Hey, My Sweet Window!

Hey, My Sweet Window!
PENASARAN


__ADS_3

Saat ini Mika sudah duduk di tempat paling belakang dari sebuah cafe. Di depannya ada sosok yang sangat ia kenal. Leni menatapnya dengan wajah penuh penasaran.


"Mika, ya ampun. Kamu gak apa-apa kan? Aku minta maaf ya jadi pengecut hari-hari ini." Leni membuka pembicaraan, ia memeluk tubuh sahabatnya itu.


Mika menyudahi pelukan sambil tersenyum ceria, "Hei, lihat nih aku gak apa-apa kok. Tuh, utuh kan?" Mika mengedarkan pandangan matanya ke bagian tubuhnya sendiri.


"Ih... Apaan sih kamu", Leni mencubit lengan Mika.


"Au..." Mika hanya mengelus-elus kulit yang memerah tanpa protes.


Pramusaji tiba menawarkan menu.


"Nanti ya kak, nanti kita panggil lagi," kata Leni mengusir halus sang pramusaji sembari tersenyum manis.


"Mika, kamu mau pesen apa? Kita baliknya bus yang jam 3 an aja ya. Kita ngobrol dulu. Kangen banget rasanya gak ngobrol berhari-hari sama kamu." Leni memberikan daftar menu kepada Mika.


"Ok, baik, siap," Mika langsung menerima tawaran Leni dan mereka berdua bersiap memilih menu. Sebenarnya mereka akan pulang dengan bus yang sama selama hampir 2 jam. Akan tetapi karena ngobrol di bus itu tidak nyaman maka mereka lebih memilih ngobrol di cafe dulu, supaya nanti saat di bus mereka bisa lebih santai dan bisa tidur seperti biasanya.


Beberapa menit kemudian pramusaji tiba sembari memberikan menu pilihan mereka setelah sebelumnya mereka memanggil untuk melakukan order.


"Mik, kamu tahu enggak, si Nancy bilang apa ke temen-temen pas band little one ke sekolah tadi?" Leni mengutarakan info yang ia miliki.


Mika menggeleng sambil mengunyah kentang goreng.


"Masak Nancy bilang ada barang mereka yang hilang. Emang iya?" Leni bertanya penasaran. Leni masih enggan mengatakan info yang sebenarnya jika Mika dituduh Nancy sebagai pencuri, apalagi barang yang dicuri milik bintang tamu yang tentu sangat memalukan. Nancy bahkan terang-terangan mengumbar masalah Mika dengan kakak Kosan di sekolah mereka.


Mika dengan santai hanya mengangguk.


Leni terbelalak sambil menutup mulutnya, "Hah...Ya Ampuun... Jadi beneran itu bukan gosip. Aduh aku juga kena dong. Tapi kok tadi cuma kamu yang dipanggil Mik. Mahal gak Mik? kamu disuruh ganti berapa?" Leni nyerocos tanpa henti.


Mika berhenti mengunyah lalu menyeruput jus jambu. Dia menghela napas panjang.

__ADS_1


"Hhhhhhh.... Little one kehilangan hal yang sangat berharga Len." Mika berniat menjahili temannya yang sudah memasang wajah khawatir. Mika mendramatisasi cerita dengan ekspresi yang meyakinkan. "Dan aku disuruh ganti mahaaaaal banget. Kamu tahu apa yang hilang? Coba tebak." Mika bertanya ke Leni.


"Ponsel?" Leni mengernyitkan dahi.


Mika menggeleng.


"Uang?" Leni masih coba menebak.


Mika masih menggeleng.


"Umm..." Leni berpikir keras. "Iiih... Mika bikin penasaran aja, deh!" Leni mulai kesal.


"Ciee penasaran, ya..." Mika meledek. Sesungguhnya Mika sedang menikmati kebersamaan dengan sahabatnya itu. Setelah kosong menghampiri hari-hari kemarin.


"Mikaaaa..." Leni gemes lalu mencubit lengan Mika.


"Aduuuh sakit Leni," kali ini Mika protes.


Hehehe


Lalu bak dukun dia meniupkan angin ke tangan Mika.


"Fyuuh...Sembuh".


Mika akhirnya menjewer telinga Leni sembari terkekeh. Keduanya tertawa nyaring di cafe yang masih sepi pengunjung itu.


"Yang hilang itu kak Dandi, Len." Mika menjelaskan.


"Apa!!!!!" Leni sangat kaget mendengar ucapan Mika. "Serius? Kok bisa? Bukannya waktu itu masih ada, nonton sama kamu. Hilangnya kapan? Kenapa pula hilang, udah gede ini." Leni melontarkan banyak pertanyaan.


Mika menggeleng, dia juga tidak tahu pasti kemungkinan mana yang paling benar dari pikirannya sepanjang perjalanan tadi.

__ADS_1


"Len, menurut kamu, Kak Dandi suka beneran gak sih sama aku?" Mika bertanya dengan mata penuh harap.


Leni masih diam.


"Leeeen..." Mika menggoncang tubuh leni samnil merengek.


Leni menatap langit-langit sambil berkata, "Umm... Kalau menurut penglihatan aku sih, kayaknya kakak itu beneran suka sama kamu deh." Leni meyakinkan, "Dari cara dia menatap kamu, menggandeng tangan kamu tanpa peduli sama siapapun, terus cara dia waktu itu di bus. Kelihatan banget kakak itu ada rasa ke kamu."


Mika mencerna kata-kata Leni dengan seksama.


"Lha emang menurut kamu si kakak ganteng itu ngelakuin semua itu ke kamu ada alasan apa Mik?" Leni balik bertanya sekarang.


"Enggak tahu, kamu inget kan, kemarin aku sempet pergi ke taman sama kakak itu abis nonton. Di sana dia bilang dia suka sama aku. Tapi..." ucapan Mika menggantung.


"Tapi apa?" Leni penasaran.


"Tapi aku tolak, karena aku pikir dia lagi mainin perasaan kak Rania. Ya, selama ini kan aku tahunya dia ngedeketin aku karena mau dekat dengan kak Rania. Apalagi sekarang kak Rania marah dan pergi dari kosan gara-gara ini. Aku ngerasa bersalah banget Len."


"Jadi, kakak itu nembak kamu?" Leni menggenggam ke dua lengan Mika. Seperti tak percaya.


Mika mengangguk lemas. Ketika membahas kak Rania dia pasti auto sedih dan merana.


"Mik, bukankah itu impian kamu, ditembak cowok? Tapi emang sih kalau kondisinya kayak kamu, pasti kamu akan bimbang. Antara menerima atau menolak. Sedih atau senang." Leni mencoba memahami perasaan Mika.


Mika malah meneteskan air mata. Dia sungguh sedih ketika teringat kak Rania. Saat ini, bagi Mika bertemu Dandi adalah penyesalan, seharusnya jika Dandi bakal jadi masalah dia gak perlu ketemu atau bahkan kenal dengan lelaki itu.


Leni menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu. Merasai kepedihan yang teramat dalam dari diri Mika.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Leni dan Mika bergegas keluar menuju halte setelah menyelesaikan transaksi dengan kasir cafe.


Mereka berpisah setelah turun dari bus dan angkot menuju rumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2