
Dandi menyibukkan diri di depan laptopnya, hari ini hari minggu. Mika sedang tak ada di kosan. Kemarin pukul 14.00 Dandi sempat melihat Mika di kebun samping mengambil jemuran. Mika sudah nampak rapi seperti saat Dandi membuntutinya sebelum naik bus tempo hari.
Dandi sudah tau jadwal sabtu Mika, Mika akan mudik ke kampung halamannya. Jadi Dandi tak perlu menunggu Mika di jendela kamar.
Tugas kampus sudah selesai Dandi kerjakan. Nanti siang diapun akan latihan seperti biasa dengan bandnya. Dandi yang iseng, berselancar di internet mencari lagu yang nanti akan ia cover saat latihan.
Hhhhhhh ternyata jomblo itu sangat nyaman, tak perlu membalas chat, mengangkat telpon maupun vcall, tak perlu menerima apapun kebaikan dari orang lain yang selalu berujung merepotkan.
Biasanya saat Dandi masih berstatus pacar orang, hanya hari Minggu hari dimana dia bisa menikmati me time nya tanpa gangguan orang lain. Dandi akan menonaktifkan Ponsel sejak pagi dan baru akan mengaktifkan saat sudah pukul 12.00 siang. Semua mantannya tau aturan itu. Mereka boleh menemui dihari lain selain hari minggu. Padahal biasanya, kan, kencan kekasih kebanyakan memilih hari minggu. Tapi itu tak berlaku untuk Dandi.
Saat ini adalah waktu terlama Dandi berstatus jomblo. Tepat 1 bulan setelah Dandi memutuskan Siska, pacar ke-16 nya. Biasanya setelah seminggu putus, pasti ada lagi wanita yang menyatakan cinta pada Dandi. Namun, setelah kejadian Vanya tempo hari, agaknya para wanita menjadi takut melangkah.
***
Kampus mulai riuh, hari sibuk sudah dimulai, hampir semua ruangan dari semua gedung fakultas terisi. Awal pekan memang padat jadwal perkuliahan. Dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore masih akan ada banyak mahasiswa bersliweran di area kampus.
__ADS_1
Di gedung fakultas seni dan design pun sama, hampir semua ruangan berisi mahasiswa yang sedang mengenyam ilmu. Hanya ada segelintir orang berlalu lalang di koridor. Di gedung 4 lantai tersebut ada 3 wanita sedang berisik di depan studio lukis. Mereka sedang memanggil seorang mahasiswa berkacamata yang duduk di depan sebuah ruangan kelas tak jauh dari posisi mereka. Setelah sesosok pria pendek mendekat, seorang gadis cantik memberikan intruksi pada mahasiswa tersebut, sementara dua gadis lain hanya memperhatikan.
Ketiga gadis tersebut kembali ke ruangan lukis. Dalam ruangan tersebut ada beberapa gadis, 1 pria juru kamera dan rangkaian bunga serta dekor bernuansa cinta. Rupanya, Vanya mahasiswi Fakultas seni dan design semester 2 yang mengaturnya. Vanya merupakan putri kesayangan rektor Universitas Cendekia, jadi mudah saja baginya mengatur apa yang ia ingin di kampus.
Ruangan yang Vanya design berada di ujung gedung lantai 2. Studio lukis disulap Vanya and the gank. Ruangan yang dikelilingi kaca itu ditutup rapat dengan gorden. Di dalam begitu meriah, diluar sunyi senyap.
Vanya menyiapkan semua untuk Dandi, seniornya. Vanya tertarik dengan sosok Dandi sejak awal ia menapakkan kakinya di Kampus pimpinan sang Ayah. Sesuai gosip yang beredar Dandi tak pernah menolak gadis yang menyatakan cinta padanya. Jadi Vanya hanya butuh mengesampingkan gengsi sebentar supaya bisa menjadi pacar Dandi.
Lagipula pengorbanan harga diri yang harus Vanya tebus adalah Dandi yang memang rupawan, tenar dan mempesona. Tidak ada ruginya. Dandi bisa jadi sumber kebahagiaan tersendiri. Seperti kepuasan piala bergilir. Dan memang tak sedikit wanita mulai bertaruh untuk sesiapa pacar baru Dandi, jika wanita itu bisa menaklukan hati Dandi dan menjadi pacar yang dicintai Dandi, maka mereka akan benar-benar mengakui kecantikan dan kepopulerannya. Bahkan beberapa mempertaruhkan sejumlah uang. Sungguh menggelikan.
