
Sesosok gadis cantik dengan rambut blonde terurai sedang duduk di depan cermin. Mala di belakangnya sedang membantunya menyisir rambut. Sedang tangan gadis itu sedang sibuk memilih warna polesan untu kelopak mata dan pipinya.
"Mala... gue grogi banget, nih." Gadis itu melihat Mala dari pantulan cermin.
"Non Adis cantik banget malam ini, jadi gak perlu grogi", Mala memanggil Vanya dengan panggilan yang semestinya jika di rumah. Itulah aturan dari Vanya, Mala boleh memanggil Vanya hanya jika di luar rumah, selebihnya jika di dalam rumah Mala tetaplah anak pembantu yang juga wajib memanggil dia non Adis.
"Bener juga ya. Gue cantik, jadi gak perlu gue grogi ketemu cowok itu di sini. Ini rumah gue. Jadi gue ratunya," Kali ini senyum menyeringai muncul di wajah Vanya.
Mala hanya menghela napas. Terserahlah. Kamu memang ratunya. Batin Mala.
Malam ini Mala diminta langsung oleh Vanya untuk datang dan menginap di rumah. Vanya ingin Mala menyaksikan kecantikannya yang dengan mudah akan menaklukkan Dandi. Vanya masih merasa di puncak. Dia masih sangat yakin jika Dandi akan bertekuk lutut di hadapannya.
Pukul 19.00.
Seorang pembantu mengetuk kamar Vanya.
"Non, Adis. Tamunya sudah datang"
"Iya. Sebentar". Mala yang menjawab.
Vanya sudah mengakhiri polesan terkahir di wajahnya. Dia berdiri sembari melihat penampilannya dari sisi kanan, kiri depan dan belakang.
"Sempurna," seru Vanya.
Gadis dengan tinggi 185 cm itu, sudah siap dengan gaun merah di atas lutut. Sepatu high heels senada ikut memeriahkan malam ini. Parfum yang dia beli dari paris bulan lalu pun tak luput dari jangakauan tangannya. Semprot 3 kali lali pergi menuju pintu.
"Mala, Lo jangan lupa rekam kami. oke." Vanya tersenyum.
Pak Vander sudah ada di pintu masuk menyambut tamu yang ditunggu-tunggu.
"Hei... Van. lama kita gak ketemu." Randito memeluk karibnya.
"Iya. Kamu gemukan ya, Ranti pasti sangat pintar mengurus kamu" Vander menatap Bu Ranti yang berada di samping Randito.
"Bisa aja kamu Van."Ranti menjawab dengan senyum.
"Ayo. masuk-masuk". Vander mempersilakan kedua tamunya masuk.
__ADS_1
"Hallo tante, Hallo om," Vanya yang baru tiba menyalami kedua tamu. Vanya nampak celingukan mencari sosok Dandi.
Ranti yang menyadari itu berkata, " Maaf nak, Dandinya gak bisa datang. Dia ada latihan sama teman-temannya"
"Oh, iya tante," Wajah Vanya berubah masam.
Kurang aja banget cowok itu, dia gak datang diundang sama papa. Awas aja. Huft. Percuma gue dandan semaksimal ini. Vanya menggerutu dalam hati.
"Mari-mari kita duduk di teras samping," Pak Vander menepuk bahu Randito membersamai langkahnya menuju teras samping. Ranti dan Vanya mengikuti.
Vanya masih berdiri di samping pintu dengan raut wajah cemberut. Wajahnya terlihat sangat kecewa. Pak Vander menghampiri Vanya.
"Adis, ayo duduk," Vander merangkul Vanya dan menuntun gadis itu duduk di sampingnya.
"Dito, seharusnya kamu ajak putramu kemari. Lihat, putriku bahkan sudah berdandan cantik untuknya," Vander tersenyum mengatakan itu.
"Maafkan anak kami, Van. Kami sudah ajak dia tapi dia sedang ada kesibukan lain. Dia hanya menitip salam untuk putrimu yang cantik ini," Pak Randito memberi alasan.
"Benarkah?" Vanya nampak girang.
Vanya berpindah duduk di samping Ranti. Vanya tetiba menggenggam tangan Ranti erat. "Tante, aku cantik tidak malam ini?" Sifat kekanakan Vanya muncul. Dia merasa nyaman dengan kehadiran Ranti, memang setelah mamanya meninggal beberapa tahun silam, dia amat sangat merindukan sosok keibuan seperti Ranti. Namun tak mengijinkan papanya menikah lagi.
"Tentu saja, Kamu sekarang bahkan lebih cantik dari pertemuan terakhir kita setahun lalu. Sangat cantik dan berbeda," Ranti memuji sembari menepuk-nepuk punggung tangan Vanya.
