
Sebuah pemandangan yang membuat Verrel harus menelan salivanya berulang kali. Hingga jakunnya naik turun seperti ingin keluar dari tenggorokannya.
Sial! Kenapa gadis itu begitu sexy? Sadar Rel pernikahan ini hanya pura-pura saja! Meski dia sexy, tapi ia tidak bisa menggeser posisi Amelia di hatiku. Sesakit apa pun perbuatan Amelia padaku di masa lalu, tetap namanya terpatri indah di hati ini.
Batin Verrel berusaha menyakinkan hatinya berulang kali. Bahwa tidak ada perempuan lain di hatinya selain Amelia sang mantan kekasih. Dan lagi, pernikahannya bersama Viana hanyalah sandiwara agar mamanya berhenti menjodoh-jodohkannya dengan wanita lain yang tidak ia cintai.
Verrel berusaha mengabaikan keberadaan Viana yang malam itu memakai gaun pengantin yang menampakan bahu mulusnya. Apalagi Viana tidur terlentang dengan kedua tangannya keatas kepala. Membuat keseksian gadis itu bertambah berkali-kali lipat.
Shiit!!
Verrel mengumpat beberapa kali, sebagai pria matang yang dewasa tentu saja nalurinya sebagai laki-laki keluar begitu saja. Tentu laki-laki mana yang tidak tergoda dengan pemandangan yang begitu menggairahkan? Begitu halnya dengan Verrel.
Lengan Verrel terulur untuk menyentuh bahu gadis itu yang nampak mulus meski tanpa perawatan. Tentu saja Verrel tahu, dari mana gadis penjambret itu punya uang banyak untuk memoles tubuhnya? Namun, nyatanya kulit gadis itu memang semulus itu membuat jakun Verrel naik turun tak beraturan.
Glek!
Verrel mengumpat kembali dalam hati. Lalu sejurus kemudian ia menarik selimut sampai batas leher tubuh gadis itu.
Sungguh godaan yang hampir membinasakan imannya. Harusnya kini Verrel bisa menikmati malam pertama bersama istrinya seperti yang orang-orang fikirkan. Namun tidak ada yang tahu bahwa pernikahan yang ia jalani hanya sebatas pernikahan kontrak yang ia buat sendiri.
Akhirnya malam itu, terpaksa Verrel tidur di lantai berlapiskan kasur bulu yang empuk. Karena selama tinggal di mansion mamanya, tentu saja tidak mungkin ia tidur terpisah. Verrel berencana tinggal di apartemen agar sandiwara mereka tetap aman sampai masa kontrak itu habis.
Sementara Viana menguasai ranjang king size miliknya. Tubuh pria tampan itu juga mulai lelah, dan tak lama Verrel pun ikut terlelap ke alam mimpi menyusul Viana yang lebih dulu terlelap.
*
__ADS_1
*
Viana pun mengerjap-ngerjapkan bulu mata lentiknya yang masih berpoles make up sisa-sisa semalam. Lalu mengelap sesuatu pada area mulutnya yang di rasa banjir oleh gadis itu.
Seperti biasanya, Viana merentangkan tubuhnya sebelum bangun. Entah karena efek kelelahan atau bagaimana, hari ini Viana nampak malas untuk bangun seolah ada paku tak terlihat yang menancap di tubuhnya.
Alarm Verrel pun berbunyi, dengan sigap Verrel mematikannya. Lalu berusaha mengumpulkan kesadaran sebelum beranjak.
Melihat Viana masih mendengkur bagaikan kebo membuat Verrel menggerutu dalam hati.
Cckk! Dasar gadis malas, aku harus membangunkannya. Apa kata mama nanti, menantunya malas begini! Menyusahkan saja.
“Hei! Gadis tukang ngebo! Bangun sudah pagi, ingat tugasmu sebagai istri bagaimana?” ucap Verrel asal.
“Kakak masih ngantuk Tino, badan kakak rasanya mau patah. Lima menit lagi kakak bangun,” racau Viana.
Mendengar ancaman Verrel yang terasa nyata di indera pendengaran Viana, membuat gadis itu seketika bangun dengan rambut singanya.
“Hei pria mesum! Ngapain lo ada di kamar gue?!” pekik Viana yang belum sepenuhnya sadar. Jiwa preman dalam diri Viana pun mendadak muncul.
“Pria mesum kau bilang? Sadar, woi..melek matanya. Ini ada di mana?” sentak Verrel balik.
Seketika Viana hanya menyengir dengan wajah tanpa dosanya. Viana baru sadar jika semenjak semalam, ia sudah terikat kontrak pernikahan dengan bujang lapuk yang ada di hadapannya saat ini. Bahkan gaun pengantin pun masih melekat pada tubuhnya.
“Segera bangun dan layani aku seperti istri melayani suaminya. Ingat! Aku pun juga memberikan nafkah untukmu, jadi hakku untuk minta di layani balik.”
__ADS_1
“Melayani?”
Viana nampak cengo di tempat. Kata-kata ‘Melayani’ begitu menyita fikiran Viana. Hingga gadis itu terburu-buru mengambil kembali surat perjanjian yang mereka buat kemarin untuk membaca kembali poin-poin yang harus ia pelajari.
“Oh..begitu, aku fikir aku fikir aku harus melayani bagaimana. Ternyata oh..ternyata,” gumam Viana yang merasa konyol sudah membayangkan sesuatu.
Kini Viana dan Verrel pun sudah berada di meja makan bersama Mama Venna.
“Jadi istri itu harus bangun pagi, terus nyiapin sarapan dan kebutuhan suami bukannya ngebo terus kaya kebo,” sindir Verrel tanpa menoleh kearah Viana.
Viana yang merasa tersindir pun hanya mengerucutkan bibir bawahnya. Sambil menekuk wajahnya dalam-dalam.
Mendengar ocehan putranya tentu Mama Venna pun tergelak. Bukannya ikutan marah, namun beliau berusaha memaklumi. Memang kebanyakan yang di rasa pengantin baru begitu, seperti halnya Mama Venna dulu.
Selalu lupa jika statusnya sudah berubah menjadi istri seperti halnya Viana. Yang baru saja bangun kesiangan. Sehingga gadis itu tidak sempat untuk membantu Mama Venna membuatkan sarapan.
“Verrel...Verrel, perlahan-lahan dong wajar jika Viana seperti itu. Karena pada dasarnya Viana belum terbiasa dengan status barunya, seperti mama dulu juga begitu,” bela Mama Venna sambil menatap kearah Viana yang menekukan wajah cantiknya.
“Maafin Viana, Viana akan mulai belajar dari sekarang.”
“Sudah, jangan dengerin Verrel Viana. Ayo nambah lagi sarapannya, jangan lupa susunya juga di minum ya.”
“Baik tante.” Sejurus kemudian Viana meraih susu dalam gelas itu dan mulai meminumnya.
“Jangan tante, mama dong kan Viana sudah jadi anak mama sekarang. Oiya..itu susu bagus buat menyuburkan rahimmu agar kalian segera dapat momongan,” ucap Mama Venna dengan santai dan riang.
__ADS_1
Byyuuurr!
...Bersambung......