberapa siswi yang acuh pada Mika kemarin mulai ditumbuhi rasa benci dan kesal, karena menganggap Mika mempermalukan nama sekolah mereka.
Kini hampir semua siswi di SMA satu menggosipkan Mika.
***
Inilah yang diistilahkan 'Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan'. Ya, karena fitnah bisa membunuh mental dan jiwa seseorang. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan mungkin setelah yang di fitnah meninggalpun fitnah itu masih bisa membunuh keluarga bahkan anak keturunannya. Jadi hati-hatilah dalam berucap, jangan sampai lidah kita menciptakan sebuah fitnah.^-^
***
__ADS_1
Semua mata memandang Mika saat ia keluar dari ruang tamu. Sekarang banyak dari siswa-siswi berkeliling membentuk kelompok-kelompok kecil di sekitaran ruang Tata Usaha sekolah.
Aish... segitu ngefans nya ya sama personil band di dalam. Sampai seantusias itu nunggu kepanasan di sini. Mika menatap jengah kerumunan manusia yang sekarang sedang menatapnya.
Mika masih berdiri di depan pintu belum bergerak. Raka yang menyadari kehadiran Mika di belakangnya berbalik badan.
"Mika, sudah?" Raka bertanya pelan pada Mika.
Mika mengangguk.
Raka saat ini tak peduli lagi jika digosipkan apapun dengan Mika. Toh, sekarang Rasti semakin benci pada Mika bukan hanya karena dia dekat dengan Mika, namun karena gosip yang Raka yakini tidak Mika lakukan. Raka sangat tahu sikap Mika kepada Dandi bagaimana. Di mata Raka, Dandilah yang mengejar Mika, dan bukan Mika. Jadi Mika hanyalah korban.
Saat Mika dan Raka hendak berjalan, suara pintu terbuka. Ke empat personil tampan keluar dengan kharisma yang begitu menawan.
"Dik," Revan memanggil Mika.
Mika dan Raka menoleh. Siswi yang cemburu dan iri menggertakkan gigi serentak. Geram bukan main.
"Nanti jika kamu tahu sesuatu, tolong hubungi kami ya. Karena itu sangat penting untuk kami," Revan terlihat memohon pada Mika.
Mika hanya mengangguk dan melangkah pergi. Ke empat personil itupun pergi menuju kantor Tata usaha di sebelah untuk berterimakasih.
Nancy menemukan momen untuk membuat Mika semakin dibenci, Nancy berdehem. "Ehm... Gila, ya. Songong banget si Mika. Bahkan saat kakak itu ngomong baik-baik, dia cuma diam dan pergi. Ih... enggak sopan banget kan, Ta."
"Iya, eh. Tadi kakak itu bilang untuk ngehubungi mereka kalau Mika tahu sesuatu. Jangan-jangan barang kakak-kakak itu beneran ada yang hilang di sekolah kita. Malu-maluin banget". Tirta ikut mendramatisasi.
"Bisa jadi sih." Yeni manggut-manggut. Menerima lontaran fitnah Nancy dan Tirta.
"Ih, Mika malu-maluin banget. Kalian lihat tadi muka Mika kayak bersalah gitu, kan," Rosa ikut-ikutan.
Siswa-siswi yang masih menggosip di dekat ruang tata usaha dibubarkan oleh suara mikrofon dari lapangan. Ya, sekarang saatnya pengumuman lomba antar kelas.
Semua siswa berduyun-duyun pergi ke lapangan. hanya Raka dan Mika saja yang ada di dalam kelas.
"Mika, kamu enggak apa-apa kan?" Raka membuka suara. Raka memperhatikan Mika yang diam saja sejak keluar dari ruangan tadi.
"Iya, Raka. Aku enggak apa-apa kok." Mika tersenyum kecil. "Raka kamu enggak ke lapangan?" Mika mencoba berbasa-basi pada Raka.
"Enggak, aku di sini saja sama kamu." Raka tersenyum manis.
Rasa canggung yang dulu pernah tercipta di antara mereka seperti menguap begitu saja. Mika mulai merasakan hangat sikap Raka seperti dulu lagi.
"Raka, aku enggak apa-apa sendirian. Kamu jangan pedulikan aku di sini." Mika berkata sembari menghela napas.
Raka yang tadinya berdiri, langsung duduk di samping Mika. Membuat hati Mika berdenyut.
Jantungku, kenapa aku deg-degan begini. Mika
Jantungku, kenapa aku deg-degan begini. Raka.
