
“Nona Viana, anda sudah bangun?”
Viana nampak cengo di tempat. Bukan ia tak mengerti apa yang di ucapkan pria itu, namun Viana justru merasa tidak asing lagi dengan pria di balik apron berwarna hitam itu.
“Mas...mas Dany?”
Ya pria berhodie yang menolong Viana itu adalah Dany asisten daripada Verrel suami kontraknya. Selama ini Viana tidak pernah tahu apa pun tentang pria pendiam itu. Ternyata di balik sikapnya yang dingin, Dany memiliki kemandirian yang baik.
Mungkin ini karena profesinya sebagai asisten yang di tuntun untuk selalu disiplin, jadi kebawa hingga ke kehidupan pribadi pemuda tersebut.
“Jangan panggil mas nona, panggil saja Asisten Dany,” interupsi Dany.
“Oh..baiklah, asisten Dany apa kamu ngontrak di sini?” celetuk Viana asal membuat Dany tersenyum samar.
Viana pun hampir terpukau saat melihat senyum Dany, senyum yang jarang pemuda itu tampakkan pada siapapun bahkan di hadapan atasannya Verrel.
“Saya tidak mengontrak nona, saya memang tinggal di sini di apartemen ini. Maaf jika apartemen saya kurang nyaman, bahkan tak seluas milik tuan Verrel nona.”
“Kata siapa? Gue suka kok harum dan rapi. Oiya..Dany berarti kamu yang sudah menolong gue semalam? Terima kasih ya, gue tidak tahu jika tidak ada kamu bagaimana nasib gue ke depan,” ucap Viana dengan wajah bermuram durja jika mengingat kepergiannya dari apartemen karena siapa.
“Sama-sama nona, memang tuan Verrel kemana nona? Semalam saya membawa anda pulang ke apartemen tuan Verrel tapi terkunci lalu saya pun berinisiatif membawa anda kesini,” ungkap Dany jujur.
“Dia sedang bermesraan dengan kekasihnya Amelia.”
Tutur Viana tanpa berekpresi. Wajah Viana nampak datar namun tercium rasa kekecewaan yang mendalam.
“Sama nona Amelia?”
“Sssstt! Jangan keras-keras Dany, lagian mereka berhak melakukan itu. Gue hanyalah istri di atas kertas bukan? Gue tak punya hak apa-apa untuk melarangnya.”
“Maaf non, saya mengerti perasaan anda. Untuk saat ini mungkin lebih baik nona Viana jalani saja apa yang dibuat oleh tuan Verrel demi keamanan nona Viana sendiri.”
__ADS_1
Disaat kedua sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba terdengar bunyi yang sangat keras.
Kruyuuk!
Kruyuuk!
Kruyuuk!
Suara lucnut itu sampai berbunyi 3 kali. Viana sampai merasa sangat malu di hadapan asisten Dany yang nampak terkekeh seraya menatap kearahnya.
“Anda lapar nona? Maaf, saya sampai lupa menawarkan makanan kepada anda? Mari duduk di meja makan,” ajak Dany kepada Viana yang masih berdiri mematung di ambang pintu.
“Silahkan masuk nona.”
Dany pun mengulang ucapannya kembali, lalu membuka kursi untuk Viana agar gadis kecil istri atasannya itu duduk.
Setelah duduk, Dany pun membalikkan piring yang sudah ia siapkan untuk di isi dengan beberapa hidangan yang sudah Dany masak.
“Benar nona.”
“Kok bisa? Apakah seorang asisten harus jago masak juga? Wah..beruntungnya pak Verrel ya punya asisten serba bisa,” puji Viana sambil mencomot udang tepung menggunakan garpu.
“Nona bisa saja, ini hanya kebetulan saja saya bisa masak karena selama ini kan saya hidup mandiri.”
Viana pun mulai menggigit udang tepung itu, dan satu gigitan saja sukses membuat Viana melayang.
“Hemm...sumpah! Ini enak banget Asisten Dany. Kamu hebat! Lah kenapa kamu tidak makan?” Viana pun bertanya dengan mulut yang penuh.
“Nona Viana hati-hati makannya, nanti anda bisa tersedak,” peringat Dany lagi.
“Ayo makan, kenapa kamu hanya berdiri saja dan menonton makan? Ini kan rumahmu dan gue lah tamunya.”
__ADS_1
“Saya merasa tidak enak makan dengan nona, nanti tuan Verrel bisa marah.”
“Peduli apa dengan dia, Verrel pasti sekarang sedang bermesraan dengan kekasihnya Amelia itu!”
Mendadak mood makan Viana berkurang ketika mengingat nama Verrel, meski hanya istri di atas kertas tetap saja keberadaan Viana seharusnya Verrel fikirkan kembali.
Namun semenjak adanya Amelia, Verrel nampak acuh tak acuh kepadanya. Dan itu membuat Viana merasa kesal.
Dany pun mengerti perasaan Viana. Lalu pemuda tampan itu pun duduk di hadapan Viana berniat untuk menemani gadis itu makan bersama.
“Asisten Dany, apakah dahimu itu terluka karena menolong gue kemarin? Maafkan, gueakan mengobatinya. Kamu tunggu saja di sini ya?”
“Tidak nona ini......”
Tanpa menghiraukan ucapan Dany, Viana pun beranjak dari kursinya untuk mengambil perlengkapan obat guna mengobati dahi pemuda itu yang terluka akibat menolongnya.
Tak lama gadis itu pun membawa sekotak obat. Dan langsung mengambil kursi untuk mengobati luka Dany langsung.
Viana pun meneteskan alkohol sedikit di atas kapas lalu bersiap untuk membubuhkannya di atas pelipis Dany yang nampak masih basah oleh darah dan sedikit agak bengkak.
“Pelan-pelan nona..aww ...” rintih Dany.
“Oh..maaf.”
Tanpa Viana sadari kini Dany tengah menahan gemuruh di dalam dadanya. Dari dekat seperti ini, Viana nampak sangat cantik. Sebagai pria normal tentu saja Dany mengagumi kecantikan istri kecil atasannya itu.
Dan dengan tidak sadar, Dany malah menggenggam tangan Viana yang sedang mengobati lukanya. Membuat Viana terkejut sekaligus bingung, gadis itu pun hanya menatap kearah Dany. Keduanya sama-sama merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba saja datang tanpa mereka duga.
**Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers sayonk...😍😘**
__ADS_1