Vanya rupanya bukan hanya tertarik untuk menjadikan Dandi pacar, tapi dia juga mempertaruhkan harga dirinya demi status gadis terpopuler pendatang baru di kampus Cendekia. Seseorang pernah memantik emosi Vanya saat mengatakan slogan "Bukan wanita cantik dan populer jika belum menjadi kekasih hati Dandi Hilman". Hal tersebut membuat hasrat ketertarikan pada sosok Dandi berubah menjadi ambisi.
Sepertinya semua wanita populer di kampus sudah pernah mencoba membuat Dandi jatuh hati, sayangnya gagal. Apakah sekarang Vanya bisa menaklukkan Dandi? Vanya selalu berkata dia bisa. Bagaimanapun Vanya bukan gadis biasa, selain putri sang rektor, Vanya memiliki garis senyum yang mampu membuat para pria jatuh cinta dalam sekejap. Rambut blonde lurus sepinggang, wajah tirus cantik, tubuh ramping, dan kulit yang luarbiasa mulus terawat sudah barang tentu bukan tandingan wanita populer manapun, sekallipun para seniornya.
Vanya punya kelebihan. Dan Vanya yakin Dandi pasti bisa dia taklukkan. Meskipun Vanya hanya sekedar mempraktekkan kesombongannya saja. Bukan tulus mencintai dari hati. Teman-teman Vanya bahkan sudah menyiapkan pesta celebration bersatunya sang pangeran dan putri di sebuah cafe malam ini. Mereka sudah memastikan jika Dandi dan Vanya bersatu maka akan jadi pasangan paling serasi di kampus ini. Dandi yang tampan berpadu dengan Vanya yang cantik, pasti akan menjadi cover majalah paling bikin iri seisi kampus.
__ADS_1
***
Matahari mulai meninggi, Dandi dan Robi barusaja keluar dari kelas. Hari ini Dandi masuk kuliah pagi hingga siang. Berjam-jam di kelas rasanya sangatlah penat. Namun, setiap kali penat itu menghampiri Dandi, Dandi selalu memandangi wajah lucu Mika dalam wallpaper ponselnya sebagai obat. Sepenat apapun Dandi, ia akan segera tersenyum.
Seorang mahasiswa menghampiri Dandi dan Robi. Lelaki tersebut mengatakan jika dosen Maharani ingin bertemu Dandi di ruang lukis. Dandi mengenal bu Maharani yang tak lain adalah tantenya. Adik ipar mama, tante dari sisi Ayah Dandi.
Tumben Tante Rani mau ketemu aku di kampus. Apa tante butuh bantuan aku? Dandi tak menaruh curiga.
Sedang mahasiswa yang sudah berlalu tadi hanya asal comot nama dosen sesuai permintaan Vanya. Tidak satupun mahasiswa/i yang tahu kebenaraan hubungan salah satu dosen seni dengan pria paling populer di kampus ini.
Dandi berjalan menuju tangga menuju lantai bawah, kelas Dandi hari ini berada di lantai tiga. Saat menuruni tangga Robi masih berada di samping Dandi bahkan menawarkan diri menemani Dandi. Dandi menolak dan menyuruh Robi pulang duluan, karena Tante Rani mungkin akan menyampaikan sesuatu. Robi dan Dandi berpisah di bibir tangga lantai 2. Dandi bersiap menuju ruangan di samping tangga turun itu. Ada mahasiswa berkacamata penyampai informasi di depan studio lukis.
Dandi tanpa menaruh curiga masuk, dan hilang dibalik pintu. Robi masih memperhatikan mahasiswa berkacamata yang tiba-tiba mengunci pintu dari luar. Gelagatnya mencurigakan. Tak berselang lama gerakan 3 kali di handel pintu terlihat, seperti ada yang menggerakkannya dari dalam.
Robi mendekat ke pintu, namun mahasiswa pendek itu menghalangi. Sempat adu mulut dan adu kekuatan beberapa menit sebelum akhirnya Robi berhasil membuka pintu.
__ADS_1