"Mika..." Raka berbicara pelan. Mika menoleh ke arah Raka. "Apa benar kamu ada hubungan dengan personil band itu?" Raka bertanya langsung mengklarifikasi dengan hati-hati.
Huh... Ternyata Raka juga menuduh aku merebut pacar kakakku ya.
Mika menggeleng.
Senyum terpancar dari wajah Raka.
__ADS_1
Aih... kenapa dia malah tersenyum? Mika mengernyitkan dahi.
"Kok kamu malah tersenyum?" Mika keheranan.
"Iya dong." Raka tertawa senang.
Mika bingung. "Kamu ngetawain aku?" Mika salah paham.
"Eh, enggak... Aku ketawa karena senang." Raka mencoba menjelaskan.
"Jadi kamu senang aku dimusuhin satu sekolah?" Mika mempertanyakan alasan Raka.
"Ya, ampun Mika. Bukan seperti itu. Jadi, aku senang karena kamu enggak ada hubungan apapun dengan kak Dandi." Raka malu menjelaskan.
Raka dan Mika terdiam sejenak. Mika diliputi rasa malu dan bahagia sekarang. "Jadi..." Mika membuat kata menggantung.
"Jadi... Aku senang karena kamu dan kakak itu enggak beneran pacaran." Raka hanya menirukan gosip yang sampai ke telinganya. Raka sedikit canggung mengatakannya.
"Memangnya aku pantas ya punya pacar, apalagi seganteng kak Dandi." Mika masih terlihat tidak memiliki kepercayaan diri setinggi itu. Untuk berpikir punya pacar saja sudah mustahil bagi dia.
"Kenapa enggak pantas? Kamu itu cantik dan menarik kok." Seandainya kamu tahu, aku saja suka padamu, Mika.
"Oya? Jadi aku pantas pacaran sama kak Dandi?" Mika seperti menemukan kesempatan untuk mengetahui perasaan Raka padanya. Mika memancing Raka dengan kata-katanya.
"ENGGAK!" Ucap Raka ketus.
Mika tertawa melihat raut wajah kesal Raka. Jadi kamu marah kalau aku pacaran sama kak Dandi. Kamu cemburu? Mika tertawa puas dalam hati.
Raka terkesima dengan suara tawa nyaring Mika. Ini pertama kalinya Raka melihat Mika tertawa senang lagi sejak seminggu ia terlihat murung.
Raka kini tersenyum.
"Ih, kenapa senyum-senyum? Tadi kesal. Sekarang senyum. Enggak jelas banget kamu Raka." Mika masih berbicara sambil tertawa kecil.
"Aku senyum karena akhirnya aku bisa lihat kamu ketawa lagi." Raka membuncahkan perasaan hangat di sekitar Mika. Sehingga membuat Mika nyaman dan merasa aman.
"Makasih ya Raka. Kamu selalu bisa buat aku tersenyum. Maaf ya, kalau kemarin-kemarin sikap aku enggak baik ke kamu," Mika menundukkan kepala saat mengatakan permintaan maaf.
Raka sudah mau mengelus kepala Mika, namun tangannya menggantung di udara. Semua karena suara Miko yang terdengar memanggil namanya di teras kelas.
Miko terlihat terengah-engah saat masuk kelas.
"Oh my God... Gua ganggu ya..." kata Miko saat mendapati sosok Mika di sebelah Raka.
"Apaan sih Mikodok..." Mika berteriak.
Miko yang setengah kaget mendengar suara nyaring teman cerewetnya itu lagi langsung bersorak.
"Akhirnya... temen manis gua balik lagi. Mikado... gua kangen suara Lo" Miko berlari menghampiri Mika dan menepuk bahunya keras.
"Auuu...Mikodok" Mika merusaha meraih tubuh Miko dari tempat duduknya. Namun gagal. Miko meledek Mika dengan menjauhkan badan ke dekat meja guru.
Raka tertawa melihat kedua temannya itu. Mika akhirnya bisa merasakan kenyamanan lagi di sekolah yang menbuatnya penat seminggu ini.
Pada akhirnya, mereka bertiga bercanda dan ngobrol panjang lebar sampai para siswa kembali ke kelas.
Hari itu Mika sudah bisa tersenyum lagi. Meski senyumnya hanya ditujukan pada Raka dan Miko saja. Mereka bertiga pada akhirnya pulang dan berpamit satu sama lain, karena selama dua minggu ke depan mereka tidak akan bertemu karena berada di rumah masing-masing selama libur semester ganjil.
__ADS_1