Jambret Cantik

Jambret Cantik
Tawaran yang menyudutkan


__ADS_3

Viana menatap ranjang tidur yang nampak nyaman jika di tiduri. Kerangka ranjang yang nampak kokoh serta di lengkapi ukiran yang cantik membuat ranjang itu terlihat klasik namun elegan. Serta busa kasur yang sangat empuk.


Ruangan ini nampak lebih nyaman di bandingkan apartemen Verrel mau pun Dany. Dan di ruangan itu terdapat pintu yang menghubungkan kamar itu ke arah balkon kamar. Dan dari balkon itu, Viana mampu melihat pemandangan yang sangat memanjakan mata.


Di hadapannya ada hamparan rumput jepang yang sangat luas. Serta taman yang di tumbuhi berbagai bunga kertas warna warni yang sangat indah. Dan lagi di tengah hamparan bunga-bunga itu, ada kolam air mancur yang sangat cantik. Viana benar-benar menikmati suasana itu.


Viana juga bersyukur, ternyata keluarga Dany lebih tepatnya kakek Ali Rajasa adalah orang yang bijak dan sangat menghargai orang lain seperti dirinya meski tidak jelas asal-usulnya.


Di saat Viana tengah menikmati pemandangan yang menyilaukan mata, tiba-tiba Baby Vier menangis.


Ooeeekk!


Ooeeekk!


“Uch...sayang mamah, mamah di sini sayang jangan takut. Kamu haus ya?”

__ADS_1


Lalu Viana pun membuka kancing kemejanya paling atas dan mulai untuk menyusui baby Vier. Di pandanginya bayi tampan itu sambil menyusui.


Sorot mata baby Vier sangat mirip dengan Verrel. Bahkan garis wajah serta bentuk hidungnya sama persis seperti Verrel. Melihat baby Vier saja, cukup membuat Viana mengingat malam itu.


Malam dimana kehormatannya di renggut oleh suaminya sendiri. Saat itu Verrel masih meneriakkan nama kekasihnya Amelia di sela penyatuan mereka. Di situlah hati Viana merasa sakit bukan main merasa tidak penting. Karena itulah ia memutuskan untuk pergi dan bersembunyi.


“Sayang, percayalah mamah akan berusaha merawat dan membesarkanmu meski tanpa ayahmu di sisi kita,” ucap Viana dengan lembut ke arah putranya yang masih asyik meminum air kehidupan darinya.


Ceklak!


Pintu ruangan itu pun terbuka membuat Viana buru-buru menyudahi aksi menyusuinya. Beruntung, putranya kembali tertidur. Sehingga tidak sulit baginya untuk melindungi aset berharganya kembali dari pandangan orang lain.


“Oh..tidak..tidak kok, kebetulan baby Vier sudah tertidur Dan. hmm ..ada apa memangnya?” tanya Viana.


“Aku hanya ingin menanyakan, apakah kamar ini terasa nyaman untuk kalian berdua? Jika tidak, aku bisa minta maid untuk menyiapkan kamar yang lain,” tawar Dany.

__ADS_1


“Oh..tidak, ini sudah lebih dari nyaman Dany. Terima kasih sudah mau menampung tunawisma sepertiku. Apalagi memberikan tumpangan yang super mewah ini. Aku jadi kan merasa insecure sendiri.”


“Apaan sih, semua ini hanya barang-barang peninggalan kedua orang tuaku. Dan aku bertekad akan mengumpulkannya dari hasil jerih payahku sendiri tentunya. Karena aku tak ingin di cap sebagai pewaris,” sanggah Dany seraya tersenyum.


“Kamu memang pekerja keras ya Dany. Pantas saja Verrel memilihmu jadi asistennya. Emm...ngomong-ngomong, apa Verrel dan Amelia masih berpacaran seperti dulu?”


“Mereka sih masih bersama, tapi entah hubungan mereka masih seperti dulu atau tidak. Amelia selalu mendatangi Verrel setiap waktu. Mereka masih makan di luar bersama, ya mereka masih suka pergi ke luar kota bersama seperti biasanya,” tutur Dany dengan gamblang.


“Oh.. begitu rupanya.”


Dany baru menyadari, jika ia sudah salah berbicara tentang Verrel. Dany hampir lupa, karena saat ini Viana sudah memiliki anak dari Verrel. Tentu saja perasaannya Viana pasti akan sakit mendengarnya. Padahal dulu mereka selalu berbagi cerita keluh kesahnya tentang Verrel. Namun kini keadaannya sudah berbeda.


“Viana, aku minta maaf. Bukan maksudku membuatmu sedih. Aku hanya....”


“Tidak apa-apa Dany, aku tahu aku ini siapa. Aku tak layak bersanding dengan orang penting seperti Verrel. Cukup aku saja yang sakit, dan aku tak ingin berharap lebih atas hidupku ini.”

__ADS_1


“Vi, jika Vier menanyakan ayahnya. Vier boleh memanggilku dengan sebutin daddy. Anggap saja aku ini ayah sambung Vier, tapi Itu pun jika kamu mengijinkan.”


Bersambung...


__ADS_2