Vanya tersenyum tersipu. "Terimakasih, tante"
Rasa kesal di hati Vanya atas ketidak hadiran Dandi lambat laun menghilang, dia benar-benar keasikan ngobrol dan memanja di samping Ranti.
Makan malampun berjalan dengan lancar, Vanya mengobrol semalaman dengan Ranti, sedang Randito dan Vander mengobrol tentang bisnis dan perjodohan.
"Tante, jangan pulang ya, nginep sini aja," Vanya menggenggam tangan Ranti dan meminta dengan manja. Ranti dan Randito sudah berada di teras depan untuk pamit. Penjaga rumah sudah membawa mobil Randito dan menunggunya sembari membukakan pintu.
"Next time saja sayang, Tante pasti lain waktu akan main lagi ke sini. Jika kamu butuh ngobrol jangan ragu telfon tante ya," Ranti dengan hangat menyambut kerinduan Vanya terhadap sosok ibu.
Ranti sangat memahami perasaan Vanya. Dia pasti rindu sosok mamanya. Sedang Ranti sejak muda sudah sangat mengenal mama Vanya, dulu mereka sering bertemu dan mengobrol banyak. Saat Vanya kecil Rantipun sering mengajaknya bermain bersama Dandi. Namun, itu kenangan yang sangat lama. Kini, rasa kasih Ranti ke Vanya lebih ke simpati terhadap almarhumah mamanya. Ranti kasihan melihat vanya yang besar tanpa ibu.
"Ok, tante. Pasti" Vanya tersenyum senang.
__ADS_1
Gue akan jerat Dandi dengan dukungan mamanya. Lihat aja Dandi Hilman. Kau tak akan bisa berkutik.
***
Pukul 20.10 Dandi sudah kembali ke kosannya.
Dandi merebahkan diri di kasur. Dandi sedang melihat hasil jepretan candid wajah Mika di ponselnya. Dan menemukan satu siluet sempurna tubuh Mika berlatar matahari terbenam yang cantik.
Tanpa Ragu Dandi mengupload gambar tersebut di instagramnya. Beberapa like dari pengikut Dandi segera bermunculan.
Tring.
Sebuah pesan masuk.
Mika? Akhirnya kamu ngirim chat duluan.
Dandi tergelak membaca chat Mika, dan langsung membalasnya.
Hutang? Mika, Mika... semua pemberian kakak kamu anggap hutang. Oke. baiklah. Kakak akan membuat kamu berhutang banyak pada kakak. Sampai-sampai kamu tak sanggup membayarnya. Senyum menyeringai muncul di wajah Dandi.
Cukup lama Dandi menunggu balasan. Dia sempat melihat-lihat lagi hasil poto di ponsel. Lalu, 1 chat masuk.
Mama mengirim 1 foto, foto mama dengan Vanya. Dandi mengabaikannya.
Lalu Mika membalas pesan. Dandi tersenyum. Dia langsung membalas chat Mika.
Dandi semakin tergelak saat Mika mengancam akan memviralkan fotonya.
Saat ini bahkan Dandi sudah tidak perduli, apakah foto konyolnya bersama Maura dan Key akan tersebar atau tidak. Dandi sudah tak ingin lagi jaga image. Baginya prioritas penilaian semua terfokus pada pandangan Mika. Jika Mika senang melihat Dandi berfoto konyol dia akan melakukannya tanpa ragu. Dan mengabaikan pandangan orang lain.
Dandi dengan iseng mengetikkan kata 'sayang' dan emotikon Love di pesannya. Dia ingat Mika tak protes saat dipanggil sayang tadi sore. Jadi dia pikir akan baik-baik saja. Namun ternyata Mika marah dan tak ingin menemui Dandi lagi.
Dandi mengirim banyak chat permintaan maaf dan janji tak akan mengulangi lagi. Banyak chat. Karena Mika tak membaca satupun chatnya. Akhirnya Dandi memberondong Mika dengan Panggilan-panggilan yang juga nihil tanpa jawaban.
Dandi yang tadinya senang, kini gusar dan khawatir. Seperti seorang kekasih yang sedang diancam putus oleh pasangan yang sangat dicintainya. Akhirnya Dandi menyerah. Dia mengirimkan chat selamat tidur untuk mengakhiri chatnya malam ini.
Mika, baiklah 2 minggu ke depan aku tak akan menganggumu. Kita lihat apakah kamu akan terkejut nanti. Dandi memeluk ponsel yang masih menampakkan wajah Mika di layarnya. Lalu tertidur lelap.
__ADS_1