Jambret Cantik

Jambret Cantik
Keluarga Baru


__ADS_3

“Nah! Itu dia kakekku!”


Atensi Viana teralihkan dari makanan ke arah tapak suara sepatu yang terdengar begitu nyaring di ruangan yang begitu luas itu.


Tak!


tak!


tak!


Jantung Viana seakan berdetak mengikuti suara sepatu yang bergesekan dengan lantai sehingga menimbulkan suara yang begitu nyaring untuk di dengar. Rasanya seperti akan bertemu dengan calon mertua saja. Fikir Viana mengedumel di dalam hati.


Sreg!


Terdengar decitan kursi yang di tarik untuk memberi ruang sang tuannya untuk masuk dan menduduki tempatnya. Viana hanya menunduk saat kakek Dany sudah duduk di depannya tepat menghadap kearah Viana.


Mati aku! sepertinya kakek Dany lagi perhatiin aku. Aku harus bagaimana ini? Apa lebih baik ku sapa saja dulu?


“Selamat makan kakek,” ucap Dany dan langsung di ikuti oleh Willy pula.


“Selamat makan Kakek Ali.”


Dan benar ternyata pandangan kakek Dany tertuju kepada Viana. Wanita asing yang tiba-tiba saja ikut makan dalam satu meja dengan keluarga Rajasa.


Kakek Dany pun mendelik kearah Dany meminta penjelasan. Dany pun menyenggol siku Viana yang masih saja menunduk.


“Apa?!” tanya Viana lirih.


“ Ucapkan selamat makan kepada kakekku,” bisik Dany kemudian.


“Oh.”

__ADS_1


“Selamat makan kakek.”


Kakek Dany pun membalas sapaan Viana dengan singkat, padat dan jelas.


“Selamat makan.” balas kakek Dany dengan tegas.


Viana pun baru mengerti, kehidupan seperti ini kan yang ingin Dany hindari? Bayangkan mereka ingin makan saja, harus di temani para maid yang harus siap siaga di sisi mereka masing-masing. Lalu sebelum makan, mereka harus mengucapkan ‘selamat makan’ kepada yang lebih tua di meja makan itu.


Pantas saja Dany memilih menjadi orang biasa saja. Ternyata kehidupan orang kaya lebih rumit dan banyak aturan bagi dirinya yang hanya orang biasa saja.


Makan malam pun berjalan dengan kidmat. Meski di selingi pertanyaan-pertanyaan membunuh dari kakek Dany yang begitu teliti, tegas dan berwibawa.


“Kamu bisa memakai kamar bekas orang tua Dany yang berada di lantai atas, di samping kamar Dany jika kau mau Viana. Rumah ini terlalu besar jika hanya untuk kami berdua, Dany kan jarang pulang,” ucap sang kakek sambil menyindir cucunya Dany yang jarang sekali pulang karena pekerjaannya saat ini .


“Oh..iya, dengan senang hati kek.”


“Ssst! jangan panggil aku kakek. Panggil saja grand pa, panggilan Kakek itu nampak terlalu tua bagiku,” sanggah kakek Dany yang bernama Tuan Ali Rajasa.


“Baiklah kek, ah maaf ...grand pa. Saya permisi dulu untuk mengurus bayi saya.”


“Oh..iya siapa nama bayimu Viana?” tanya kakek Ali lagi.


“Namanya....Vier putra Bramanstya grand pa.”


“Baiklah, mulai hari ini Vier anakmu jadi cicitku juga. Salahkan Dany, yang masih betah membujang saja,” sindir kakek Ali lagi.


“Tentu saja grand pa, terima kasih banyak.”


Kakek Ali pun mengganggukan kepalanya. Lalu tatapan garang pria paruh baya itu layangkan ke arah sang cucu.


“Dany, ikut kakek! Kita harus bicara empat mata sekarang!”

__ADS_1


Dany pun mengikuti langkah sang kakek dari belakang ke arah taman belakang mansion. Di ruang santai yang sengaja dibuat di tengah-tengah taman itu. Kakek Ali mulai mendudukan bokongnya dan di ikuti oleh Dany.


“Katakan siapa Viana sebenarnya? Tiba-tiba saja kau pulang dan membawa anak serta istri. Kau tahu jika orang-orang sampai tahu kau sudah menghamili wanita di luar nikah? Usaha orang tuamu bisa saja hancur Dany!”


Seperti dugaannya, sang kakek bakal menyidangnya dengan mengajaknya berbicara secara empat mata. Karena tiba-tiba saja membawa seorang wanita dan anak. Kakek Ali fikir Viana adalah kekasih Dany yang sudah Dany hamili di luar nikah.


“Kek, dengarkan penjelasan Dany dulu. Viana bukanlah pacar Dany. Sebenarnya Viana itu..”


Dany pun mulai menceritakan sebenarnya hubungan Viana dengan dirinya. Dan juga Tentang pekerjaannya yang sekarang. Sedangkan kakek Ali pun nampak manggut-manggut menanggapi apa yang Dany ceritakan.


“Pantas saja, nama putra Viana nampak tak begitu asing di telinga kakek. Ternyata dia istri dari penerus Bramanstya. Dan anehnya lagi, kamu membawa kabur istri orang?”


“Astaga! Dany...Dany, kakek tidak paham jalan fikiranmu. Padahal kamu tinggal menjalani usaha kedua orang tuamu yang terbengkalai itu. Dan kamu tidak perlu jadi pelayan orang lain, tapi terserahmu sajalah. Darah mudamu memang sedang bergejolak, tapi satu pinta kakek untukmu Dany. Jika suatu saat waktunya telah tiba, bersiaplah! Mengerti!” tegas kakek Ali.


“Baik, mengerti kek.”


“Oh..iya, jika di lihat-lihat Viana itu cocok juga denganmu. Andai Viana itu istrimu, karena jika ku lihat Viana itu selain cantik ia bukan cewek matrealistis,” puji kakek Ali.


“Masa sih kek?”


“Loh kenapa wajahmu memerah seperti itu? apa kamu benar menyukainya?”


“Tidak, Viana tidak menyukaiku kek.”


“Kasihan, yang sabar ya. Kakek aja sudah pernah di tolak 20 kali oleh seorang gadis. Sampai akhirnya, gadis itu menyerah. Mungkin sudah bosan, akhirnya menerima cinta kakek juga, ha...ha..” kelakar kakek Ali.


“Mending kakek di tolak setelah menyatakan perasaan kakek, Dany belum bilang apa-apa udah di tolak duluan .”


Kedua pria beda generasi itu pun akhirnya tertawa terpingkal-pingkal. Pria paruh baya yang tadinya nampak angkuh dan menyeramkan itu ternyata mempunyai sisi yang humoris.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2