
Sore hari pukul 16.30.
Sebuah mobil mewah berplat khas kota XX terparkir di depan Asrama cepek. Dua orang wanita turun dengan elegan, mereka berdua terlihat sama-sama cantik, elegan dan modis meskipun umurnya sudah tidak muda lagi.
"Nay, ada berapa anak yang tinggal di sini sama Dandi?" Seorang wanita memulai pembicaraan sembari melangkah masuk.
"Sebelas sama Dandi Mbak, tapi rata-rata anak SMA mbak, yang anak kuliah cuma ada 2 selain Dandi", Wanita pemilik kos menambahkan.
"Itu motor Dandi, kan?" Wanita itu menunjuk sebuah motor sport di sebelah hunian terpencil yang nampak dari kejauhan.
"Iya, Mbak Ranti. Itu artinya Dandi ada di kosan", Nayla menambahkan.
Langkah keduanya sudah mendekat ke kamar spesial bercat abu hitam. Seorang wanita bernama Ranti itu segera memutar handel pintu, namun tak bisa dibuka. Lalu mengintip ke dalam jendela.
"Gak ada orang, Nay, ini bener kamarnya Dandi?" Ranti berbalik menghadap adiknya.
"Iyakah mbak, coba aku cek", Nayla mengambil kunci serep dalam tas kemudian membuka pintu tersebut, nihil, tak ada siapapun di kamar.
__ADS_1
"Coba mbak telpon anaknya aja, deh, Nay", Wanita cantik itu mengambil ponsel dan melakukan panggilan.
"Halo ma," suara di seberang.
"Dandi, kamu di mana? Mama lagi ada di kosan kamu sama tante Nay." Suara wanita itu lembut terdengar.
"Mama di kosan? Kapan mama dateng?" Dandi mulai panik.
"Tadi siang, sama papa, tapi papa gak ikut ke sini, kamu di mana? Kenapa motor kamu ada di kosan? Tapi kamunya gak ada, Kamu pergi kemana?" Mama Dandi bicara dengan nada khawatir.
"Di luar kota, ngapain? Kok kamu gak bilang sama mama atau tante Nay dulu? Kamu sama siapa?" Mama makin khawatir.
"Sendiri aja ma. Cuma sebentar kok, ma, ada perlu dikit, ini Dandi lagi perjalanan pulang naik bus. Lagian mama, kan, gak bilang mau dateng."
"Iya, papa dapat undangan makan malam dari temannya. Makanya dadakan ke sini. Kamu kenapa gak minta dianter supir tante Nay aja, Dan. Emangnya kamu bisa naik bus," Mama Dandi makin ngaco. Wanita itu khawatir karena seumur-umur anaknya memang tak pernah naik angkutan umum. Apalagi ini bus umum yang kemungkinan besar ada tindak kejahatan di sana. Saat terakhir studytour SMA saja, mama sampai khawatir, dan mewanti-wanti para guru pendamping agar menjaga anaknya dengan baik.
"Ya bisa, lah, Ma, kan, cuma duduk doang, udah mama gak usah khawatir, busnya jalannya pelan kok ini, gak ugal-ugalan. Nanti kalo Dandi udah sampe Dandi kabarin lagi. Dah, mama", Dandi mengakhiri telpon. Dandi memang selalu jadi anak manis untuk mamanya, meskipun Dandi jarang sekali pulang untuk menemui mama dan papanya yang selalu sibuk.
__ADS_1
Mama Ranti menggenggam ponselnya cemas.
Tante Nayla di sampingnya merespon, "Dandi, dimana, mbak?"
"Di luar kota katanya, ini lagi perjalanan pulang naik bus umum, 2 jam lagi baru sampe", Mama Ranti menampakkan wajah khawatir. Lalu mata Ranti mendekat ke jendela permanen.
"Nay, rumah di sebelah kosan wanita atau pria?" Mama Ranti mengamati dari tempatnya berdiri. Sebuah rumah bercat pink, memanjang ke belakang, jika dilihat dari jendela, bangunan itu hanya akan menampakkan tembok pink panjang dan satu pintu di belakang serta kebun yang cukup luas. Sebagian kecil pohon besar, sebagian besar semak dan bunga-bunga. Juga nampak tempat jemuran yang hanya terlihat ujungnya saja. Sementara di dekat jendela Dandi nampak pohon jambu rindang berdaun lebat, rerumputan hijau di sekitar pohon pun sudah memanjang. Pohon jambu air itu emang sedikit menghalangi pandangan ke seluruh kegiatan penghuni samping. Namun, gundah masih menyelimuti hati mama Dandi.
"Kosan wanita, mbak," Nayla pun mendekati jendela.
"Apa gak beresiko jika jendela ini ada di sini, nanti dikira Dandi ngintip, loh, sama penghuni kos sebelah"
"Gak papa, mbak, aku udah cek anak-anak sebelah, gak ada yang aneh-aneh, kok, mereka sopan semua dan lagipula jendela ini buat pencahayaan alami kamar ini. Jendela ini, kan, jika dari luar hanya kaca hitam pekat mbak, tak akan terlihat apapun. Jadi aman." Tante Nay menambahkan.
"Baiklah. Ayo kita tunggu Dandi di rumah kamu aja," Mama Ranti dan tante Nayla berlalu setelah mengunci dan meninggalkan asrama cepek.
Dandi, kamu ini, selalu saja bikin mama khawatir. Mama Ranti
__ADS_1